Kemenag RI 2019:Wahai orang-orang yang telah diberi Kitab, berimanlah pada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada padamu sebelum Kami mengubah wajah-wajah(-mu), lalu Kami putar ke belakang (sebagai penghinaan) atau Kami laknat mereka sebagaimana Kami melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabat (Sabtu). Ketetapan Allah (pasti) berlaku. Prof. Quraish Shihab:
Hai orang-orang yang sudah diberi al-kitan! Berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Quran) yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah wajah-wajah (kamu), lalu Kami putar ke belakang atau Kami melaknat mereka sebagaimana Kami telah melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. DAn adalah ketetapan Allah (pasti) berlalu.
Prof. HAMKA:Wahai orang-orang yang telah diberi kitab! Berimanlah kepada apa yang telah Kami turunkan, yang membenarkan apa yang ada padamu, sebelum Kami menghapus wajah-wajah (mereka), lalu Kami balikkan ke belakang, atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang yang melanggar hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti terlaksana.
Lafazh yaa ayyuha (يَا أَيُّهَا) artinya : Wahai. Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya : orang-orang yang. Kata uutuul-kitab (أُوتُوا الْكِتَابَ) artinya : diberi Kitab. Maksudnya adalah kitab suci samawi yang turun dari langit yang dibawa oleh Jibril alaihissalam kepada para nabi dan rasul.
Ayat ini sangat jelas kepada siapa pembicaraan ini ditujukan, yaitu kepada mereka yang diberi kitab. Dalam hal ini kalau kita kaitkan dengan konteks turunnya ayat ini di masa kenabian, yang disebut sebagai ‘mereka yang diberi kitab’ tidak lain adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Ini bukan berarti yang diberi kitab hanya dua umat itu saja, sepanjang sejarah turunnya para nabi ke dunia ini, tentunya ada begitu banyak kitab-kitab suci turun dari langit. Namun berbagai umat itu sudah punah di masa kenabian Muhammad, sehingga sudah tidak lagi relate dengan konteks turunnya ayat ini.
Sedangkan kaum Yahudi dan Nasrani adalah kaum yang di masa kenabian Muhammad SAW masih eksis berpegang teguh kepada kitab suci yang Allah SWT turunkan kepada nabi mereka, yaitu Taurat dan Injil.
Lafazh al-kitab (الْكِتَابَ) maknanya bukan buku, tetapi kitab Taurat, yaitu salah satu dari sekian banyak kitab suci yang Allah SWT turunkan untuk dijadikan pedoman hidup, khususnya untuk Nabi Musa dan Bani Israil. Al-Quran dalam banyak ayatnya sering membicarakan Taurat. Kata Taurat setidaknya disebut berulang-ulang dalam Al-Quran hingga 18 kali. Beberapa catatan yang membedakan Taurat dengan Al-Quran antara lain :
1. Tulisan di Atas Lauh
Ketika Allah SWT menurutkan Taurat memang dalam bentuk tulisan, namun wujudnya bukan berupa buku yang terbuat dari kertas dan dijilid pakai cover. Taurat yang turun kepada Nabi Musa itu tertulis di atas Lauh atau batu, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-A'raf :
Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya. (QS. Al-Araf : 154)
Kalau kita bandingkan dengan kitab suci yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu Al-Quran, wujudnya beda lagi. Al-Quran diturunkan tidak dalam bentuk tulisan melainkan dalam bentuk suara dan kata-kata yang dibacakan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.
Saat mendengarkan ayat Al-Quran dibacakan, Nabi SAW pun tidak menuliskannya. Beliau hanya menghafalnya di luar kepala. Nanti setelah Jibril berlalu, barulah Nabi SAW perintahkan para shahabat penulis wahyu untuk menuliskannya.
Medianya kala itu bukan kertas, melainkan di kulit hewan, kadang juga berupa batu, tulang atau pelepah kurma.
2. Turun Sekaligus
Kitab Taurat tidak pernah disebutkan turun sedikit demi sedikit sebagaimana Al-Quran, namun turun sekaligus sekali turun di atas Gunung atau Bukit Tursina.
3. Berlaku Bagi Banyak Nabi
Meskipun Taurat diturunkan kepada Nabi Musa alaihissalam, namun yang diwajibkan berhukum kepada Taurat bukan hanya Nabi Musa, namun nabi-nabi yang datang sesudahnya pun diwajibkan berhukum dengan Taurat.
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. (QS. Al-Maidah : 44)
4. Berbahasa Ibrani
Bahasa yang digunakan Allah SWT dalam kitab suci disesuaikan dengan bahasa yang digunakan oleh masing-masing nabi. Karena Nabi Musa berbahasa Ibrani, maka Taurat pun menggunakan bahasa Ibrani juga. Hal ini sesuai dengan ayat berikut :
Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS. Ibrahim : 4)
5. Tidak Ada Jaminan Penjagaan
Bebeda dengan kitab suci Al-Quran yang dijamin penjagaan dan pemeliharaannya hingga hari kiamat, Taurat tidak mendapatkan penjagaan semacam itu.
Bahkan tidak semua Bani Israil diberikan akses untuk bisa membacanya secara langsung, sehingga Taurat hanya dimiliki secara terbatas di kalangan internal pemuka agama.
Yang menarik dari ayat ini, kenapa Allah SWT tidak menyapa mereka dengan sapaan : ‘Wahai yahudi dan nasrani’? Kenapa juga mereka tidak disapa misalnya dengan : ‘wahai Bani Israil’? Kenapa menggunakan sapaan : ‘wahai orang yang diberi kitab’?
Jawabannya -wallahu ‘alam- memang begitulah ciri Al-Quran, seringkali menyapa orang dengan sebutan yang bermacam-macam, tergantung konteks yang sedang dibicarakan.
Mari kita bandingkan ketika Allah SWT menyapa Nabi Muhammad SAW dengan sebutan : ‘wahai orang yang berselimut’ (يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ) dan ‘wahai orang yang berkemul’ (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ). Allah SWT menyapa nabi-Nya dengan sapaan yang menggambarkan keadaan yang sempat dialami, yaitu ketakutan, gemetar dan minta diselimuti oleh sebab baru pertama kali bertemu dengan Malaikat Jibril alaihissalam di Gua Hira Jabal Nur.
Allah SWT beberapa kali menyapa Nabi SAW di dalam Al-Quran dengan sapaan : ya ayuuha-nabiyyu (يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ). Kalau kita cari sapaan ini, maka akan muncul hingga 13 kali. Dan ada dua kali Allah SWT menyapa Beliau SAW dengan sapaan : ya ayyuha-rasul (ياَ أَيُّهَا الرَّسُول).
Bahkan menurut sebagian ulama, surat Thaha yang diawali dengan huruf thaha (طه) dan surat Yasin yang diawali dengan huruf ya-sin (يس) merupakan sapaan kepada Nabi Muhammad SAW yang juga punya nama sebagai Thaha dan Yasin.
Lafazh aaminu (آمِنُوا) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il amr dan mengandung perintah. Artinya : berimanlah.
Kata bima (بِمَا) artinya : kepada apa. Kata nazzalna (نَزَّلْنَا) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang artinya : Kami menurunkan. Berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan, yaitu berimanlah kamu kepada Al-Quran.
Perintah ini sebagaimana disebutkan di awal ayat (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ) diarahkan kepada orang-orang Yahudi di Madinah. Padahal kepada mereka Allah SWT sudah turunkan kitab suci khusus yaitu Taurat. Ternyata di ayat ini, orang-orang Yahudi itu diperintahkan untuk beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Sebenarnya selain nazzala (نَزَّلَ) ada juga anzala (أَنْزَلَ) yang sama-sama artinya menurunkan. Namun keduanya berbeda secara teknis. Kata nazzala (نَزَّلَ) menunjukkan perbuatan yang berulang-ulang, yang dalam hal ini ayat Al-Quran turun berulang-ulang dalam arti sedikit demi sedikit, selama kurun waktu 23 tahun lamanya. Sedangkan kalau menggunakan anzala (أَنْزَلَ) artinya menurunkan sekali saja dalam arti sekaligus secara keseluruhannya.
Kedua kata ini sama-sama bisa diterapkan pada Al-Quran, mengingat Al-Quran memang mengalami dua kali proses turun. Proses turun yang pertama dari Lauhil Mahfzuh ke langit dunia dengan cara tuurn sekaligus semuanya. Maka dalam Al-Quran, semua ayat yang mengacu kepada turunnya Al-Quran secara sekaligus selalu menggunakan kata anzala (أَنْزَلَ).
Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. Al-Isra : 106)
Kata mushaddiqan (مُصَدِّقًا) artinya : yang membenarkan. Kata lima ma’akum (لِمَا مَعَكُمْ) artinya : apa yang ada padamu. Maksudnya bahwa Al-Quran itu tidak menyelisihi apalagi menentang kitab Taurat. Justru Al-Quran membenarkan dalam artian sejalan dan seirama dengan Taurat. Apa-apa yang Allah SWT perintahkan dan larang di dalam Taurat, pada dasarnya juga Allah SWT perintah dan larang di dalam Al-Quran. Hanya saja ada beberapa fakta yang tidak bisa dihindari :
Pertama, bahwa kitab Taurat itu sudah terlalu lama usianya, setidaknya dalam salah satu versi disebutkan sudah berusia 1.900 tahun terhitung sejak masa kenabian Musa alaihissalam ke masa kenabian Muhammad SAW. Sementara zaman sudah mengalami banyak perubahan.
Kedua, sudah banyak ayat Taurat yang hilang, dipalsukan, bahkan menjadi banyak versi, padahal tidak bisa lagi dibedakan mana yang asli dan mana yang tidak asli.
Ketiga, Taurat ini diturunkan khas kepada umat Nabi Musa yang karakternya unik. Sedangkan bangsa-bangsa lain di dunia ini, nyaris belum lagi mendapatkan kitab suci.
Maka menjadi sangat masuk akal kalau Allah SWT berkehendak menurunkan kitab suci terakhir, yang lebih up to date, original dan universal. Maka diturunkanlah Al-Quran.
مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا
Lafazh min qabli (مِنْ قَبْلِ) artinya : sebelum. Kata an-nathmisa (أَنْ نَطْمِسَ) adalah kata kerja, asalnya dari (طَسَمَ يَطْسِمُ). Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya jadi : mengubah. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya jadi : menghapus. Kedua makna itu sama-sama digunakan dalam terjemahan ayat yang menggunakan kata ini.
رَبَّنَا اطْمِسْ عَلى أَمْوالِهِمْ
Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka. (QS. Yunus : 88)
وَلَوْ نَشاءُ لَطَمَسْنا عَلى أَعْيُنِهِمْ
Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka. (QS. Yasin : 66)
فَإِذَا النُّجُومُ طُمِسَتْ
Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan (QS. Al-Mursalat : 8)
Kata wujuhan (وُجُوهًا) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu wajh (وَجْه) yang artinya : wajah-wajah.
Ada perbedaan di kalangan mufassir tentang keadaan orang yang dibinasakan atau dihapus wajahnya, apakah ini benar-benar terjadi ataukah hanya merupakan bahasa kiasan saja.
Mereka yang bilang ini kejadian betulan di antaranya adalah Ibnu Abbas radhiyallahuanhu dan juga Qatadah. Maka wajah mereka pindak ke bagian belakang kepala, sedangkan bagian belakang kepala pindah ke bagian wajah. Keadaan ini membuat mereka seperti berjalan mundur ke belakang, karena wajahnya terbalik.
Namun kebanyakan mufassir lebih cenderung mengatakan bahwa keadaan ini hanya merupakan bentuk kiasan saja. Tujuannya untuk menggambarkan betapa buruknya perilaku mereka dan tercela. Di antara yang bilang begitu adalah Al-Hasan, Adh-Dhahhak, Mujahid, As-Suddi dan Ibnu Abi Najih.
فَنَرُدَّهَا عَلَىٰ أَدْبَارِهَا
Lafazh fa-narudda-ha (فَنَرُدَّهَا) artinya : lalu Kami putar. Kata ‘ala adbariha (عَلَىٰ أَدْبَارِهَا) artinya : ke belakang.
Penjelasan dari penggalan ini disesuaikan dengan dua kubu ulama ketika menafsirkan penggalan sebelumnya. Mereka yang mengatakan bahwa kejadian ini adalah sesuatu yang empiris dan benar-benar kejadian, menjadikan ungkapan fanaruddaha ala adbariha (فَنَرُدَّهَا عَلَىٰ أَدْبَارِهَا) sebagai penjelasan yang tegas bahwa wajah mereka benar-benar terbalik, yang seharusnya bagian depan jadi bagian belakang. Lalu yang seharusnya bagian belakang jadi bagian depan.
Sedangkan mereka yang mengatakan bahwa kejadian ini bukan fakta yang sesungguhnya, melainkan hanya bahasa ungkapan perumpamaan saja, mereka bilang bahwa mereka itu bukan hanya sesat, tetapi amat sangat sesat sekali. Ibarat orang yang berjalan mundur, maka tidak tahu jalan dan sudah bisa dipastikan akan tersesat.
Imam Malik mengomentari bahwa ayat inilah yang memicu masuk Islamnya shahabat nabi yang asalnya seorang pemeluk Yahudi menjadi muslim, yaitu Ka'ab Al-Ahbar. Kejadiannya adalah ketika dia melewati seseorang di malam hari yang sedang membaca ayat ini, maka dia meletakkan kedua telapak tangannya di wajahnya dan berjalan mundur sampai ke rumahnya, lalu dia masuk Islam di tempat itu. Dia berkata :
“Demi Allah, sungguh aku takut tidak akan sampai ke rumahku hingga wajahku dihapus”.
Demikian juga yang dilakukan oleh Abdullah bin Salam, ketika ayat ini turun dan dia mendengarnya, dia mendatangi Rasulullah SAW sebelum mendatangi keluarganya, lalu dia masuk Islam dan berkata :
Kata au (أَوْ) berarti : atau. Kata nal’ana-hum (نَلْعَنَهُمْ) artinya : Kami laknat mereka. Kata kama (كَمَا) artinya : sebagaimana. Kata la’anna (لَعَنَّا) Kami melaknat. Yang dimaksud dengan melaknat adalah mengubah wujud manusia menjadi kera-kera yang hina. Kera adalah jenis makhluk Allah yang dalam beberapa hal cukup mirip dengan manusia, namun tetap punya perbedaan yang teramat jauh dengan manusia. Secara biologis, terdapat beberapa persamaan antara manusia dan kera, antara lain misalnya :
Keduanya termasuk dalam kelompok primata, dengan ciri khas seperti jari yang dapat memegang, mata yang menghadap ke depan, dan otak yang berkembang.
Keduanya memiliki sistem saraf yang kompleks dan dapat belajar melalui pengalaman.
Keduanya memiliki kemampuan untuk memproses informasi dan memecahkan masalah.
Keduanya memiliki kemampuan untuk merasakan emosi dan menunjukkan perilaku sosial.
Kata ashabas-sabti (أَصْحَابَ السَّبْتِ) artinya : orang-orang sabt.
Banyak orang salah duga dikira makna sabt itu tujuh, karena nama-nama hari memang diambil dari angka. Hari Ahad itu hari ke satu. Lalu hari kedua adalah Senin, itu berasal dari itsnain yang artinya dua. Hari ketiga adalah Selasa, dari bahasa Arab yaitu tsulasa' yang artinya tiga. Rabu dan Kamis masing-masing dari kata arba'ah yang artinya empat dan khamsah yang artinya lima.
Lalu hari Jumat bukan representasi dari angka, tetapi maksudnya hari berkumpulnya orang-orang. Dan Sabtu yang jadi titik pembahasan, dikira orang Sabtu itu artinya tujuh, padahal tujuh itu sab'ah. Lalu Sabtu itu apa artinya?
Ternyata Sabtu itu diambil dari bahasa Ibrani, yang maknanya : istirahat. Konon dalam Taurat disebutkan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dalam 6 hari, lalu di hari ketujuh dia berhenti dan istirahat.
Lalu dijadikanlah hari itu hari khusus bagi Bani Israil untuk beribadah dan dilarang untuk melakukan hal-hal yang bersifat duniawi, termasuk bekerja mencari nafkah.
Maka diceritakanlah sebuah desa di tepi pantai yang penghasilan mereka dari menangkap ikan. Selama enam hari dalam seminggu mereka mencari ikan, tapi khusus sehari dalam seminggu mereka dilarang mencari ikan, yaitu hari Sabtu.
Jadi kesimpulannya bahwa makna Sabtu itu istirahat dan bukan hari ketujuh. Memang ada kemiripan dengan bahasa Sansekerta yaitu Sapta berarti tujuh. Namun ketika kita menyebut hari Sabtu, sebenarnya kita merujuk ke hari Sabat milik Bani Israil.
Para muhaqqiq banyak menjelaskan bahwa peritiwa ini kejadiannya bukan di masa Nabi Musa namun di masa Nabi Daud. Maka kisahnya tidak sampai termuat di dalam Taurat. Nabi Daud alaihissalam diperkirakan hidup dua ratus tahun setelah masa Nabi Musa. Kalau Nabi Musa hidup pada abad ke-13 atau tepatnya wafat tahun 1.237 SM, maka Nabi Daud diperkirakan antara tahun 1040–970 SM.
Sehingga kisahnya tidak ada dalam Taurat, namun Al-Quran kemudian membuka kisah yang amat memalukan itu lewat beberapa ayat, yaitu selain ayat ini juga ada nanti diulang kembali di ayat yang lain.
Intinya, meskipun kisah dikutuk jadi kera itu tidak pernah tercantum dalam Taurat, namun ternyata Nabi Muhammad SAW mengetahui kisah itu. Padahal Bani Israil mendapatkan kisah leluhur mereka secara lisan dan turun temurun, tidak pernah tertuang dalam lembar kitab suci.
Kalau sampai seorang Muhammad yang bukan bagian dari Bani Israil serta tidak paham bahasa kitab Taurat yaitu bahasa Ibrani itu tiba-tiba bisa tahu kisah itu, maka ini merupakan bagian dari mukjizat Nabi SAW yang luar biasa. Bani Israil pasti dibuat kebingungan ketika tiba-tiba Nabi SAW tahu banyak kisah leluhur mereka yang pernah dikutuk menjadi kera.