Ada yang mengatakan bahwa Allah memuliakan orang-orang yang berjihad lebih dari orang-orang yang duduk karena alasan tertentu dengan satu derajat, dan Allah memuliakan orang-orang yang berjihad lebih dari orang-orang yang tidak memiliki alasan dengan banyak derajat, seperti yang dikatakan oleh Ibn Juraij, Al-Suddi, dan selain mereka.
Derajat-derajat adalah tempat-tempat kedudukan yang sebagian lebih tinggi daripada yang lainnya. Dalam hadis sahih, Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya di surga ada seratus derajat yang Allah siapkan untuk para mujahidin di jalan-Nya, antara satu derajat dengan yang lainnya adalah seperti antara langit dan bumi."
Menurut Ibn Muhairiz, derajat-derajat tersebut adalah derajat-derajat di surga, di mana antara dua derajat terdapat jarak sejauh perjalanan kuda yang terbaik dan terlatih selama tujuh puluh tahun.
Pendapat ini juga dipegang oleh al-Thabari dan beliau menguatkannya.
Sedangkan menurut Ibn Zayd, derajat-derajat yang dimaksud dalam ayat ini adalah tujuh derajat yang disebutkan dalam Surah at-Tawbah (120), yaitu firman Allah:
ذَلِكَ بِأنَّهم لا يُصِيبُهم ظَمَأٌ ولا نَصَبٌ ولا مَخْمَصَةٌ في سَبِيلِ اللهِ
'Itulah karena mereka tidak merasakan dahaga, kelelahan, atau kelaparan di jalan Allah.'
Dalam ayat tersebut disebutkan tindakan yang mempersulit orang-orang kafir, menyerang musuh, berinfak dalam jumlah kecil dan besar, serta menyeberangi lembah dan jarak yang jauh."
Teks ini menjelaskan tentang beberapa pandangan mengenai derajat-derajat yang disebutkan dalam ayat Al-Qur'an, yang terkait dengan ganjaran di surga bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah.
Lafazh wa kaanallahu (وَكَانَ اللَّهُ) artinya : dan adalah Allah itu. Kata kana (كَانَ) artinya : adalah, namun tersisip di dalamnya makna bahwa keadaan seperti itu sudah eksisting sejak masa lalu. Bisa saja kalau mau diterjemahkan menjadi : sudah sejak dulu.
Lafazh ghafuran rahima (غَفُورًا رَحِيمًا) artinya : Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kalau dikaitkan dengan konteks ayatnya, maka ungkapan bahwa Allah SWT Maha Pengampun, maksudnya bahwa beberapa dari para shahabat boleh jadi ada yang punya udzur yang syar’i, tetapi tidak bisa ikut karena terhalang. Padahal niatnya memang ingin ikut dalam jihad.
Sedangkan Maha Penyayang yang disebutkan bersama dengan penyebutan Maha Pengampun, maksudnya karena tindakan Allah SWT tidak menghukum kesalahan dan malah memilih untuk mengampuni, disebabkan karena pada dasarnya Allah SWT ingin menunjukkan bahwa diri-Nya adalah Tuhan yang Maha kasih sayang. Pelanggaran dan kesalahan hamba tidak harus selalu dibalas dengan amarah dan murka. Tetapi bisa saja diampuni, karena Allah SWT memang Tuhan Yang Maha Pengasih.