Kemenag RI 2019:(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan Ruhulkudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. (Ingatlah) ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) hikmah, Taurat, dan Injil. (Ingatlah) ketika engkau membentuk dari tanah (sesuatu) seperti bentuk burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) pada waktu engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” Prof. Quraish Shihab:(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Wahai ‘Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkanmu dengan Ruh Al-Qudus (Malaikat Jibril as.). Engkau (dapat) berbicara dengan manusia ketika (masih) dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) ketika Aku mengajarmu tulis menulis, Hikmah, serta Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) ketika engkau membuat dari tanah (sesuatu) yang seperti bentuk burung dengan izin-Ku, lalu engkau meniup padanya, lalu ia menjadi seekor burung dengan izin-Ku. Dan (ingatlah), ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan izin-Ku, dan (ingatlah) ketika engkau mengeluarkan (menghidupkan kembali) orang-orang mati dengan izin-Ku, dan ketika Aku menghalangi Bani Israil (untuk menganiaya dan membunuhmu) ketika engkau membawa kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” Prof. HAMKA:(Ingatlah) tatkala berkata Allah kepada Isa anak Maryam, "Ingatlah oleh engkau akan nikmat-Ku atas engkau dan ke atas ibumu, tatkala Aku menyokong engkau dengan Ruhul-Qudus engkau berkata-kata dengan manusia dalam ayunan dan di kala dewasa. Dan (ingatlah) tatkala Aku ajarkan kepada engkau tulisan dan hikmah, Taurat, dan Injil, dan (ingatlah) tatkala engkau menjadikan dari tanah seperti bentuk burung dengan izin-Ku lalu engkau embuskan padanya maka jadilah dia burung dengan izin-Ku, dan engkau sembuhkan orang buta dan penyakit sopak dengan izin-Ku. Dan (ingatlah) tatkala engkau menghidupkan orang yang sudah mati dengan izin-Ku. Dan (ingatlah) tatkala Aku menghambat Bani Israil dari engkau, tatkala engkau datang kepada mereka dengan keterangan-keterangan, lantas berkatalah orang-orang yang kafir di antara mereka 'Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.'"
Contoh apposisi dalam bahasa Indonesia, ”Saya suka buah-buahan seperti apel dan jeruk”. Bagian “seperti apel dan jeruk” itulah badal yang menjelaskan lebih rinci buah-buahan. Maka ayat ke-110 ini menjadi badal dari ayat sebelumnya, yaitu :
يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ
(Ingatlah) pada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul.
Ayat ini menceritakan kepada kepada Nabi Muhammad SAW kisah yang diperintah Allah SWT untuk mengingat dan menyebutkna berbagai nikmat dan mukjizat yang Allah karuniakan kepadanya. Mulai dari Allah menguatkan Isa dengan Ruhul Qudus sejak masa kecil hingga dewasa, memberinya kemampuan berbicara dengan manusia bahkan saat masih bayi, serta mengajarkannya ilmu menulis, hikmah, Taurat, dan Injil.
Selain itu Nabi Isa juga diberikan mukjizat luar biasa, seperti membentuk burung dari tanah yang kemudian hidup dengan izin Allah, menyembuhkan orang buta dan penderita kusta, serta menghidupkan orang mati.
Allah juga melindungi Isa dari niat jahat Bani Israil ketika ia menyampaikan bukti-bukti nyata, meskipun sebagian orang kafir menuduhnya sebagai sihir. Semua itu menunjukkan kekuasaan Allah yang memberikan kemampuan luar biasa kepada hamba-Nya sebagai tanda dan bukti kebenaran risalahnya.
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ
Kata idz (إِذْ) artinya : ingatlah ketika. Kata qaala (قَالَ) artinya : Allah berfirman. Kata allahu (اللَّهُ) artinya : Allah. Kata yaa 'iisaa (يَا عِيسَى) artinya : Wahai Isa. Kata ibna (ابْنَ) artinya : putra. Kata maryam (مَرْيَمَ) artinya : Maryam.
Penggalan awal ayat ini adalah bagian dari qashashul-quran, yaitu kisah-kisah Al-Quran, yang Allah SWT ceritakan kepada Nabi Muhammad SAW. Disini Allah SWT menceritakan bahwa Diri-Nya telah berbicara dan berdialog kepada kepada Nabi Isa alaihissalam sebagai salah satu rasul utusan Allah. Secara khusus diceritakan kisah Nabi Isa alaihissalam karena beberapa faktor. Yang utama karena kaum nasrani sebagai umatnya Beliau benar-benar bertemu langsung dengan Nabi Muhammad SAW, meskipun sudah terpaut 600-an tahun sejak kepergiannya.
Sementara dahulu ketika Nabi Isa alaihissalam masih hidup, Beliau memang telah memberitakan kisah akan datangnya Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir yang akan diutus.
Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata". (QS. Ash-Shaf : 6)
اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَىٰ وَالِدَتِكَ
Kata udzkur (اذْكُرْ) artinya : ingatlah. Sebenarnya asalnya dari kata (ذكر-يذكر) yang punya bermacam makna, bisa berarti ingatlah, atau sebutkanlah bahkan hingga syukurilah. Kesemuanya termasuk dalam kategori perintah yang sama.
Kata ni'matii (نِعْمَتِي) artinya : nikmat-Ku. Kata 'alaika (عَلَيْكَ) artinya : kepadamu. Meski Allah SWT menggunakan kata ni’mat dalam bentuk tunggal, namun di ayat ini ternyata ni’mat yang disebutkan tidak hanya satu tetapi banyak.
Kata wa 'alaa (وَعَلَىٰ) artinya : dan kepada. Kata walidatika (وَالِدَتِكَ) artinya : ibumu.
Nikmat yang Allah SWT berikan kepada ibunda Nabi Isa yaitu Maryam ada banyak disebutkan dalam berbagai ayat. Ketika ia masih kecil, Allah menerima pengabdian dirinya di Baitul Maqdis dan menjadikannya tumbuh secara baik dalam lingkungan ibadah, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
“Maka Tuhannya menerima Maryam dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria” (QS. Ali ‘Imran: 37).
Maryam juga diberi karamah berupa datangnya makanan dari sisi Allah tanpa sebab yang tampak, sebagaimana firman-Nya:
“Setiap kali Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, dia mendapati makanan di sisinya. Ia berkata, ‘Wahai Maryam, dari mana ini (kamu peroleh)?’ Ia menjawab, ‘Ini dari Allah’” (QS. Ali ‘Imran: 37).
Allah juga menyucikan Maryam dan memilihnya di atas seluruh wanita dunia, sebagaimana firman-Nya:
“Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu atas segala wanita di dunia” (QS. Ali ‘Imran: 42).
Ia pun dijaga kehormatannya dan mengandung putranya, Isa, tanpa disentuh lelaki mana pun, sebagai mukjizat dan tanda kekuasaan Allah, sebagaimana firman-Nya:
“Dan (ingatlah kisah) Maryam yang menjaga kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (rahimnya) dari ruh Kami, dan ia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, dan ia termasuk orang-orang yang taat” (QS. At-Tahrim: 12).
إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ
Kata idz (إِذْ) artinya : sewaktu. Kata ayyadtuka (أَيَّدْتُكَ) merupakan fi’il madhi. Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi :” Aku menguatkanmu”. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya dengan : “Aku menyokong engkau”.
Kata biruuhil-qudus (بِرُوحِ الْقُدُسِ) secara bahasa bermakna : “dengan ruh yang suci”, namun ada juga yang mengatakan bahwa makna qudus itu kesucian (الطهر) dan juga bermakna keberkahan (البركة).
Namun kebanyakan ulama seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas,As-Suddi, Qadatah, Ar-Rabi’ bin Anas, sepakat mengatakan bahwa yang dimaksud tidak lain adalah Malaikat Jibril alaihissalam. Dasarnya adalah firman Allah SWT dalam surat Asy-Syu’ara’ :
dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, (QS. Asy-Syuara : 194-195).
Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud qudus itu tidak lain adalah Allah SWT sendiri. Dan yang dimaksud dengan ruh qudus tidak lain adalah Malaikat Jibril alahissalam.
Namun dalam pemahaman agama Kristen, istilah Roh Kudus digunakan untuk menyebut salah satu aspek ketuhanan dalam doktrin Trinitas.
Dalam ajaran Kristen, Roh Kudus bukan makhluk atau malaikat, tetapi bagian dari Tuhan itu sendiri bersama Allah Bapa dan Yesus Anak Allah. Roh Kudus dipahami sebagai pribadi ilahi yang berperan dalam menginspirasi nabi-nabi, membimbing para pengikut Yesus, serta berdiam di hati orang percaya. Ia memiliki sifat ketuhanan penuh dan merupakan sumber dari segala ilham dan kekuatan rohani dalam kehidupan umat Kristiani.
Meskipun istilahnya mirip secara bahasa — sama-sama berarti "roh yang suci" — namun makna teologisnya berbeda jauh. Dalam Islam, Ruhul Qudus adalah malaikat Jibril, makhluk mulia yang tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah.
Dalam Kristen, Roh Kudus adalah pribadi Tuhan yang hadir dan bekerja sebagai Roh, dan merupakan bagian dari kesatuan ketuhanan bersama Bapa dan Anak.
تُكَلِّمُ النَّاسَ
Kata tukallimun-naasa (تُكَلِّمُ النَّاسَ) artinya : Engkau dapat berbicara dengan manusia. Kata fil-mahdi (فِي الْمَهْدِ) artinya : pada waktu masih dalam buaian. Kata wa kahlann (وَكَهْلًا) artinya : dan setelah dewasa.
Lafazh yukallimu (يُكَلِّمُ) diartikan oleh Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab menjadi berbicara. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya dengan berkata-kata.
Asalnya dari kalam (كَلَام) yang pengertiannya adalah lafazh yang bermanfaat (لفظ مفيد). Yang disebut dengan kalam (كَلَام) itu setidaknya bukan hanya terdiri satu kata apalagi hanya suku kata, tetapi minimal ada dua kata atau lebih yang membentuk sebuah informasi tertentu, seperti : ‘ayah membaca’ atau ‘ibu memasak’. Kalau hanya sekedar ucapan ‘ayah’ atau ‘ibu’ saja, belum disebut sebagai kalam karena hanya merupakan satu kata.
Lafazh an-nas (النَّاسَ) artinya : orang-orang atau para manusia. Maksudnya Nabi Isa yang masih bayi berbicara kepada orang-orang yang sudah dewasa dalam bahasa mereka. Disebutkan bahwa bahasa yang digunakan oleh Nabi Isa dan umatnya adalah bahasa Suryaniyah.
Anak yang masih bayi itu kalaupun bisa bicara, biasanya hanya sepatah kata saja, itupun tidak sempurna. Ucapan bayi menyebut orang tuanya dengan kata papa atau mama, belum disebut sebagai kalam. Tetapi kalau dengan jelas mengatakan ‘ayah membaca’, atau ‘ibu memasak’, barulah itu disebut dengan kalam.
Yang mampu dilakukan oleh Nabi Isa ketika masih bayi itu bukan hanya menyebut satu kata, melainkan beliau bertutur dalam kalimat yang terdiri dari banyak kata.
فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا
Lafazh al-mahdi (الْمَهْدِ) diterjemahkan menjadi buaian. Ibnu Jarir Ath-Thabari menuliskan bahwa yang dimaksud adalah tempat tidur anak yang masih di susuan (مضجع الصبي في رَضَاعه).
Lantas apa pembicaraan yang disampaikan oleh Nabi Isa alaihissalam ketika masih bayi? Jawabannya tertuang di dalam surat Maryam berikut ini :
Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam : 29-33)
Penjelasan mengenai mengapa bayi belum mampu berbicara layaknya orang dewasa dapat dilihat dari sudut pandang perkembangan manusia secara fisik, kognitif, dan sosial.
Jadi, secara alami, bayi belum mampu berbicara layaknya orang dewasa karena mereka masih dalam tahap perkembangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional yang berbeda. Proses pembelajaran dan pertumbuhan ini memerlukan waktu dan pengalaman yang diperlukan untuk mencapai keterampilan berbicara yang lebih maju.
Dan semua kondisi normal itu tidak terjadi pada bayi Nabi Isa alaihissalam, karena itu merupakan kehendak Allah SWT yang menjadi bukti nyata kenabiannya dengan mukjizat yang luar biasa. Begitu dirinya dilahirkan, pembicaraannya sudah layaknya orang dewasa.
Lafazh kahla (كَهْلًا) diterjemahkan menjadi : masa dewasa. Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : masa tua.
Dalam hal ini Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir[1] menjelaskan makna kahla (كَهْلًا) sebagai berikut :
والكَهْلُ هو مَن كانَ بَيْنَ سِنِّ الشَّبابِ والشَّيْخُوخَةِ
Al-Kahlu adalah orang yang berada di usia antara pemuda dan usia senja.
Al-Qurtubi menuliskan dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran[2] bahwa yang dimaksud dengan masa dewasa adalah ketika Nabi Isa berusia 33 tahun dan mendapatkan wayhu dari Allah SWT, lalu dia menyampaikan wahyu itu. Dan ternyata teks yang disampaikan di masa dewasanya itu sama dengan yang ketika bayi disampaikan.
Al-Alusi dalam tafsirnya, Ruh Al-Ma’ani[3] menuliskan bahwa ada sekian banyak istilah yang digunakan bangsa Arab untuk periode pertumbuhan manusia sejak masih dalam rahim hingga wafat.
1. Janin (جنين) : sebutan untuk bayi yang masih ada di dalam rahim ibunya.
2. Walid (وليد) : sebutan untuk bayi yang dilahirkan.
3. Radhi’ (رضيع) : sebutan untuk bayi yang menyusu atau di usia menyusu
4. Fathim (فطم) : sebutan untuk bayi yang sudah usai dari menyusu. Kita menyebutnya disapih.
5. Darij (دارج) : sebutan untuk bayi yang mulai belajar merangkak
6. Matsghur (مثغور) : sebutan untuk bayi yang mulai gugur susu gusinya
7. Mutsghir (مثغر) : sebutan untuk bayi yang mulai tumbuh gigi.
8. Nasyi’ (ناشئ) : sebutan untuk anak yang usianya menginjak 10 tahun dan seterusnya.
9. Murahiq (مراهق) : sebutan untuk anak yang mulai mengalami mimpi keluar mani
Dari periode pertama hingga periode kesembilan itulah dalam isitlah Arab disebut dengan : ghulam (غلام).
1. Fata (فتى) : sebutan bagi remaja yang mulai kehijauan dagunya dan sekitar bibirnya berwarna kehijauan karena bakalan tumbuh jenggot dan kumis tipis.
2. Mujtami’ (مجتمع) : sebutan bila tumbuh jenggot yang banyak dan sampai di puncak kepemudaannya.
3. Syab (شاب) : sebutan untuk usia 30 tahun hingga 40 tahun.
4. Kahl (كهل): sebutan untuk usia di atas 40 hingga 60 tahun.
Jadi yang disebut kahla dalam versi ini adalah ketika Nabi Isa alaihissalam berusia antara 40 dan 60 tahun. Sebenarnya masih ada beberapa istilah lain lagi untuk seterusnya, seperti syamith (شَمِطَ), syakh ( شاخَ), kabur ( كَبُرَ), haram (هَرِمَ), dalf (دَلَفَ), kharif (خَرِفَ) dan ihtarr (اِهْتَرَّ).
Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Jamiul Bayan menuliskan sebuah riwayat yang mengatakan di masa kahla atau masa tuanya Nabi Isa, Beliau akan turun lagi ke muka bumi, yaitu menjelang hari kiamat ketika membunuh Dajjal. Dasarnya adalah hadits berikut ini :
أنَّهُ عَلَيْهِ السَّلامُ رُفِعَ إلى السَّماءِ وهو اِبْنُ ثَلاثٍ وثَلاثِينَ سَنَةً وأنَّهُ سَيَنْزِلُ إلى الأرْضِ ويَبْقى حَيًّا فِيها أرْبَعًا وعِشْرِينَ سَنَةً
Bahwa Nabi Isa alaihissalam diangkat ke langit ketika berusia 33 tahun. Dan Beliau akan turun kembali ke muka bumi dan tetap hidup selama 24 tahun (HR. Ath-Thabari).
Hanya Sekali
Menarik kita cermati apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas terkait ayat ini, yaitu bahwa kemampuan berbicara Nabi Isa alaihissalam di waktu bayi itu hanya terjadi sekali saja dan bukan untuk seterusnya.
Itulah mengapa disebutkan dua waktu yang berbeda. Pertama di waktu bayi, dimana kejadiannya hanya sekali saja berbicara dan itulah mukjizatnya. Kedua, setelah Nabi Isa dewasa, meskipun semua orang dewasa bisa berbiacara, namun maksudnya adalah ketika Nabi Isa menerima wahyu dari Allah SWT dan menyampaikannya kepada umatnya.
Al-Alusi dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[4] menuliskan berita bahwa mukjizat Nabi Isa alaihissalam, yaitu dapat bicara ketika masih bayi, justru tidak pernah dikenal oleh pemeluk agama Nasrani sendiri. Dan orang-orang Nasrani baru tahu ada mukjizat luar biasa ini justru setelah mendengar Al-Quran menceritakannya.
Kata wa idz (وَإِذْ) artinya : dan ingatlah ketika. Kata 'allamtuka (عَلَّمْتُكَ) artinya : Aku mengajarkan kepadamu. Asalnya dari kata ‘allama-yu’allimu-ta’liman (عَلَّمَ – يُعَلِّمُ- تَعْلِيْماً). Yang menjadi fa’il atau pelakunya adalah Allah SWT. Sedangkan yang menjadi maf’ul-nya adalah dhamir ka (ك) yang artinya kamu dan maksudnya adalah Nabi Isa alahissalam.
Kata kitab (كتاب) diterjemahkan menjadi : tulisan. Memang dalam bahasa Arab modern biasanya berarti buku, namun di dalam Al-Quran, kata kitab (كتاب) itu tidak harus selalu berwujud buku seperti yang kita kenal. Apalagi bangsa Arab di masa itu pun belum mengenal mesin cetak, sehingga jangan membayangkan kitab itu berwujud buku seperti yang kita kenal di zaman sekarang.
Seringkali lafazh kitab itu dikonotasikan sebagai kitab suci, seperti Taurat, Zabur, Injil ataupun Al-Quran Al-Karim.
Namun kadang kitab juga berarti tulisan. Dan nampaknya para mufassir banyak yang memaknai kata kitab di ayat ini sebagai tulisan. Maksudnya Allah SWT telah mengajari Nabi Isa tulis menulis atau keterampilan tulis menulis. Namun tidak kita temukan penjelasan apa yang Beliau tuliskan, apakah kitab Injil ataukah isi ajaran lainnya. Yang sementara kita ketahui, Nabi Isa alahissalam memang seorang guru yang banyak mengajar murid-muridnya. Namun kita tidak mendapatkan penjelasan apakah muridnya menerima hasil karya tulisan atau catatan darinya.
Mungkin juga yang dimaksud dengan tulisan memang bukan dalam arti menuliskan ajaran agama, melainkan Nabi Isa alahissalam mengajarkan keterampilan baca tulis kepada orang-orang.
Kata wal-hikmata (وَالْحِكْمَةَ) ditafsirkan menjadi beberapa penafsiran, rinciannya sebagai berikut :
Ibnu Zaid mengatakan bahwa al-hikmah adalah bagian dari masalah agama yang tidak bisa kita ketahui kecuali lewat jalur dari Nabi Muhammad SAW, dimana harus beliau ajarkan langsung :
الدين الذي لا يعرفونه إلا به ﷺ يعلمهم إياها
Abu Ja’far mengatakan bahwa al-hikmah adalah :
العلم بأحكام الله التي لا يدرك علمها إلا ببيان الرسول ﷺ، والمعرفة بها، وما دل عليه ذلك من نظائره
Ilmu terkait hukum-hukum Allah yang tidak bisa didapat ilmu itu kecuali lewat penjelasan dari rasulullah SAW, dengan mengenalinya serta lewat petunjuknya.
Dan banyak juga para ulama di antaranya Al-Hasan, Qatadah, Muqatil bin Hayyan, Abu Malik, dan lainnya yang mengatakan bahwa al-hikmah itu maksudnya adalah sunnah nabi Muhammad SAW, sebagai sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Quran.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa al-hikmah itu adalah al-fahmu fid-din (الفهم في الدين) alias kepahaman yang mendalam dalam urusan agama. Yang lain lagi ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah al-fiqhu fi at-ta’wil (الفقه في التأويل) : memahami ta’wil ayat-ayat Al-Quran.
Apabila ditafsirkan sebagai sunnah, maka yang dimaksud tidak lain adalah sumber hukum syariah yang kedua setelah Al-Quran, terkadang disebut juga dengan hadits. Oleh para ulama, sunnah didefinisikan sebagai berikut :
ما ورد عنِ النّبِيِّ مِن قولٍ أو فِعلٍ أو تقرِيرٍ
Segala hal yang bersumber kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa ucapan, tindakan atau taqrir (sikap diam atas suatu masalah).
Sebenarnya sumber sunnah ataua apa yang keluar dari mulut Nabi SAW tidak lain bersumber dari Allah SWT juga, sebagaimana firman-Nya :
Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm : 1-5)
Secara teknis, jumlah hadits nabawi jauh lebih banyak dari pada jumlah ayat Al-Quran. Kalau diukur secara ketebalan, mushaf Al-Quran hanya terdiri 604 halaman saja. Itu mengacu pada mushaf modern di masa kini yang paling populer adalah mushaf terbitan Majma’ Malik Fahd di Madinah yang menggunakan kaligrafi buah karya Dr. Utsman Thaha. Sedangkan jumlah hadits itu bukan hanya ratusan ribu tapi angkanya bisa sampai jutaan butir.
Kata wat-tauraata (وَالتَّوْرَاةَ) artinya : Taurat.
Kitab Taurat adalah salah satu kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT, yang berisi petunjuk dan cahaya. Kitab ini diturunkan pertama kali kepada Nabi Musa AS dan digunakan untuk memutuskan perkara orang-orang Yahudi. Kejadiannya setelah mereka diselamatkan dari kejaran Firaun. Nabi Musa diminta Allah SWT untuk naik ke atas bukti Tursina dan bermunajat selama 40 malam, sebelum akhirnya Taurat diberikan.
Taurat turun dalam bentuk tulisan atau teks di atas batu, yang berbeda dengan cara penurunan Al-Quran. Al-Quran turun dalam bentuk suara yang dibacakan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.
Taurat juga mengandung hukum-hukum yang mengikat, termasuk hukum rajam untuk pezina, hukum potong tangan bagi pencuri, larangan memakan babi dan bangkai, serta larangan minum khamar. Al-Quran memerintahkan orang-orang Yahudi untuk menjalankan isi kitab Taurat karena merupakan firman Allah SWT.
Taurat tidak hanya berlaku bagi Nabi Musa AS, tetapi juga bagi nabi-nabi yang datang sesudahnya. Kitab ini diturunkan dalam bahasa Ibrani, sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh Nabi Musa alaihissalam yaitu Bahasa Ibrani. Tidk seperti Al-Quran, sayangnya Taurat tidak mendapatkan jaminan penjagaan seperti Al-Quran, sehingga banyak dari ayat-ayat Taurat yang hilang dan tercecer, bahkan mudah sekali dipalsukan, atau setidaknya ketambahan hasil tulisan manusia.
Di masa kenabian Isa alaihisalam, ternyata Taurat masih diberlakukan. Bahkan Nabi Isa sendiri kemudian juga diajarkan kitab Taurat oleh Allah SWT lewat ayat ini. Bahkan Beliau sampai menghafalnya luar kepala.
Kata wal-injiila (وَالْإِنْجِيلَ) artinya : dan Injil.
Injil adalah nama untuk kitab suci yang Allah SWT turunkan untuk Nabi Isa alaihissalam lewat perantaraan malaikat Jibril ‘alaihissalam. Umumnya para ulama mengatakan kata Injil ini bukan berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa aslinya makna kata injil adalah kabar yang menggembirakan (البشارة السارة والخبر المُفرح).
Dan karena Nabi Isa berbahasa Suryani, wajar kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa Injil yang asli berbahasa Suryani. Logikanya karena setiap nabi mendapatkan kitab suci sesuai dengan bahasa yang dikuasainya.
Kata Injil muncul 12 kali dalam Al-Quran. Kita sebagai muslim diwajibkan beriman kepada Injil, karena merupakan salah satu rukun iman yang enam, yaitu beriman kepada kitab-kitab suci samawi, salah satunya adalah Injil yang turun kepada Nabi Isa alaihissalam.
Namun begitu, sebagaimana juga Taurat, Injil pun tidak mendapatkan jaminan penjagaan dari Allah SWT. Sehingga rawan pemalsuan, atau pun tercecer sebagian, bahkan hilang secara keseluruhan.
Injil vs Alkitab
Namun uniknya di kalangan Kristiani sendiri diakui bahwa kitab suci mereka bukan Injil, melainkan apa yang mereka sebut dengan Alkitab. Dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Bibel atau The Holy Book.
Konsepnya sebagaimana pengakuan mereka, Alkitab itu bukanlah rangkaian kata-kata dari Allah SWT yang turun kepada Nabi Isa melalui Jibril. Mereka mengakui bahwa Injil itu bukan kitab suci yang turun dari langit kepada Nabi Isa alaihissalam. Namun mereka mengatakan bahwa yang mereka sebut Bible itu hanyalah sebatas catatan yang dituliskan oleh murid-murid Nabi Isa, yaitu terkait dengan ajaran-ajaran yang disampaikan.
Kalau kita sandingkan dengan versi Islam, kira-kira setara dengan hadits nabawi, yaitu segala hal yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan atau pun juga sikap diamnya Beliau.
Secara teknis, The Holy Book itu ditulis oleh empat orang murid Nabi Isa, yang dikenal sebagai para Injilis: yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Masing-masing dari mereka menulis berdasarkan pengalaman pribadi, pengajaran dan tradisi lisan yang berkembang dalam komunitas Kristen awal.
1. Injil Matius: Dikaitkan dengan Matius, seorang mantan pemungut pajak yang menjadi salah satu dari dua belas rasul Yesus. Injil ini diperkirakan ditulis sekitar 70-80 Masehi.
2. Injil Markus: Dikaitkan dengan Markus, yang adalah sahabat Petrus dan juga mungkin seorang yang muda pada saat Yesus hidup. Injil ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 66-70 Masehi.
3. Injil Lukas: Dikaitkan dengan Lukas, seorang dokter yang juga merupakan seorang pengikut Yesus. Dia dikenal sebagai penulis Kitab Kisah Para Rasul di Alkitab Kristen. Injil ini diperkirakan ditulis sekitar 80-90 Masehi.
4. Injil Yohanes: Dikaitkan dengan Yohanes, seorang rasul yang juga dikenal sebagai "rasul yang dicintai" dalam tradisi Kristen. Injil ini diperkirakan ditulis antara tahun 90-110 Masehi.
Para penulis ini menulis Injil-Injil mereka untuk mengabadikan ajaran, tindakan, dan kehidupan Yesus Kristus sehingga generasi-generasi berikutnya dapat mengenal-Nya dan iman Kristen dapat dipertahankan.
Meskipun Injil-injil ini masing-masing memiliki gaya penulisan dan fokus yang berbeda, mereka secara bersama-sama membentuk inti naratif tentang kehidupan dan ajaran Yesus Kristus dalam tradisi Kristen.
Kalau dalam tradisi Islam, catatan terkait Nabi Muhammad SAW yang disusun berdasarkan riwayat oleh masing-masing shahabat itu disebut kitab musnad. Hadits-hadits dalam Kitab Musnad disusun berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya.
Beberapa contoh kitab Musnad yang terkenal adalah "Musnad Ahmad ibn Hanbal", yang disusun oleh Imam Ahmad ibn Hanbal, dan "Musnad Abi Dawud", yang disusun oleh Imam Abu Dawud.
Karena apa yang mereka sebut sebagai Alkitab itu bukan Injil sebagaimana yang dimaksud dalam agama Islam, maka agak sulit bagi kita kaum muslimin untuk memposisikannya sebagai kitab suci samawi dalam artinya secara tekstual.
Apalagi mengingat bahwa Alkitab itu sendiri terbit dalam banyak versi terjemahan dalam berbagai bahasa. Kita agak kesulitan mendapatkan teks asli yang ditulis langsung oleh murid-murid Nabi Isa. Boleh jadi di kalangan Kristiani, penerjemahan itu sudah dianggap sah dan representasi dari Alkitab.
Sementara di dalam tradisi keilmuan agama Islam, terjemah atas Al-Quran disepakati bukanlah Al-Quran itu sendiri. Sebab yang disebut Al-Quran hanyalah yang asli turun lewat lisan Jibril kepada Nabi SAW dalam bahasa Arab yang asli.
Bahkan cara melafalkan Al-Quran itu ada aturan khusus yang tidak boleh dibaca secara sembarangan. Membaca Al-Quran hanya dibolehkan manakala seseorang sudah selesai belajar tajwid dan qiraat.
Tidak ada rumusnya dalam Islam bahwa Al-Quran itu diterjemahkan ke dalam bahasa lain, lalu dianggap itulah Al-Quran. Semua terjemahan Al-Quran diyakini bukan Al-Quran itu sendiri, tetapi hanyalah hasil interpretasi para penerjemah.
Kata wa idz (وَإِذْ) artinya : (Ingatlah) ketika. Kata takhluqu (تَخْلُقُ) artinya : kamu menciptakan. Namun yang dimaksud bukan mencipta sesuatu dari tidak ada menjadi ada, sebagaimana Allah SWT ketika mencipta. Tetapi yang dimaksud adalah membentuk tanah liat menjadi berbentuk seperti burung alias tiruan burung. Sehingga akan lebih tepat jika diterjemahkan menjadi : kamu membentuk.
Kata min-ath-thin (مِنَ الطِّينِ) artinya : dari tanah. Kata ini sebenarnya berarti tanah liat basah, yang sering disebut sebagai bahan dasar penciptaan manusia: (وَبَدَأَ خَلْقَ الإِنسَانِ مِن طِينٍ). Sebenarnya dalam Al-Qur’an terdapat berbagai istilah yang merujuk pada tanah dengan makna yang berbeda. Kadang juga digunakan kata at-turab (التراب) yang maknanya adalah tanah kering atau debu, seperti pada ayat ini (أَئِذَا كُنَّا تُرَابًا أَإِنَّا لَمَرْدُودُونَ). Ada juga kata ash-sha’id (الصعيد) merujuk pada permukaan tanah suci untuk tayammum, seperti pada ayat (فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا).
Kata kahaia'atith-thairi (كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ) artinya : seperti bentuk burung. Tanah yang dibentuk itu memang dari segi rupa luarnya amat mirip menyerupai seekor burung, tetapi pada tahap ini belum bernyawa.
Kata bi-idznii (بِإِذْنِي) artinya : dengan seizin-Ku.
فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي
Kata fatanfukhu (فَتَنْفُخُ) artinya : kemudian engkau meniupnya. Kata fiihaa (فِيهَا) artinya : pada benda itu. Kata fatakunu (فَتَكُونُ) artinya : lalu menjadi. Kata thairan (طَيْرًا) artinya : seekor burung (yang sebenarnya). Kata bi-idznii (بِإِذْنِي) artinya : dengan seizin-Ku.
Ketika burung-burungan yang terbuat dari tanah liat itu ditiupkan oleh Nabi Isa alaihissalam, maka terjadilah mukjizat yang nyata, tiba-tiba berubah jadi burung yang bisa terbang.
Kisah ini mengingatkan Penulis pada apa yang juga terjadi pada Nabi Ibrahim alaihissalam terkait dengan mukjizat. Beliau pun diberi mukjizat yang juga terkait dengan burung. Bedanya bukan burung dari tanah liat yang bisa hidup, tapi burung yang sudah mati dan badannya dipotong-potong, kemudian disebar di beberapa titik yang berjauhan, lalu tiba-tiba bisa menyatu dan hidup kembali.
Penulis jadi bertanya dalam hati, ada apa Allah SWT memperlihatakn mukjizat terkait dengan burung? Kenapa bukan hewan lain? Apa yang istimewa dari burung sehingga dijadikan contoh mukjizat.
Setelah dikaitkan dengan ilmu biologi modern, ternyata burung memang memiliki keunikan yang luar biasa dari sisi ilmiah dan biologis, sehingga menjadi makhluk yang sangat istimewa dalam ciptaan Allah.
Pertama, struktur tubuh burung sangat ringan namun kuat berkat tulang yang berongga, memungkinkan mereka terbang dengan mudah dan lincah. Hewan lain punya tulang yang kuat, tapi tidak seringan tulang burung, akibatnya hewan lain pastinya tidak bisa terbang.
Kedua, otot-otot pada dada burung sangat besar dan kuat, sehingga mampu menggerakkan sayap secara cepat dan efisien. Otot pada hewan lain mungkin besar dan kuat, tetapi tidak akan sanggup digunakan untuk mengepakkan sayap yang bisa membuatnya melawan gravitasi bumi.
Ketiga, sistem pernapasan burung pun unik dan sangat efisien. Burung punya sistem kantong udara yang memungkinkan aliran udara satu arah, sehingga oksigen terserap maksimal. Ini sangat penting untuk mendukung aktivitas terbang yang membutuhkan energi besar. Hewan lain tidak punya sistem semacam ini.
Keempat, burung memiliki kemampuan navigasi yang luar biasa, seperti kemampuan mengindera medan magnet bumi untuk bermigrasi jarak jauh, serta penglihatan yang sangat tajam untuk berburu atau menghindar dari bahaya. Hewan lain tidak diberikan kemampuan navigasi, sehingga kalau pun misalnya bisa terbang, dia tidak bisa pulang karena nyasar dan tersesat.
Kelima, bulu burung juga sangat kompleks, berfungsi bukan hanya untuk terbang tetapi juga sebagai pelindung dari cuaca dan membantu aerodinamika. Kecoak itu bisa terbang, tapi terbangnya random, dia tidak bisa mengendalikan arah terbangnya, sehingga tidak tahu akan mendarat dimana.
Semua sistem biologis ini bekerja secara terintegrasi dengan metabolisme yang sangat tinggi agar burung dapat hidup dan terbang dengan sempurna. Karena kompleksitas dan keistimewaan ini, burung menjadi simbol kehidupan yang bebas dan penuh keajaiban.
Itulah sebabnya -wallahua a’lam- barangkali dalam kisah mukjizat ini Allah memilih burung sebagai objek mukjizat yang diberikan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Isa. Mukjizat tersebut bukan sekadar menampilkan bentuk fisik burung, tetapi menghidupkan makhluk yang memiliki struktur dan fungsi biologis yang sangat rumit secara instan. Dengan mukjizat ini, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya yang tak terbatas.
وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي
Kata wa tubri’u (وَتُبْرِئُ) artinya : dan engkau menyembuhkan. Sebenarnya kalau menyembuhkan itu sebutannya yasyfi (يشفي) seperti yang ada di dalam ayat berikut :
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku (QS. Asy-Syuara’ : 80)
Sedangkan kata tubri (تُبْرِئُ) pada dasarnya bermakna membebaskan, sebagaimana di dalam ayat lain disebutkan :
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي
Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan). (QS. Yusuf : 53)
Lafazh al-akmaha (الْأَكْمَهَ) diterjemahkan menjadi : buta. Ini juga menimbulkan pertanyaan, sebab di dalam Al-Quran ada istilah buta juga, tetapi menggunakan istilah : a’ma (أعمى). Misalnya yang terdapat di ayat berikut :
وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ
Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. (QS. Fathir : 19)
Lalu apa perbedaan antara keduanya?
Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan Ath-Thabari bahwa menurut kebanyakan ahli bahasa Arab bahwa al-akmah adalah orang yang buta sejak lahir. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa al-akmah (الْأَكْمَهَ) adalah orang yang matanya tertutup dan tidak punya kornea mata. Maka dalam terjemahan Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab, al-akmah ini diterjemahkan menjadi : buta sejak lahir.
Kata wal-abrasha (وَالْأَبْرَصَ) diterjemahkan oleh Kemenag RI secara tidak konsisten. Untuk ayat ke-110 surat Al-Maidah ini diterjemahkan orang yang berpenyakit kusta, namun untuk surat Ali Imran ayat 49 dengan kata yang sama diterjemahkan menjadi : penyakit buras (belang). Perbedaan ini menimbulkan pertanyaan, apakah keduanya memang memiliki makna yang sama, atau adakah alasan khusus di balik perbedaan pilihan kata terjemahan tersebut.
Secara bahasa Arab, al-abrash berasal dari akar kata barasha (برص), yang mengacu pada perubahan warna kulit atau hilangnya pigmen, sehingga kulit tampak belang. Istilah ini bersifat umum dan bisa menunjuk pada berbagai kondisi penyakit kulit yang menyebabkan belang atau bercak putih, mulai dari penyakit yang ringan seperti vitiligo hingga yang lebih berat seperti kusta.
Dalam konteks bahasa Arab klasik, istilah ini tidak selalu mengarah secara spesifik kepada satu jenis penyakit medis seperti yang dipahami dalam ilmu kedokteran modern. Karena itu, terjemahan ke dalam bahasa Indonesia pun bisa bervariasi tergantung konteks.
Oleh karena itu, bisa disarankan agar ke depan lembaga penerjemah seperti Kementerian Agama memberikan catatan kaki atau penjelasan khusus tentang makna kata-kata seperti al-abrash, agar pembaca memahami bahwa variasi dalam terjemahan bukanlah bentuk kontradiksi, melainkan bagian dari kekayaan tafsir dan penyesuaian makna dalam bahasa target.
Terjemahan versi Prof. Quraish Shihab juga nampak tidak konsisten. Di ayat 110 surat Al-Maidah ini Beliau menerjemahkan kata al-abrasha (الأبرص) menjadi : penyakit kusta, namun di surat Ali Imran ayat 49, kata al-abrasha (الأبرص) Beliau terjemahkan menjadi : penyakit sopak.
Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka juga memilih menerjemahkan kata al-abrasha (الأبرص) dengan istilah sopak. Ini menarik, karena istilah "sopak" merupakan kata yang cukup dikenal dalam bahasa Melayu-Indonesia klasik, dan biasanya merujuk pada kelainan warna kulit yang tampak belang atau tidak merata. Dalam banyak konteks tradisional, sopak digunakan untuk menggambarkan kondisi seperti vitiligo atau leukoderma, yaitu hilangnya pigmen kulit, tetapi tidak selalu mengandung konotasi penyakit menular atau mematikan seperti kusta.
Versi lain menyebutkan bahwa al-abrasha (الأبرص) adalah penyakit lepra. Pada zaman dahulu, lepra adalah penyakit yang dianggap tidak bisa disembuhkan dan mengakibatkan penderitaan fisik yang jelas terlihat, bahkan pengucilan sosial. Sejarah mencatat bahwa lepra pernah menjadi penyakit yang cukup mewabah di beberapa wilayah, terutama di masa lalu ketika pengetahuan medis dan pengobatan belum terlalu maju.
Namun, penting untuk dicatat bahwa istilah "abrash" bukanlah nama penyakit medis yang definitif seperti yang kita kenal dalam ilmu kedokteran modern. Dalam bahasa Arab klasik, al-abrash merujuk pada setiap kondisi kulit yang menyebabkan belang atau kehilangan pigmen, bisa lepra, bisa juga vitiligo atau kondisi lain. Lepra hanya salah satu kemungkinan tafsir medis atas kata tersebut, bukan satu-satunya makna.
Jadi, menyebut abrash sebagai lepra sah-sah saja, terutama jika ingin menekankan sisi beratnya mukjizat penyembuhan yang dilakukan oleh Nabi Isa AS. Tapi secara linguistik dan tafsir, ia tetap memiliki rentang makna yang lebih luas, dan bisa diterjemahkan berbeda-beda tergantung pada konteks, gaya tafsir, dan pendekatan penerjemah—seperti yang dilakukan oleh Kemenag dengan "kusta" dan "buras", atau oleh Buya Hamka dengan "sopak".
Kata bi-idznii (بِإِذْنِي) artinya : dengan seizin-Ku. Ungkapan ini untuk menegaskan bahwa semua penyakit yang disebutkan di atas, mulai dari al-akmaha (الْأَكْمَهَ) yaitu buta sejak lahir ataupun juga penyakit al-abrash (الأبرص) ini adalah penyakit-penyakit yang mustahil untuk bisa disembuhkan, setidaknya untuk ukuran di masa itu.
Namun apakah di masa kita sekarang dua penyakit ini bisa dijawab secara medis?
Untuk masalah kebutaan, dalam dunia kedokteran modern, kondisi buta sejak lahir tergantung pada penyebabnya. Jika disebabkan oleh katarak kongenital (lensa mata keruh sejak lahir), maka bisa diatasi dengan operasi penggantian lensa. Jika karena gangguan retina, seperti retinopathy of prematurity, maka terapi laser atau injeksi bisa membantu, meski hasilnya tergantung pada tingkat kerusakan.
Namun jika buta disebabkan oleh kerusakan saraf optik atau tidak terbentuknya korteks visual, maka sampai sekarang belum ada solusi medis pasti, karena sistem saraf pusat masih sulit diregenerasi. Jadi, sebagian kasus al-akmah bisa ditangani dengan teknologi medis saat ini, tetapi tidak semua. Banyak jenis kebutaan bawaan yang tetap belum bisa disembuhkan.
Untuk masalah kusta atau lepra, saat ini sudah bisa diobati dengan kombinasi antibiotik yang disebut multi-drug therapy (MDT). Pengobatan ini dapat menyembuhkan lepra dan mencegah penularan, terutama jika ditangani sejak awal.
Namun, jika kerusakan jaringan atau saraf sudah terjadi, maka efek permanen mungkin tidak bisa dipulihkan sepenuhnya.
Vitiligo atau penyakit kulit tidak menular lain yang menyebabkan belang juga bisa ditangani, misalnya dengan terapi sinar UV, krim kortikosteroid, atau transplantasi kulit, meskipun pemulihannya tidak selalu sempurna dan bersifat kosmetik. Jadi, penyakit abrash di masa sekarang bukan lagi hal yang mustahil untuk diobati, meskipun tidak selalu bisa mengembalikan kondisi kulit seperti semula 100%.
وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِي
Kata wa idz (وَإِذْ) artinya : dan ingatlah ketika. Kata tukhriju (تُخْرِجُ) artinya : engkau mengeluarkan.
Ada yang sedikit unik dan tidak biasanya dalam penggalan ini. Secara harfiyah kata tukhriju (تُخْرِجُ) ini berasal dari akar kata (خَرَجَ – يَخْرُجُ) yang berarti keluar. Sedangkan kata (أَخْرَجَ – يُخْرِجُ) artinya mengeluarkan. Sedangkan kata al-mautaa (الْمَوْتَىٰ) artinya : orang mati.
Kalau kita bandingkan dengan surat Ali Imran yang merupakan kembaran ayat ini, Allah SWT masih menggunakan kata ‘wa uhyil mauta’ (وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ ) : dan Aku hidupkan orang mati. Tapi disini tidak digunakan kata uhyi melainkan digunakan kata tukhriju (تُخْرِجُ) yang artinya : kamu mengeluarkan.
Tentu ini merupakan bentuk majaz, seolah-olah kematian itu suatu alam lain, lalu Nabi Isa menarik keluar orang yang sudah ada di dalam kematian kembali lagi ke alam dunia.
Kata bi-idznii (بِإِذْنِي) artinya : dengan seizin-Ku. Tentunya yang melakukannya bukan semata-mata Nabi Isa alaihissalam. Semua itu terjadi atas izin Allah SWT.
Kejadian orang sudah mati bisa dibikin hidup lagi memang menjadi mukjizat yang unik, bahkan sempat terjadi juga di masa Nabi Musa alaihissalam. Kisah penyembelihan sapi betina itu pada dasarnya untuk membuat orang mati bisa hidup lagi. Kasusnya orang mati itu sebenarnya adalah korban pembunuhan, namun pembunuhnya tidak ketahuan siapa. Dengan dipukulkan bagian dari sapi betina yang sudah disembelih, maka korban pembunuhan itu hidup lagi dan menceritakan langsung siapa pembunuhnya.
"Lalu Kami berfirman: ‘Pukulkanlah (bagian sapi itu) kepada orang yang terbunuh itu.’ Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati..." (QS Al-Baqarah: 73)
وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ
Kata wa idz (وَإِذْ) artinya : (Ingatlah) ketika. Kata kafaftu (كَفَفْتُ) merupakan kata kerja dalam bentuk lampau atau fi’il madhi yang dibentuk dari akar kata tiga huruf (tsulatsi) yaitu كَفَّ. Secara morfologis, kata (كَفَّ) ini berarti "menahan" atau "mencegah". Ketika dibentuk menjadi كَفَفْتُ, artinya menjadi "Aku telah menahan", di mana tambahan -تُ di akhir kata menunjukkan subjek orang pertama tunggal, yaitu Aku yang dalam hal ini tidak lain adalah Allah SWT.
Kata bani isra'ila (بَنِي إِسْرَائِيلَ) artinya : Bani Israil. Kata 'anka (عَنْكَ) artinya : darimu, maksudnya dari keinginan mereka membunuh Nabi Isa alaihissalam.
Perlindungan ini sebenarnya termasuk nikmat yang paling agung, yaitu nikmat penjagaan dari Allah terhadap Nabi Isa seolah kebal atau sebegitu licinnya sehingga Bani Israil tidak mampu menangkapnya bertahun-tahun.
Padahal Beliau tidak berhenti dari berdakwah menyeru kepada agama di tengah-tengah mereka. Meski mereka sangat membencinya dan pengikutnya pun sedikit, namun Allah memalingkan mereka semua dari usaha untuk mencelakainya. Ketika mereka akhirnya sepakat bulat untuk membunuhnya, Allah melindunginya dari mereka dan mengangkatnya kepada-Nya, sehingga mereka tidak berhasil menangkapnya, dan jiwa mereka pun mati karena menahan amarah dan kebencian.
Dalam Surah An-Nisa ayat 157–158, Allah berfirman:
"...dan karena ucapan mereka: 'Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah'. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh) adalah seseorang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka... Bahkan Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana."
Seseorang yang bukan Nabi Isa diserupakan wajah dan rupanya sehingga para serdadu Romawi dan para penuduh dari Bani Israil mengira itulah Isa. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa orang yang diserupakan itu adalah salah seorang dari murid-murid atau pengkhianat yang menunjukkan tempat persembunyian Isa. Dialah yang akhirnya ditangkap dan disalib, sementara Nabi Isa diselamatkan oleh Allah.
Allah lalu mengangkat Nabi Isa ke langit dalam keadaan hidup. Ia tidak wafat dan tidak disalib. Menurut keyakinan Islam, dan akan kembali diturunkan ke bumi menjelang hari kiamat, untuk menegakkan kebenaran, membunuh Dajjal, dan menegakkan hukum Islam. Setelah menjalankan tugasnya, barulah ia akan wafat sebagai manusia biasa.
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hampir tiba masanya ketika putra Maryam (Isa) akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. Ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapuskan jizyah, dan harta akan melimpah ruah hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya. Dan satu sujud akan lebih baik daripada dunia dan segala isinya.( HR. Muslim)
إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ
Kata idz ji'tahum (إِذْ جِئْتَهُمْ) artinya : pada waktu engkau mengemukakan kepada mereka. Kata bil-bayyinaati (بِالْبَيِّنَاتِ) secara harfiyah kata ini bermakna bukti atau keterangan. Namun umumnya para ulama memaknainya sebagai berbagai bentuk mukjizat seperti yang sudah disebutkan dalam ayat ini.
Kalau kita hitung, setidaknya ayat ini menyebutkan ada tujuh mukjizat yang didapat oleh Nabi Isa alaihissalam, yaitu :
1. Berbicara saat masih bayi dalam buaian (تُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِى ٱلْمَهْدِ وَكَهْلًۭا)
3. Menciptakan burung dari tanah liat lalu meniupnya dan menjadi burung hidup (تَخْلُقُ مِنَ ٱلطِّينِ كَهَيْـَٔةِ ٱلطَّيْرِ... فَتَكُونُ طَيْرًۭا بِإِذْنِى)
4. Menyembuhkan orang buta sejak lahir (وَتُبْرِئُ ٱلْأَكْمَهَ)
5. Menyembuhkan orang yang berpenyakit lepra (وَٱلْأبْرَصَ)
6. Menghidupkan orang mati (تُخْرِجُ ٱلْمَوْتَىٰ بِإِذْنِى)
7. Dilindungi dari upaya pembunuhan oleh Bani Israil (وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَنكَ)
فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ
Kata faqaala (فَقَالَ) artinya : lalu berkata. Kata alladziina (الَّذِينَ) artinya : orang-orang. Kata kafaruu (كَفَرُوا) artinya : kafir. Kata minhum (مِنْهُمْ) artinya : di antara mereka.
Yang dimaksud dengan orang-orang kafir tidak lain adalah orang-orang Yahudi, yakni mereka yang mengingkari risalah Nabi Isa, bahkan memusuhinya, menuduhnya sebagai pendusta, dan berupaya membunuhnya.
Namun perlu dicatat bahwa tidak semua dari Bani Israil ketika itu kafir. Ada sebagian yang beriman kepada Nabi Isa — mereka inilah yang disebut dalam ayat lain sebagai al-hawariyyun, yaitu para pengikut setia Nabi Isa. Oleh sebab itu, ayat ini menggunakan kalimat "الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ" dan bukan "الَّذِينَ كَفَرُوا" saja, untuk menunjukkan bahwa kekufuran itu datang dari sebagian mereka, bukan semuanya.
Pembedaan ini penting karena Al-Qur’an selalu bersikap adil dalam menyebut kelompok. Tidak semua Yahudi pada masa itu kafir terhadap Nabi Isa, dan tidak semua pula menolak ajaran tauhid. Maka, istilah "orang-orang kafir dari mereka" lebih tepat dipahami sebagai orang-orang Yahudi yang mengingkari Nabi Isa dan ajarannya.
إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِين
Kata in (إِنْ) artinya : tidak. Kata hadzaa (هَٰذَا) artinya : ini, maksud semua kejadian luar biasa yang Allah SWT berikan kepada Nabi Isa. Kata illaa (إِلَّا) artinya : kecuali atau kecuali hanyalah. Kata sihrun (سِحْرٌ) artinya : sihir.
Dalam bahasa Arab, kata sihir secara leksikal mengandung arti Tipu daya dan kelembutan dalam memperdaya (الخِداع ولَطافةُ الحيلة). Intinya sesuatu yang terjadi secara halus dan tersembunyi, tidak tampak sebabnya secara jelas, sehingga membingungkan orang yang melihatnya.
Dengan kata lain bisa dipahami sebagai sesuatu yang membuat sesuatu tampak berbeda dari kenyataannya, melalui tipu daya atau kekuatan tersembunyi — entah itu ilusi, pengaruh psikologis, bantuan jin, atau praktik ghaib lainnya.
Kata mubiinun (مُبِينٌ) artinya : yang nyata. Kata ini justru menjadi lawan dari sihir itu sendiri yang maknanya sesuatu yang tersembunyi. Namun begitu diberi sifat : sihir yang nyata, maka konotasinya berubah dari sesuatu yang tersembunyi menjadi sesuatu yang nampak nyata.
Perbedaan Antara Mukjizat Dan Sihir
Perbedaan antara mukjizat dan sihir dalam pandangan Islam sangat mendasar, meskipun keduanya sama-sama tampak luar biasa di mata manusia.
Mukjizat adalah kejadian luar biasa yang terjadi di luar hukum alam dan diberikan Allah kepada para nabi dan rasul sebagai bukti kebenaran risalah mereka. Mukjizat bukan sekadar keajaiban, melainkan bentuk pertolongan ilahi yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun.
Ia tidak dilakukan dengan latihan, tidak bersifat tipuan, dan tidak memiliki unsur manipulatif. Tujuan mukjizat adalah menegakkan kebenaran, menenangkan hati para pengikut, serta menundukkan hati orang yang jujur dengan cara yang penuh hikmah dan keadilan.
Sementara itu, sihir adalah kejadian luar biasa yang bersifat menipu, ilusif, dan dalam banyak hal melibatkan bantuan dari kekuatan ghaib yang menyimpang, seperti jin atau setan.
Sihir bertujuan untuk memperdaya, mengelabui, menaklukkan orang lain dengan cara paksa atau licik, serta sering digunakan untuk kepentingan duniawi atau bahkan kejahatan. Tidak jarang sihir dilakukan melalui perjanjian antara manusia dengan makhluk ghaib dengan bayaran tertentu berupa penghambaan, kekafiran, atau pengorbanan.
Dalam hal sumber kekuatan, mukjizat berasal dari Allah semata dan hanya diberikan kepada orang yang diangkat menjadi nabi atau rasul. Sedangkan sihir berasal dari usaha manusia atau kerja sama dengan setan, dan siapa pun yang mempelajarinya bisa melakukannya — meskipun dengan tingkat keahlian yang berbeda-beda. Dalam hal pengaruh, mukjizat bersifat membangun, mendidik, dan suci, sedangkan sihir bersifat merusak, memanipulasi, dan kotor.
Karena itu, tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang kafir terhadap para nabi — bahwa mukjizat mereka adalah sihir — sebenarnya mencerminkan kebutaan hati dan kesesatan mereka dalam memahami hakikat yang benar.
Mereka tidak membedakan antara cahaya petunjuk yang datang dari langit dan kegelapan tipu daya yang muncul dari bumi. Mereka mengira semua yang luar biasa itu berasal dari sumber yang sama, padahal antara keduanya terbentang jurang yang dalam: yang satu dari Tuhan, dan yang lain dari setan.
Maka wajar jika Allah menegur mereka melalui ayat-ayat-Nya, dan menjadikan penolakan mereka terhadap mukjizat sebagai bukti kekafiran mereka yang disengaja.