Kemenag RI 2019:(Ingatlah) ketika para pengikut setia Isa berkata, “Wahai Isa putra Maryam, sanggupkah (bersediakah) Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” Isa menjawab, “Bertak-walah kepada Allah jika kamu orang-orang mukmin.” Prof. Quraish Shihab:(Ingatlah), ketika Hawariyyin (para pengikut setia Nabi ‘Isa as.) berkata: “Wahai ‘Isa putra Maryam! Mampukah Tuhan Pemeliharamu menurunkan untuk kami hidangan dari langit?” Dia (Nabi ‘Isa as.) menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu benar-benar orang-orang mukmin.” Prof. HAMKA:(Ingatlah) tatkala Hawariy?n itu berkata, “Wahai Isa anak Maryam! Apakah berkuasa Tuhan engkau menurunkan kepada kami suatu hidangan dari langit?” Jawabnya, “Takutlah kepada Allah jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.”
Yang unik bahwa turunnya hidangan dari langit ini justru merupakan permintaan dari pengikut setianya sendiri dan bukan dari pihak yang mengingkari kenabian Beliau.
Ibaratnya mukjizat yang satu ini tidak terjadi dalam rangka melemahkan argumentasi lawan, apalagi untuk menjatuhkannya. Tetapi permintaan itu datang justru dari kaumnya yang pada dasarnya sudah beriman dan membenarkan agama yang dibawanya.
Kata idz (إِذْ) artinya secara harfiyah adalah : ketika. Namun maksudnya adalah perintah untuk mengingat dan melakukan pembahasan, analisa, kajian dan pendalaman terkait dengan suatu kejadian. Dalam banyak terjemah ditambahkan dengan kata ‘ingatlah’ sehingga menjadi : “(ingatlah) ketika”.
Kata qala (قَالَ) artinya : telah berkata. Kata al-hawariyun (الْحَوَارِيُّونَ) artinya : para hawariyyun, yaitu para pengikut setia Nabi Isa alaihissalam.
Kata yaa 'iisaa (يَا عِيسَى) artinya : “Wahai Isa. Kata ibna (ابْنَ) artinya : putra. Kata maryam (مَرْيَمَ) artinya : Maryam.
هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ
Kata hal (هَلْ) artinya : apakah. Kata yastati'u (يَسْتَطِيعُ) artinya secara harfiyah memang mampu. Kata rabbuka (رَبُّكَ) artinya : Tuhanmu.
Secara harfiyah, pertanyaan ini sepertinya merendahkan Allah SWT, sebab mempertanyakan kemampuan-Nya, apakah bisa menurunkan hidangan dari langit. Seolah-olah Dia sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa lagi dipertanyakan kemampuannya.
Padahal sebenarnya tidak demikian, para hawariyyun itu bukan sedang mempertanyakan kemampuan Allah SWT. Juga bukan sedang merendahkan Nabi Isa alaihissalam sebagai nabi yang mendapat mukjizat. Jangankan sekedar menurunkan hidangan dari langit, bahkan berbagai macam kemukjizatan yang jauh lebih dahsyat sebagaimana sudah diceritakan di ayat sebelumnya pun, mereka juga sudah mengimani dan membenarkannya.
Lalu kenapa mereka bertanya seperti itu? Atau lebih tepatnya, apa yang sebenarnya mereka pertanyakan?
Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran [1] menuliskan bahwa yang mereka pertanyakan adalah : apakah Allah SWT akan mengabulkan permintaan mereka yang butuh makanan, tapi mintanya lewat Nabi Isa alaihissalam. Logikanya, sebagai nabi yang punya banyak mukjizat, kalau sekedar minta hidangan dari langit, tentu tidak terlalu sulit.
Maka yang lebih tepat penggalan ini jangan diterjemahkan : apakah Tuhanmu mampu, tetapi apakah Tuhan berkenan, apakah Dia bersedia.
Para ulama tafsir meriwayatkan bahwa dari sisi ilmu qiraat, disebutkan bahwa bacaan Al-Kisa’i agak berbeda. Bacaannya adalah rabbaka (رَبَّكَ) dan bukan rabbuka (رَبُّكَ). Kalau dibaca rabbaka, maka posisi Tuhan itu bukan sebagai pelaku alias fa’il, melainkan sebagai maf’ul bihi alias objek.
هَلْ تَسْتَطِيعُ رَبَّكَ
Maka makna kalimat tersebut berubah menjadi : “Apakah engkau mau meminta kepada Tuhanmu untuk kami?”
Ada pula yang mengatakan bahwa dalam ayat tersebut yang dimahdzuf alias dihilangkan, yaitu :
هَلْ تَسْتَطِيعُ سُؤالَ رَبِّكَ
“Apakah engkau mampu untuk memohon kepada Tuhanmu?”
Versi Yang Berbeda
Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Quran Al-‘Azhim[2] menuliskan versi yang agak jauh berbeda. Beliau meriwayatkan kisah yang disebut bersumber dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahuanhu. Dikisahkan bahwa Nabi Isa alaihissalam mengajak Bani Israil untuk melakukan suatu amalan dan berkata kepada mereka, “Maukah kalian berpuasa kepada Allah selama tiga puluh hari, lalu setelah itu kalian memohon sesuatu kepada-Nya? Kalau kalian lakukan itu, maka Allah akan mengabulkan apa yang kalian minta. Sebab, upah seorang pekerja pasti ditanggung oleh yang mempekerjakannya.”
Mendengar ajakan itu, Bani Israil pun menyetujuinya dan menjalankan puasa tiga puluh hari sesuai yang diperintahkan.
Setelah menyelesaikan puasa mereka, mereka pun datang kepada Nabi Isa dan berkata, “Wahai guru kebaikan! Engkau pernah berkata bahwa upah seorang pekerja pasti diberikan oleh pihak yang mempekerjakannya. Dan engkau telah memerintahkan kami berpuasa selama tiga puluh hari, dan kami sudah melakukannya. Tapi selama ini, kami tak pernah bekerja untuk seseorang selama tiga puluh hari penuh tanpa diberi makanan setelah selesai. Maka sekarang, apakah Tuhanmu mampu menurunkan kepada kami sebuah hidangan dari langit?”
Mendengar permintaan itu, Nabi ‘Isa mengingatkan mereka, “Bertakwalah kepada Allah jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.” Namun mereka tetap bersikeras dan berkata, “Kami hanya ingin makan dari hidangan itu, agar hati kami merasa tenang, supaya kami tahu bahwa engkau memang benar dalam apa yang engkau katakan, dan supaya kami bisa menjadi saksi atas kebenaran itu.”
Akhirnya, Nabi ‘Isa pun menengadahkan tangan dan berdoa, “Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami sebuah hidangan dari langit, yang akan menjadi hari raya bagi kami—baik bagi generasi pertama maupun generasi terakhir kami—dan jadikanlah itu sebagai tanda dari-Mu. Berilah kami rezeki, karena Engkau adalah sebaik-baik Pemberi rezeki.”
Lalu Allah menjawab doa tersebut dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kalian. Tapi jika setelah itu masih ada di antara kalian yang tetap kufur, maka sungguh Aku akan menyiksanya dengan azab yang belum pernah Aku timpakan kepada siapa pun di seluruh alam ini.”
Setelah itu, malaikat-malaikat pun datang dari langit, terbang membawa sebuah hidangan. Di atasnya terdapat tujuh ekor ikan dan tujuh potong roti. Mereka meletakkan hidangan itu di hadapan Bani Israil. Setiap orang dari mereka, dari yang pertama hingga yang terakhir, memakannya. Dan ajaibnya, orang yang terakhir makan dari hidangan itu mendapatkan bagian yang sama seperti orang pertama.
Kata an yunazzila (أَنْ يُنَزِّلَ) artinya : menurunkan. Kata 'alainaa (عَلَيْنَا) artinya : kepada kami. Kata maa'idatan (مَائِدَةً) artinya : hidangan. Sebenarnya yang dimaksud dengan istilah al-maidah itu adalah : (الْخِوَانُ عَلَيْهِ طَعَامٌ) nampan besar yang di dalamnya ada makanan.
Kata minas-samaa'i (مِنَ السَّمَاءِ) artinya : dari langit. Meskipun disebutkan bahwa makanan itu turun dari langit, namun pastinya jenisnya adalah makanan khas mereka sehari-hari.
Maka mereka meminta agar diturunkan kepada mereka makanan bukan karena semata-mata ingin melihat atraksi mukjizat dan keajaiban. Tetapi secara teknis mereka memang butuh makanan yang bisa mengenyangkan perut mereka.
Ada yang mengatakan bahwa perintah itu disebabkan karena kefakiran mereka. Mereka bukan orang yang kaya dan bisa dengan mudah mendapatkan makanan.
Namun ada juga yang berpendapat bahwa yang lebih logis kenapa mereka minta diturunkan makanan dari langit, bukan berarti mereka orang yang malas bekerja, melainkan karena kehidupan mereka yang seperti buronan. Mereka ini adalah para bodyguard pengawal Nabi Isa. Tidak sempat mereka bekerja mencari nafkah yang halal demi untuk sesuap makanan.
Mereka itu dalam posisi bersembunyi, maka sekedar menampakkan diri di tengah pasar sungguh amat besar resikonya. Tentu saja mereka tidak punya akses untuk bisa mendapatkan makanan dengan cara yang normal, entah dengan cara membeli atau memiliki sumber-sumber makanan.
Maka satu-satunya harapan untuk bisa makan adalah meminta kepada Nabi Isa alaihissalam agar Allah SWT menurunkan makanan langsung dari langit.
Boleh jadi ide untuk meminta kepada Nabi Isa agar minta diturunkan makanan dari langit, terinpirasi dari kejadian yang sudah pernah terjadi pada diri ibunda Nabi Isa yaitu Maryam. Meskipun bukan seorang nabi dan tidak punya mukjizat, namun Al-Quran dengan jelas menceritakan bahwa seringkali Nabi Zakaria tercengang mendapati ada begitu banyak hidangan yang entah datang dari mana untuk keponakannya, Maryam.
Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". (QS. Ali Imran : 37)
Maka dari itu mungkin saja mereka mendapat ide, bagaimana jika hal itu juga terjadi lagi, kali ini kepada puteranya yaitu Nabi Isa alaihissalam. Namun ini hanya asumsi saja, bisa benar bisa tidak.
قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Kata qaala (قَالَ) artinya : Isa menjawab. Kata ittaqullaha (اتَّقُوا اللَّهَ) artinya : “Bertakwalah kepada Allah.
Al-Masih Nabi Isa ‘alaihissalam menjawab permintaan mereka dengan ungkapan,"Bertakwalah kepada Allah SWT”. Menurut sebagian ulama jawaban ini sebenarnya adalah penolakan, seolah Nabi Isa ingin mengatakan agar mereka jangan meminta turun makanan dari langit.
Alasan penolakannya karena bisa jadi itu akan menjadi ujian bagi kalian. Atau mungkin juga dikira hanya sekedar untuk menguji kemampuan atau kenabian Nabi Isa alaihissalam sebagaimana biasanya yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang ingkar atas kenabiannya.
Mereka biasanya memang begitu, sok minta ditampilkan mukjizat yang aneh-aneh. begitu mukjizat sudah benar-benar terjadi, tetap saja mereka tidak mau beriman. Memang pada dasarnya mereka tidak mau beriman.
Kata in kuntum (إِنْ كُنْتُمْ) artinya : jika kamu. Kata mu'miniin (مُؤْمِنِينَ) artinya : benar-benar orang-orang yang beriman.”
Boleh jadi maksudnya bahwa kalau sudah jadi orang beriman, maka sudah tidak perlu lagi minta pembuktian-pembuktian lewat mukjizat aneh-aneh. Yang suka minta-minta mukjizat itu hanyalah mereka yang tidak beriman.
Ibnu Katsir meriwayatkan dalam tafsir Al-Quran Al-’Azhim[3] bahwa ketika para hawariyun meminta Nabi ‘Isa agar menurunkan hidangan dari langit, beliau sangat tidak menyukai permintaan itu. Dengan nada penuh keprihatinan, beliau berkata :
“Terimalah dengan rasa cukup apa yang telah Allah rezekikan kepada kalian di bumi ini. Janganlah kalian meminta hidangan dari langit. Sebab, jika hidangan itu benar-benar diturunkan, maka itu akan menjadi tanda dari Tuhan kalian.
Dan ketahuilah, kaum Tsamūd telah binasa karena hal seperti ini. Mereka meminta kepada nabi mereka agar mendatangkan tanda dari Allah, dan ketika tanda itu datang, mereka malah diuji dengannya hingga akhirnya kebinasaan mereka terjadi melalui tanda itu juga.”
Namun, para hawariyun tetap bersikeras. Mereka menolak untuk berhenti meminta dan tetap memohon agar Nabi ‘Isa mendatangkan hidangan tersebut. Karena itulah mereka akhirnya berkata, sebagaimana disebut dalam ayat: “Kami ingin makan dari hidangan itu dan agar hati kami menjadi tenang.”
Ketika Nabi ‘Isa melihat bahwa para hawaryun tetap bersikeras dan tidak mau menerima penjelasannya, mereka benar-benar menuntut agar beliau berdoa kepada Allah untuk menurunkan hidangan dari langit, maka beliau pun bangkit dengan hati yang penuh kesungguhan.
Beliau melepaskan pakaian wol yang biasa dikenakannya—pakaian sederhana khas seorang zahid—lalu menggantinya dengan pakaian dari bulu hitam: sebuah jubah dari bulu dan selendang juga dari bulu. Setelah itu, beliau berwudu dan mandi dengan niat mensucikan diri sepenuhnya. Lalu beliau masuk ke tempat salatnya, menyendiri, dan salat dengan khusyuk sebanyak yang Allah kehendaki.
Setelah selesai menunaikan salatnya, Nabi ’Isa berdiri menghadap kiblat dengan penuh ketundukan. Beliau merapatkan kedua kakinya sejajar hingga tumitnya saling bersentuhan, jari-jarinya sejajar menghadap ke depan. Tangan kanannya beliau letakkan di atas tangan kirinya, semuanya berada di atas dadanya. Pandangannya ditundukkan, kepalanya pun menunduk sebagai tanda kerendahan hati di hadapan Allah.
Kemudian beliau mulai menangis. Air matanya mengalir deras, membasahi kedua pipinya hingga menetes dari ujung-ujung janggutnya. Air mata itu jatuh ke tanah di depan wajah beliau, membasahi bumi karena dalamnya kekhusyukan dan ketakziman beliau saat bermunajat.
[1] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)
[2] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)
[3] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)