Kemenag RI 2019:(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada orang-orang, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’” Dia (Isa) menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa pun yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa pun yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa pun yang ada pada diri-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” Prof. Quraish Shihab:Dan (ingatlah), ketika Allah
berfirman: “Wahai ‘Isa putra Maryam!
Adakah engkau telah mengatakan
kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan
ibuku dua tuhan selain Allah?’” Dia
(Nabi ‘Isa as.) menjawab: “Mahasuci
Engkau, tidaklah (mungkin dan tidak
ada wujudnya) bagiku mengatakan
apa yang bukan hakku. Jika aku
pernah mengatakannya, maka sungguh
Engkau telah mengetahuinya. Engkau
mengetahui apa yang ada pada diriku
dan aku tidak mengetahui apa yang ada
pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau,
(dan hanya) Engkau-lah Yang Maha
Mengetahui perkara-perkara yang gaib. Prof. HAMKA:“Dan (ingatlah) tatkala berfirman Allah, ‘Wahai Isa anak Maryam, adakah engkau pernah berkata kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai Tuhan selain Allah?’ Dia menjawab, ‘Mahasuci Engkau! Tidaklah patut bagiku bahwa akan mengatakan apa yang tidak hakku. Jika ada aku mengatakannya, niscaya Engkau telah mengetahuinya (sebab) Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, sedangkan aku tidaklah mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya, Engkaulah yang lebih mengetahui akan hal yang gaib-gaib.’”
Tentu saja Nabi Isa menolak tuduhan itu. Beliau nanti akan menegaskan bahwa jika ia pernah melakukannya, Allah pasti sudah mengetahuinya, sebab Dia mengetahui segala yang gaib, sedangkan Isa sendiri tidak mengetahui apa-apa kecuali yang Allah ajarkan.
Ayat ini melanjutkan peringatan dalam ayat sebelumnya, ketika Allah mengancam akan mengazab siapa pun yang kufur setelah melihat mukjizat berupa turunnya hidangan dari langit. Maka dalam ayat 116 ini ditegaskan bahwa Nabi Isa tidak bersalah; justru umatnya yang menyimpang dengan menjadikannya dan ibunya sebagai objek pengultusan.
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ
Kata wa-idz (وَإِذْ) artinya : dan (ingatlah) ketika. Kata qaala (قَالَ) artinya : berkata. Kata allaahu (اللَّهُ) artinya : Allah. Kata yaa (يَا) artinya : wahai. Kata iisaa (عِيسَى) artinya : Isa. Kata ibna (ابْنَ) artinya : anak laki-laki. Kata maryama (مَرْيَمَ) artinya : Maryam.
Umumnya para ulama mengatakan bahwa apa yang diceritakan di ayat ini baru akan terjadi nanti di hari kiamat, yaitu ketika Allah SWT mengumpulkan para rasul dan diminta jawaban satu-satu per satu, sebagaimana yang termuat dalam ayat sebelumnya.
(Ingatlah) pada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul, lalu Dia bertanya (kepada mereka), “Apa jawaban (kaummu) terhadap (seruan)-mu?” (QS. Al-Maidah : 109)
أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ
Kata a-anta (أَأَنْتَ) terdiri dari dua unsur. Pertama hamzah istifham (أ) yang merupakan huruf yang digunakan untuk menanyakan sesuatu dengan rasa heran atau penekanan. Ini tidak memiliki i'rāb tertentu karena merupakan partikel yang tidak dipengaruhi oleh kasus atau bentuk gramatikal lainnya. Dalam bahasa Indonesia, kita bisa menerjemahkannya sebagai "Apakah...?"
Kedua, kata anta (أَنْتَ) yang berarti kamu, merupakan damir munfasil atau kata ganti terpisah yang berfungsi sebagai subjek atau pelaku dalam kalimat. Dalam hal ini yang dimaksud tidak lain adalah Nabi Isa ‘alaihissalam.
Kata qulta (قُلْتَ) artinya : mengatakan. Kata linnaasi (لِلنَّاسِ) artinya : kepada manusia.
Pertanyaan ini sebenarnya bukan didasarkan pada ketidaktahuan Allah SWT, sebab Dia adalah Tuhan Yang Maha Tahu. Namun pertanyaan ini sengaja diajukan demi bisa mengungkap tabir kebenaran yang bersifat konfirmatif dalam rangka menolak anggapan Nabi Isa sendiri yang memerintahkan orang lain untuk menjadikan dirinya sebagai Tuhan yang disembah. Allah SWT menegaskan lewat pertanyaan yang bersifat retoris, biar muncul kesan kesaksian langsung dari sumbernya.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[1] menuliskan bahwa para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna pertanyaan ini. Meskipun berbentuk pertanyaan, ia bukanlah sebuah pertanyaan yang sesungguhnya. Ada dua pandangan utama:
Pertama: Allah SWT menanyakan hal tersebut untuk mencela pihak-pihak yang mengklaim hal itu terhadap-Nya. Dengan demikian, pengingkaran-Nya setelah pertanyaan tersebut akan lebih efektif dalam menyanggah, dan lebih keras dalam mencela serta mengkritik.
Kedua: Tujuan dari pertanyaan ini adalah untuk memberitahu kepadanya (yang ditanya) bahwa kaumnya telah mengubah (ajaran) setelah kepergiannya, dan mengklaim atas namanya apa yang tidak pernah ia katakan.
Kata ittakhidzuunii (اتَّخِذُونِي) artinya : jadikanlah aku. Kata wa-ummiiya (وَأُمِّيَ) artinya : dan ibuku. Kata ilaahayni (إِلَٰهَيْنِ) artinya : dua tuhan. Kata min_duunillaah (مِنْ دُونِ اللَّهِ) artinya : selain Allah.
Penggalan ayat ini memang sering mengecoh pandangan kita kaum muslimin yang dianggap keliru menuduh umat Kristiani menyembah tiga tuhan, yaitu mengembah Allah, Nabi Isa dan Maryam.
Padahal dalam kenyataannya, konsep trinitas dalam Kristen itu bukan menyembah Maryam, melainkan apa yang disebut dengan : Roh Kudus. Trinitas itu adalah : Bapa (Allah), Anak (Yesus / Isa), dan Roh Kudus (Holy Spirit). Tidak ada Maryam atau Maria dalam konsep ketuhanan mereka. Maryam dihormati sebagai ibu Yesus, bahkan sangat dimuliakan dalam tradisi Katolik, tetapi tidak dijadikan Tuhan.
Lalu mengapa di ayat ini Nabi Isa menolak jika dirinya dan ibunya dijadikan tuhan selain Allah SWT? Bukankah ini seperti salah kaprah?
Sebagian ulama menjawab bahwa ayat ini tidak menyatakan semua orang Kristen menyembah Maryam, tetapi menyasar sekelompok kecil dari mereka yang dahulu memang terjerumus dalam sikap berlebihan (ghuluw), seperti kelompok Maryamiyyah, yang konon pernah meyakini Maryam sebagai bagian dari ketuhanan.
Jawaban kedua bahwa boleh saja kalangan Kristiani menolak jika dibilang mereka menyembah Maryam. Namun dalam praktiknya banyak tradisi gereja yang berlebihan dalam pemujaan bahkan dijadikan perantara dalam berdoa. Kalau sudah sampai disini, jangankan Maryam, bahkan para rahib dan pendeta pun sudah dianggap sebagai tuhan yang disembah. Allah SWT berfirman :
Mereka menjadikan orang-orang alim (ahbar) dan rahib-rahib (ruhban) mereka sebagai tuhan selain Allah. (QS. At-Taubah: 31)
Saat ayat ini dibacakan, terjadi sebuah dialog menarik yang tercatat dalam riwayat hadits sahih dari Adiy bin Hatim, seorang sahabat yang dulunya beragama Nasrani sebelum masuk Islam.
"Wahai Rasulullah, kami dulu tidak menyembah mereka!" Lalu Rasulullah SAW menjelaskan: "Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, lalu kalian ikut menghalalkannya? Dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, lalu kalian pun ikut mengharamkannya?" Adiy menjawab: "Ya, benar." Maka Rasulullah SAW bersabda: "Itulah bentuk penyembahan kalian kepada mereka." (HR. Tirmidzi)
قَالَ سُبْحَانَكَ
Kata qaala (قَالَ) artinya : ia berkata. Kata subhaanaka (سُبْحَانَكَ) artinya : Mahasuci Engkau.
Ketika ditanya oleh Allah, “Apakah engkau yang mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?”, Nabi Isa alaihissalam tidak langsung menjawab pertanyaan itu secara lugas. Sebaliknya beliau memulainya dengan kalimat tasbih: Subhanaka yang berarti : Mahasuci Engkau. Ini bukan tanpa alasan. Ada dua makna besar di balik sikap ini.
Pertama, kalimat tasbih tersebut mencerminkan penyucian terhadap Allah dari tuduhan atau sangkaan yang sangat besar—yakni bahwa ada yang mengajak manusia untuk menyekutukan-Nya. Dengan mengucap tasbih, Nabi Isa secara spontan menegaskan bahwa tidak mungkin Allah memiliki sekutu, dan beliau sendiri berlepas diri dari segala tuduhan yang mendekatkan dirinya pada kemusyrikan.
Kedua, tasbih itu juga merupakan bentuk ketundukan total di hadapan keagungan Allah. Nabi Isa merasa gentar, sangat takut, dan penuh kerendahan hati saat mendengar pertanyaan Allah yang sangat berat itu. Saking takut dan gemetar, sampai-sampai dikatakan bahwa beliau merasakan getaran hebat dalam dirinya, bahkan terdengar suara tulang-tulangnya sendiri bergetar karena rasa takut yang mendalam.
Dalam suasana seperti itulah, beliau hanya bisa berkata, “Mahasuci Engkau,” seolah menyampaikan bahwa hanya Allah yang layak disucikan dan diagungkan, dan tidak mungkin beliau, seorang hamba, mengklaim sesuatu yang bukan haknya.
Setelah itu barulah beliau menjawab dengan jelas: “Tidak layak bagiku mengatakan sesuatu yang bukan hakku.”
Kata maa (مَا) artinya : tidaklah. Kata yakuunu (يَكُونُ) artinya : patut. Kata lii (لِي) artinya : bagiku. Kata an (أَنْ) artinya : untuk. Kata aquula (أَقُولَ) artinya : mengatakan. Kata maa (مَا) artinya : sesuatu yang. Kata laisa (لَيْسَ) artinya : bukan. Kata lii (لِي) artinya : hakku. Kata bihaqqin (بِحَقٍّ) artinya : dengan hak.
Maksudnya Nabi Isa alaihissalam menegaskan bahwa tidak pernah sekalipun ia mengajak manusia untuk menyembah dirinya atau ibunya.
Tidak pernah ada klaim sepihak bahwa dirinya adalah Tuhan yang harus disembah. Sebab dirinya hanyalah makhluk yang diciptakan, seorang hamba yang menyembah Allah, bukan yang disembah.
Dalam penggalan ini Nabi Isa alaihisalam menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki hak sedikit pun untuk mengambil posisi yang bukan tempatnya, apalagi mengaku sebagai Tuhan. Dengan cara ini, Nabi Isa menegaskan posisinya yang sejati—seorang rasul, bukan sesembahan.
إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ
Kata in (إِنْ) artinya : jika. Kata kuntu (كُنْتُ) artinya : aku. Kata qultuhu (قُلْتُهُ) artinya : mengatakannya. Kata faqad (فَقَدْ) artinya : maka sungguh. Kata ‘alimtahu (عَلِمْتَهُ) artinya : Engkau telah mengetahuinya.
Penjelasan ini mengandung kekuatan logika yang sangat tajam. Nabi Isa ‘alaihissalam tidak langsung membantah secara emosional tuduhan bahwa dirinya pernah meminta disembah, melainkan menjawabnya dengan pendekatan rasional yang menyentuh dasar kebenaran.
Beliau ’alaihissalam berkata,"Jika aku pernah mengatakannya, maka sungguh Engkau telah mengetahuinya." Kalimat ini memiliki bobot logika yang kuat: andai benar beliau pernah menyuruh manusia untuk menyembah dirinya dan ibunya, tentu Allah pasti mengetahuinya.
Hal itu karena tidak ada satu pun yang tersembunyi dari ilmu Allah. Dengan kata lain, pernyataan ini merupakan cara halus dan santun untuk menyatakan bahwa beliau tidak pernah melakukannya.
Dalam konteks ini Beliau seakan ingin membuka mata orang-orang yang menuduhnya. Ia menekankan bahwa tuduhan itu tidak berdasar, sebab fakta sejarah menunjukkan bahwa selama masa hidupnya di dunia, tak ada satu pun ajaran beliau yang mengajak orang untuk menyembah dirinya. Justru beliau menyeru kepada tauhid, menyembah Allah semata.
Pertanyaannya pun logis: apakah umatnya ketika beliau masih hidup memang sudah menjadikannya Tuhan? Jelas tidak. Lalu sejak kapan muncul anggapan bahwa beliau adalah Tuhan? Jawabannya: setelah beliau diangkat ke langit. Artinya, paham penyembahan terhadap Nabi Isa bukan berasal dari dirinya, melainkan muncul setelah beliau tidak lagi berada di dunia. Dan ini membuktikan bahwa beliau tidak bertanggung jawab atas klaim tersebut.
Dengan pendekatan seperti ini, Nabi Isa tidak hanya membantah secara santun, tapi juga mendidik manusia untuk berpikir kritis, agar tidak mudah menerima doktrin yang bertentangan dengan fakta dan akal sehat.
Kata ta‘lamu (تَعْلَمُ) artinya : Engkau mengetahui. Kata maa (مَا) artinya : apa yang. Kata fii (فِي) artinya : dalam. Kata nafsii (نَفْسِي) artinya : diriku. Kata walaa (وَلَا) artinya : dan tidak. Kata a‘lamu (أَعْلَمُ) artinya : aku mengetahui. Kata maa (مَا) artinya : apa yang. Kata fii (فِي) artinya : dalam. Kata nafsika (نَفْسِكَ) artinya : diri-Mu.
Penggalan ini bukan hanya menunjukkan kejujuran, tetapi juga penghormatan yang sangat tinggi terhadap kemahasempurnaan ilmu Allah. Nabi Isa ‘alaihissalam menyatakan bahwa Allah mengetahui seluruh isi batinnya — niat, perasaan, pikiran, dan keyakinan terdalamnya — karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi, bahkan sebelum diucapkan atau diwujudkan.
Kemudian Beliau tegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui apa yang ada dalam nafs (diri) Allah. Ini adalah bentuk pengakuan akan keterbatasan ilmu seorang hamba. Dalam bahasa yang penuh adab, beliau mengakui bahwa manusia tidak mungkin bisa menjangkau hakikat atau isi dari Dzat Allah, kehendak-Nya, atau rahasia-Nya. Ini adalah bentuk puncak ketundukan dan pengakuan akan keterbatasan seorang makhluk terhadap Sang Pencipta.
Kalimat ini juga mengajarkan prinsip penting dalam teologi Islam, yaitu bahwa Allah memiliki ilmu yang tidak terbatas, sedangkan manusia memiliki ilmu yang sangat terbatas, bahkan terhadap dirinya sendiri pun kadang ia tidak benar-benar mengetahui secara utuh. Maka dari itu, dalam kalimat ini tersimpan pelajaran bahwa manusia tidak boleh mendahului Allah dalam urusan yang tidak ia ketahui, dan wajib berhenti di batas yang Allah tetapkan.
Lebih dari itu, pernyataan ini juga menunjukkan bahwa Isa ‘alaihissalam tidak membuat-buat jawaban berdasarkan dugaan atau pembelaan pribadi. Ia menyandarkan seluruh pembicaraannya pada ilmu Allah yang Mahaluas dan benar. Dengan itu pula ia membebaskan dirinya dari tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada Allah, yang paling tahu siapa hamba-Nya yang jujur dan siapa yang berdusta.
إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
Kata innaka (إِنَّكَ) artinya : sesungguhnya Engkau. Kata anta (أَنْتَ) artinya : Engkaulah. Kata ‘allaamul-ghuyuub (عَلَّامُ الْغُيُوبِ) terdiri dari dua kata:
Pertama adalah kata ‘allam (عَلَّامُ) yang merupakan sighah mubalaghah, yaitu bentuk kata yang mengandung makna hiperbolis atau intensitas tinggi dari akar kata ‘alim (عَالِم). Dengan demikian, Allah SWT disebut sebagai ‘allam (عَلَّامُ) berarti bukan hanya sekedar Maha Tahu, tetapi sangat-sangat Maha Tahu. Ini menunjukkan tingkat intensitas dan keluasan luar biasa dalam mengetahui sesuatu.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[2] menuliskan bahwa dalam perbedaan antara ‘alim (عَالِم) dan ‘allam (عَلَّامُ) ada dua pandangan Yang pertama, ‘allam (عَلَّامُ) adalah orang yang ilmunya sudah maju, sedangkan ‘alim (عَالِم) adalah orang yang ilmunya baru berkembang.
Yang kedua, ‘allam (عَلَّامُ) adalah orang yang mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, sedangkan ‘alim (عَالِم) adalah orang yang mengetahui apa yang telah terjadi tetapi tidak mengetahui apa yang akan terjadi.
Kedua, adalah kata al-ghuyub (الْغُيُوبِ) yang merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggalnya, ghaib (غَيْب). Yang dimaksud dengan ghaib disini tidak lain adalah an-nafs (النفس) yang sering diterjemahkan dengan : jiwa atau diri. Dalam hal ini, dua jiwa itu sama-sama ghaibnya. Pertama, jiwa atau diri Nabi Isa ’alaihisalam. Kedua adalah jiwa atau diri Allah SWT sendiri. Keduanya sama-sama ghaib dalam arti tidak ada yang bisa memahami jiwa, kecuali hanya Allah SWT sebagai Tuhan yang menciptakan jiwa-jiwa manusia.
"Dia mengetahui apa yang di depan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak dapat mengetahui apa pun dari ilmu-Nya, dan Dia mengetahui apa yang ada dalam jiwa (النُّفُوسِ) mereka dan apa yang mereka sembunyikan." Ghafir (40) ayat 19
Segala rahasia hati, pikiran, dan perasaan manusia adalah pengetahuan mutlak Allah, yang tidak terjangkau oleh makhluk lain.
Tahun 1935 di Perancis telah terbut buku yang menarik perhatian dunia terkait misteri jiwa manusia. Judulnya "Man, the Unknown", karya terkenal dari Dr. Alexis Carrel, seorang ahli bedah dan ilmuwan Prancis yang juga pemenang Hadiah Nobel dalam bidang fisiologi atau kedokteran pada tahun 1912.
Banyak ruang dalam diri manusia yang belum diketahui ’unknown’ dari jiwa manusia, seperti hubungan antara tubuh, jiwa, dan pikiran. Ada begitu banyak sisi-sisi tersembunyi dan kompleks dari manusia yang seringkali belum dipahami secara menyeluruh oleh sains.
Ternyata manusia bukan sekadar makhluk biologis yang terdiri dari organ dan sistem tubuh, melainkan juga makhluk yang memiliki dimensi mental, emosional, dan spiritual yang sangat dalam. Dan ada begitu banyak sisi yang belum terpecahkan secara saintifik.
"There are realms of man that science has not yet dared to explore—realms of thought, feeling, and spirit that shape who we are."
Ada wilayah-wilayah manusia yang belum berani dijelajahi oleh ilmu pengetahuan—wilayah pemikiran, perasaan, dan roh yang membentuk siapa kita.
Ini adalah kutipan yang menarik untuk dibahas terkait bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang mengetahui wilayah ghaib ini.