Kemenag RI 2019:Aku tidak (pernah) mengatakan kepada mereka kecuali sesuatu yang Engkau perintahkan kepadaku, (yaitu) “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkau Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Prof. Quraish Shihab:Aku tidak (pernah) mengatakan
kepada mereka kecuali apa yang
Engkau perintahkan kepadaku untuk
(mengatakan)-nya, (yaitu): ‘Sembahlah
Allah, Tuhan Pemeliharaku dan Tuhan
Pemelihara kamu,’ dan adalah aku
menjadi saksi terhadap mereka, selama
aku berada di antara mereka. Maka
setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-
lah yang mengawasi mereka. Dan
Engkau Maha Menyaksikan atas segala
sesuatu. Prof. HAMKA:
Beliau menyatakan bahwa dirinya menjadi saksi atas umatnya selama masih hidup di tengah mereka. Namun setelah Allah mewafatkannya, pengawasan atas mereka sepenuhnya berada di tangan Allah, karena hanya Allah yang Maha Mengawasi dan Maha Menyaksikan segala sesuatu.
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ
Kata maa (مَا) artinya : tidak. Kata qultu (قُلْتُ) artinya : aku mengatakan. Kata lahum (لَهُمْ) artinya : kepada mereka. Kata illaa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata maa (مَا) artinya : apa yang. Kata amartanii (أَمَرْتَنِي) artinya : Engkau perintahkan kepadaku. Kata bihi (بِهِ) artinya : dengannya.
Nabi Isa ‘alahissalam sesuai SOP sebagai seorang nabi utusan Allah SWT, nanti di akhirat akan kembali menegaskan bahwa dirinya telah melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur dan tata aturan yang baku, yaitu tidak pernah menyampaikan ajaran apa pun kecuali yang diwahyukan Allah kepadanya. Artinya, seluruh seruannya hanyalah apa yang diperintahkan oleh Allah, yaitu mengajak kepada menyembah Allah semata, tanpa sekutu.
Dengan kalimat ini, Nabi Isa tegas menolak segala tuduhan bahwa dirinya dianggap pernah mengajak manusia untuk menyembah dirinya atau ibunya. Ia menyatakan dirinya sebagai rasul yang jujur dan taat, yang tidak menambah atau mengurangi wahyu yang dibebankan kepadanya.
Para nabi tidak berbicara dari hawa nafsu. Maka segala bentuk penyimpangan yang terjadi pada umat-umat setelah mereka, bukan berasal dari ajaran para nabi, tetapi hasil penyelewengan umat itu sendiri. Bahwa agama harus murni bersumber dari wahyu, bukan dari tambahan atau rekaan manusia.
أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
Kata an (أَنِ) artinya : yaitu. Kata u‘budullaaha (اعْبُدُوا اللَّهَ) artinya : sembahlah Allah. Kata rabbi (رَبِّي) artinya : Tuhanku. Kata wa-rabbakum (وَرَبَّكُمْ) artinya : dan Tuhan kalian.
Ucapan ini menegaskan bahwa seluruh dakwah Nabi Isa berintikan tauhid, sebagaimana yang diajarkan oleh semua nabi. Ia tidak pernah meminta untuk disembah, justru ia menempatkan dirinya sebagai hamba yang tunduk kepada Allah, sama seperti manusia lainnya.
Dengan mengatakan “Tuhanku dan Tuhanmu,” Nabi Isa ingin menunjukkan bahwa dirinya bukanlah Tuhan, melainkan seorang hamba yang juga membutuhkan rahmat dan petunjuk dari Allah. Beliau dan umatnya berada dalam posisi yang sama di hadapan Tuhan yang Maha Esa. Kalimat ini menjadi bantahan yang jelas terhadap segala bentuk pengkultusan terhadap dirinya, dan sekaligus menjadi penegasan bahwa inti risalahnya adalah pengabdian kepada Allah semata.
وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ
Kata wakuntu (وَكُنْتُ) artinya : dan aku adalah. Kata ‘alayhim (عَلَيْهِمْ) artinya : atas mereka. Kata syahiidan (شَهِيدًا) artinya : saksi. Kata maa (مَا) artinya : selama. Kata dumtu (دُمْتُ) artinya : aku tetap. Kata fiiihim (فِيهِمْ) artinya : di antara mereka.
Penggalan ini berisi pengakuan bahwa batas kemampuan seorang nabi itu adalah kenyataan. Seorang Nabi Isa hanya bisa menjaga umatnya selama dirinya masih hadir secara fisik di tengah mereka.
Namun setelah dirinya diangkat dan tidak lagi berada di dunia, Beliau dengan tegas menyatakan sudah tidak lagi bertanggung jawab atas penyimpangan yang terjadi. Penyelewengan tersebut sepenuhnya di luar kendalinya, dan hanya Allah yang terus-menerus mengawasi manusia sepanjang masa.
Kata falammaa (فَلَمَّا) artinya : maka ketika. Kata tawaffaytanii (تَوَفَّيْتَنِي) artinya : Engkau mewafatkanku. Kata kunta (كُنْتَ) artinya : Engkau adalah. Kata anta (أَنْتَ) artinya : Engkaulah. Kata ar-raqiiba (الرَّقِيبَ) artinya : Yang Maha Mengawasi. Kata ‘alaihim (عَلَيْهِمْ) artinya : atas mereka.
Yang paling mengusik rasa ingin tahu kita dari penggalan ini pada bagian falamma tawaffaitani (فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي) yang artinya : Ketika Engkau mewafatkan aku.
Kita jadi bertanya-tanya, bukankah Nabi Isa alaihissalam itu dinaikkan ke langit dan memang tidak wafat, atau setidaknya belum wafat. Lalu kenapa ayat ini malah seperti bertentangan dengan keyakinan kita?
Memang ini jadi agak sedikit musykil, sebab ternyata ayat ini tidak sendirian. Masih ada ayat lain yang setidaknya mengisyaratkan bahwa Nabi Isa itu wafat.
(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku mewafatkan dan mengangkatmu kepada-Ku (QS. Ali Imran : 55)
Tentu saja wajar bila kita jadi bimbang, manakah yang benar. Apakah Nabi Isa wafat atau tidak?
Al-Mawardi dalam An-Nukat wa Al-‘Uyun[1] menuliskan dua pendapat yang bertentangan di kalangan para ulama. Dua pertama menolak bahwa Nabi Isa wafat. Namun dua yang berikut justru menerima fakta bahwa Nabi Isa wafat.
1. Pendapat Pertama
Al-Hasan, Ibnu Juraij dan Abu Zaid mengatakan bahwa makna mutawaffika adalah qabidhuka (قابضك) yaitu mengambilmu untuk diangkat ke langit tanpa lewat kematian.
Sebenarnya istilah ‘mengambil’ biasa digunakan juga untuk kematian. Namun menurut mereka Nabi Isa diambil tanpa lewat jalur kematian. Boleh jadi pendapat inilah yang menginspirasi team Kemenag RI ketika menerjemahkan ayat ini.
2. Pendapat Kedua
Ar-Rabi’ mengatakan bahwa makna mutawafika (مُتَوَفِّيكَ) adalah membuat tertidur demi untuk diangkat ke langit.
Dasarnya adalah Allah SWT menggunakan kata mewafatkan dengan makna tidur di dalam surat Al-An’am.
Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya tempat kembali.
3. Pendapat Ketiga
Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna mutawafika (مُتَوَفِّيكَ) adalah mematikan dalam arti yang sesungguhnya. Sehingga meskipun diangkat ke langit, namun Nabi Isa mengalami proses yang sama dengan para nabi dan manusia semuanya.
Pendapat Ibnu Abbas ini nampaknya agak sejalan dengan pendapat yang umumnya berkembang di kalangan pemeluk Kristen. Sebab mereka pun juga meyakini bahwa Nabi Isa memang mati terbunuh.
Hanya saja bedanya, dalam keyakinan mereka, terbunuhnya Nabi Isa itu demi untuk menebus dosa-dosa manusia. Sedangkan dalam agama Islam, kalau pun pendapat Ibnu Abbas ini mau kita gunakan, tidak jadi masalah. Karena sudah ada banyak para nabi sebelumnya yang terbunuh. Salah satunya adalah Nabi Zakaria alaihisalam.
4. Pendapat Keempat
Qatadah dan Al-Farra’ mengatakan bahwa makna mutawafika (مُتَوَفِّيكَ) adalah dimatikan, namun urutannya diangkat dulu ke langit baru kemudian dimatikan.
وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Kata wa-anta (وَأَنْتَ) artinya : dan Engkau. Kata ‘alaa (عَلَىٰ) artinya : atas. Kata kulli (كُلِّ) artinya : segala. Kata syay’in (شَيْءٍ) artinya : sesuatu. Kata syahiidun (شَهِيدٌ) artinya : Maha Menyaksikan.
Penggalan yang menjadi penutup ayat ini merupakan penegasan dari Nabi Isa alaihissalam bahwa Allah adalah saksi yang Maha Kuasa atas seluruh perbuatan dan keadaan makhluk-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan dan pengawasan-Nya. Allah menyaksikan setiap tindakan, niat, dan ucapan manusia tanpa terkecuali.
Allah adalah Pengawas sejati yang mengetahui segala sesuatu secara sempurna. Sementara manusia, termasuk para nabi sekalipun, hanya berperan sebagai utusan yang terbatas dalam kemampuan dan masa pengawasan mereka.