Kemenag RI 2019:Tidakkah engkau tahu bahwa sesungguhnya milik Allahlah kerajaan langit dan bumi? Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki dan mengampuni siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Prof. Quraish Shihab:Tidakkah engkau mengetahui,
sesungguhnya Allah Yang memiliki
kerajaan langit dan bumi, Dia
menyiksa siapa yang dikehendaki-
Nya dan mengampuni siapa yang
dikehendaki-Nya
(berdasarkan
kemauan dan kecenderungan masing-
masing). Dan Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu. Prof. HAMKA:Apakah tidak engkau ketahui bahwasanya Allah, bagi-Nyalah kerajaan semua langit dan bumi? bumi. Dia akan menyiksa barangsiapa yang Dia
kehendaki dan akan memberi ampun barang
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah atas tiap-tiap
sesuatu adalah Mahakuasa.
Ayat ke-40 ini sebenarnya masih terkait erat dengan ayat sebelumnya, yaitu masih bicara tentang bagaimana Allah SWT menjanjikan ampunan bagi pelaku kejahatan, khususnya dalam hal ini kejahatan pencurian.
Allah SWT memberikan pertanyaan yang sifatnya istifham inkari, yaitu : tidak tahukah kamu bahwa Allah itu pemilik kerajaan langit dan bumi? Dia bisa saja menyiksa pelaku kejahatan kalau Dia berkehendak. Namun Dia juga bisa mengampuni pelaku kejahatan itu jika berkehendak.
Maka ayat ini punya semangat besar agar para pelaku kejahatan itu segera bertaubat dan mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
أَلَمْ تَعْلَمْ
Kata a-lam (أَلَمْ) artinya : apakah tidak, namun terasa agak janggal, sebenarnya bisa juga dimaknai : tidakkah. Kata ta’lam (تَعْلَمْ) artinya : kamu mengetahui.
Ungkapan ini termasuk dalam jenis ‘istifham inkari’, yaitu pertanyaan yang hanya bersifat retoris dan tidak berangkat dari ketidak-tahuan. Dalam balaghah ilmu sastra Arab, jenis pertanyaan semacam ini tidak dimaksudkan untuk mendapatkan jawaban, tetapi untuk menguatkan makna atau menegur, menekankan, atau menggugah hati dan kesadaran.
Allah SWT bertanya bukan karena tidak tahu, sebab Allah SWT itu Maha Tahu segalanya. Pertanyaan seperti ini digunakan sebagai:
1.Cara untuk menegaskan suatu kebenaran — seperti mengatakan, “Bukankah kamu tahu ini?” yang artinya: “Sungguh kamu sudah tahu, tapi mengapa kamu bertindak seakan-akan tidak tahu?”
2.Peringatan atau sindiran halus — Allah menggugah akal dan hati manusia untuk berpikir dan merenung kembali.
3.Membangkitkan perhatian dan kesadaran — gaya bertanya seperti ini membuat orang yang membaca merasa tersentuh atau tersadarkan.
أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ
Kata annallaha (أَنَّ اللَّهَ) artinya : bahwa Allah. Kata lahu (لَهُ) artinya : baginya, atau Dia memiliki. Kata mulku (مُلْكُ) artinya : kerajaan.
Penggalan ini menarik untuk kita cermati dengan mendalam. Disini disebutkan bahwa Allah SWT adalah ‘pemilik kerajaan’, ayatnya tidak menyebut bahwa Allah SWT itulah raja. Mungkin sedikit agak membingungkan, bukankah yang memiliki kerajaan itu adalah raja? Lalu kenapa tidak langsung saja disebut bahwa Allah SWT itu raja?
Jawabannya -wallahu a’lam’ bahwa memang Allah SWT bukan raja. Namun Allah SWT justru yang memiliki raja dan kerajaannya itu. Bukan penguasa tapi owner. Raja itu hanya menjalankan kekuasaan sebagai sebuah mandat, titipan, amanat dari pemilik aslinya.
Ibarat dalam perusahaan modern, seorang dengan jabatan CEO yaitu Chief Executive Officer. Dalam struktur organisasi perusahaan, CEO adalah pejabat eksekutif tertinggi yang bertanggung jawab atas keseluruhan operasional dan pengambilan keputusan strategis perusahaan. Dalam bahasa Indonesia, jabatan ini sering disamakan dengan Direktur Utama.
Dia menjalankan operasional harian perusahaan dan mengambil keputusan strategis. Namun dia wajib taat, patuh dan tunduk kepada pemilik perusahaan. Maka CEO harus melaporan kepada Dewan Komisaris atau Board of Directors.
Biasanya di atas dari Dewan Komisaris ini ada lagi jabatan paling atas, yaitu pemilik perusahaan alias owner dan juga para pemilik saham.
Maka kita bisa banyangkan bahwa raja itu ibarat CEO, sedang Allah SWT itu ‘pemilik’ alias owner pemilik saham eksklusif karena bersifat tunggal. Satu-satunya pemilik saham. Perhatikan betapa amat sangat berkuasanya Allah SWT dalam struktur semacam itu.
Kalau seseorang menjadi satu-satunya pemegang saham, apalagi di perusahaan tertutup (privat), maka dialah otoritas tertinggi mutlak dalam perusahaan itu. Bayangkan seperti raja dari semua raja di kerajaannya sendiri. Dia bisa menunjuk dan memecat CEO sesuka hati. Kalau tidak puas, dia bisa ganti CEO itu kapan saja tanpa perlu minta persetujuan siapa pun.
Bahkan mau pindah haluan bisnis, ganti produk, tutup cabang, buka usaha baru, atau apapun itu, tinggal Dia putuskan saja seorang diri. Tidak perlu ada voting, perdebatan pemegang saham, atau apapun itu.
Dan hebatnya lagi, semua laba bersih perusahaan jatuh ke tangannya. Tidak perlu dibagi dengan siapa pun. Kalau bukan perusahaan publik, dia tidak perlu lapor ke publik, ke bursa efek, atau ke pihak eksternal. Bisa menjalankan perusahaan dengan sangat privat.
Maka betapa berkuasanya seorang ‘pemilik’ perusahaan private yang menjadi pemilik saham tunggal.
السَّمَاوَاتِ
Kata as-samaawati (السَّمَاوَاتِ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya as-sama’ yaitu langit. Bisa kita terjemahkan menjadi banyak langit, atau berkonotasi langit yang amat luas.
Di masa modern ini setiap kita bicara tentang langit, maka yang muncul dalam benak kita adalah lapisan atmosfer lalu luar angkasa. Dan kita semua tahu bahwa tidak pernah ada kerajaan di langit. Jangankan kerajaan, bahkan sekedar kehidupan biologis pun tidak ada. Setidaknya tidak pernah terbukti secara ilmiyah.
Maka dalam memahami penggalan ayat ini, kita harus pindah ke bahasa majazi dan metafora. Sejauh ilmu pengetahuan modern meneliti, belum ada bukti ilmiah tentang adanya kerajaan di langit, baik secara biologis maupun secara politik. Tidak ada istana emas di antara bintang-bintang, tidak ada makhluk biologis yang terdeteksi hidup di luar bumisejauh ini.
Tapi dalam konteks Al-Qur’an, kata ‘langit’ bukan cuma langit secara fisik dan astronomi. Ketika Al-Quran menyebut as-samawat (السَّمَاوَاتِ) itu bukan hanya atmosfer atau angkasa luar, tapi lebih luas lagi, yaitu langit adalah tempat kekuasaan Allah yang tak terlihat, tempat para malaikat, tempat turunnya wahyu, takdir, bahkan perintah Tuhan.
Kerajaan langit bukan kerajaan seperti versi Disney, atau dalam cerita hayal lainnya, tapi lebih ke metafora atas kekuasaan absolut Allah di seluruh jagat raya, baik yang terlihat maupun tidak terlihat oleh manusia. Maksud dari istilah kerajaan langit adalah wilayah kekuasaan Allah yang tidak terjangkau oleh manusia.
Atau bisa juga dipahami sebagai tempat atau sistem di mana Allah menjalankan kehendak-Nya secara langsung, tanpa perantara makhluk yang bisa menghalangi. Alam malaikat, arwah, takdir, dan perintah ilahi adalah hal-hal yang berada di luar jangkauan pengamatan sains manusia.
وَالْأَرْضِ
Kata wal-ardhi (وَالْأَرْضِ) artinya : dan bumi, maksudnya kerajaan di muka bumi.
Berbeda dengan istilah kerajaan langit, maka ungkapan kerajaan bumi ini punya konotasi yang lebih nyata dalam arti memang benar-benar kerajaan.
Al-Quran sendiri banyak mengutip tentang berbagai kerajaan. Kerajaan Fir‘aun di Mesir kuno merupakan salah satu yang paling sering disebut. Fir‘aun digambarkan sebagai penguasa yang sangat zalim dan sombong. Ia menindas Bani Israil dan bahkan mengaku sebagai tuhan. Allah berfirman:
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
“Lalu Fir‘aun berkata: ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi.’” (QS. An-Nāzi‘āt: 24)
Kisahnya disebut dalam banyak surat, seperti Al-Qasas, Yunus, dan Ash-Syu‘arā.
Sementara itu, kerajaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam disebut sebagai kerajaan yang sangat agung dan mencakup kekuasaan atas manusia, jin, dan hewan. Allah berfirman:
Dan Sulaiman telah mewarisi (kerajaan) Dawud dan ia berkata: 'Wahai manusia, kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. (QS. An-Naml: 16)
Selain itu Al-Quran juga bercerita tentang Kerajaan Ratu Saba’ dalam surah An-Naml. Ratu ini pada awalnya menyembah matahari, namun akhirnya beriman setelah berdialog dengan Nabi Sulaiman. Allah berfirman:
“Sesungguhnya aku mendapati seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dikaruniai segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (QS. An-Naml: 23)
Dalam kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, disebutkan seorang raja yang berdebat dengannya mengenai Allah. Tafsir menyebutnya sebagai Namrud. Allah berfirman:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang membantah Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberinya kerajaan?” (QS. Al-Baqarah: 258)
Raja Mesir di masa Nabi Yusuf juga disebutkan dalam Al-Quran, namun ia tidak disebut dengan gelar Fir‘aun. Allah menyebutnya sebagai al-malik (الْمَلِكُ) saja, yaitu maknanya adalah raja.
“Dan raja berkata, ‘Bawalah dia kepadaku.’ Maka ketika utusan itu datang kepadanya, Yusuf berkata, ‘Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana keadaan wanita-wanita yang telah melukai tangan mereka.’” (QS. Yusuf: 50)
Selain itu juga ada Kaum ‘Ād juga dikenal memiliki kerajaan besar, namun mereka menolak seruan Nabi Hūd. Allah berfirman:
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu bertindak terhadap (kaum) ‘Ād, (yaitu) Iram yang mempunyai bangunan-bangunan tinggi, yang belum pernah dibangun seperti itu di negeri-negeri lain.” (QS. Al-Fajr: 6–8)
Kaum Tsamūd yang menolak Nabi Ṣāliḥ juga memiliki peradaban besar. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kekuasaan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu.” (QS. Al-Kahf: 84)
Dalam kisah Ashabul Kahfi, para pemuda beriman melarikan diri dari kerajaan yang dipimpin oleh penguasa zalim. Allah berfirman:
“(Ingatlah) ketika para pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, dan berilah petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.’” (QS. Al-Kahf: 10)
Begitu juga dalam kisah Ashabul Ukhdud, disebutkan penguasa yang membakar orang-orang beriman karena mereka mempertahankan tauhid. Allah berfirman:
“Binasa lah orang-orang yang membuat parit, (yaitu) api yang dinyalakan dengan kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, dan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin.” (QS. Al-Buruj: 4–7)
Seluruh kisah ini bukan hanya catatan sejarah, tetapi pelajaran tentang kuasa, keadilan, serta akibat dari kezaliman dan penolakan terhadap kebenaran. Al-Qur’an menampilkan dinamika kerajaan-kerajaan ini sebagai cermin bagi kepemimpinan dan amanah kekuasaan di bumi.
Dan semua kerajaan itu, meski masing-masing ada rajanya, namun mereka datang dan pergi silih berganti. Ada masa raja itu berkuasa, dan ada masa dimana raja itu mangkat, diturunkan, atau dikalahkan. Sedangkan Allah SWT tidak pernah berhenti jadi ‘pemilik’ kerajaan itu.
يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ
Kata yu’adzdzibu (يُعَذِّبُ) artinya : menyiksa atau mengadzab. Kata man yasyaa’ (مَنْ يَشَاءُ) artinya : siapa pun yang Dia kehendaki.
Maka dengan segala ketinggian level kekuasaan Allah SWT atas berbagai kerajaan, baik kerajaan di langit ataupun kerajaan di bumi, Allah SWT berada pada titik absolut, mutlak, tanpa batasan dan tidak butuh alasan.
Hidup dan matinya sebuah kerajaan, semua di tangan Allah. Kalau ada manusia yang bikin dosa, lalu Allah berkehendak membalasnya dengan siksaan, itu seratus persen hak Allah SWT yang sifatnya mutlak, absolut dan tidak bisa dipertanyakan.
Justru ketika Allah SWT menjatuhkan siksa, maka disitulah terletak keadilan Allah SWT. Semua pelaku kejahatan tidak ada yang bisa berlepas dari dari dosa dan tanggung-jawab, baik di dunia ini, atau pun juga nanti di akhirat. Semua pelaku kejahatan pasti akan menerima balasan. Ada begitu banyak ayat Al-Quran yang menegaskan hal ini, diantaranya :
إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya kamu diberi balasan hanya terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Tawbah: 121)
وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ
“Dan Tuhanmu tiada zalim terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Fussilat: 46)
“Hari ketika Dia mengumpulkan mereka untuk suatu hari yang tiada keraguan padanya. Dan setiap jiwa diberi balasan menurut apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak akan dizalimi.” (QS. Al-Jathiyah: 28)
وَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ
Kata wa yaghfiru (وَيَغْفِرُ) artinya : dan mengampuni. Kata liman (لِمَنْ) artinya : kepada siapa orang. Kata yasya (يَشَاءُ) artinya : Dia kehendaki.
Penggalan ini semakin menunjukan betapa Allah SWT punya sifat yang mulia, yaitu bisa saja kalau Allah SWT berkehendak, maka makhluknya yang berdosa itu bukannya disiksa tetapi malah diampuni.
Namun untuk keadilannya, tentu ampunan itu tidak bersifat random apalagi ngasal, tetapi ada prosedurnya. Tapi intinya bahwa seburuk apapun kejahatan yang dilakukan oleh seorang hamba, tetapi kalau Allah SWT berkehendak ingin mengampuninya, sangat mungkin sekali.
“Dan bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian, kemudian kalian tidak akan ditolong.” (QS. Az-Zumar: 54)
Asalkan mau bertaubat, pastilah Allah SWT terima pertaubatan itu. Bahkan Allah SWT sendiri yang menegaskan bahwa dirinya mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Ada jaminan bahwa Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya yang kembali kepada-Nya, dan mengampuni kesalahan mereka jika mereka benar-benar bertaubat.
Dan Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya dan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka. (QS. Ash-Shura: 25)
Allah SWT memberi harapan kepada hamba-Nya yang telah banyak berbuat dosa, bahwa mereka tidak boleh putus asa dari rahmat-Nya. Sebaliknya, Allah Maha Pengampun atas segala dosa, asal mereka bertaubat dengan sungguh-sungguh.
“Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang telah menganiaya diri kalian sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'” (QS. Az-Zumar: 53)
وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Kata wallahu (وَاللَّهُ) artinya : dan Allah. Kata ‘ala kulli syai-in (عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ) artinya : atas segala sesuatu. Kata qadir (قَدِيرٌ) artinya : Maha Kuasa.
Ayat ini ditutup dengan penggalan yang menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Penutup model kalimat seperti ini biasa terkait apabila konten suatu ayat punya bobot yang cukup berat dan dirasa sulit atau mustahil dalam ukuran kita sebagai manusia.
Mengubah arah seorang hamba yang tadinya pelaku dosa dan maksiat, kemudian berubah arah menjadi orang yang sadar, insyaf dan bertaubat, sehingga segala dosa dan kesalahannya bisa diampuni, tentunya merupakan bentuk plot-twist yang unik. Namun Allah Maha Kuasa untuk membuat perjalanan seorang hamba meliuk-liuk seperti itu.
Dan jangan lupa pula bagaimana kesudahan nasib Iblis laknatullah, yang awalnya adalah hamba yang paling taat dan dimuliakan, namun kita semua tahu nasibnya kemudian. Itu juga bagian dari drama kehidupan yang bikin kita menggeleng-gelengkan kepala. Betapa Allah SWT itu Maha Kuasa membolak-balik semua kehidupan kita.
Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran: 26)