Kemenag RI 2019:Kami meneruskan jejak mereka (para nabi Bani Israil) dengan (mengutus) Isa putra Maryam yang membenarkan apa (kitab suci) yang sebelumnya, yaitu Taurat. Kami menurunkan Injil kepadanya (yang) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya; yang membenarkan kitab suci yang sebelumnya, yaitu Taurat; dan menjadi petunjuk serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Prof. Quraish Shihab:Dan Kami telah mengiringkan jejak mereka (para nabi Bani Israil) dengan ‘Isa putra Maryam, membenarkan apa (kitab) yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya Injil. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya dan (Kitab Injil itu) membenarkan apa (kitab) yang sebelumnya, yaitu Taurat dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. Prof. HAMKA:Dan telah Kami iringi atas jejak-jejak mereka dengan Isa anak Maryam, sebagai menggenapi bagi yang terlebih dahulu daripadanya dari Taurat; dan telah Kami berikan kepadanya Injil. Di dalamnya ada petunjuk dan cahaya dan sebagai menggenapi bagi apa yang terdahulu daripadanya dari Taurat, dan petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang (mau) bertakwa.
Ayat ke-46 dari surat Al-Maidah ini menegaskan Nabi Isa alaihissalamputra Maryam diutus meneruskan jejak para nabi sebelumnya dari kalangan Bani Israil. Ini menegaskan kesinambungan risalah dari nabi-nabi terdahulu.
Selain itu juga ditegaskan bahwa diutusnya Nabi Isa untuk membenarkan Taurat, artinya risalah beliau tidak bertentangan dengan kitab sebelumnya, tetapi menguatkan ajaran pokok yang sudah ada.
Allah menurunkan kitab Injil kepada Nabi Isa, yang menjadi wahyu khusus bagi umat di zamannya. Dan disebutkan bahwa Injil memuat lima hal, yaitu :
§Petunjuk (hudan) yang jadi panduan hidup bagi umat.
§Cahaya (nur): penerang bagi yang mencari kebenaran.
§Pembenaran terhadap Taurat: Injil tetap mengafirmasi kebenaran Taurat.
§Petunjuk
§Pengajaran bagi Orang Bertakwa: Injil berperan membimbing dan mendidik umat yang bertakwa, memperkuat keimanan dan ketakwaan mereka.
Secara umum, ayat ini juga mengingatkan bahwa Nabi Isa diutus sebagai bagian dari rangkaian dakwah tauhid yang konsisten dari para nabi sebelumnya.
Kata wa qaffaina (وَقَفَّيْنَا) artinya : dan telah Kami iringkan. Kata ‘ala aatsarihim (عَلَىٰ آثَارِهِمْ) artinya : di atas jejak-jejak mereka. Tentu yang dimaksud dengan jejak-jejak hanyalah merupakan bahasa kiasan saja. Sebab jejak-jejak kaki di atas tanah itu akan cepat hilang dalam waktu singkat. Sedangkan masa hidup para nabi dari kalangan Bani Israil cukup jauh dengan masa hidup Nabi Isa alaihisalam. Nabi Musa itu diperkirakan hidup dari angka 1.300-an tahu sebelum Masehi. Maka 13 abad itu pastinya jejak-jejak kaki sudah hilang lenyap. Maka isitlah atsar bisa juga kita pahami sebagai jalan hidup, pengalaman, atau pun juga ajaran yang dijalankan.
Kata bi-‘isab-na-maryam (بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ) artinya : dengan Nabi Isa putera Maryam. Maksudnya Allah SWT mengutus Nabi Isa alaihissalam putera Maryam yang menjadi penerus jejak jejak langkah kaki para nabi dari kalangan Bani Israil.
Lafazh mushaddiqan (مُصَدِّقًا) adalah isim fail dari asalnya (صَدّقَ - يُصَدِّقُ) yang maknanya : membenarkan. Yang dimaksud membenarkan dalam konteks Nabi Isa alaihisalam mungkin sedikit berbeda kalau dibandingkan dengan Nabi Muhammad SAW. Membenarkan Taurat dalam konteks Nabi Isa adalah menjalankan dan menjadikan Taurat sebagai sumber hukum agama.
Perlu diketahui bahwa kitab Taurat meski diturunkan kepada Nabi Musa di zamannya, namun menjadi kitab suci bagi Bani Israil sepanjang masa, bahkan hingga datang masa Nabi Isa alaihissalam, Taurat tetap menjadi kitab suci bagi Bani Israil.
Dan untuk itu secara khusus Allah SWT mengajarkan kepada Nabi Isa isi ajaran Taurat, sebagaimana yang sudah kita bedah pada ayat sebelumnya.
Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) kitab, hikmah, Taurat, dan Injil. (QS. Ali Imran : 48)
Sedangkan lafazh lima baina yadayhi (لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ) secara bahasa maknanya : kepada apa yang ada di hadapannya, yaitu kitab suci samawi yang sudah pernah Allah SWT turunkan.
Namun dalam terjemahan Kemenag RI dan juga Prof. Quraish Shihah, lafazh baina yadayhi diterjemahkan menjadi : yang kitab turun sebelumnya. Sedangkan Buya HAMKA tetap dengan makna aslinya yaitu : yang ada di depannya.
Penulis agak cenderung mengatakan bahwa tidak terlalu keliru kalau memaknainya dengan : kitab yang ada di depannya, yaitu di hadapan Nabi Isa alaihissalam. Maksudnya yang ada di depannya adalah yang memang sudah ada di masa itu.
Namun lepas dari perbedaan cara menafsirkan, yang pasti maksudnya adalah kitab Taurat. Lafazh min at-taurat (مِنَ التَّوْرَاةِ) yang bermakna : dari Taurat, memang menegaskan bahwa sikap Nabi Isa alaihissalam adalah membenarkan Taurat.
وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ
Kata wa-aatainaa-hu (وَآتَيْنَاهُ) artinya : dan Kami berikan kepadanya. Maksudnya Allah SWT telah menurunkan kitab Injil kepada Nabi Isa. Di dalam surat Ali Imran sebelumnya juga ada pernyataan yang kurang lebih sama, yaitu :
Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) kitab, hikmah, Taurat, dan Injil. (QS. Ali Imran : 48)
Kata al-injil (الْإِنْجِيلَ) artinya : kitab suci Injil. Injil adalah nama untuk kitab suci yang Allah SWT turunkan untuk Nabi Isa alaihissalam lewat perantaraan malaikat Jibril ‘alaihissalam. Umumnya para ulama mengatakan kata Injil ini bukan berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa aslinya makna kata injil adalah kabar yang menggembirakan (البشارة السارة والخبر المُفرح).
Dan karena Nabi Isa berbahasa Suryani, wajar kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa Injil yang asli berbahasa Suryani. Logikanya karena setiap nabi mendapatkan kitab suci sesuai dengan bahasa yang dikuasainya.
Kata Injil muncul 12 kali dalam Al-Quran. Kita sebagai muslim diwajibkan beriman kepada Injil, karena merupakan salah satu rukun iman yang enam, yaitu beriman kepada kitab-kitab suci samawi, salah satunya adalah Injil yang turun kepada Nabi Isa alaihissalam.
Namun begitu, sebagaimana juga Taurat, Injil pun tidak mendapatkan jaminan penjagaan dari Allah SWT. Sehingga rawan pemalsuan, atau pun tercecer sebagian, bahkan hilang secara keseluruhan.
Injil vs Alkitab
Namun uniknya di kalangan Kristiani sendiri diakui bahwa kitab suci mereka bukan Injil, melainkan apa yang mereka sebut dengan Alkitab. Dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Bibel atau The Holy Book.
Konsepnya sebagaimana pengakuan mereka, Alkitab itu bukanlah rangkaian kata-kata dari Allah SWT yang turun kepada Nabi Isa melalui Jibril. Mereka mengakui bahwa Injil itu bukan kitab suci yang turun dari langit kepada Nabi Isa alaihissalam. Namun mereka mengatakan bahwa yang mereka sebut Bible itu hanyalah sebatas catatan yang dituliskan oleh murid-murid Nabi Isa, yaitu terkait dengan ajaran-ajaran yang disampaikan.
Kalau kita sandingkan dengan versi Islam, kira-kira setara dengan hadits nabawi, yaitu segala hal yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan atau pun juga sikap diamnya Beliau.
Secara teknis, The Holy Book itu ditulis oleh empat orang murid Nabi Isa, yang dikenal sebagai para Injilis: yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Masing-masing dari mereka menulis berdasarkan pengalaman pribadi, pengajaran dan tradisi lisan yang berkembang dalam komunitas Kristen awal.
§Injil Matius: Dikaitkan dengan Matius, seorang mantan pemungut pajak yang menjadi salah satu dari dua belas rasul Yesus. Injil ini diperkirakan ditulis sekitar 70-80 Masehi.
§Injil Markus: Dikaitkan dengan Markus, yang adalah sahabat Petrus dan juga mungkin seorang yang muda pada saat Yesus hidup. Injil ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 66-70 Masehi.
§Injil Lukas: Dikaitkan dengan Lukas, seorang dokter yang juga merupakan seorang pengikut Yesus. Dia dikenal sebagai penulis Kitab Kisah Para Rasul di Alkitab Kristen. Injil ini diperkirakan ditulis sekitar 80-90 Masehi.
§Injil Yohanes: Dikaitkan dengan Yohanes, seorang rasul yang juga dikenal sebagai "rasul yang dicintai" dalam tradisi Kristen. Injil ini diperkirakan ditulis antara tahun 90-110 Masehi.
Para penulis ini menulis Injil-Injil mereka untuk mengabadikan ajaran, tindakan, dan kehidupan Yesus Kristus sehingga generasi-generasi berikutnya dapat mengenal-Nya dan iman Kristen dapat dipertahankan.
Meskipun Injil-injil ini masing-masing memiliki gaya penulisan dan fokus yang berbeda, mereka secara bersama-sama membentuk inti naratif tentang kehidupan dan ajaran Yesus Kristus dalam tradisi Kristen.
Kalau dalam tradisi Islam, catatan terkait Nabi Muhammad SAW yang disusun berdasarkan riwayat oleh masing-masing shahabat itu disebut kitab musnad. Hadits-hadits dalam Kitab Musnad disusun berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya.
Beberapa contoh kitab Musnad yang terkenal adalah "Musnad Ahmad ibn Hanbal", yang disusun oleh Imam Ahmad ibn Hanbal, dan "Musnad Abi Dawud", yang disusun oleh Imam Abu Dawud.
Karena apa yang mereka sebut sebagai Alkitab itu bukan Injil sebagaimana yang dimaksud dalam agama Islam, maka agak sulit bagi kita kaum muslimin untuk memposisikannya sebagai kitab suci samawi dalam artinya secara tekstual.
Apalagi mengingat bahwa Alkitab itu sendiri terbit dalam banyak versi terjemahan dalam berbagai bahasa. Kita agak kesulitan mendapatkan teks asli yang ditulis langsung oleh murid-murid Nabi Isa. Boleh jadi di kalangan Kristiani, penerjemahan itu sudah dianggap sah dan representasi dari Alkitab.
Sementara di dalam tradisi keilmuan agama Islam, terjemah atas Al-Quran disepakati bukanlah Al-Quran itu sendiri. Sebab yang disebut Al-Quran hanyalah yang asli turun lewat lisan Jibril kepada Nabi SAW dalam bahasa Arab yang asli.
Bahkan cara melafalkan Al-Quran itu ada aturan khusus yang tidak boleh dibaca secara sembarangan. Membaca Al-Quran hanya dibolehkan manakala seseorang sudah selesai belajar tajwid dan qiraat.
Tidak ada rumusnya dalam Islam bahwa Al-Quran itu diterjemahkan ke dalam bahasa lain, lalu dianggap itulah Al-Quran. Semua terjemahan Al-Quran diyakini bukan Al-Quran itu sendiri, tetapi hanyalah hasil interpretasi para penerjemah.
فِيهِ هُدًى وَنُورٌ
Kata fii-hi (فِيهِ) artinya : di dalamnya, yaitu di dalam Kitab Injil, ada lima hal yang Allah SWT sebutkan dalam rangkaian ayat ini, yaitu huda, nur, mushaddiq, huda lagi dan maui’zah.
Kata hudan (هُدًى) artinya : petunjuk. Kata wa nur (وَنُورٌ) artinya : dan cahaya. Penyebutan dua sifat pertama terkait kitab Injil ini sama persis dengan ketika Allah SWT menyebutkan dua sifat kitab Taurat, yaitu sama-sama hudan wa nur juga.
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi). (QS. Al-Maidah : 44)
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa kedua kata ini, meskipun sering muncul berpasangan, memiliki makna yang berbeda. Namun begitu keduanya saling melengkapi dalam menggambarkan fungsi kitab suci, khususnya dalam konteks Taurat yang diturunkan kepada Bani Israil.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[1] menuliskan bahwa maksud dari kata hudan adalah dalil, petunjuk atau bukti. Sedangkan maksud dari cahaya atau nur adalah penjelasannya atau keterangan yang lebih lengkapnya.
Dalam tafsir Al-Quran Al-Azhim[2], Ibnu Katsir menuliskan bahwa kata hudan lebih menekankan aspek normatif dan legal dari wahyu, yaitu yang menetapkan hukum. Sedangkan makna nur yang artinya cahaya memunculkan kejelasan dan kebenaran setelah sebelumnya manusia berada dalam gelapnya kebatilan.
Al-Alusy dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[3] mengutipkan pendapat Az-Zajjaj bahwa yang dimaksud dengan petunjuk atau hudan adalah penjelasan hukum yang menjadi persoalan yang mereka ajukan kepada Nabi SAW untuk dimintai fatwa. Sedangkan yang dimaksud dengancahaya atau nur adalah penjelasan bahwa urusan Nabi SAW itu benar.
Lafazh mushaddiqan (مُصَدِّقًا) adalah isim fail dari asalnya (صَدّقَ - يُصَدِّقُ) yang maknanya : membenarkan. Yang dimaksud membenarkan dalam konteks Nabi Isa alaihisalam mungkin sedikit berbeda kalau dibandingkan dengan Nabi Muhammad SAW. Membenarkan Taurat dalam konteks Nabi Isa adalah menjalankan dan menjadikan Taurat sebagai sumber hukum agama.
Perlu diketahui bahwa kitab Taurat meski diturunkan kepada Nabi Musa di zamannya, namun menjadi kitab suci bagi Bani Israil sepanjang masa, bahkan hingga datang masa Nabi Isa alaihissalam, Taurat tetap menjadi kitab suci bagi Bani Israil.
Dan untuk itu secara khusus Allah SWT mengajarkan kepada Nabi Isa isi ajaran Taurat, sebagaimana yang sudah kita bedah pada ayat sebelumnya.
Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) kitab, hikmah, Taurat, dan Injil. (QS. Ali Imran : 48)
Sedangkan lafazh lima baina yadayhi (لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ) secara bahasa maknanya : kepada apa yang ada di hadapannya, yaitu kitab suci samawi yang sudah pernah Allah SWT turunkan.
Namun dalam terjemahan Kemenag RI dan juga Prof. Quraish Shihah, lafazh baina yadayhi diterjemahkan menjadi : yang kitab turun sebelumnya. Sedangkan Buya HAMKA tetap dengan makna aslinya yaitu : yang ada di depannya.
Penulis agak cenderung mengatakan bahwa tidak terlalu keliru kalau memaknainya dengan : kitab yang ada di depannya, yaitu di hadapan Nabi Isa alaihissalam. Maksudnya yang ada di depannya adalah yang memang sudah ada di masa itu.
Namun lepas dari perbedaan cara menafsirkan, yang pasti maksudnya adalah kitab Taurat. Lafazh min at-taurat (مِنَ التَّوْرَاةِ) yang bermakna : dari Taurat, memang menegaskan bahwa sikap Nabi Isa alaihissalam adalah membenarkan Taurat.
وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ
Kata wa hudan (وَهُدًى) artinya : dan menjadi petunjuk. Disini terjadi hal unik, yaitu sebelumnya sudah disebutkan kata hudan, namun kenapa diulangi lagi?
Terulangnya Injil disebut sebagai petunjuk sekali lagi, karena kandungannya yang memuat kabar gembira tentang kedatangan Muhammad SAW menjadi sebab manusia mendapatkan petunjuk menuju kenabian Muhammad SAW.
Boleh jadi karena hal ini merupakan pokok persoalan yang paling sengit diperselisihkan antara kaum Muslimin dengan kaum Yahudi dan Nasrani, maka Allah SWT mengulanginya sekali lagi sebagai penegasan bahwa Injil menunjukkan dengan sangat jelas tentang kenabian Muhammad SAW. Dengan demikian, Injil menjadi petunjuk dalam perkara ini, yaitu perkara yang paling membutuhkan penjelasan dan penegasan.
Kata wa mau’izhatan (وَمَوْعِظَةً) artinya : dan menjadi pelajaran. Kata lil-muttaqin (لِلْمُتَّقِينَ) artinya : bagi orang-orang yang bertaqwa.
“Adapun disebutnya (Injil) sebagai mau’izah (nasihat/pengingat), itu karena Injil memuat nasihat-nasihat, pelajaran-pelajaran, dan peringatan-peringatan yang kuat dan tegas. Dan dikhususkan sebutannya bagi orang-orang yang bertakwa karena merekalah yang benar-benar mengambil manfaat darinya, sebagaimana firman Allah: ‘(sebagai) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.’”