Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, kamu tidak menganut sesuatu pun (agama yang benar) hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan (Al-Qur’an) yang diturunkan Tuhanmu kepadamu.” Apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu pasti akan membuat banyak di antara mereka lebih durhaka dan ingkar. Maka, janganlah engkau bersedih terhadap kaum yang kafir itu. Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Nabi Muhammad
saw.):
“Hai Ahl al-Kitab! Kamu
tidak berada di atas satu pijakan
(agama) sedikit pun hingga kamu
menegakkan (ajaran) Taurat, Injil
dan apa yang diturunkan kepada
kamu dari Tuhan Pemelihara kamu.”
Dan apa yang diturunkan kepadamu
(berupa tuntunan, di antaranya
adalah wahyu al-Qur’an) dari Tuhan
Pemeliharamu, pasti akan menambah
pidampaujii batas dan kekufuran bagi
banyak (orang) di antara mereka;
muka j:5J i gaillaJ i engkau bersedih hati
rfrhadap orang-orang kafir. Prof. HAMKA:Katakanlah, "Wahai Ahlul Kitab! Kalian tidak berada di atas kebenaran hingga kalian menegakkan Taurat dan Injil, serta apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian." Dan apa yang diturunkan dari Tuhanmu itu bagi kebanyakan mereka hanyalah menambah kedurhakaan dan kekafiran. Maka janganlah engkau bersedih terhadap kaum yang kafir itu.
Ayat ke-68 ini menegaskan bahwa Ahli Kitab tidak punya kedudukan benar jika mereka tidak benar-benar menjalankan ajaran Taurat, Injil, dan wahyu lain yang Allah turunkan kepada mereka. Menegakkan ajaran berarti mengamalkan isi kitab-kitab tersebut dengan sungguh-sungguh, bukan hanya sekadar mengakuinya.
Namun kenyataannya, banyak dari mereka yang semakin menolak dan mendurhakai. Al-Quran yang turun kepada Nabi SAW justru menambah kekufuran dan kesombongan sebagian dari mereka. Sikap ini berasal dari hati yang tertutup dan dengki, sehingga mereka makin jauh dari kebenaran.
Oleh sebab itu, Allah meminta agar Nabi SAW tidak perlu bersedih hati terhadap mereka. Tidak perlu merasa terbebani oleh penolakan orang-orang kafir yang memilih jalan mereka sendiri.
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ
Kata yaa (يَا) disebut dengan adatun-nida’ yang maksudnya sebagai perangkat untuk memanggil atau menyapa orang yang disapa alias al-munada. Yang diajak bicara atau mukhathab-nya disini adalah lafazh ahlal-kitab (أَهْلَ الْكِتَابِ).
Dalam Al-Quran, terhitung ada 12 kali Allah SWT menyapa dengan panggilan wahai ahli kitab (يَا أَهْلَ الْكِتَابِ). Enam kali di dalam surat Ali Imran, yaitu ayat64, 65, 70, 71, 98, 99. Satu kali dalam surat An-Nisa’ yaitu pada ayat 171.Sedangkan dalam surat Al-Maidah terulang lima kali, yaitu pada ayat 15, 19, 59, 68 dan 77.
Kata ahlu(أهل) punya banyak makna, bisa berarti pemilik, bisa juga berarti yang berhak, atau pun bisa juga orang yang paling menguasai sesuatu. Kata kitab (الْكِتَابِ) secara bahasa Arab modern bermakna buku, namun bukan itu yang dimaksud setiap ada kata kitab di dalam Al-Quran. Maka keliru kalau kita terjemahkan ahli kitab sebagai kutu buku. Tetapi yang benar adalah umat yang menerima turunnya kitab suci samawi dari langit, yaitu dari Allah SWT, lewat perantaraan Malaikat Jibril alaissalam kepada nabi mereka masing-masing.
Sebenarnya Allah SWT telah menurunkan begitu banyak kitab suci samawi sebelumnya. Namun nyaris seluruhnya telah hilang tak tentu rimbanya, boleh jadi hilang bersama terkuburnya masing-masing peradaban mereka. Namun ada dua agama yang nampaknya masih punya generasi penerus yang tidak putus-putus selama ratusan bahkan ribuan tahun, yaitu Bani Israil. Dua Nabi besar dari Bani Israil adalah Nabi Musa dan Nabi Isa alaihimassalam. Pengikut mereka berdua ternyata tidak putus-putus sepanjang sejarah, hingga sampai ke masa kenabian Muhammad SAW.
Maka benarlah kalau kita katakan bahwa yang disebut dengan ahlu kitab di dalam Al-Quran maksudnya tidak lain adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal itu karena keduanya termasuk umat yang di masa lalu menerima turunnya kitab samawi, yaitu Taurat dan Injil, dan masih ada generasinya hingga sampai ke masa turunnya Al-Quran di era kenabian Muhammad SAW di abad ke tujuh masehi.
Kalau kita mendengar Allah SWT menyapa orang-orang Yahudi atau pemeluk agama Nasrani dengan sapaan ‘ahli kitab’, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya posisi mereka sedang disanjung dan dimuliakan oleh Allah SWT. Sebab tidak semua bangsa di dunia ini mendapatkan kehormatan menerima kitab suci samawi.
Contoh yang mudah adalah kita sebagai bangsa Indonesia. Meski kita bangga saat ini sebagai bangsa muslim terbesar di dunia, namun tak satu pun kitab suci samawi langsung kita terima langsung dari langit. Oleh karena itu walaupun meyakini Al-Quran sebagai kitab suci kita, namun tetap saja kita tidak disebut sebagai ahli kitab ataupun ahli Al-Quran secara eksklusif sebagaimana Yahudi dan Nasrani yang eksklusif dengan Taurat dan Injil mereka.
Lain halnya bila Allah SWT menyebut Yahudi, maka sapaan seperti itu punya konotasi yang negatif dan biasanya ayatnya pun sedang menceritakan kejelekan dan keburukan mereka.
لَسْتُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ
Kata lastum (لَسْتُمْ) artinya :kamu tidak atau kamu bukan. Dalam hal ini yang dimaksud dengan kamu tidak lain adalah orang-orang Yahudi yang disapa sebagai ahli kitab.
Kata'ala shai'in (لَسْتُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ) artinya : berada di atas sesuatu. Maka ungkapan : “kamu tidak atau bukan berada di atas sesuatu”, maksudnya adalah bahwa kamu itu belum lagi terhitung sebagai orang yang menjalankan agama dengan benar.
Dengan kata lain, kualitas kamu dalam hal agama itu nol besar, tidak bernilai sesuatupun, kosong dan hampa belaka. Walaupun kalian mengaku-ngaku sebagai ahli kitab, atau membanggakan diri sebagai keturunan dari para nabi dan rasul, bahkan memproklamirkan diri sebagai bangsa yang terpilih oleh Tuhan. Namun di mata Allah SWT, semua itu tidak ada artinya apa-apa. Kalian itu bukan siapa-siapa.
حَتَّىٰ تُقِيمُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ
Kata hattaa (حَتَّىٰ) artinya : sampai. Kata tuqimu (تُقِيمُوا) artinya : kamu menegakkan. Kata at-tauraata (التَّوْرَاةَ) artinya : Kitab Taurat, yaitu kitab suci dari Allah SWT yang turun kepada Nabi Musa alaihissalam. Kata wal-injiila (وَالْإِنْجِيلَ) artinya : dan Injil, yaitu kitabullah yang turun kepada Nabi Isa alaihissalam.
Penggalan ini adalah itsbat atau penetapan atas penafian padapenggalan sebelumnya. Setelah ditegaskan bahwa kalian itu bukan siapa-siapa, atau kualitas beragama kalian itu nol besar, maka pada penggalan ini dijelaskan anti-tesisnya, yaitu : sampai kalian menegakkan isi Kitab Taurat dan Kitab Injil.
Allah SWT menggunakan istilah tuqimu (تُقِيمُوا) yaitu menegakkan, yang punya makna bukan sekedar melaksanakan secara simbolis, melainkan punya kandungan makna lebih dalam, yaitu menjadikan hukum-hukum yang terkandung di dalam kedua kitab suci itu tegak. Kalau dalam ungkapan kita hari ini, istilahnya adalah menegakkan supremasi hukum dengan sepenuh hati.
Penggalan ini mengisyaratkan bahwa meski mereka mengaku-ngaku sebagai ahli kitab, ternyata mereka selama ini bersikap mendua dan tidak konsisten. Mereka justru banyak memungkiri, membangkang, dan meninggalkan isi dari kitab suci mereka sendiri.
Bahkan sebenarnya mereka justru berperang melawan isi dari Taurat dan Injil. Itulah yang dikatakan hati mereka mendua. Di hadpan orang lain, mereka sok mengaku sebagai ahli kitab yang membela kitabullah. Namun di internal sesama mereka, sebenarnya mereka saling tahu bahwa mereka justru sangat anti terhadap kitab suci yang mereka bangga-banggakan itu.
وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ
Kata wa ma unzila ilaykum (وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ) artinya : dan apa yang diturunkan kepadamu.Kata min rabbikum (مِنْ رَبِّكُمْ) artinya : dari Tuhanmu.
Ada dua pendapat terkait maksud penggalan ini. Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Al-Quran Al-Karim. Namun sebagian ulama lain seperti Abu Hayyan mengatakan maksudnya adalah kitab-kitab suci yang telah Allah SWT turunkan kepada para nabi di kalangan Bani Israil.
Kalau kita menggunakan pendapat Ibnu Abbas, maka kesimpulannya bahwa ayat ini menegaskan bahwa orang-orang Yahudi itu selain ingkar kepada Taurat dan Injil, ternyata mereka pun juga ingkar kepada Al-Quran.
Kata wa-la-yazidan-na (وَلَيَزِيدَنَّ) artinya : dan pasti akan bertambah. Kata katsiranminhum (كَثِيرًامِنْهُمْ) artinya : banyak dari mereka.
Perlu dijelaskan bahwa sebenarnya yang bertambah bukan sejumlah orang dari mereka, bukan katsiranminhum (كَثِيرًامِنْهُمْ) artinya : banyak dari mereka. Yang bertambah adalah sifat tughyanan wa kufra (طُغْيَانًا وَكُفْرًا) yang artinya kedurhakaan dan kekafiran.
Kata maunzilailaika (مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ) artinya : apa yang diturunkan kepada kamu. Kata minrabbika (مِنْ رَبِّكَ) artinya : dari Tuhanmu. Ini maksudnya adalah kitab suci Al-Quran.
Maksudnya bahwa orang-orang Yahudi itu justru semakin menjadi tughyanan wa kufra (طُغْيَانًا وَكُفْرًا) ketika Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Kata thughyanan (طُغْيَانًا) artinya : kedurhakaan. Mereka semakin bertambah kedurhakaannya dengan semakin banyak ayat Al-Quran yang turun. Semakin menjadi-jadi dan semakin liar tidak terkendali.
Kata wa kufran (وَكُفْرًا) artinya : dan kekufuran. Semakin banyak ayat Al-Quran yang Allah SWT turunkan, orang-orang Yahudi itu bukannya semakin beriman, tetapi malah semakin tambah kafir, ingkar dan sampai ke titik tidak lagi beriman.
Secara struktur, kedua kata yang menunjukkan sifat itu tughyanan wa kufra (طُغْيَانًا وَكُفْرًا) diletakkan di akhir kalimat, tidak langsung setelah kata yazidanna (يَزِيدَنَّ) yaitu menambah. Padahal secara logika bisa saja ditulis : “akan menambah kedurhakaan dan kekufuran bagi mereka.” Tapi malah diletakkan di bagian akhir kalimat. Tehnik ini rupanya punya nilai balaghah atau gaya bahasa yang cukup istimewa dalam Al-Quran. Ada tersimpan di dalamnya sejumlah makna dan efek retoris yang kuat.
Dengan meletakkan kata tughyanan wa kufra (طُغْيَانًا وَكُفْرًا) di akhir, ayat ini menciptakan efek dramatis dan emosional. Saat mendengar atau membaca ayat ini, muncul pertanyaan dalam benak: apa yang bertambah? Lalu jawabannya diberikan belakangan, dengan kata-kata yang keras dan menggelegar: “kedurhakaan dan kekufuran.” Hal ini memperkuat kesan buruk dan berat dari akibat penolakan mereka terhadap wahyu.
Selain itu, susunan ini juga menegaskan bahwa yang menyebabkan pertambahan sifat buruk itu adalah Al-Quran itu sendiri, dalam arti karena kedengkian dan kebencian mereka terhadap kebenaran, bukan karena cacatnya wahyu.
Maka wahyu yang seharusnya menjadi petunjuk bagi orang yang beriman, justru menjadi sumber tambahan kesesatan bagi hati yang tertutup. Inilah bentuk keadilan Allah: siapa yang mencari kebenaran, akan ditambah petunjuknya; dan siapa yang membencinya, akan ditambah kesesatannya.
Gaya bahasa seperti ini dalam ilmu balaghah disebut ta’khir al-muta‘alliq (تأخير المتعلق) yaitu dengan menunda penyebutan unsur yang berkaitan, demi mencapai kekuatan makna dan pengaruh psikologis yang dalam. Ini bukan sekadar susunan kata biasa, melainkan sebuah teknik bahasa yang menunjukkan betapa indah dan kuatnya struktur kalimat Al-Quran dalam menyampaikan kebenaran dengan cara yang menggetarkan hati.
فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Kata fala (فَلَا) artinya : maka jangan. Kata ta'sa (تَأْسَ) artinya : kamubersedih. Kata ala (عَلَى) artinya : atas.
Penggalan yang jadi penutup ayat ini sebenarnya ingin menghibur Nabi SAW yang lagi merasa sedih melihat kerasnya penolakan dan semakin dalamnya kekafiran sebagian orang terhadap wahyu yang beliau bawa.
Karena Nabi SAW memiliki hati yang penuh kasih, beliau merasa pilu ketika melihat mereka justru bertambah sesat dan rusak. Maka muncullah huruf fa’ (ف) yang disebut fa’ fashiḥah untuk mengisyaratkan bahwa sebenarnya mereka seperti itu karena kedengkian kepada Rasul, bukan karena tidak tahu kebenaran.
Jadi penggalan ayat ini secara halus menyampaikan kepada Nabi SAW agar Beliau jangan terlalu bersedih untuk mereka, karena mereka sendiri yang memilih jalan buruk itu karena iri dan dengki.
Kata al-qaumi al-kafirin (الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ) artinya : kaum yang kafir.
Ketika Allah menyebut mereka dengan istilah al-qaum (الْقَوْمِ) yang berarti : kaum, dan bukan sekedar al-kafirin (الْكَافِرِينَ) saja, ini bukan sekadar gaya bahasa. Ada pesan tersirat bahwa kekafiran itu bukan sesuatu yang muncul sesekali dalam diri mereka secara individualis, melainkan sudah menjadi tabiat hidup dan karakter yang menggejala secara umum, masif dan adat di suatu masyarakat dan kebangsaan mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka memang sangat jauh dari cahaya iman.
Jika hanya dikatakan “orang-orang kafir” tanpa menyebut “kaum”, maka bisa saja maksudnya mencakup juga orang-orang yang masih bisa berubah—yang belum mantap kekafirannya, masih mencari-cari, atau ragu-ragu. Mereka ini tentu masih bisa diharapkan untuk beriman. Tapi dalam konteks ini, Allah benar-benar menekankan bahwa yang dimaksud adalah kaum yang sudah kafir sejati—yang tidak pantas lagi menjadi sebab kesedihan Rasul.
Jadi, ayat ini memberikan dua pelajaran penting. Pertama, hiburan kepada Nabi SAW bahwa beliau tidak perlu bersedih untuk orang yang memang membangkang karena dengki. Kedua, penegasan bahwa kekafiran yang disebut di sini adalah kekafiran yang mendalam, bukan kekafiran karena tidak tahu.