Kemenag RI 2019:Almasih putra Maryam hanyalah seorang rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Ibunya adalah seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya makan (seperti halnya manusia biasa). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (Ahlulkitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (dari kebenaran). Prof. Quraish Shihab:Al-Masih putra Maryam tidak lain
hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah
berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan
ibunya adalah seorang shiddiqab (yang
sangat benar dalam niat, ucapan dan prilakunya), keduanya senantiasa
memakan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan
kepada mereka (Ahl al-Kitab) ayat-ayat (bukti-bukti, tanda-tanda,
dan argumentasi yang beraneka ragam), kemudian perhatikanlah
bagaimana mereka dipalingkan (tidak mau mengerti tentang tanda-
tanda itu). Prof. HAMKA:Al-Masih putra Maryam tidak lain hanyalah seorang rasul, seperti para rasul yang telah mendahuluinya. Dan ibunya adalah seorang wanita yang sangat taat. Keduanya biasa makan makanan seperti manusia lainnya. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada mereka, tetapi lihatlah bagaimana mereka tetap berpaling.
Ayat ke-75 ini merupakan penegasan dari Allah SWT bahwa Nabi Isa itu bukan Tuhan, Beliau hanyalah manusia biasa, hanya saja Beliau diangkat menjadi rasul utusan Allah.
Jauh sebelum Nabi Isa, sudah banyak para rasul yang Allah SWT angkat membawa beban risalah. Mereka sudah berlalu, dalam artinya sudah wafat dipanggil Allah SWT. Wafatnya para nabi dan rasul menunjukkan bahwa mereka itu bukan Tuhan, karena Tuhan tidak boleh mati.
Selain penolakan atas ketuhanan Nabi Isa, ayat ini menegaskan bahwa Maryam, ibunda Nabi Isa adalah seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya bukan Tuhan, mereka tidak lebih dari manusia biasa, yang merupakan makhluk biologis, butuh makan untuk bisa bertahan hidup. Dan kalau masih butuh makanan, pastinya bukan Tuhan yang berhak disembah.
Ayat ini meminta Nabi Muhammad SAW untuk memberi perhatian khusus pada bagaimana Allah SWT yang sudah memberikan begitu banyak argumentasi terkait batalnya pemahaman orang-orang nasrani itu.
Namun begitu, meski semua argumentasi sudah amat jelas, ternyata mereka memang telah Allah SWT palingkan dari kebenaran. Sehingga semua argumentasi tidak ada yang mempan untuk memperbaiki penyimpangan aqidah teologis mereka.
مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ
Huruf maa (مَا) dalam bahasa Arab bisa punya banyak makna dan fungsi. Kadang bermakna apa untuk bertanya, tetapi kadang bermakna tidak atau bukan yang bersifat nafyi atau menolak. Dalam konteks ayat ini, huruf ma ini bermakna tidak atau bukan.
Kata al-masih (الْمَسِيحُ) artinya : al-masih. Kata ibnu Maryam (ابْنُ مَرْيَمَ) artinya : putera Maryam.
Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata rasul (رَسُولٌ) artinya secara harfiyah adalah utusan. Namun kata rasul ini tentu bukan hanya berarti utusan, melainkan sudah menjadi istilah yang baku sebagai orang yang dipilih oleh Allah SWT untuk membawa risalah samawi. Istilah ini punya kemiripan dengan istilah nabi, namun para ulama berbeda-beda ketika menjelaskan perbedaan antara keduanya. Yang disepakati bahwa tidak semua nabi itu rasul, sedangkan semua rasul sudah pasti nabi.
Namun pada perbedaan berikutnya para ulama tidak sepakat. Sebagian mengatakan bahwa rasul itu nabi yang diutus dengan membawa risalah baru, bukan sekedar meneruskan risalah dari rasul sebelumnya. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa rasul itu diperintah untuk mengajak orang ikut ke dalam syariat yang dibawa, sedangkan nabi tidak diperintah seperti itu, hanya untuk dirinya sendiri.
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ
Kata qad (قَدْ) artinya sungguh, sedangkan kata khalat (خَلَتْ) merupakan kata kerja yaitu berupa fi’il madhi yang maknanya telah berlalu atau telah lewat waktunya.
Kata min qablihi (مِنْ قَبْلِهِ) artinya dari sebelumnya, maksudnya sebelum era kenabian Nabi Isa alaihissalam, Allah SWT telah banyak mengutus para rasul sebelumnya dan mereka bukan hanya sudah lewat masanya, tapi juga sudah wafat dan dikubur. Intinya sudah tidak hidup lagi dan sudah menghadap Allah SWT.
Kata ar-rusul (الرُّسُلُ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu rasul. Jumlah mereka sebenarnya banyak sekali, mencapai angka 124 ribu orang, sebagaimana hadits berikut ini.
Abu Zar bertanya kepada Rasulullah SAW, "Berapakah jumlah para nabi." Beliau SAW menjawab, "Mereka berjumlah 124.000 orang, sebanyak 315 dari mereka adalah Rasul." (HR Ahmad dalam musnadnya dan Al-Bani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ
Kata wa ummuhu (َأُمُّهُ) artinya : dan ibunya, yaitu Maryam. Kata shiddiqah (صِدِّيقَةٌ) diterjemahkan secara berbeda oleh tiga sumber kita. Kemenag RI menerjemahkannya sebagai ‘seorang yang berpegang teguh pada kebenaran’. Prof. Quraish Shihab memberikan penjelasan di dalam kurung : (yang sangat benar dalam niat, ucapan dan prilakunya). Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi ‘wanita yang sangat taat’.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] menuliskan ada tiga pendapat yang berbeda terkait dengan makna shiddiqah ini.
Pertama: bahwa Maryam membenarkan ayat-ayat Tuhannya dan semua yang diberitakan oleh putranya. Allah SWT berfirman dalam menggambarkan dirinya:
وصَدَّقَتْ بِكَلِماتِ رَبِّها وكُتُبِهِ
Dan ia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya.” (QS. At-Tahrim: 12)
Kedua: bahwa ketika malaikat Jibril alaihissalam berbicara kepada Bunda Maryam, maka Jibril pun membenarkannya. Disitulah mendapat sebutan ṣhiddiqah, yaitu wanita yang benar.
Maka Kami mengutus roh Kami kepadanya, lalu ia menjelma di hadapannya sebagai manusia yang sempurna.” (QS. Maryam: 17)
Ketiga: bahwa Maryam adalah wanita yang jauh dari maksiat, punya kesungguhannya yang tinggi, serta memiliki keseriusannya dalam menegakkan syiar-syiar penghambaan.
Siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. (QS. An-Nisa: 69)
Kata kaana (كَانَا) artinya : keduanya, yaitu Nabi Isa dan ibundanya Maryam. Kata ya’kulani (يَأْكُلَانِ) artinya : memakan. Kata ath-tha’am (الطَّعَامَ) artinya : makanan.
Para ulama ahli tafsir umumnya mengaitkan makanan dengan Nabi Isa dan ibundanya Maryam karena untuk menegaskan bahwa keduanya bukan Tuhan yang berhak disembah. Ciri khas manusia atau makhluk hidup itu adalah mudah lapar dan butuh untuk memakan makanan untuk mengganjal perutnya. Ini untuk menegaskan kepada orang-orang yang menjadi para penyembahnya bahwa keyakinan mereka itu amat keliru.
Sedangkan Tuhan atau dewa di berbagai peradaban lebih dikenal sebagai sosok yang tidak pernah makan. Maka perbedaan paling mendasar antara Tuhan atau Dewa adalah dari sisi kebutuhannya atas makanan. Dan itulah yang nampaknya ingin ditonjolkan.
Al-Quran sendiri juga menceritakan bahwa baik Maryam atau pun puteranya Nabi Isa alaihissalam, keduanya sama-sama memakan makanan.
Pertama, Allah SWT memberi rejeki berupa makanan kepada Maryam, sehingga membuat Nabi Zakaria keheranan.
Setiap kali Zakaria masuk menemui di mihrabnya, dia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” (QS. Ali Imran : 37)
Kedua, Maryam diberi oleh Allah SWT makanan berupa ruthab yang berjatuhan ketika pangkal pohonnya diguncang. Kejadiannya ketika proses melahirkan bayi.
Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. (QS. Maryam : 25)
Ketiga, Nabi Isa alaihissalam sendiri diberi mukjizat berupa diturunkan kepadanya hidangan dari langit, untuk dijadikan sebagai perayaan bagi murid-muridnya.
Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama". (QS. Al-Maidah : 114).
انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ
Kata unzhur (انْظُرْ) artinya : lihatlah. Perintah ini ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pihak mukhatab yang diajak bicara. Tentu saja yang dimaksud bukan melihat dengan mata, melainkan melihat dengan akal dan logika. Dengan kata lain maksudnya : pikirkanlah, renungkanlah, bayangkanlah.
Kata kaifa (كَيْفَ) artinya : bagaimana. Kata nubayyinu (نُبَيِّنُ) artinya : Kami menjelaskan. Kata lahum (لَهُمُ) artinya : kepada mereka.
Penggalan ini merupakan ungkapan rasa heran terhadap keadaan orang-orang yang mengaku bahwa Maryam dan Isa memiliki sifat ketuhanan, namun mereka tidak juga sadar dan berhenti dari keyakinan tersebut, padahal telah dijelaskan kepada mereka hakikat yang sebenarnya dengan penjelasan yang sangat terang dan jelas, yang tidak mengandung sedikit pun keraguan.
Kata al-aayaat (الْآيَاتِ) secara harfiyah artinya adalah : tanda-tanda. Walaupun kadang kata al-aayaat (الْآيَاتِ) juga digunakan untuk menyebutkan ayat-ayat Al-Quran.
Namun umumnya para ulama tafsir memang memandangbahwa yang dimaksud adalah argumentasi atau hujjah yang sangat kuat mementahkan pandangan keliru mereka yang menuhankan Nabi Isa alaihissalam dan ibundanya Maryam.
ثُمَّ انْظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Kata tsumma (ثُمَّ) artinya : kemudian. Kata unzhur (انْظُرْ) artinya : lihatlah. Kata anna (أَنَّىٰ) artinya : bagaimana. Kata yu’fakun (يُؤْفَكُونَ) artinya : mereka dipalingkan.
Maksudnya setelah merenungkan dan memikirkan bagaimana kuatnya hujjah serta argumentasi tentang kelirunya pemikiran kalangan nasrani, kemudian Nabi Muhammad SAW diminta untuk memperhatikan bagaimana Allah SWT telah membuat mereka berpaling dari kebenaran.
Penggalan yang menjadi penutup ayat ini seolah memberikan penegassan bahwa apabila Allah SWT telah memalingkan seseorangdari kebenaran, mau diapakan juga, pasti tidak akan pernah bisa menerima kebenaran itu. Walaupun ada sejuta argumentasi yang seharusnya dengan mudah bisa dijadikan dasar landasan, namun namanya orang sudah dipalingkan, otomatis dia sudah seperti terhipnotis, tidak mampu meraih kesadarannya sendiri.
Karena itulah umat Nabi Muhammad SAW diajarkan agar tidak pernah berhenti meminta kepada Allah SWT, agar diberikan petunjuk kepada jalan yang lurus.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Bimbinglah kami ke jalan yang lurus. (QS. Al-Fatihah :6)
Permintaan itu wajib diucapkan secara terus menerus dan berkesinambungan dalam hari-hari yang dilalui oleh seorang muslim, khususnya dalam setiap rakaat shalat fardhu. Dan itu berarti setiap muslim akan mengucapkan doa itu dalam sehari semalam sampai 17 kali terulang-ulang.
Intinya adalah permohonan kepada Allah SWT agar jangan jadi orang yang dipalingkan dari kebenaran. Mari kita amini apa yang jadi doa rutin kita.