Rumah Fiqih Indonesia

.::FIKRAH

Bahaya Takhbib

Bahaya Takhbib

by. Hanif Luthfi, Lc., MA
Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dariku

Bojomu Semangatku?

Ileng yo, yen guyon ojo keblabasen. Yen keblabasen, mutere adoh. Meski sekedar iseng, tapi ternyata ada bahaya besar mengancam. Menggoda istri orang lain, ternyata bukan hal yang remeh dalam agama Islam.

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا

Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud).

Dalam hadits lain riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا

Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Ahmad).

Melamar wanita yang sudah dilamar orang lain saja dilarang, apalagi menggoda wanita yang telah menjadi istri orang lain, apalagi dalam rangka agar bercerai dengan suami sahnya.

Ibnul Qoyim al-Jauziyyah (w. 752 H) menjelaskan tentang dosa takhbib:

وَقَدْ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ وَتَبَرَّأَ مِنْهُ، وَهُوَ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ. وَإِذَا كَانَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَدْ نَهَى أَنْ يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ، وَأَنْ يَسْتَامَ عَلَى سَوْمِ أَخِيهِ، فَكَيْفَ بِمَنْ يَسْعَى فِي التَّفْرِيقِ بَيْنَ رَجُلٍ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَأَمَتِهِ حَتَّى يَتَّصِلَ بِهِمَا؟ (الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي = الداء والدواء، ص: 216).[1]

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat orang yang melakukan takhbib, dan beliau berlepas diri dari pelakunya. Takhbib termasuk salah satu dosa besar. Karena ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang untuk meminang wanita yang telah dilamar oleh lelaki lain, dan melarang seseorang menawar barang yang sedang ditawar orang lain, maka bagaimana lagi dengan orang yang berusaha memisahkan antara seorang suami dengan istrinya atau budaknya, sehingga dia bisa menjalin hubungan dengannya."

Penjelasan Takhbib

Mula Ali al-Qari (w. 1014 H) menjelaskan, takhbib secara bahasa artinya menipu dan merusak, yaitu dengan menyebut-nyebut kejelekan suami di hadapan istrinya atau kebaikan lelaki lain di depan wanita itu[2].

Al-Adzim Abadi menyebutkan pengertian takhbib:

مَنْ خَبَّب زوجة امرئ أي خدعها وأفسدها أو حسن إليها الطلاق ليتزوجها أو يزوجها لغيره أو غير ذلك[3]

"Siapa yang melakukan takhbib terhadap istri seseorang’ maknanya adalah siapa yang menipu wanita itu, merusak keluarganya atau memotivasinya agar cerai dengan suaminya, agar dia bisa menikah dengannya atau menikah dengan lelaki lain atau cara yang lainnya."

Ad-Dzahabi (w. 748 H) menyebutkan diantara dosa adalah takhbib:

وَمن ذَلِك إِفْسَاد قلب الْمَرْأَة على زَوجهَا. (الكبائر للذهبي (ص: 211)[4]

"Diantara hal yang dilarang adalah merusak hati wanita terhadap suaminya."

Pekerjaan Setan

Memisahkan antara suami dan istri termasuk pekerjaan setan. Dalam ayat Al-Qur'an disebutkan:

{فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ} [البقرة: 102]

Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. (Q.S. al-Baqarah: 102).

Terdapat hadits Nabi bahwa Iblis memuji setan yang berhasil menceraikan suami-istri, sedangkan setan lainya telah melakukan sesuatu tetapi Iblis tidak mengapresiasi hasilnya.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُوْلُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ، وَيَقُوْلُ: نِعْمَ أَنْتَ.

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim IV/2167 no 2813).

Ati-ati lur, urip mung mampir ngecas karo tuku pulsa.

[1] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H), ad-Da' wa ad-Dawa', hal. 216

[2] Mula Ali al-Qari (w. 1014 H), Mirqat al-Mafatih, hal. 5/ 2128. Lihat pula: Al-Adzim Abadi, Aun al-Ma'bud, hal. 6/ 159

[3] Al-Adzim Abadi, Aun al-Ma'bud, hal. 14/ 52

[4] Al-Hafidz adz-Dzahabi (w. 748 H), al-Kabair, hal. 211

Ganti Mazhab
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Wed 30 October 2024
Masjid : Antara Kampus dan Kantin
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Tue 29 October 2024
Fiqih Negara : Kedudukan Negara Dalam Hukum Syariah
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Fri 25 October 2024
Ibnu Taimiyyah Memotong Pernyataan Syeikh Abdul Qadir al-Jilani tentang Makna Istiwa, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Mon 1 November 2021
Al-Quran dan Kitab-Kitab Suci Samawi Lain Dalam Ajaran Islam
Muhammad Alfatih, Lc | Mon 4 October 2021
Antara Albani dan Ibnu Qayyim Tentang Ziarah Kubur Hari Jumat
Hanif Luthfi, Lc., MA | Fri 1 October 2021
Membaca Biaografi Ulama Menurunkan Rahmat, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Wed 1 September 2021
Bahaya Takhbib
Hanif Luthfi, Lc., MA | Tue 8 September 2020
Ayah Mertua Menikahi Ibu Kandung Menantu, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Sun 9 August 2020
Puasa Ayyam al-Bidh Khusus Bulan Dzulhijjah
Hanif Luthfi, Lc., MA | Sun 2 August 2020
more ...
1. Ibnu Taimiyyah Memotong Pernyataan Syeikh Abdul Qadir al-Jilani tentang Makna Istiwa, Benarkah?
2. Antara Albani dan Ibnu Qayyim Tentang Ziarah Kubur Hari Jumat
3. Membaca Biaografi Ulama Menurunkan Rahmat, Benarkah?
4. Bahaya Takhbib
5. Ayah Mertua Menikahi Ibu Kandung Menantu, Bolehkah?
6. Puasa Ayyam al-Bidh Khusus Bulan Dzulhijjah
7. 7 Amalan Pahalanya Setara Ibadah Haji dan Umrah
8. Jika Hibah kepada Anak maka Berlakulah Adil
9. Berjamaah di Rumah, Samakah Fadhilahnya?
10. MIL U atau MIL A?
11. Menikahi Wanita Ahli Kitab, Halalkah?
12. Mencium Tangan Kyai, Sunnah Siapa?
13. Kuburiyyun dan Anti Kuburan
14. Menomori Hadits Bukan Tradisi Ulama Salaf
15. Taklid Bagi Orang Awam
16. Menuduh Kyai Ibnu Taimiyyah Klenik
17. Ilmu Cocokologi al-Qur’an
18. Kuis Bidah
19. Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
20. As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
21. Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
22. Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
23. Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
24. Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
25. Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
26. Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
27. Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
28. Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
29. Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
30. Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
31. Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
32. Madzhab Fiqih Ahli Hadits
33. Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
34. Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
35. Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
36. Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
37. Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
38. Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
39. Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
40. Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
41. Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
42. Beasiswa Abu Hanifah
43. Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
44. Bener tapi Kurang Pener
45. Hari yang Meragukan
46. Ka Yauma atau Ka Yaumi?
47. Ulama Dikenal Karena Tulisannya
48. Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
49. Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
50. Jika Dhaif Suatu Hadits
51. Model Penulisan Kitab Hadits
52. Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
53. Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
54. Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
55. Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
56. Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
57. Ustadz Jadi Apa?
58. Menyadarkan Muqallid
59. Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
60. Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
61. Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
62. As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
63. Mata Kaki Harus Menempel?
64. Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
65. Puber Religi?
66. Shubuh Wajib Berhenti
67. Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
68. With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
69. Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Jadwal Shalat DKI Jakarta  |  Sabtu, 20 Juni 2026  |  Sumber: Kemenag RI
Imsak 04:30  |  Subuh 04:40  |  Dhuha 06:27  |  Dzuhur 11:58  |  Ashar 15:19  |  Maghrib 17:50  |  Isya 19:05   [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia  |  www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia