SFK > Sembelihan > Bagian Ketiga : Qurban Udhiyah

⬅️

Bab 4 : Syarat Penyembelihan Qurban

➡️

Agar ibadah menyembelih hewan qurban menjadi sah hukumnya, maka syarat-syaratnya harus dipenuhi sebelum penyembelihan itu dilaksanakan.

Syarat-syarat itu ada yang terkait dengan penyembelih, hewan dan juga dengan waktu penyembelihan.

A. Syarat Penyembelih

Agar ibadah menyembelih hewan qurban menjadi sah hukumnya, maka syarat-syaratnya harus dipenuhi oleh penyembelihnya antara lain menetapkan niat di dalam hati sebelum penyembelihan, dan niat itu harus sesuai dengan realitas di lapangan, serta keharusan satu niat yaitu ibadah pendekatan diri kepada Allah SWT, apabila bersekutu dalam satu hewan sembelihan.

1. Niat

Seluruh ulama dari semua mazhab sepakat bahwa penyembelih hewan qurban harus memasang niat terlebih dahulu di dalam hati untuk membedakan judul besar tindakannya.

Sebab ibadah yang terkait dengan menyembelih hewan bukan hanya qurban saja, tetapi juga ada aqiqah yang terkait dengan ritual kelahiran bayi, ada juga kaffarah dam karena mengerjakan haji tamattu' dan qiran, ada juga karena membayar dam lantaran melanggar larangan haji seperti berburu, atau juga bisa kaffarah karena melanggar sumpah, bahkan bisa juga sedekah biasa.

Maka niat harus dipasang sebelumnya agar ibadah yang dilakukan itu spesifik, sebab pahalanya akan sangat bergantung dengan niatnya. Dan diterima atau tidaknya suatu amal pun amat bergantung pada niatnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

إِنَّمَا الأْعْمَال بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُل امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang akan menerima apa yang dia niatkan (HR. Bukhari Muslim)

Namun niat ini cukup ditekadkan di dalam hati saja, tidak harus dilafadzkan di lisan, sebab tempat niat itu memang di dalam hati.

Asy-Syafi'iyah menyatakan apabila seseorang menyembelih hewan qurban dengan sebelumnya telah bernadzar, maka tidak lagi diperlukan niat. Karena dahulu ketika menetapkan nadzarnya, pada hakikatnya niat itu sudah ditetapkan di dalam hati. Sehingga pada hari pelaksanaan, tidak lagi dibutuhkan niat khusus, karena dianggap sudah satu rangkaian dengan tekatnya menyembelih hewan qurban dalam nadzarnya.

2. Kesamaan Niat Dengan Prakteknya

Disyaratkan antara niat di dalam hati sesuai dengan praktek di lapangan ketika menetapkan dan memilih hewan yang akan disembelih. Dan niat itu sudah bisa terjadi ketika hewan itu dibeli pertama kali.

3. Tidak Bersekutu Dengan Penyembelihan non Ibadah

Syarat yang ketiga masing menjadi perdebatan para ulama. Di dalam penyembelihan hewan qurban ada ketentuan bahwa unta, sapi, kerbau dan sejenisnya boleh disembelih dengan atas nama tujuh orang. Yang jadi perdebatan adalah apakah boleh tujuh orang itu punya niat yang berbeda, tidak semuanya berniat untuk qurban?

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat menjadi tiga kelompok.

a. Mazhab Al-Hanafiyah

Mereka membolehkan bila niat masing-masing tidak semuanya untuk hewan qurban. Syaratnya, jangan sampai ada di antara ketujuh orang ini yang niatnya bukan untuk ibadah atau taqarrub kepada Allah. [1]

Selama tujuannya ibadah, seperti aqiqah, kaffarah, dam dan sejenisnya, hukumnya masih dibolehkan. Tetapi kalau salah satunya hanya berniat mau makan daging saja, tanpa berniat untuk ibadah pendekatan diri kepada Allah, maka tidak dibenarkan hukumnya.

b. Mazhab Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah

Mereka tidak mempermasalahkan adanya perbedaan niat dari masing-masing peserta, bahkan meski ada di antara peserta dari tujuh orang itu yang niatnya bukan untuk qurban, melainkan sekedar untuk memakan dagingnya atau untuk menjualnya. [2]

Dalam pendapat mereka, misalnya ada tujuh orang berpatungan untuk membeli sapi, tetapi niat dan tujuan mereka berbeda-beda, hukumnya sah bagi yang niatnya untuk qurban ikut dalam patungan tersebut.

c. Mazhab Al-Malikiyah

Mazhab ini tidak membenarkan adanya persekutuan dalam masalah sembelihan, baik dari segi uang atau pun dari segi dagingnya. Sehingga kalau ada orang ingin menyembelih sapi untuk qurban, maka satu sapi itu untuk sendiri saja, tidak untuk bersama-sama dengan peserta qurban yang lain.

Dasarnya adalah qaul dari Ibu Umar radhiyallahuanhu sebagai berikut :

لاَ تُجْزِئُ نَفْسٌ وَاحِدَةٌ عَنْ سَبْعَةٍ

Tidak boleh satu nyawa hewan dibagi untuk tujuh orang.

B. Syarat Hewan

Diantara syarat-syarat untuk menyembelih hewan qurban, hewan itu perlu memenuhi kriteria berikut ini :

1. Termasuk Al-An'am

Yang dimaksud dengan al-an'am adalah hewan ternak seperti unta, sapi dan kambing. Sedangkan unggas seperti ayam, itik, bebek, angsa, kelinci dan sejenisnya, tidak termasuk al-an'am. Dalilnya adalah firman Allah SWT :

وَلِكُل أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأْنْعَامِ

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka. (QS. Al-Hajj : 34)

Kambing punya banyak nama dalam bahasa Arab, sebagaimana disebutkan di dalam beberapa ayat AL-Quran atau pun hadits-hadits nabawi. Di antaranya adalah :

2. Tsaniyah

Hewan yang sudah mengalami copot salah satu giginya (tsaniyyah). Yang dimaksud dengan gigi adalah salah satu gigi dari keempat gigi depannya, yaitu dua di bawah dan dua di atas. Boleh jantan atau betina meski diutamakan yang jantan karena bisa menjaga populasi.

3. Tidak Ada Cacat

a. Tidak Buta

Hewan itu tidak boleh yang buta tidak melihat, atau ada cacat parah di matanya, atau picak (aura’).

b. Tidak Sakit

Hewan yang dalam keadaan sakit parah tidak boleh dijadikan hewan sembelihan udhiyah.

c. Tidak Terpotong

Baik yang terpotong itu salah satu kakinya atau lebih dari satu kaki. Demikian juga hewan itu bukan hewan yang terpotong putting susunya atau sudah kering. Juga tidak boleh hewan yang terpotong pantat, ekor, telinga, hidung dan lainnya.

d. Tidak Pincang

Hewan yang dalam keadaan patah kaki hingga pincang dan tidak mampu berjalan ke tempat penyembelihannya, termasuk hewan yang tidak boleh dijadikan hewan persembahan.

e. Tidak Kurus Kering

Hewan yang kurus kering tinggal tulang belulang saja, tentu sangat tidak layak untuk dijadikan persembahan kepada Allah SWT. Selain itu bila hewan itu kurus kering, dagingnya tentu menjadi sedikit sehingga kurang bisa dijadikan salah satu sumber makanan.

f. Tidak Makan kotoran

Hewan yang memakan kotoran dan benda-benda yang najis tentu tidak boleh dimakan dagingnya, kecuali setelah mengalami karantina. Dan kurang layak untuk dijadikan persembahan kepada Allah SWT.

C. Syarat Waktu

Waktu yang disyaratkan sesuai dengan ketentuan yang telah Allah SWT tetapkan yaitu selama masa 4 hari, terhitung sejak usai shalat Idul Adha dan khutbahnya pada tanggal 10 Dzhuhijjah. Berlangsung selama masa 4 hari, yaitu hingga terbenam matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah.

Sebagian ulama ada yang membolehkan seusai shalat Idu Adha meskipun belum selesai khutbah. Dan buat orang-orang yang tidak tinggal secara menetap, nomaden atau badawi, sudah dibolehkan mulai menyembelih sejak terbit matahari.

D. Sepuluh Nama Kambing

Di dalam Al-Quran dan juga hadits yang berbahasa, kambing tampil dalam berbagai macam nama dan penyebutan. Ada ghanam, dha’n, ma’z, kharuf, thali, kabsy, tays, naj’ah, syah dan ‘anaq. Berikut penjelasan masing-masingnya :

1. Ghanam

Ghanam (غنم) adalah sebutan untuk semua jenis kambing dari berbagai macam jenisnya. Kata ghanam ini kita temukan di dalam Al-Quran, yaitu :

وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ

Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. (QS. Al-Anbiya : 78)

2. Dha'n

Dha’n (ضأن) ini sering diterjemahkan menjadi domba. Atau sebagaimana disebutkan Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, dha’n adalah ذَوَاتُ الصُّوفِ مِنَ الْغَنَمِ atau kambing yang menghasilkan wol.[3]

ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ ۖ مِنَ الضَّأْنِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْمَعْزِ اثْنَيْنِ ۗ قُلْ آلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الْأُنْثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الْأُنْثَيَيْنِ ۖ نَبِّئُونِي بِعِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

(yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang domba, sepasang dari kambing. Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya?" Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar, (QS. Al-Anam : 143)

3. Ma'z

Kata ma’z (معز) atau ma’iz (ماعز) ini kita temukan juga di dalam ayat di atas dan diartinya menjadi kambing saja.

Namun Asy-Syaukani dalam tafsir Fathul Qadir menyebutkan bahwa ma’iz ini adalah ذَوَاتُ الْأَشْعَارِ وَالْأَذْنَابِ الْقِصَارِ, yaitu kambing yang punya bulu rambut dan berekor pendek. [4]

4. Kharuf

Domba (خروف)dengan jenis kelamin jantan.

5. Thali

Thali (طلي) ini sama dengan kharuf tetapi istilah ini hanya digunakan di daerah Hijaz saja.

6. Kabsy

Kabsy (كبش) ini terdapat dalam kitab hadits Shahih Bukhari terkait dengan penyembelihan hewan qurban.

وَضَحَّى بِالْمَدِينَةِ كَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ

Rasulullah SAW menyembelih di Madinah dua ekor kambing yang gemuk dan punya tanduk. (HR. Bukhari)

Kabsy ini banyak diterjemahkan menjadi domba jantan yang usianya lebih tua dari kharuf

7. Tays

(تيس) Kambing kacang jantan.

8. Na'jah

Di dalam Al-Quran ditemukan kata na’jah (نعجة) dengan terjemahan sebagai kambing betina.

إِنَّ هَٰذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ

Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: "Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan". (QS. Shad : 23)

Di dalam terjemah Al-Quran versi Departemen Agama RI, na’jah ini diterjemahkan sebagai kambing betina. Tapi ada juga yang menerjemahkannya menjadi domba betina.

9. Syah

Syah (شاة) kita temukan di dalam beberapa hadits nabawi, di antaranya ketika Rasulullah SAW memerintahkan shahabatnya, Abdurrahman bin Auf untuk menyelenggarakan pesta pernikahan, meski hanya dengan menyembelih seekor kambing. Beliau menyebutkan kambing itu dengan sebutan syah (شاة).

أولم ولو بشاة

Laksanakan pesta walimah meski dengan menyembelih seekor kambing.

10. 'Anaq

Kambing (عناق)kacang yg masih kecil.



[1] Ibnu Abdin, Hasyiyatu Ibnu Abdin, jilid 5 hal. 201

[2] Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 8 hal. 397

[3]Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, jilid hal 7 hal. 113

[4]Asy-Syaukani dalam tafsir Fathul Qadir, jilid 2 hal. 194