Lepas dari hukumnya secara syariah, upaya menghindari makanan yang haram sebenarnya melahirkan banyak hikmah yang besar. Beberapa alasan dan hikmah Penulis coba uraikan sepanjang bab ini.
A. Nabi Adam Terjebak Memakan Yang Dilarang
Alasan pertama kenapa kita wajib menghindari makanan haram adalah karena memakan makaman haram merupaan dosa pertama yang dibuat oleh manusia. Dan hal itu terjadi pada Nabi Adam alaihissalam ketika masih di dalam surga.
1. Surga Lengkap Dengan Segala Jenis Makanan
Ketika Allah SWT menciptakan Nabi Adam alaihissalam di surga, semua makanan yang ada di dalamnya telah diizinkan untuk dimakan. Dan surga memiliki koleksi kuliner yang tidak terbatas jumlahnya, baik yang terbuat dari bahan hewani atau nabati.
Bahkan, di surga nyaris tidak ada makanan atau minuman yang haram. Boleh dibilang semua hukumnya halal, termasuk makanan atau minuman yang di dunia ini haram hukumnya.
Misalnya khamar, yang di dunia ini termasuk minuman yang haram, dimana keharamannya berlaku untuk semua syariat yang pernah Allah SWT turunkan ke muka bumi. Namun khusus di dalam surga, khamar justru tidak haram hukumnya. Al-Quran Al-Kariem memberitahukan kepada kita bahwa nanti di surga, khamar itu halal diminum.
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاء غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring. (QS. Muhammad : 15)
2. Satu-satunya Yang Diharamkan Buat Adam
Satu-satunya yang Allah haramkan bagi Nabi Adam ‘alahissalam dan istrinya untuk dimakan pada saat itu adalah satu pohon saja.
Dan menarik untuk digaris-bawahi bahwa ketika Allah WT melarang Nabi Adam dan istrinya untuk memakannya, ketentuan Allah SWT itu sangat jelas, bahkan dengan menunjuk langsung pohon itu.
وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلاَ مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَـذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-A’raf : 19)
Tegas dan nyata bagaimana Allah SWT bolehkan semua makanan yang ada di surga. Dan ketika melarang untuk memakan satu pohon, perhatikan pada kalimat ‘pohon ini’, disitu jelas sekali Allah SWT menunjuk langsung kepada pohon itu, sehingga tidak ada sedikit pun masalah yang bersifat remang-remang atau syubhat.
Nyaris tidak ada alasan bagi Nabi Adam dan istrinya untuk beralibi bahwa larangannya tidak jelas dan sebagainya.
Namun meski demikian, ternyata keduanya malah memakan buah yang terlarang dari pohon yang terlarang. Ya, itulah yang mereka berdua lakukan. Padahal kalau dipikir-pikir dengan logis, untuk apa sih keduanya masih penasaran memakan buat terlarang, bukankah ada bermilyar jenis makanan di surga yang halal, termasuk khamar?
3. Jelas Haram, Kenapa Dimakan Juga?
Kenapa justru Nabi Adam dan istrinya malah memakan satu-satunya makanan yang diharamkan?
Disitulah inti pelajarannya, bahwa ternyata urusan perut dan makanan memang sebuah ujian besar bagi manusia, anak-anak Adam di dunia ini.
Catatan penting dalam hal ini bahwa yang menjadi inti masalah bukan pada keremangan hukum atau syubhatnya kehalalan makanan. Sebab pohon terlarang itu adalah pohon yang kelihatan di mata, dimana Allah SWT menunjukkan langsung keberadaan pohon itu.
Yang jadi masalah justru pada jiwa manusia yang mudah dibujuk Iblis untuk memakan makanan yang sudah jelas-jelas dilarang untuk dimakan.
Adapun masalah syubhatnya hukum makanan, karena seseorang tidak tahu statusnya, apakah halal atau haram, tentu bukan menjadi penyebab kemurkaan Allah SWT. Sebab dalam pandangan syariah, Allah SWT tidak akan menyiksa seseorang karena hal yang memang tidak mampu dikerjakan.
Apalagi bila status keharamanya masih menjadi perdebatan para ulama dan ahli ilmu. Maka tidak pada tempatnya kalau kita menyalahkan pendapat sesama mujtahid dalam perkara yang masih diperselisihkan.
Seluruh umat Islam tahu bahwa Nabi Adam alahissalam memang nyata-nyata dilarang oleh Allah untuk memakan buah dari pohon terlarang itu. Dan beliau pun tahu status keharamannya. Maka kesalahannya bukan karena ketidak-tahuan hukumnya, melainkan justru karena sudah tahu hukumnya, namun tetap dilanggar.
4. Pohon Khuldi : Nama Pemberian Setan
Dan penyebutan bahwa nama pohon atau buahnya adalah buah Khuldi, ternyata menurut analisa sebagian mufassir juga kurang tepat. Sebab yang menamakan pohon itu sebagai pohon khuldi (keabadian) adalah setan, yang dalam hal ini justru sedang menipu Nabi Adam alaihissalam.
Perhatikan potongan ayat berikut :
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَى
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (QS. Thaha : 120)
Iblis menipu Adam dengan menyebutkan bahwa apabila buah dari pohon itu dimakan, akan membuat orang yang memakannya hidup abadi (immortal) dan punya kerajaan yang tidak akan binasa.
Padahal kenyataannya tidak demikian. Sebab selesai memakannya, Adam tidak hidup abadi dan juga tidak punya kerajaan. Malah yang terjadi justru Adam harus keluar dari surga dan hidup di dunia.
Tinggal tugas bagi kita saat ini untuk mengambil pelajaran yang amat berharga, yaitu kita harus hati-hati sekali dalam urusan makanan ini. Karena dahulu nenek moyang kita terjerembab ke lembah dosa, hingga terpaksa harus diturunkan ke muka bumi, gara-gara urusan perut dan makanan.
Jangan sampai kita jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Karena yang demikian itu bukan sifat seorang mukmin. Cukuplah kisah Nabi Adam memakan buah terlarang itu sebagai pelajaran bagi kita.
B. Setan Menjerat Lewat Makanan Haram
Dari kajian filosofi sejarah, awal penyebab dikeluarkannya Nabi Adam alaihissalam dan istrinya, Hawwa, dari surga ke bumi ini tidak lain karena urusan makanan haram yang dilanggar. Beliau telah melanggar larangan untuk tidak memakan makanan yang Allah haramkan.
1. Jerat Setan Lewat Makanan Haram
Dosa Adam itu lantas menjadi dosa pertama umat manusia. Karena itu, sebagai anak keturunan Adam kita wajib berhati-hati dalam urusan makanan-minuman haram agar tidak terperosok di lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Seorang muslim yang entah mengapa memakan makanan-minuman yang jelas-jelas haram, pada hakikatnya sedang berada dalam langkah-langkah penyesatan setan. Dan makanan-minuman haram memang salah satu pintu masuk bagi setan untuk menggiring anak keturunan Adam masuk neraka bersamanya.
Dikisahkan dalam Al-Quran bahwa Allah SWT telah memberikan kebebasan kepada keduanya untuk memakan apa saja yang ada di dalam surga. Intinya, semua makanan yang ada di surga itu halal dimakan. Namun, ada satu makanan yang dikecualikan, yang hukumnya haram dimakan. Allah secara tegas telah menunjukkan yang mana yang haram dimakan agar Adam tidak terjebak.
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلاَ مِنْهَا رَغَداً حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَـذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الْظَّالِمِينَ
Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Baqarah : 35)
Yang dimaksud dengan ‘jangan dekati pohon ini’ adalah jangan makan buahnya, sebagaimana disebutkan di dalam Tafsir Al-Jami' li-Ahkamil Quran oleh Al-Qurthubi.[1]
Namun, setan berhasil membisiki mereka untuk meninggalkan yang halal dan malah memakan yang haram. Secara logika, seharusnya Adam tidak akan memakan makanan yang telah Allah haramkan itu.
Setan memang pandai menipu dan merayu, karena itu justru satu-satunya makanan yang haram itulah yang dimakan dua manusia pertama itu. Allah SWT lantas menghukum keduanya.
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ
Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”(QS. Al-Baqarah : 36).
Para mufassirin berbeda pendapat tentang pohon apakah yang dimakan buahnya oleh Nabi Adam. Ada lima pendapat yang berbeda, ada yang mengatakan sunbulah, kurma, tin, anggur, gandum. Yang lebih tepat adalah bahwa kita tidak tahu pohon dan buah apakah itu, karena tidak ada satu pun ayat atau hadits yang menjelaskanya.[2]
Namun karena Adam adalah hamba Allah yang baik, begitu menyadari kesalahannya, beliau langsung bertobat. Dan Allah SWT menerima tobat dari Adam.
فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah : 37)
Kalau Nabi Adam alaihissalam langsung bertobat begitu menyadari kesalahannya, wajar sekali jika kita juga melakukan hal yang sama sekarang ini. Tapi, bagaimana kita bisa bertobat kalau belum mengerti mana makanan-minuman yang halal, mana yang haram?
Mempelajari hukum halal haram merupakan upaya kita tidak mengikuti langkah setan yang memang bertujuan membuat umat manusia selalu bergelimang dosa dan maksiat.
2. Dendam Abadi Setan
Buat setan, menjerumuskan manusia ke jurang dosa adalah dendam abadi. Bahkan untuk itu setan telah meminta agar umurnya bisa ditangguhnya, sehingga dia hidup abadi (immortal) hingga datangnya hari kiamat.
Dan Allah mengabulkan permintaan setan, sehingga semua keturunan Adam akan selalu berhadapan dengan setan, sang musuh abadi.
قَالَ فَأَنظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ قَالَ إِنَّكَ مِنَ المُنظَرِينَ قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh." Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
3. Kelemahan Manusia Diketahui Setan
Sebagai musuh abadi, setan sudah sangat mengenal karakteristik musuhnya, yaitu Nabi Adam dan keturunannya. Dan salah satu titik lemah nabi Adam pun juga amat diketahui setan.
Maka oleh karena itu setan tidak akan menyia-nyiakan titik lemah manusia anak-anak Adam. Karena titik itu bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan.
Kalau nenek moyang manusia yaitu Adam bisa diusir dari surga gara-gara urusan memakan makanan haram, maka anak-anaknya pasti dengan mudah bisa dijebloskan ke dalam neraka lewat urusan perut juga.
Maka kita wajib belajar hukum-hukum makanan halal dan haram, agar jangan sampai titik lemah yang sudah diincar oleh setan itu benar-benar menjadi ancaman buat kita.
Hanya mereka yang punya ilmu saja yang akan selamat dari incaran setan.
C. Makanan Haram Menghalangi Doa
Mengapa kita harus menghindarkan diri dari makanan yang haram?
Alasan kedua dari pertanyaan di atas adalah karena makanan haram itu membuat doa-doa kita menjadi terhalang dan tidak dikabulkan Allah.
Pernahkah terbetik dalam benak kitam bahwa Allah SWT sibuk sekali setiap harinya. Bayangkan, dalam sehari-semalam, ada bermilyar doa umat manusia yang menjadi hambanya, dipanjatkan naik ke langit. Ada begitu banyak hamba Allah yang berdoa dan menyampaikan permintaan. Tidak terhingga doa-doa tersebut dipanjatkan ke langit.
1. Perintah Untuk Berdoa
Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha menerima doa. Dan oleh karena itu Allah SWT memerintahkan semua hamba-Nya untuk berdoa dan meminta kepada-Nya.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka , bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah : 186)
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Al-Mu'min : 60)
2. Tidak Semua Doa Diterima
Tetapi apakah semua doa itu pasti diterima?
Jawabnya belum tentu. Tidak semua doa dikabulkan, tidak semua permintaan dipenuhi, dan tidak semua harapan diwujudkan oleh Allah Yang Maha Pengasih.
Dan tahukah Anda bahwa di antara doa-doa yang naik ke langit tetapi tidak didengar, apalagi dikabulkan oleh Allah SWT adalah –sayangnya- doa yang keluar dari mulut yang terbiasa dimasuki makanan haram.
Ya, doa yang keluar dari mulut seorang yang memakan makanan yang haram, atau meminum minuman yang telah Allah SWT haramkan, ternyata termasuk ke dalam kategori doa yang tidak akan terkabulkan.
Bayangkan, betapa dahsyatnya urusan makanan haram yang masuk ke perut kita ini, sampai-sampai Allah SWT yang aslinya Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi dan Maha Penerima doa, khusus untuk kasus pemakan makanan haram, Dia tidak mau mendengar atau mengabulkan doanya. Naudzu billah tsumma naudzu billah.
Rupanya makanan atau minuman yang haram punya efek dan pengaruh yang signifikan dalam fenomena pengabulan doa.
Ini bukan khurafat atau tahayul yang sifatnya mengada-ada, tetapi merupakan ketentuan ini telah dijelaskan dengan gamblang oleh Rasulullah SAW 14 abad yang lampau, ketika beliau bersabda dalam hadis berikut :
عَنْ أَبيِ هُرَيْرَةَ ض قَالَ: قاَلَ رَسُولُ اللهِ r : إِنَّ اللهَ تَعَالىَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِينَ. فَقَالَ تَعَالىَ(يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحا). وقال تعالى(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَهُ إِلىَ السَّمَاءِ: يَا رَبّ يَا رَبّ وَمَطْعَمُهُ حرَام وَمَشْرَبُهُ حَرَام وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ؟
Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu suci dan tidak menerima kecuali yang suci. Dan Allah memerintahkan orang mukmin sebagaimana memerintahkan kepada para rasul dalam firman, ’Wahai para rasul, makanlah yang baik-baik dan lakukanlah kesalehan’. Dan Allah berfirman, ‘Wahai orang beriman, makanlah dari rezeki yang kami berikan yang baik-baik’. Kemudian Rasulullah SAW menyebut seseorang yang melakukan perjalanan panjang hingga rambutnya kusut dan berdebu, sambil menadahkan tangannya ke langit menyeru, "Ya Tuhan, Ya Tuhan.” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram. Bagaimana doanya bisa dikabulkan? (HR. Bukhari)
Bagaimana doa bisa dikabulkan padahal orang yang memanjatkan doa masih saja bergelimang dengan hal-hal yang membuat Allah murka? Mulutnya masih dimasuki makanan-minuman haram, perutnya masih menampung bahan bakar api neraka.
Kesimpulannya, mari kita tinggalkan makanan-minuman haram agar doa kita bisa dikabulkan. Kuncinya adalah dengan mempelajari dan mengenali terlebih dulu, mana makanan-minuman yang haram dan mana yang halal.
Banyak orang pergi haji atau umrah ke tanah suci, dengan mengeluarkan harta yang tidak sedikit. Tujuan utamanya adalah ingin meminta kepada Allah di tempat-tempat suci yang konon merupakan tempat yang mustajabah, yaitu tempat yang umumnya doa lebih didengar dan lebih dikabulkan oleh Allah SWT.
Cara berdoa seperti ini tidak salah, karena memang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Tetapi kesucian tempat berdoa bila tidak diiringi dengan kesucian makanan yang masuk ke dalam perut, tentunya tidak akan berpengaruh banyak.
Coba saja kita bandingkan, mana lebih banyak waktu kita berada di tempat-tempat suci itu dibandingkan dengan masa dimana tubuh kita ini mengandung makanan haram?
Bila kita seorang yang rutin menjadi pemakan makanan haram, maka ketahuilah bahwa tubuh biologis kita yang terbentuk dari makanan haram, serta selalu mendapatkan asupan gizi dari bahan-bahan yang telah Allah SWT larang, keharamannya selalu melekat pada diri kita. Kemana pun kita pergi, tubuh yang terbuat dari benda haram itu kita bawa.
Berarti keberadaan kita di tempat suci menjadi tidak ada artinya, sebab di tubuh kita ini bersarang organ-organ yang terbentuk dari makanan haram. Buat apa berdoa di tempat suci, kalau tubuh kita sendiri terbentuk dari benda-benda yang haram?
Maka kalau kita sering berdoa, terkadang sampai bosan, karena jarang-jarang doa kita dikabulkan Allah, mari bersama-sama kita koreksi diri. Jangan-jangan, tubuh kita ini terbentuk dari makanan dan minuman yang haram. Kalau memang benar hal itu yang sesungguhnya terjadi, pantas saja doa kita tidak pernah terkabul, padahal berdoanya di depan Ka'bah.
Sudah mahal, ternyata tidak diterima.
Hadist di atas tanpa malu-malu menelanjangi banyak prilaku kita, ketika menggambarkan seorang yang tidak pernah lepas dari melakukan ibadah-ibadah ritual, mulai dari dzikir, mengaji, shalat yang khusyu', bahkan berdoa panjang lebar, hingga kusut masai rambutnya, lusuh kumal pakaiannya, bibirnya tidak pernah berhenti komat-kamit memanggil nama Allah SWT Tetapi sungguh sayang, makanannya haram, minumannya haram, mendapat asupan gizi dari makanan dan minuman yang haram.
Lalu bagaimana doanya mau diterima? Lalu apa makna semua ritual ibadah yang telah dijalankan? Lalu sia-sia pula dzikir, shalat, bacaan Quran, dan ritual-ritual itu, manakala tubuh ini terbentuk dari hal-hal yang hanya akan memancing murka Allah SWT
D. Tubuh Yang Terbentuk Dari Makanan Haram
Mengapa kita perlu menghindari makanan-minuman haram?
Alasan ketiga dari pertanyaan di atas bahwa bila daging yang tumbuh di tubuh kita terbuat dari makanan haram, makanan tersebut akan menjadi sasaran empuk api neraka di akhirat nanti.
1. Tubuh Manusia Bahan Bakar Neraka
Makanan yang paling digemari api neraka adalah daging yang tumbuh dari makanan yang haram. Dan ini bukan ancaman kosong, tetapi ini adalah sabda langsung Rasul mulia, Muhammad SAW.
Api neraka itu bukan berbahan bakar nuklir, tetapi berbahan bakar tubuh manusia dan batu, sebagaimana firman Allah SWT :
فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah : 24)
Tentu tidak semua tubuh manusia dijadikan bahan bakar dari api neraka. Hanya tubuh mereka yang kafir atau berdosa saja yang dijadikan bahan bakar neraka. Dan salah satunya adalah tubuh orang yang suka memakan makanan yang telah Allah SWT haramkan.
Di dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW bersabda tentang daging yang tumbuh dari makanan haram.
مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW,”Orang yang dagingnya tumbuh dari (makanan) haram, neraka lebih pantas baginya”. (HR.Al-Hakim)[3]
Maka kalau seorang muslim sangat berhati-hati agar tidak memakan makanan yang Allah haramkan, salah satu alasan yang utama karena dia tidak rela kalau tubuhnya nanti di akhirat menjadi bahan bakar api neraka.
Seorang muslim yang tidak pernah memperhatikan hukum halal haram dari apa yang dimakan dan diminumnya, akan rugi dua kali.
Pertama, rugi di dunia karena doa-doanya tidak akan dikabulkan. Dan kerugian ini sungguh menyakitkan, mengingat salah satu keistimewaan seorang muslim adalah doanya yang mudah Allah SWT kabulkan. Dan keistimewaan ini dicabut oleh-Nya lantaran suka mengkonsumsi makanan haram.
Kedua, rugi di akhirat karena tubuhnya akan dijadikan santapan api neraka. Padahal setiap muslim seharusnya nanti di akhirat tempatnya adalah surga. Tetapi ternyata tubuhnya malah dijadikan santapan api neraka. Kalau memang ujung-ujungnya bakalan jadi santapan api neraka, buat apa susah-susah punya status sebagai muslim?
Maksudnya, di dunia ini sudah untung punya status muslim, tapi kalau hanya tinggal status, sementara lidahnya tidak bisa menolak makanan haram, dan ujung-ujungnya di akhirat dibakar juga, ya buat apa?
2. Terlanjur Memakan Yang Haram
Maka kalau sudah terlanjur pernah atau malah sering memakan makanan haram, bertaubatlah dan minta ampun. Semoga Allah SWT mengampuni dan mensucikan diri kita, termasuk tubuh kita yang barangkali pernah memakan makanan haram. Apakah bisa disucikan dan dibersihkan?
Tentu saja bisa. Mana ada dosa di dunia ini yang tidak bisa diperbaiki. Semua bentuk kesalahan manusia pasti ada jalan keluar untuk minta ampun, asalkan dilakukan dengan cara yang benar. Cara yang benar adalah dengan cara bertaubat taubatan nashuha. Taubat yang sebenar-benar taubat, dimana cirinya sederhana, tetapi jarang ada orang yang bisa melaksanakannya.
a. Ciri Pertama
Orang yang bertaubat dengan taubatan nashuha adalah orang yang begitu tahu bahwa perbuatannya salah, langsung dia berhenti tanpa menunda-nundanya lagi.
b. Ciri Kedua
Orang yang bertaubat dengan taubatan nashuha adalah orang yang di dalam hati kecilnya memang telah terbit rasa penyesalan yang sedalam-dalamnya atas semua kesalahan yang pernah dilakukan.
Ukurannya, rasa sesal ini murni datang dari sanubari, bukan sesuatu yang dibuat-buat macam air mata buaya. Juga bukan datang semata dari suasana tertentu yang diciptakan.
Yang dimaksud dengan rasa sesal yang murni adalah rasa sesal yang asli, bukan hasil ciptaan apalagi rekayasa. Dan rekayasa rasa sesal itu seringkali dibuat-buat sedemikian rupa, hanya muncul kalau diperlukan, tetapi tidak mengubah esensi. Contoh yang paling mudah adalah malam renungan atau muhasabah yang sering digelar dalam event-event keagamaan tertentu. Dan sayangnya kegiatan palsu seperti ini malah marak di tengah masyarakat.
Kekuatannya hanya terbatas pada kepiawaian para narasumber pandai memainkan perasaan para peserta dengan kemampuan lisannya. Dan sering kali sura vocal sang nara sumber dianggap belum cukup, masih ditambah dengan lampu-lampu yang dimainkan dengan juru lampu siap di belakang panggung. Kadang dinyalalakan kadang dipadamkan dan kadang dibuat redup.
Masih belum cukup, event organizer (EO) tertentu kadang masih menambahinya dengan alinan suara musik yang dikemas untuk mengiringi suasana, barangkali suasananya biar larut.
Dengan suasana buatan seperti ini, tidak sedikit orang yang ikut menangis menyesali perbuatan-perbuatan masa lalunya. Tapi apa benar semua itu lahir dari rasa sesal dari lubuk hati yang paling dalam? Hanya Allah SWT saja yang tahu.
Itulah yang Penulis maksud dengan rekayasa. Seringkali rasa sesal hasil rekayasa kurang menghujam, hanya sekedar menjadi penghias, bukan rasa sesal yang asli.
Kalau mau membedakan sebenarnya mudah sekali. Biasanya, rasa sesal hasil rekayasa tidak punya atsar (pengaruh) yang lama. Hari ini menangis dengan mata berlinang, besok sudah mengulangi dosa yang sama.
Rasa sesal yang asli itu berbeda, dia tidak lahir dari sekedar rekayasa, tetapi lahir dari hati, menghujam kuat di dalam batin. Tidak mudah berubah, meski tidak tumbuh dalam waktu seketika.
Dan rasa sesal yang seperti ini biasanya punya ’power’ yang luar biasa kuat, sampai bisa menjadi motivator untuk melakukan perubahan yang signifikan.
Contohnya adalah kisah seorang dari Bani Israil di masa lalu yang menyesal karena telah membunuh 100 nyawa. Ketika diminta untuk pindah tempat tinggal dan suasana, dia pun melaksanakannya dengan ikhlas tanpa takut misalnya tidak punya sumber mata pencaharian lagi, atau takut tidak punya teman dan sebagainya.
Rasa sesal di dalam dada itu begitu menghujam sampai akhirnya dia benar-benar mati di tengah jalan, sehingga Allah SWT menghendaki dia masuk surga.
c. Ciri Ketiga
Tidak cukup hanya berhenti dan menyesal, seorang yang bertaubat taubatan nashuha berciri punya tekat sangat kuat di hati untuk tidak akan pernah kembali melakukannya sejak hari itu hingga selama-lamanya. Karena selama masih ada keinginan untuk kembali mengulanginya, pada hakikatnya taubat itu menjadi sirna dan sia-sia. Itulah 3 ciri orang yang taubatnya diterima Allah SWT
E. Makanan Halal dan Penyakit
Allah tidak mengharamkan makanan atau minuman kecuali ada hikmah di belakangnya, baik yang bisa terungkap melalui ilmu pengetahuan maupun yang tidak. Buat seorang muslim, apakah rahasia keharaman itu terjawab lewat ilmu pengetahuan atau tidak, tentu tidak berpengaruh pada keimanannya, sebab iman kepada Allah SWT membawanya kepada derajat tsiqah (percaya) bahwa di balik semua ketentuan Allah, pasti ada hikmahnya.
Salah satu dari hikmah menghindari makanan haram adalah terhindarnya diri kita dari penyakit. Allah SWT tidak menurunkan penyakit kecuali yang ada obatnya. Dan Allah SWT tidak menurunkan obat kecuali dari yang halal.
Sebaliknya, obat haram sekilas seakan bisa mengobati, padahal di dalamnya justru ada penyakit. Dan makanan haram pun secara langsung atau tidak akan membuat kita menjadi rentan atas penyakit, sebab Allah tidak menjamin kehalalannya.
فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيْئًا
"Maka makanlah pemberian itu niscaya menjadi obat yang menawarkan.”
Al-Qurthubi menukilkan dari sebagian ulama tafsir bahwa maksud firman Allah هنيئًا مريئًا , al-hani' ialah yang baik lagi enak dimakan dan tidak memiliki efek negatif, sedangkan al-mari' ialah yang tidak menimbulkan efek samping setelah dimakan, mudah dicerna, dan tidak menimbulkan penyakit atau gangguan.[4]
o