Seri Umum > Kajian Dasar Islam

⬅️

Bab 5 : Mandi Janabah

➡️

A. Pengertian

Mandi dalam bahasa Arab disebut dengan istilah al-ghusl (الغسل). Kata ini memiliki makna yaitu menuangkan air ke seluruh tubuh. Adapun kata janabah dalam bahasa Arab bermakna jauh (البُعْد), lawan dari dekat (ضِدُّ القرَابَة).

Sedangkan secara istilah para ulama menyebutkan definisi mandi janabah sebagai :

اسْتِعْمَال مَاءٍ طَهُورٍ فِي جَمِيعِ الْبَدَنِ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ بِشُرُوطٍ وَأَرْكَانٍ

Memakai air yang suci pada seluruh badan dengan tata cara tertentu dengan syarat-syarat dan rukun-rukunnya.

Mandi janabah sering juga disebut dengan istilah 'mandi wajib'. Mandi ini merupakan tatacara ritual yang bersifat ta’abbudi dan bertujuan menghilangkan hadats besar.

B. Rukun Mandi Janabah

Untuk melakukan mandi janabah maka ada dua hal yang harus dikerjakan karena merupakan rukun atau pokok:

1. Niat

Niat adalah urusan hati dan bukan urusan lisan. Niat adalah apa yang ditekadkan di dalam hati seseorang tatkala memulai mengerjakan suatu ibadah.

Seseorang yang mengucapkan lafadz niat seperti lafadz : nawaitul ghusla li raf’il hadatsir al-akbar, boleh jadi dia belum berniat di dalam hati. Misalnya seorang guru yang sedang mengajar di depan kelas, berulang-ulang dia melafaskannya agar anak muridnya menghafal. Tetapi sangat boleh jadi di dalam hatinya, sang guru tidak berniat untuk mandi janabah.

Sebaliknya, orang yang lidahnya tidak mengucapkan lafadz itu, asalkan hatinya berketetapan untuk melakukan ibadah ritual mandi janabah, dia dikatakan sudah berniat.

Dasar dari ketentuan bahwa suatu ibadah itu harus diawali dengan niat adalah sabda Rasulullah SAW :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّات

Semua perbuatan itu tergantung dari niatnya. (HR Bukhari dan Muslim)

2. Menghilangkan Najis

Menghilangkan najis dari badan sesungguhnya merupakan syarat sah mandi janabah. Dengan demikian bila seorang akan mandi janabah disyaratkan sebelumnya untuk memastikan tidak ada lagi najis yang masih menempel di badannya.

Caranya bisa dengan mencucinya atau dengan mandi biasa dengan sabun atau pembersih lainnya. Adapun bila najisnya tergolong najis berat maka wajib mensucikannya dulu dengan air tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.

Untuk itu sangat dianjurkan sebelum mandi janabah dilakukan mandi terlebih dahulu seperti biasa dengan sabun dan lain-lainnya agar dipastikan semua najis dan kotoran telah hilang. setelah itu barulah mandi janabah hanya dengan air saja.

3. Meratakan Air ke Seluruh Tubuh

Seluruh badan harus rata mendapatkan air baik kulit maupun rambut dan bulu. Baik akarnya ataupun yang terjuntai. Semua penghalang wajib dilepas dan dihapus seperti cat, lem, pewarna, kuku atau pewarna rambut bila bersifat menghalangi masuknya air.

Rambut yang dicat dengan menggunakan bahan kimiawi yang sifatnya menutup atau melapisi rambut dianggap belum memenuhi syarat. Sehingga cat itu harus dihilangkan terlebih dahulu.

Demikian juga bila di kulit masih tersisa lem yang bersifat melapisi kulit, harus dilepas sebelum mandi agar kulit tidak terhalang dari terkena air.

Sedangkan pacar kuku (hinna') dan tato tidak bersifat menghalangi sampainya air ke kulit, sehingga tetap sah mandinya, lepas dari masalah haramnya membuat tato.

Termasuk yang dianggap tidak menghalangi air terkena kulit adalah tinta pemilu, dengan syarat tinta itu tidak menutup atau melapisi kulit tinta itu hanya sekedar mewarnai saja.

Meratakan air ke seluruh tubuh merupakan rukun dari mandi janabah, namun bukan berarti kita boros dalam menggunakan air. Rasulullah SAW sebagai panutan kita hanya menggunakan air sebanyak satu sha’, sebagaimana yang kita baca pada hadits yang shahih berikut ini.

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ r يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Anas r.a dia berkata bahwa Rasulullah SAW berwudlu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sha’ hingga lima mud air. (HR. Bukhari Muslim)

Satu sha’ kurang lebih setara dengan 2,75 liter, sebagaimana disebutkan oleh Dr. Wahbah Az-zuhaili dalam kitab fenomenal beliau, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu.

Bahkan meski pun kita mandi janabah di sungai, tetapnya anjuran untuk tidak boros dalam menggunakan air harus diperhatikan, sebagaimaan hadits berikut ini :

أَنَّ رَسُول اللَّهِ r مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَال : " مَا هَذَا السَّرَفُ ؟ " فَقَال : أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ ؟ فَقَال : " نَعَمْ وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ

Rasulullah SAW berjalan melewati Sa'd yang sedang berwudhu' dan menegurnya,"Kenapa kamu boros memakai air?". Sa'ad balik bertanya,"Apakah untuk wudhu' pun tidak boleh boros?". Beliau SAW menjawab,"Ya, tidak boleh boros meski pun kamu berwudhu di sungai yang mengalir. (HR. Ibnu Majah)

C. Yang Disunnahkan Ketika Mandi Janabah

Rasulullah SAW telah memberikan contoh hidup bagaimana sebuah ritual mandi janabah pernah beliau lakukan lewat laporan dari istri beliau ibunda mukminin Aisyah radhiyallahu ta'ala anha.

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ r إِذَا اِغْتَسَلَ مِنْ اَلْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ ثُمَّ يَأْخُذُ اَلْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ اَلشَّعْرِ ثُمَّ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ

Aisyah radhiyallahuanha berkata,"Ketika mandi janabah Nabi SAW memulainya dengan mencuci kedua tangannya kemudian ia menumpahkan air dari tangan kanannya ke tangan kiri lalu ia mencuci kemaluannya kemudian berwudu’ seperti wudhu’ orang shalat. Kemudian beliau mengambil air lalu memasukan jari-jari tangannya ke sela-sela rambutnya dan apabila ia yakin semua kulit kepalanya telah basah beliau menyirami kepalanya 3 kali kemudian beliau membersihkan seluruh tubuhnya dengan air kemudian diakhir beliau mencuci kakinya (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ’Aisyah radliyallahu anha dia berkata ”Jika Rasulullah SAW mandi karena janabah maka beliau mencuci kedua tangan kemudian wudlu’ sebagaimana wudlu beliau untuk shalat kemudian beliau menyela-nyela rambutnya dengan kedua tangan beliau hingga ketika beliau menduga air sudah sampai ke akar-akar rambut beliau mengguyurnya dengan air tiga kali kemudian membasuh seluruh tubuhnya”. ’Aisyah berkata ”Aku pernah mandi bersama Rasulullah SAW dari satu bejana kami menciduk dari bejana itu semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari kedua hadits di atas kita bisa merincinya sebagai berikut :

1. Mencuci Kedua Tangan

Pertama sekali yang harus dilakukan ketika mandi janabah adalah mencuci kedua tangan. Mencuci kedua tangan ini bisa dengan tanah atau sabun lalu dibilas sebelum dimasukkan ke wajan tempat air.

2. Mencuci Dua Kemaluan

Caranya dengan menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri dan dengan tangan kiri itulah kemaluan dan dubur dicuci dan dibersihkan.

3. Membersihkan Najis

Selain dua kemaluan juga disunnahkan terlebih dahulu untuk membersihkan semua najis yang sekiranya masih melekat di badan.

4. Berwudhu

Setelah semua suci dan bersih dari najis maka disunnahkan untuk berwudhu sebagaimana wudhu' untuk shalat. Jumhur ulama mengatakan bahwa disunnahkan untuk mengakhirkan mencuci kedua kaki. Maksudnya wudhu' itu tidak pakai cuci kaki cuci, kakinya nanti setelah mandi janabah usai.

5. Sela-sela Rambut

Di antara yang dianjurkan juga adalah memasukan jari-jari tangan yang basah dengan air ke sela-sela rambut sampai ia yakin bahwa kulit kepalanya telah menjadi basah

6. Menyiram Kepala

Sunnah juga untuk menyiram kepala dengan 3 kali siraman sebelum membasahi semua anggota badan.

7. Membasahi Seluruh Badan

Ketika mandi dan membasahi semua bagian badan ada keharusan untuk meratakannya. Jangan sampai ada anggota badan yang tidak terbasahi air. Misalnya kalau ada orang yang memakai pewarna rambut atau kuku yang sifatnya menghalangi tembusnya air, maka mandi itu menjadi tidak sah.

Tergantung jenis pewarnanya, kalau tembus air atau menyatu menjadi bagian dari rambut atau kuku, tentu tidak mengapa. Tetapi kalau tidak tembus dan menghalangi, maka mandinya tidak sah. Semua yang menghalangi kulit dari terkena air secara langsung harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum mandi.

8. Mencuci kaki

Disunnahkan berwudhu di atas tanpa mencuci kaki, tetapi diakhirkan mencuci kakinya. Dengan demikian mandi janabah itu juga mengandung wudhu yang sunnah. Namun perlu juga diperhatiakan, walau pun tanpa berwudhu' sekalipun, sebenarnya mandi janabah itu sudah mengangkat hadats besar dan kecil sekaligus.

Jadi seandainya setelah mandi janabah itu tidak berwudhu’ lagi, sudah cukup. Asalkan selama mandi tidak melakukan hal-hal yang sekiranya akan membatalkan wudhu, seperti menyentuh kemaluan dengan telapak tangan bagian dalam, kencing, kentut dan seterusnya.