Kata wa idz (وَإِذْ) artinya secara harfiyah adalah : dan ketika. Namun maksudnya adalah perintah untuk mengingat dan melakukan pembahasan, analisa, kajian dan pendalaman terkait dengan suatu kejadian. Dalam banyak terjemah ditambahkan dengan kata ‘ingatlah’ sehingga menjadi : “dan (ingatlah) ketika”.
Kata auhaytu (أَوْحَيْتُ) secara bahasa seharusnya berarti : ‘Aku wahyukan’. Namun para penerjemah sepakat menyesuaikannya dengan konteks sehingga menjadi : Aku ilhamkan.
Asalnya dari awha-yuhi (أوحى-يوحي) dan bentuk mashdarnya adalah wahyu (وحي). Memang kata ini ternyata tidak hanya khusus digunakan sebagai wahyu kenabian. Di dalam beberapa ayat lain ternyata kata ini digunakan kepada yang selain nabi atau rasul. Dalam surat An-Nahl, lebah itu diberi ‘wahyu’ oleh Allah, tetapi maksudnya ilham.
وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia." (QS. An-Nahl: 68)
Ketika menghanyutkan anaknya di sungai Nil demi agar selamat dari pemeriksaan Fir’aun, ibunda Musa sebenarnya mendapat ‘wahyu’ dari Allah SWT. Namun wahyu yang dimaksud tidak lain adalah ilham.
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِى ٱلْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ
Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa: "Susuilah dia, dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil), dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih. Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul." (QS. Al-Qashash: 7)
Kata ila (إِلَى) artinya : kepada. Kata al-hawariyin (الْحَوَارِيِّينَ) secara bahasa berasal dari kata al-hawar (الْحَوَارِ) yang artinya (الْبَيَاضُ الشَّدِيد): putih yang sangat.
Dan mereka disebut dengan hawariyyun karena ciri mereka terbiasa mengenakan pakaian berwarna putih. Setidaknya itulah yang dijelaskan oleh Said bin Jubair terkait kenapa mereka disebut hawariyyun. Sedangkan Qatadah dan Adh-Dhahhak mengatakan bahwa mereka disebut hawariyyun karena hati mereka sangat bersih dalam arti sangat mulia.
Menurut sebagian riwayat, jumlah mereka adalah dua belas orang, sama seperti jumlah murid Yesus dalam tradisi Kristen. Namun Al-Qur’an tidak menyebutkan jumlah atau nama-nama mereka secara eksplisit.
Mereka bukan nabi, namun hamba-hamba saleh yang beriman kuat. Mereka mendapat pujian langsung dalam Al-Qur'an karena kesetiaan mereka kepada Nabi Isa alaihissalam. Dalam tafsir disebutkan bahwa mereka mengikuti Nabi Isa AS secara lahir dan batin, serta menyebarkan risalah tauhid setelah kenaikan Nabi Isa ke langit.
Dalam tradisi Kristen mereka lebih dikenal sebagai The Twelve Apostles alias kedua belas rasul, yang merupakan murid-murid utama Yesus Kristus. Dalam bahasa Yunani, Apostolos berarti "yang diutus".
Nama dua belas rasul Yesus menurut Injil (khususnya Matius 10:2–4) adalah Simon Petrus (Simon yang disebut Petrus), Andreas (saudara Simon Petrus), Yakobus bin Zebedeus, Yohanes (saudara Yakobus), Filipus, Bartolomeus, Matius (pemungut cukai), Tomas, Yakobus bin Alfeus, Tadeus (juga disebut Yudas bin Yakobus), Simon Zelotes (Simon orang Zelot) dan Yudas Iskariot.
Yang terakhir ini disebut-sebut sebagai figur yang kemudian mengkhianati Yesus. Setelah pengkhianatan dan kematian Yudas Iskariot, menurut Kisah Para Rasul 1:26, posisinya digantikan oleh Matias.
Kata an (أَنْ) artinya : “Berimanlah. Kata aaminuu (آمِنُوا) artinya : kamu. Kata bii (بِي) artinya : kepada-Ku. Kata wa birasuli (وَبِرَسُولِي) artinya : dan kepada Rasul-Ku.”
Dalam versi Islam, para hawariyun memang tidak disebutkan namanya satu per satu. Nabi SAW sama sekali tidak pernah menyebutkan nama-nama mereka. Sementara kisah dan keberadaan mereka tidak pernah dikenal di jazirah arabia.
Kalau ada kitab tafsir yang menyebutkan nama-nama mereka, sumbernya tentu dari pihak orang-orang Nasrani yang menceritakan keberadaan mereka.
Namun begitu Al-Quran menjelaskan posisi keimanan mereka dalam ayat ini dengan perintah yang amat jelas, yaitu berimanlah kamu kepada Aku dan beriman pula kamu kepada rasul-Ku. Tentu rasul yang dimaksud adalah Nabi Isa ‘alaihissalam.
Kata qaluu (قَالُوا) artinya : Mereka menjawab. Kata aamannaa (آمَنَّا) artinya : “Kami telah beriman. Kata wash-had (وَاشْهَدْ) artinya : dan saksikanlah (wahai Rasul). Kata bi-annanaa (بِأَنَّنَا) artinya : bahwa kami adalah. Kata muslimuun (مُسْلِمُونَ) artinya : orang-orang yang berserah diri.”
Tentang keimanan para hawariyun sebenarnya sudah banyak diceritakan Al-Quran. Bahkan mereka bukan hanya sekedar beriman, tetapi sudah jadi ‘pasukan berani mati’ bagi sosok Nabi Isa alaihissalam.
Di dalam surat Ali Imran dikisahkan bahwa mereka telah menyatakan diri sebagai ‘tameng hidup’ bagi keselamatan Nabi Isa, dengan menyebut diri mereka sebagai ansharullah.
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Ketika Isa merasakan kekufuran mereka (Bani Israil), dia berkata, “Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawari (sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim. (QS. Ali Imran : 135)