Kemenag RI 2019:Engkau melihat banyak di antara mereka bersekutu dengan orang-orang yang kufur (musyrik). Sungguh, itulah seburuk-buruk apa yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri (sehingga mengakibatkan) Allah murka kepada mereka. Mereka akan kekal dalam azab. Prof. Quraish Shihab: Engkau melihat banyak dari mereka
(Ahl al-Kitab) yang menjadikan orang-
orang yang kafir sebagai wali (teman
dekat dan penolong). Demi (Allah)!
Sungguh, sangat buruk apa yang
mereka ajukan untuk diri mereka,
(yaitu) murka Allah atas mereka; dan
dalam azab mereka kekal. Prof. HAMKA:Engkau akan melihat bahwa kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin. Sungguh buruk apa yang telah mereka persiapkan untuk diri mereka sendiri, hingga mereka mendapat kemurkaan Allah dan akan kekal dalam azab.
Dari hasil kolaborasi itulah kemudian Nabi SAW mendapatkan begitu banyak masalah di kemudian hari. Padahal orang-orang Mekkah sendiri seharusnya sudah tidak lagi bernafsu untuk berkonfrontasi dengan Nabi SAW.
Maka apa yang Bani Israil Madinah itu lakukan merupakan perbuatan yang disebut sebagai ‘seburuk-buruk apa yang mereka lakukan’.
Namun Allah SWT tegaskan bahwa semua itu akan berakibat kepada diri mereka sendiri, yaitu mereka mendapatkan murka dari Allah SWT, selain juga mereka dipastikan akan kekal dalam azab neraka.
تَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ
Kata wa tara (وَتَرَىٰ) artinya : dan kamu lihat. Dalam hal ini yang dimaksud dengan kamu adalah Nabi Muhammad SAW sebagai pihak yang diajak bicara oleh Allah SWT.
Kata katsiran (كَثِيرًا) artinya : banyak atau kebanyakan. Kata min-hum (مِنْهُمْ) artinya : dari mereka. Ada sejumlah besar dari kalangan ahli kitab yang seperti itu, sehingga seolah-olah seperti semuanya melakukan.
Maka Allah SWT menegaskan kata katsiran minhum (كَثِيرًا مِنْهُمْ) untuk secara teliti bahwa tidak semuanya seperti itu.
يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا
Kata yatawallauna (يَتَوَلَّوْنَ) secara harfiyah berarti : menjadikan wali. Namun terjemahannya amat beragam. Terjemahan Kementerian Agama RI edisi tahun 2019 adalah : “mereka bersekutu dengan orang-orang yang kufur (musyrik)”. Terjemah Prof. Dr. Quraish Shihab adalah : “menjadikan orang- orang yang kafir sebagai wali (teman dekat dan penolong)”. Terjemah Buya HAMKA adalah : “menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin”.
Sebenarnya tema ini sudah pernah kita bahas secara panjang lebar pada ayat-ayat sebelumnya, khususnya pada ayat 51 dari surat Al-Maidah ini, namun sedikit beda pelaku.
Kalau di ayat 51 Surat Al-Maidah itu khitabnya kepada pemeluk Islam yang punya masalah, yaitu orang-orang munafiqin, dimana mereka bukannya membela Nabi Muhammad SAW, tetapi malah memberikan loyalitas dan dukungannya kepada orang-orang kafir Yahudi. Padahal Yahudi saat itu sudah secara tegas bikin konfrontasi dengan Nabi SAW.
Sedangkan di ayat ke 80 ini yang melakukannya justru para ahli kitab, yaitu orang-orang Yahudi yang memang sudah kafir. Dikatakan bahwa mereka yatawallauna alladzina kafaru (يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا) secara teknis mereka menjalin kerja sama dengan orang-orang musyrikin Mekkah. Seakan mereka berprinsip enemy of my enemi is my friend, musuh dari musuhku adalah temanku.
Ada banyak konspirasi jahat yang kemudian mereka sepakati demi untuk berkonfrontasi dengan Nabi Muhammad SAW. Contoh konkretnya antara lain adalah :
1. Perang Khandaq (Ahzab)
Persekutuan Yahudi Bani Nadhir dengan Quraisy dan Ghathafan bermuara kepada pengepungan Madinah oleh 10 ribu pasukan dalam dalam Perang Khandaq atau Perang Ahzab. Setelah diusir dari Madinah karena pengkhianatan mereka, Bani Nadhir,salah satu kabilah Yahudi besar di Madinah, tidak tinggal diam. Mereka menggalang kekuatan dan membuat aliansi militer besar-besaran bersama suku Quraisy dari Mekkah dan suku Ghathafan serta beberapa suku Arab lainnya.
Tokoh utama mereka adalah Huyay bin Akhtab, pemimpin Bani Nadhir. Sedangkan aksi yang mereka lakukan adalah pergi ke Mekkah untuk membujuk Quraisy agar kembali memerangi Rasulullah. Tidak hanya itu, mereka juga berusaha untuk meyakinkan suku-suku Arab bahwa Muhammad SAW dan umat Islam adalah ancaman besar.
Hasilnya adalah terbentuknya koalisi besar dalam Perang Khandaq atau Perang Ahzab, perang yang hampir menghancurkan kota Madinah. Ini sesuai dengan gambaran ayat dalam Surat Al-Ahzab:
"Ketika mereka datang kepadamu dari atasmu dan dari bawahmu..." (QS. Al-Ahzab: 10)
2. Peran Huyay bin Akhtab dalam Menghasut Bani Quraizhah
Selain bersekutu dengan Quraisy, Huyay bin Akhtab juga berperan besar dalam menghasut Bani Quraizhah, suku Yahudi yang masih tinggal di Madinah, agar mengkhianati perjanjian damai dengan Nabi Muhammad SAW saat Perang Khandaq terjadi.
Mereka berhasil membuat Bani Quraizhah berpihak ke pasukan Ahzab, membuka kemungkinan serangan dari dalam Madinah saat kaum Muslimin sibuk mempertahankan parit di utara. Ini sangat berbahaya dan nyaris menghancurkan kaum Muslimin dari dua arah.
3. Penyebaran fitnah dan propaganda
Kaum Yahudi juga bekerjasama secara ideologis dan strategis dengan orang-orang musyrik dalam hal propaganda dan penyebaran keraguan terhadap kenabian Muhammad SAW, seperti menyebarkan tuduhan bahwa Nabi SAW bukanlah nabi yang benar karena tidak sesuai dengan harapan mereka.
Selain itu mereka juga aktif mengadu domba antara suku-suku di Madinah. Selain juga ikut menyokong gerakan orang-orang munafik seperti Abdullah bin Ubay.
4. Hubungan ekonomi dan informasi
Banyak hubungan dagang dan aliansi politik antara Yahudi dan kaum Quraisy. Mereka bertukar informasi, saling mendanai, dan membantu logistik perang. Dalam Perang Khandaq dan juga Perang Uhud, bantuan logistik dan informasi sangat vital dan mereka saling memanfaatkan.
لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ
Kata la-bi’sa (لَبِئْسَ) artinya : sungguh amat buruk. Kata maa qaddamat (مَا قَدَّمَتْ) artinya : apa yang mereka persembahkan. Kata lahum (لَهُمْ) artinya : kepada mereka. Kata anfusuhum (أَنْفُسُهُمْ) artinya : diri mereka.
Penggalan ayat ini menampilkan keindahan balaghah yang sangat kuat dari berbagai sisi. Pertama, penggunaan kata (لَبِئْسَ) yang artinya : ‘sungguh seburuk-buruknya’ adalah bentuk taubikh, yaitu celaan yang sangat keras.
Kata ini kemudian diperkuat dengan huruf lam ta’kid (لَـ) di awalnya, yang memberikan penekanan bahwa keburukan yang dimaksud benar-benar sangat buruk. Ini menunjukkan kemarahan dan murka Allah terhadap perbuatan mereka, sekaligus menggambarkan kehinaan yang luar biasa.
Kedua, struktur kalimatnya sangat harmonis dan seimbang. Frasa (مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ) mengandung irama yang teratur dan menyenangkan untuk didengar, yang dikenal dalam ilmu balaghah dengan sebutan tasji’ alias keharmonisan bunyi. Pengulangan bunyi hum pada لَهُمْ dan أَنْفُسُهُمْ memberikan efek musikal dan sekaligus menambah tekanan makna.
Ketiga, pemilihan kata (قَدَّمَتْ) yang berarti ‘telah dipersiapkan’ biasanya digunakan dalam konteks mempersiapkan sesuatu yang baik untuk akhirat. Namun, dalam ayat ini, kata tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa justru keburukanlah yang mereka siapkan untuk diri mereka sendiri.
Ini menimbulkan kesan ironi moral yang sangat kuat, seolah Allah berkata: “Lihatlah betapa buruknya bekal yang mereka siapkan untuk kehidupan akhirat mereka sendiri.” Dalam hal ini, balaghah menyampaikan makna celaan secara halus namun sangat dalam, menggugah kesadaran siapa pun yang membaca atau mendengarnya.
Keempat, meletakkan kata (أَنْفُسُهُمْ) yang artinya : ‘diri mereka sendiri’ di akhir kalimat memberi efek penekanan yang luar biasa. Kalimat ini tidak langsung menyebutkan bahwa merekalah pelakunya, tetapi ditutup dengan kejutan bahwa “yang mempersiapkan semua itu adalah diri mereka sendiri.” Ini termasuk dalam gaya balaghah yang memancing perenungan mendalam yaitu balaghah al-‘itibar. Tujuannya agar pendengar menyadari bahwa sumber kerusakan bukan di luar, tetapi berasal dari kezaliman dan pilihan mereka sendiri.
Dengan demikian, penggalan ayat ini sarat dengan nilai retoris yang indah: tegas, menghentak, berirama, dan penuh makna celaan yang dalam. Ia menjadi cerminan dari bagaimana Al-Qur’an berbicara dengan keindahan dan kekuatan makna sekaligus.
أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ
Huruf an ()biasanya dimaknai menjadi : bahwa, namun tidak harus selalu berarti seperti itu. Kali ini kemunculannya cukup unik, karena tersambungnya kepada fi’il madhi, biasanya tersambungnya kepada fi’il mudhari’. Tetapi hal itu wajar meski jarang terjadi. Salah satu contohnya ada juga dalam surat Al-Isra’ ayat 74 dimana bunyinya : (ولَوْلا أنْ ثَبَّتْناكَ).
Kata sakhitha (سَخِطَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang berarti marah atau murka. Namun karena didahului oleh huruf an (أن) maka bergeser menjadi mashdar, yaitu kemarahan.
Maka penggalan an sakhithallahu (أَنْ سَخِطَ اللَّهُ) bergeser makna dari artinya : bahwa Allah melakukan perbuatan yaitu murka menjadi : kemurkaan Allah. Kata ‘alaihim (عَلَيْهِمْ) artinya : atas mereka.
وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ
Kata wa (وَ) artinya : dan, merupakan huruf ‘athf yang berfungsi menyambungkan. Kata fi (فِي) artinya : pada, atau di dalam. Kata al-adzabi (الْعَذَابِ) artinya : siksa, maksudnya siksaan di dalam neraka. Sedangkan dhamir hum (هُمْ) artinya : mereka. Kata khalidun () artinya : kekal abadi, tidak ada kesempatan sama sekali untuk keluar dari dalamnya.
Sekali lagi tampak keindahan dan kekuatan bahasa Al-Qur'an dari sisi balaghah pada penggalan ini. Secara struktur, susunan kalimat ini mengandung unsur taqdim yaitu mendahulukan keterangan tempat wa fil adzab (وَفِي الْعَذَابِ).
Padahal secara kaidah bahasa Arab bisa saja dikatakan hum khliduna fil adzab (هُمْ خَالِدُونَ فِي الْعَذَابِ). Namun dengan mendahulukan keterangan tempat ini, ada penekanan lebih kuat bahwa tempat yang pasti bagi mereka adalah di dalam azab, tanpa kemungkinan berpindah atau terbebas darinya.
Ini bukan sekadar informasi, tetapi ancaman yang ditegaskan dengan susunan yang penuh tekanan emosional.
Selain itu, penggunaan kata ganti hum di tengah kalimat, meskipun konteks pembicaraan sudah jelas, adalah bentuk penegasan, menunjukkan bahwa tidak ada yang dikecualikan dari kelompok ini.
Dalam balaghah, ini disebut ta'kid atau penekanan yang membuat makna semakin kuat dan tegas bahwa mereka itulah yang dimaksud dengan para penghuni azab.
Pilihan kata khalidun (خَالِدُونَ) yang berarti kekal, juga mengandung makna yang sangat dalam. Kekekalan dalam azab menunjukkan bahwa siksaan itu bukan hanya berat, tapi juga tidak berakhir, tidak memiliki harapan keluar, dan terus-menerus terjadi.
Ini adalah bentuk ancaman yang luar biasa dahsyat. Dari sisi irama, kalimat ini singkat namun ritmis, dan mengandung bunyi tegas serta berat—terutama pada kata ‘adzab’ dan ‘khalidun’ yang memiliki konsonan akhir kuat, sehingga menambah efek mencekam dan menggetarkan.
Dengan semua unsur ini, ayat tersebut mampu menghadirkan gambaran kehancuran abadi secara singkat namun sangat kuat. Keindahan balaghah-nya bukan hanya dalam pilihan kata, tetapi juga dalam susunan kalimat dan penempatan unsur-unsur makna yang memberi tekanan emosional yang mendalam.