Kemenag RI 2019:Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Pasti akan engkau dapati pula orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Hal itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan rahib, juga karena mereka tidak menyombongkan diri. Prof. Quraish Shihab: Pasti, engkau (Nabi Muhammad saw.) benar-benar akan mendapati
orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang
yang beriman, (yaitu) orang-orang Yahudi dan orang-orang yang
menyekutukan (Allah swt.). Dan demi (Allah)! Engkau pasti akan
mendapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang
yang beriman, (yaitu) orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami
adalah orang-orang Nasrani.” Yang demikian itu karena di antara
mereka itu terdapat para pendeta1'’8 dan para rahib,lw (dan juga)
karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Prof. HAMKA:Engkau akan mendapati bahwa orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan mereka yang mempersekutukan Allah. Dan engkau akan mendapati bahwa orang yang paling dekat dalam kasih sayang terhadap orang-orang beriman adalah mereka yang berkata, "Sesungguhnya kami ini adalah orang-orang Nasrani." Hal itu karena di antara mereka terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, serta karena mereka tidak menyombongkan diri.
Ayat ke 82 dari surat al-maidah ini masih membicarakan tentang Bani Israil, hanya saja kali ini Allah membedakan karakteristik dari Yahudi dan Nasrani.
Orang-orang Yahudi digambarkan sebagai mereka yang keras permusuhannya kepada Nabi Muhammad SAW. Perilaku mereka ini disamakan dengan orang-orang musyrikin Mekah dalam bermusuhan Kepada beliau.
Sedangkan orang-orang Nasrani digambarkan kebalikannya, yaitu amat dekat kecintaannya kepada nabi SAW dan orang-orang beriman.
Hal itu disebabkan karena di tengah mereka ada para tokoh-tokoh agama yang tidak menyombongkan diri.
لَتَجِدَنَّ
Kata la tajidana (لَتَجِدَنَّ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi'il mudhari, yang secara keterangan waktu menunjukkan waktu yang akan datang. Bentuk fi'il madhi dan mudhari'-nya adalah wajada yajidu (وجد يجد). Sedangkan pelakunya adalah dhamir mustatir yaitu kata ganti orang kedua yaitu anta alias kamu.
Maka kata tajidu (تجد) artinya : kamu mendapatkan. Yang dimaksud dengan kamu adalah Nabi Muhammad SAW.
Fi'il mudhari ini diapit oleh dua huruf ta'kid. Diawali dengan huruf lam taukid (ل) lalu diakhiri dengan huruf nun taukid (ن).
Maka kata ini bisa diartikan menjadi : sungguh dan pasti kamu akan mendapati.
أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً
Kata asyadda (أَشَدَّ) merupakan isimtafdhil atau bentuk suprrlative degree dari kata syadid (شديد) yang berarti sangat. Maka maknanya jadi : sangat-sangat.
Kata an-naas (الناس) artinya : manusia, maksudnya orang-orang atau masyarakat.
Kata 'adawatan (عداوة) secara harfiah berarti permusuhan, kebencian, atau antagonisme.
Kata ini menggambarkan kondisi atau hubungan di mana dua pihak atau lebih saling membenci, tidak akur, atau berlawanan satu sama lain
Asalnya dari akar kata kerja bahasa Arab عَدَا - يَعْدُو - عَدْوًا ('ada - ya'du - 'adwan). Akar kata ini memiliki beberapa makna dasar yang terkait dengan gerakan dan tindakan, di antaranya:
Berlari, melewati, melampaui batas.
Melanggar, menyerang, memusuhi.
Dari makna-makna dasar ini, berkembanglah berbagai turunan kata, termasuk 'adawah, yang secara spesifik merujuk pada konsep permusuhan.
Dalam ungkapan yang normal seharusnya disebutkan : asyaddu 'adawah (أشد عداوة) yaitu amat sangat permusuhan. Namun kata an-nas seperti disisipkan di tengahnya.
Fenomena penyisipan kata an-nas (الناس) di antara asyaddu dan 'adawah adalah konstruksi gramatikal disebut tamyiz (التمييز).
Fungsinya untuk menjelaskan bahwa "paling sangat"nya orang tersebut adalah dalam aspek 'permusuhan', bukan dalam aspek lain seperti kekuatan fisik, kekayaan, atau kecerdasan.
Tamyiz itu memperjelas dan menentukan aspek perbandingan dari isim tafdhil. Ini menunjukkan keindahan dan ketepatan struktur tata bahasa Arab.
لِلَّذِينَ آمَنُوا
Kata lilladzina amanu (لِلَّذِينَ آمَنُوا) artinya: kepada orang-orang yang beriman.
Orang-orang yang beriman yang dimaksud adalah Nabi SAW dan para shahabat.
Beliau dan para shahabat disebut sebagai 'orang-orang yang beriman' salah satunya karena inti dari permusuhan itu karena keimanannya.
Sebenarnya Nabi SAW dan para shahabat tidak berniat untuk bermusuhan dengan pihak manapun. Sebab semua pihak dianggap sebagai calon orang-orang yang akan didakwahi. Tentu tidak mungkin dimusuhi.
Maka permusuhan yang disebut-sebut sebenarnya adalah permusuhan yang datang secara sepihak, dari mereka yang dengki kepada nabi dan para sahabat.
Maka nabi dan para sahabat tidak memusuhi tapi dimusuhi.
الْيَهُودَ
Kata al-yahuda (اليهود) artinya adalah orang-orang Yahudi.
Mereka itu pada dasarnya adalah bangsa yang sebelumnya telah Allah unggulkan dari semua bangsa lain di dunia. Jalur turunnya wahyu samawi, jalur kenabian dan rangakaian kitab-kitab suci yang turun ke dunia, bisa dipastikan semua lewat bangsa mereka.
Hukum-hukum Allah SWT tidak pernah turun kecuali lewat syariat mereka. Agama yang lurus dan diridhai di masa itu adalah agama mereka.
Bahkan penduduk Madinah yang sebenarnya masih bagian dari bangsa Arab, sampai bisa terbuka hatinya dan menjadi lapisan pertama bangsa Arab yang menerima konsep kenabian, semua karena peran dari mereka.
Sampai akhirnya Nabi SAW bersedia hijrah ke Madinah dan membangun aliansi dan koalisi dengan mereka. Kemudian disepakatilah Piagam Madinah yang intinya membangun kebersamaan.
Lebih unik lagi, rupanya Nabi SAW kalau itu mereka angkat jadi hakim yang memutuskan perkara di tengah mereka. Hukum yang digunakan adalah hukum Allah SWT yang kala itu termuat di dalam Taurat mereka.
Memang begitulah kewajiban para nabi dan rasul yang diutus ke dunia. Mereka wajib menjalankan hukum Allah yang terdapat di dalam taurat.
Penyebutan mereka dengan istilah Yahudi sudah tepat, yaitu