Kemenag RI 2019:Mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin sekutu-sekutu bagi Allah, padahal Dia yang menciptakannya (jin-jin itu). Mereka berbohong terhadap-Nya (dengan mengatakan bahwa Allah mempunyai) anak laki-laki dan anak perempuan, tanpa (dasar) pengetahuan. ) Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari sifat-sifat yang mereka gambarkan. Prof. Quraish Shihab:Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin sebagai sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakan jin. Dan mereka mengada-adakan kebohongan dengan mengatakan bahwa Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan tanpa (dasar) ilmu. Mahasuci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sifatkan. Prof. HAMKA:Dan mereka jadikan bagi Allah sekutu-sekutu daripada jin, padahal Dialah yang menjadikan mereka. Dan mereka karang-karangkan untuk Dia anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan dengan tidak ada pengetahuan. Mahasuci lah Dia dan Mahatinggi daripada apa yang mereka sifatkan itu.
Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah Mahasuci dan Mahatinggi, jauh dari segala sifat, bentuk, dan anggapan yang disematkan oleh manusia yang tidak berilmu.
وَخَلَقَهُمْ
Kata wa khalaqa-hum (وَخَلَقَهُمْ) terdiri dari wawu (وَ) yang menjadi harfu ‘athf alias penghubung, biasanya diartikan menjadi : dan, tapi bisa juga berarti : padahal.
Kata khalaqa (خَلَقَ) artinya : menciptakan. Sedangkan dhamir -hum (هُمْ) yang menempel di bagian belakang adalah kata ganti dalam bentuk jamak, yang dimaksud adalah para jin. Ini menunjukkan jin itu bukan hanya ada satu, tapi jumlahnya banyak. Bahkan bisa dikatakan para jin itu juga bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Al-Quran menyebutkan bahwa bahan baku penciptaan tubuh jin itu dari api
وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.(QS. Ar-Rahman: 15)
Secara teknik, jin itu tidak punya jasad fisik dan biologis seperti halnya manusia dan hewan. Kita menyebut mereka itu makhluk ghaib. Hanya saja keghaiban mereka itu hanya karena keterbatasan indera kita saja, atau memang dimensi yang berbeda, nampaknya masih jadi perdebatan. Memang ada dua pandangan besar.
1. Pandangan Keterbatasan Indera
Sebagian ulama berpendapat bahwa jin sebenarnya berada dalam ruang yang sama dengan manusia, hanya saja frekuensi eksistensinya berbeda, sehingga mata manusia tidak bisa menangkap mereka.
Ibaratnya seperti gelombang radio atau sinyal Wi-Fi, faktanya memang ada di sekitar kita, tetapi tak terlihat karena indera kita tidak mampu mendeteksi. Pandangan ini mengacu pada ayat Al-Quran, diantaranya :
Sesungguhnya dia (setan) dan kaumnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka. (QS. Al-A‘raf: 27)
Ayat ini tidak menyatakan bahwa mereka di alam lain, melainkan dalam satu realitas yang sama, hanya berbeda kemampuan persepsi.
2. Pandangan Dimensi Berbeda
Sebagian lain, terutama dalam tafsir yang diwarnai pendekatan filosofis dan modern fisika, berpendapat bahwa jin berada di dimensi eksistensi lain, semacam lapisan realitas yang berbeda dari dunia fisik kita. Karena itu, mereka bisa masuk dan keluar dari dimensi manusia dalam kondisi tertentu.
Pandangan ini juga diisyaratkan dari kemampuan jin untuk bergerak sangat cepat, menembus jarak jauh, bahkan menampakkan diri dalam bentuk yang berbeda-beda. Misalnya dalam kisah jin Ifrit di Kerajaan Nabi Sulaiman.
Berkata ´Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". (QS. An-Naml: 39)
Kedua pandangan ini tidak saling menafikan, karena bisa jadi keduanya benar dalam konteks yang berbeda. Jin memang berada di sekitar kita, tetapi dalam dimensi dan struktur energi yang tidak bisa dijangkau oleh indera manusia biasa.
وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ
Penggalan ini diawali dengan huruf wawu (وَ) yaitu harfu a’thf yang berfungsi menyambungkan penggalan ini dengan penggalan sebelumnya. Dimaknai menjadi : dan.
Kata kharaqu (خَرَقُوا) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi. Secara harfiyah artinya merobek, melubangi atau membelah. Namun dalam ragam Arab klasik kata ini sering dipakai untuk hal yang sifatnya mengada-ada atau membuat rekaan dan dongeng tidak benar.
Kemenag RI menerjemahkan kata kharaqu (خَرَقُوا) menjadi berbohong. Sedangkan Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : mengada-adakan kebohongan. Buya HAMKA pakai ungkapan : karang-karangkan.
Kata lahu (لَهُ) artinya: bagi-Nya. Kata banina (بَنِينَ) adalah bentuk jamak, bentuk tunggalnya adalah ibn (إبن) yang artinya: anak-anak laki-laki.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[3] menuliskan bahwa yang menuduh Allah mempunyai anak laki-laki, mereka adalah kaum Nasrani dan sebagian dari kaum Yahudi.
Sebenarnya kaum Yahudi sendiri tidak secara terang-terangan mengatakan bahwa Allah punya anak dalam pengertian biologis. Namun, sebagian golongan mereka mengklaim bahwa Uzair (عُزَيْر) adalah anak Allah. Allah berfirman:
Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair adalah anak Allah’, dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Al-Masih adalah anak Allah. (QS. At-Taubah: 30)
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim[4] menegaskan bahwa keyakinan ini sebenarnya tidak dianut seluruh Yahudi, tetapi hanya sebagian kelompok kecil di kalangan mereka. Mereka menganggap Uzair, salah seorang ulama besar yang diyakini telah menghafal kembali Taurat setelah hilang, dianggap memiliki kedudukan sangat tinggi hingga dianggap ’anak Tuhan’ dalam makna simbolis. Namun lama-lama pengagungan itu bergeser menjadi pemahaman literal dalam sebagian keyakinan mereka.
Lain dengan kaum Nasrani yang secara tegas menganggap Isa Al-Masih atau Yesus adalah anak Allah. Ini disebutkan berkali-kali dalam Al-Qur’an, misalnya:
Sungguh kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga.(QS. Al-Ma’idah: 73)
Dalam teologi Kristen, khususnya setelah Konsili Nicea (325 M), mereka mengembangkan konsep Trinitas, yaitu Allah Bapa, Allah Anak (Yesus) dan Roh Kudus.
Kata wa banatin (وَبَنَاتٍ) artinya: dan anak-anak perempuan. Maksudnya orang-orang musyrikin itu mengklaim dan berdusta serta mengarang-ngarang dengan imajinasi mereka yang sesat bahwa Allah SWT itu punya anak-anak perempuan.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[5] menuliskan bahwa yang menuduh Allah mempunyai anak-anak perempuan adalah kaum musyrikin Arab yang berkata: “Malaikat adalah putri-putri Allah.”
Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan—Maha Suci Dia—sedangkan untuk mereka apa yang mereka inginkan (anak-anak laki-laki). (QS. An-Nahl : 57)
Tuduhan bahwa Allah SWT punya anak perempuan ini tuduhan yang pastinya bermasalah. Sebab dalam tradisi mereka, punya anak perempuan sebuah kehinaan. Jika dengar kabar istrinya melahirkan bayi perempuan, maka mukanya menjadi hitam karena menahan marah. Namun mereka malah menuduh Allah SWT punya anak perempuan. Berarti ini penghinaan di atas penghinaan.
Tanyakanlah kepada mereka (wahai Muhammad): Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan, sedangkan untuk mereka anak-anak laki-laki? (QS. As-Saffat : 149)
Konsep Tuhan Berkeluarga
Sepanjang sejarah manusia, hampir semua peradaban besar seperti Mesir, Yunani, India, Jepang, Nordik dan lainnya, selalu menempatkan dewa dalam bentuk keluarga. Konsep ini biasanya muncul karena manusia memproyeksikan pengalaman sosialnya, yaitu keluarga, hubungan ayah-ibu-anak ke dalam gambaran tentang dunia ilahi.
Baru kemudian ajaran tauhid yaitu Yahudi, Kristen monoteistik, dan Islam menolak gagasan ini dan memurnikan konsep Tuhan sebagai esa, tidak beranak, dan tidak beristri.
بِغَيْرِ عِلْمٍ
Kata bi ghairi (بِغَيْرِ) artinya: dengan tanpa. Kata ‘ilmin (عِلْمٍ) artinya: ilmu atau pengetahuan.
Berbeda dengan kebanyakan orang yang meyakini bahwa ilmu terkait ketuhanan bisa dicapai lewat jalur ilmu filsafat, Al-Quran menegaskan bahwa ilmu tentang ketuhanan itu harus datang dari Tuhan itu sendiri. Otak manusia tidak akan mampu mendeskripsikan sosok Tuhan dengan tepat dan presisi. Otak manusia hanya bisa meyakini sebatas Tuhan itu seharusnya memang ada. Namun seperti apa keberadaannya, harus ada informasi yang valid dan tidak boleh didasarkan pada halusinasi. Berbagai teori filsafat ketuhanan itu pada dasarnya hanya halusinasi yang kemudian coba dibungkus dengan kemasan ilmiyah. Padahal seratus persen hasil dari mengarang bebas.
Agama-agama non-samawi, sejak awal memang tidak punya sumber rujukan langsung dari Allah SWT. Maka konsep ketuhanan mereka jadi aneh, jenaka dan menggelikan. Begitu banyak sifat-sifat kemanusiaan terbenam dalam konsep ketuhanan mereka. Tuhan selalu punya keluarga, istri dan anak, bahkan anaknya banyak, satu sama lain saling bertengkar memperebutkan kekuasaan.
Gejala ini umumnya berangkat dari kultus individu kepada sesama manusia. Sebenarnya hanya manusia biasa, tapi memang jadi raja atau tokoh yang mereka sucikan, lama-lama jadi Tuhan yang disembah.
Sementara Yahudi atau Nasrani, walaupun keduanya mengaku sebagai bangsa yang diturunkan kepada mereka para nabi dan rasul serta kitab suci samawi, namun ketika mereka mengklaim bahwa Allah SWT itu punya anak, pastinya tidak didasarkan pada ilmu yang benar. Mereka itu sekedar ikut-ikutan tradisi dan keyakinan agama kuno yang penuh khurafat dan syirik.
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ
Kata subhanahu (سُبْحَانَهُ) artinya: Mahasuci Dia. Kata wa ta‘ala (وَتَعَالَىٰ) artinya: dan Mahatinggi. Kata ‘ammaa (عَمَّا) artinya: dari apa yang. Kata yashifuun (يَصِفُونَ) artinya: mereka sifatkan.
Yang dimaksud dengan ’mereka sifatkan’ adalah apa yang mereka pahami atau yang mereka deskripsikan tentang konsep ketuhanan. Ada dua hal yang jadi inti masalah, yaitu konsep mereka jorok dan rendahan.
§ Mahasuci(سُبْحَانَهُ) : Dikatakan konsep ketuhanan mereka yang ada di kepala mereka terlalu jorok dan kotor, makanya ungkapan sebaliknya adalah : Mahasuci Allah SWT.
§ Mahatinggi (وَتَعَالَىٰ) : Dikatakan konsep ketuhanan mereka terlalu rendah, makanya ungkapan sebaliknya adalah : Mahatinggi Allah SWT.
[1] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)