Kemenag RI 2019:Mereka bersumpah dengan (nama) Allah dengan sebenar-benarnya sumpah (bahwa) sungguh jika datang suatu bukti (mukjizat) kepada mereka, pastilah mereka akan beriman kepadanya. Katakanlah, “Sesungguhnya bukti-bukti itu hanya ada pada sisi Allah.” Kamu tidak akan mengira bahwa jika bukti (mukjizat) itu datang, mereka tidak juga akan beriman. ) Prof. Quraish Shihab:Mereka (kaum musyrik) bersumpah dengan sungguh-sungguh menggunakan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya jika datang kepada mereka suatu mukjizat, pastilah mereka akan beriman kepadanya. Katakanlah (Nabi Muhammad saw.): “Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya ada pada sisi Allah.” Dan apakah yang memberitahumu bahwa apabila mukjizat datang, mereka (juga tetap) tidak akan beriman? Prof. HAMKA:Dan bersumpahlah mereka dengan nama Allah, sebenar-benar persumpahan jika datang kepada mereka suatu ayat, sungguh-sungguh mereka akan beriman! Katakanlah, "Ayat-ayat itu tidaklah ada hanya pada sisi Allah!" Dan kalaupun diwariyatkan kepada kamu bahwasanya ayat ayat itu apabila datang, mereka tidak juga akan beriman.
Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menjawab bahwa segala bukti dan mukjizat berada di tangan Allah semata, bukan di bawah kendali manusia. Artinya, hanya Allah yang menentukan kapan dan kepada siapa tanda-tanda kebesaran-Nya ditampakkan.
Ayat ini juga menyingkap kenyataan bahwa meskipun mukjizat itu benar-benar diturunkan, mereka tetap tidak akan beriman. Hal itu karena persoalannya bukan pada kurangnya bukti, melainkan pada hati yang tertutup dan enggan menerima kebenaran. Pesan utama ayat ini adalah bahwa iman sejati lahir dari ketulusan hati dan kesiapan menerima petunjuk, bukan dari menunggu datangnya keajaiban atau tanda-tanda lahiriah.
وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ
Kata wa aqsamu (وَأَقْسَمُوا) artinya : dan mereka bersumpah. Kata ini berasal dari akar kata (ق س م) yang berarti bersumpah atau membagi dengan penuh kesungguhan. Bentuk kata aqsama (أقسم) lebih kuat daripada halafa (حلف), karena menunjukkan sumpah yang disertai tekad dan penegasan serius.
Huruf wa (وَ) di awal kalimat berfungsi sebagai penghubung antarperistiwa. Ayat ini menggambarkan bahwa kaum kafir mengambil sumpah besar atas nama Allah untuk memperkuat klaim mereka, padahal yang mereka ucapkan adalah kebohongan. Mereka menggunakan sumpah religius sebagai alat untuk menutupi kebatilan, seolah-olah ucapan mereka benar.
Kata billahi (بِاللَّهِ) artinya : dengan (nama) Allah. Huruf ba (بِـ) menunjukkan alat atau perantara sumpah, dan lafaz Allah menunjukkan nama yang mereka jadikan sandaran dalam sumpah tersebut.
Kata jahda (جَهْدَ) artinya : sungguh-sungguh. Asalnya dari akar kata (ج ه د) yang bermakna kesungguhan, upaya keras, dan kekuatan maksimal. Dalam konteks ini berarti mereka mengerahkan seluruh kesungguhan dalam bersumpah, dengan cara paling meyakinkan dan tanpa keraguan sedikit pun. Nampak betapa seriusnya mereka dalam kebohongan mereka, yaitu sampai bersumpah mati-matian agar terlihat benar.
Kata aymanihim (أَيْمَانِهِمْ) kata ini merupakan bentuk jamak dari yamin (يمين) yang secara harfiah berarti tangan kanan dan secara istilah berarti sumpah. Akar katanya adalah (ي م ن), yang juga melahirkan makna keberkahan, kekuatan, dan kejujuran.
Namun dalam ayat ini, aymanihim justru bermakna sebaliknya yaitu sumpah-sumpah mereka yang palsu. Menariknya, Al-Qur’an menggunakan bentuk jamak (ayman), menunjukkan bahwa mereka sering melakukannya berulang kali, seolah sumpah palsu sudah menjadi kebiasaan untuk menutupi kebohongan.
لَئِنْ جَاءَتْهُمْ آيَةٌ لَيُؤْمِنُنَّ بِهَا
Kata la in (لَئِنْ) artinya : sungguh jika. Kata ini adalah harfu syarth alias partikel pengandaian yang menekankan kemungkinan nyata.
Kata ja'at-hum (جَاءَتْهُمْ) terdiri dari kata kerja (جاء - يجيء) yang artinya : datang, disambung dengan dhamir hum (هم) sebagai objek atau maf’ul bihi, artinya : mereka. Bisa diterjemahkan menjadi : mendatangi mereka. Yang jadi pelaku adalah kata ayatun (آيَةٌ), dimana makna kata ini bisa saja berarti ayat dalam arti kitab suci seperti Taurat, Zabur, Injil dan Al-Quran, namun bisa juga dimaknai sebagai suatu bukti dalam bentuk mukjizat. Di konteks ini, آيَةٌ dimaksudkan sebagai bukti besar yang dapat menyentuh akal dan indera, sehingga orang yang menuntut bukti akan lebih mudah terpikat.
Kata la-yu'minun-na (لَيُؤْمِنُنَّ) artinya : pastilah mereka akan beriman. Kata ini unik karena berupa kata kerja alias fi’il mudhari yang diapit oleh dua huruf di awaم dan di akhir, sama-sama menambah makna penegasan sehingga kata kerja ini mengandung penegasan ganda.
Huruf lam (لَ) yang mendahului fi‘il mudahri’ ini disebut lam taukid, yang fungsinya untuk menambah unsur kepastian, bukan sekadar kemungkinan, melainkan penegasan bahwa peristiwa itu akan terjadi menurut klaim mereka.
Huruf nun (ن) yang menempel di belakang fi’il mudhari ini disebut juga dengan nun taukid atau nun al-tasydid. Penambahanهini juga berfungsi menegaskan dan memperkuat pernyataan yang sebenarnya sudah diperkuat juga. Hal ini menunjukkan bahwa pembicara menganggap peristiwa itu pasti.
Kata biha (بِهَا) artinya : kepadanya. Merujuk kembali pada kata (آيَةٍ). Secara harfiah: “pastilah mereka benar-benar akan beriman kepada (bukti) itu.”
قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Kata ini adalah perintah langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Akar katanya (ق و ل) yang berarti berkata, menyampaikan, mengucapkan dengan lisan.
Perintah قُلْ lebih dari sekadar perintah berbicara namun disitulah terletak makna kenabian. Setiap kali Allah berfirman “Qul”, berarti Nabi SAW diminta menyampaikan jawaban ilahi atas keraguan, tuduhan, atau permintaan manusia. Berarti posisi Nabi SAW bukan sebagai pembuat keputusan, tetapi penyampai wahyu dan kebenaran dari sisi Allah.
Kata innama (إِنَّمَا) artinya : sesungguhnya hanya. Kata ini terdiri dari dua unsur, yaitu huruf inna (إِنَّ) yang berarti sesungguhnya dan penegasan, serta huruf maa (مَا) yang berfungsi sebagai huruf pembatas atau pembatasan makna. Gabungan keduanya menjadi innama (إِنَّمَا) berarti penegasan yang bersifat pembatasan (qashr) berarti : “tidak lain kecuali”. Dengan penggunaan kata innama (إِنَّمَا) Allah menegaskan bahwa tidak ada pihak lain yang memiliki atau mengendalikan tanda-tanda atau mukjizat selain Dia.
Kata al-aayaatu (الْآيَاتُ) adalah bentuk jamak dari (آيَة) yang berasal dari akar kata (أ ي ة). Akar ini mengandung makna dasar tanda, bukti, atau sesuatu yang menunjukkan kepada makna besar di baliknya. Penggunaannya di Al-Qur’an bisa pada beberapa hal yang berbeda, antar lain :
1. Mukjizat para nabi (seperti tongkat Nabi Musa, mukjizat Nabi Isa).
2. Fenomena alam sebagai tanda kebesaran Allah.
3. Ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri, sebagai tanda kebenaran wahyu.
Jadi kata الآيات di sini berarti tanda-tanda kekuasaan Allah yang bersifat luar biasa, yang hanya dapat muncul atas kehendak-Nya. Kaum kafir menuntut tanda fisik seperti mukjizat kasatmata, padahal Al-Qur’an menegaskan bahwa tanda terbesar sebenarnya sudah hadir yaitu wahyu itu sendiri.
Kata ‘indallah (عِنْدَ الله) artinya : di sisi Allah. Maknanya bukan sekadar lokasi, melainkan otoritas dan hak penuh. Berarti hanya berada dalam kekuasaan Allah dalam keputusan dan pengaturan-Nya.
Dalam banyak ayat, kata ini menunjukkan keistimewaan dan keagungan, misalnya:
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ
Sesungguhnya hanya di sisi Allah pengetahuan tentang hari Kiamat.(QS. Luqman: 34)
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ
Dan di sisi-Nya kunci-kunci perkara gaib. (QS. Al-An‘am: 59)
Dengan demikian, ‘inda menegaskan bahwa mukjizat bukan berada “di tangan” manusia, tetapi terletak dalam keputusan dan izin Allah semata.
Penggalan ayat ini juga menjadi penghibur bagi Nabi Muhammad SAW, bahwa tugas beliau hanya menyampaikan kebenaran, bukan menciptakan mukjizat.
Kata wa ma (وَمَا) artinya : dan tidak. Kata yusyi’rukum (يُشْعِرُكُمْ) artinya : memberi kabar kepadamu, dari akar kata (ش ع ر) yang berarti merasakan, menyadari, mengetahui dengan halus, atau mendapat petunjuk secara mendalam. Dari akar kata ini juga lahir kata syu‘ur yaitu perasaan, kesadaran.
Kata annahaa (أَنَّهَا) tersusun dari huruf anna (أَنَّ) yang merupakan kata sambung yang berarti “bahwa”, digabungkan dengan dhamir haa (هَا) yang menunjuk pada الآيات yaitu bukti-bukti, tanda-tanda dari ayat sebelumnya. Maka kata annahaa (أَنَّهَا) berarti “bahwa tanda-tanda itu” yakni tanda atau mukjizat yang mereka minta agar diturunkan.
Kata idza (إِذَا) artinya : apabila. Merupakan kata syarat waktu, menunjukkan kondisi yang akan datang namun pasti terjadi.
Kata ja'at (جَاءَتْ) artinya : datang. Merupakan kata kerja berbentuk fi‘il madhi yang sebenarnya mengandung informasi terkait masa yang telah lampau. Namun dalam struktur bahasa Arab, bentuk lampau sering digunakan untuk menegaskan kepastian sesuatu yang akan datang.
Maka maknanya bukan sekadar “telah datang”, melainkan “apabila ia benar-benar datang (pada waktunya nanti).”
Ini adalah gaya bahasa Qur’ani yang menegaskan kepastian peristiwa masa depan seakan sudah terjadi, yaitu untuk meneguhkan maknanya di benak pendengar.
Kata laa yu’minuna (لا يُؤْمِنُونَ) artinya : mereka tidak akan beriman.
Penggalan ayat ini adalah jawaban lanjutan atas klaim orang kafir yang menuntut bukti. Mereka berkata, “Kalau datang mukjizat, kami pasti beriman.” Namun Allah menjawab: “Tidak ada yang bisa menjamin bahwa mereka akan beriman ketika mukjizat itu datang.”
Artinya, masalah mereka bukan kurangnya bukti, tetapi tertutupnya hati. Bahkan jika mukjizat turun di depan mata mereka, mereka akan mencari alasan baru untuk menolak, sebagaimana umat-umat terdahulu yang menyaksikan mukjizat namun tetap ingkar.
Ayat ini juga mengandung pelajaran spiritual bagi para da‘i dan pencari kebenaran bahwa manusia tidak akan tersentuh oleh tanda-tanda luar jika hatinya tertutup. Hidayah bukan soal banyaknya bukti, melainkan kesiapan hati untuk menerimanya.