Kemenag RI 2019:Demikianlah (sebagaimana Kami menjadikan bagimu musuh) Kami telah menjadikan (pula) bagi setiap nabi musuh yang terdiri atas setan-setan (berupa) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Seandainya Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Maka, tinggalkan mereka bersama apa yang mereka ada-adakan (kebohongan). Prof. Quraish Shihab:Dan demikianlah (sebagaimana Kami jadikan setan dan manusia sebagai musuh bagimu wahai Nabi Muhammad saw.), Kami jadikan (pula) bagi setiap nabi musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin; sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu. Dan jika seandainya Tuhan Pemeliharamu menghendaki, tentu mereka tidak mengerjakannya (tetapi permusuhan itu terjadi untuk menguji manusia), maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Prof. HAMKA:Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu ada musuh, setan-setan manusia dan jin, membisikkan setengah mereka kepada yang setengah (lain)nya kata-kata yang lemak manis sebagai tipu daya. Dan, jika Tuhan engkau menghendaki tidaklah mereka berbuat begitu. Maka, biarkanlah mereka dengan apa yang mereka buat-buatkan itu.
Mereka saling bekerja sama, saling membisikkan kata-kata yang tampak indah dan meyakinkan, padahal berisi tipuan dan penyesatan. Melalui keindahan bahasa, logika semu, dan pengaruh sosial, mereka menipu manusia agar menjauh dari kebenaran.
Namun semua itu berlangsung dalam lingkup kehendak dan ketetapan Allah. Bila Allah menghendaki, mereka tak akan mampu berbuat apa pun. Karena itu, Nabi diperintahkan untuk tetap tenang, tidak terpengaruh oleh tipu daya mereka, dan membiarkan mereka tenggelam dalam kebohongan yang mereka ada-adakan sendiri.
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا
Kata wakadzalika (وَكَذَٰلِكَ) artinya : dan demikianlah. Frasa ini digunakan untuk menyambung dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 111, yaitu : “sebagaimana Kami telah menetapkan bahwa orang-orang kafir tidak akan beriman kecuali dengan kehendak Allah, demikian pula Kami menetapkan bahwa setiap nabi pasti memiliki musuh.”
Ungkapan ini mengandung makna taqwiyah atau peneguhan sekaligus juga tasliyah yaitu Allah SWT membesarkan hati Nabi Muhammad SAW, agar tidak merasa sendirian menghadapi penentangan, karena itu adalah sunnatullah bagi semua rasul.
Kata ja‘alna (جَعَلْنَا) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang berasal dari akar (ج ع ل) dan punya beberapa arti seperti menjadikan, menetapkan atau juga bisa bermakna menyebabkan. Kata ini menunjukkan bahwa penentangan terhadap para nabi terjadi dalam ketentuan dan izin Allah, bukan di luar kehendak-Nya.
Kata likulli nabiyyin (لِكُلِّ نَبِيٍّ) artinya : bagi setiap nabi. Kata ini terdiri dari likulli (لِكُلِّ) artinya : bagi setiap. Kata nabiyyin (نَبِيٍّ) artinya : nabi. Jumlah nabi itu sangat banyak, jumlahnya tidak kurang dari 124 ribu orang, termasuk 300-an orang di dalamnya adalah para rasul. Maka ayat ini cukup hanya menyebut kata ‘nabi’ saja tanpa harus menyebut rasul, karena secara otomatis semua rasul adalah seorang nabi.
Kata aduwwan (عَدُوًّا) artinya : musuh. Menunjukkan keumuman atau istighraq bahwa tidak ada satu pun nabi yang luput dari adanya musuh. Sejak awal mula nabi yang pertama yaitu Adam, sudah ada musuhnya yaitu Iblis. Nabi-nabi berikutnya pun dipastikan ada musuh alaminya.
Itu semua merupakan bagian dari keseimbangan, sebagaimana keseimbangan alam dalam ekologi ciptaan Allah. Allah menciptakan makhluk hidup saling bergantung satu sama lain, dan setiap makhluk memiliki peran serta lawan alaminya, yaitu predator atau pengimbang populasi agar sistem kehidupan tetap stabil.
Contohnya singa memangsa rusa, tetapi keberadaannya menjaga agar populasi rusa tidak berlebihan. Jika singa hilang, rusa berkembang tanpa kendali, merusak vegetasi, dan ekosistem menjadi tidak seimbang. Hal yang sama terjadi pada ular dan tikus. Ular adalah predator alami tikus. Jika ular punah, populasi tikus melonjak, menyebabkan kerusakan tanaman dan wabah penyakit.
Burung elang memangsa ular kecil, menjaga keseimbangan rantai makanan. Ikan besar mengendalikan populasi ikan kecil agar tidak menghabiskan plankton secara berlebihan. Semua hubungan ini menunjukkan bahwa mekanisme keseimbangan alias mizan dari Allah SWT.
Dan langit telah Dia tinggikan, dan Dia ciptakan keseimbangan (mīzān), supaya kamu tidak melampaui batas dalam keseimbangan itu. (QS. Ar-Rahman : 7–8)
شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ
Kata syayathin (شَيَاطِينَ) adalah bentuk jamak dari syaithan (شَيْطَان) yang berasal dari akar kata (ش ط ن), artinya : menjauh atau terpisah dari kebaikan dan rahmat Allah. Ibn Faris dalam Maqayisul-lughah menuliskan :
الأصل يدل على البعد، ومنه الشيطان لبعده عن الخير
Makna asalnya menunjukkan ‘jauh’, dan setan dinamai demikian karena ia jauh dari kebaikan.
Makna kata syayathin (شَيَاطِينَ) bukan hanya makhluk ghaib, tetapi istilah umum untuk segala yang menjauhkan dari kebenaran, baik berupa jin maupun manusia yang berperilaku seperti setan.
Kata al-insi (الْإِنسِ) dari akar kata anasa (أُنس) yang berarti jinak, tampak, sosial. Artinya disini adalah manusia sebagai makhluk biologis yang nyata, sebagai lawan dari jin yang tersembunyi.
Keberadaannya sebagai manusia namun disebut sebagai setan tentunya bukan hal yang aneh. Ungkapan semacam itu banyak kita temukan hadits nabawi. Di antaranya adalah hadit berikut :
Dari Abu Dzar RA, Rasulullah ﷺ bersabda: Mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan-setan manusia dan jin.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah manusia juga memiliki setan?” Beliau menjawab: “Ya, bahkan mereka lebih jahat daripada setan-setan jin.” (HR. Ahmad)
Hadits ini secara eksplisit menyebut istilah syayathin al-ins, yaitu setan dari kalangan manusia, sebagaimana disebut juga dalam Surat Al-An‘am yang sedang kita bahas sekarang.
Mereka disebut setan bukan karena wujudnya jin, tetapi karena sifat dan perannya menyesatkan manusia dari kebenaran, dengan tipu daya, ucapan, dan pengaruh sosialnya.
Dalam hadits lain juga ada disebutkan bahwa bisa saja seorang wanita menjadi ‘setan’ yang memutus shalat.
Yang dapat memutus salat seseorang adalah wanita, anjing, dan keledai.” Abu Dzar berkata (menjelaskan maknanya): “Aku ditanya, mengapa wanita disebut memutus salat?” Beliau menjawab:”Sesungguhnya wanita itu bisa menjadi setan.” (HR. Muslim)[1]
Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim[2] menjelaskan bahwa wanita itu bukan setan hakiki, namun dalam konteks hadits itu maksudnya adalah bisa saja ada wanita yang perannya dapat menjadi penggoda sebagaimana setan menggoda manusia.
Kata wal-jinni (وَالْجِنِّ) artinya : dan jin, merupakan makhluk ghaib yang diciptakan dari api, tak terlihat oleh manusia. Diantara musuh para nabi yang dari kalangan jin tidak lain adalah iblis. Hal ini sebagaimana termuat dalam ayat berikut :
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kepada Ādam,’ maka mereka pun bersujud kecuali Iblis; ia termasuk dari golongan jin, lalu ia durhaka terhadap perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahf : 50)
Bahkan sejak nabi yang pertama tercipta yaitu Nabi Adam alahissalam, Iblis sudah berposisi untuk menjadi musuhnya. Dan bukan hanya itu, sang Iblis pun tidak pernah berhenti berusaha untuk menjerumuskan Adam dan Hawa dari surga. Dan anehnya, usaha dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Keduanya bahkan bisa sampai terusir keluar dari surga.
Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan menghadang mereka di jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.(QS. Al-A‘raf : 17)
Maka Kami berfirman: ‘Wahai Ādam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, sehingga kamu celaka. (QS. Thaha: 117)
Ath-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[3] menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah membesarkan hati nabi-Nya dengan menegaskan setiap nabi punya musuh, baik dari kalangan jin dan manusia. Musuh itu berperilaku seperti setan, menyesatkan, menipu, dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Setan dari kalangan manusia adalah orang-orang jahat, ahli tipu daya, dan pembuat fitnah terhadap para rasul, sedangkan setan dari kalangan jin adalah yang membisikkan kejahatan di hati manusia.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim [4] menuliskan bahwa di antara musuh-musuh para nabi itu terdapat setan-setan dari jenis manusia dan jin. Mereka saling membantu dalam menyesatkan manusia dan menghalangi dari jalan Allah. Beliau menambahkan dalil penguat dari ayat lain:
Demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh dari golongan orang-orang berdosa. (QS. Al-Furqan : 31).
Menurut Ibnu Katsir, setan manusia mencakup pemimpin kezaliman dan penyeru kepada kesesatan, sedangkan “setan jin” adalah pembisik yang menguatkan kejahatan mereka.
Al-Qurthubi menuliskan dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[5] bahwa setan-setan manusia adalah mereka yang menyesatkan dengan ucapan, perbuatan, dan ajakan mereka kepada maksiat. Sedangkan setan-setan jin adalah yang membisikkan dalam hati manusia dan memperindah keburukan bagi mereka. Namun setan manusia lebih berbahaya daripada setan jin, karena setan jin bisa berlindung darinya dengan dzikir, tetapi setan manusia menampakkan diri dengan wajah manusia yang menipu.
Al-Mawardi menulis dalam An-Nukat wa al-‘Uyun[6] bahwa makna syayathi al-ins wa al-jinn adalah para penghasut dan penyeru kesesatan di antara dua golongan makhluk tersebut. Mereka adalah musuh bagi para nabi dan pengikutnya. Penyebutan kedua jenis ini menunjukkan bahwa fitnah terhadap para nabi datang dari dua arah sekaligus: dari luar yaitu manusia dan dari dalam yaitu bisikan jin.
Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[7]dengan pendekatan rasional bahwa disebut setan dari kalangan manusia karena mereka memiliki sifat-sifat setan, seperti menipu, membisikkan keburukan, dan memerangi kebenaran. Maka setiap manusia yang menyesatkan disebut ‘setan’ secara maknawi. Penggunaan ini menurutnya bersifat tasybih bukan literal, sekedar untuk menggambarkan keserupaan perilaku manusia jahat dengan setan jin.
Al-Alusy menafsirkan dalam kitab tafsir Ruh Al-Ma'ani[8] bahwa setan-setan manusia adalah mereka yang menjadi pemimpin kesesatan, penggoda dan penghasut umat untuk melawan para nabi. Mereka saling membantu dengan setan-setan jin dalam menyebarkan keraguan dan syahwat.
Ibnu ‘Asyur menuliskan dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir[9] bahwa penyebutan dua jenis setan yaitu manusia dan jin, menunjukkan bahwa fitnah terhadap para nabi bersifat multi-dimensi. Ada yang datang lewat pengaruh spiritual yaitu dalam wujud bisikan jin, lalu ada pula yang lewat propaganda dan kekuatan sosial manusia. Sifat kesetanan tidak terbatas pada makhluk ghaib, tetapi bisa menjangkiti manusia yang rusak moral dan akalnya.
يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ
Kata yuhi (يُوحِي) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’ asalnya dari akar kata (وَحَى) yang berarti memberi isyarat secara halus, rahasia, cepat, dan tersembunyi. Istilah ini biasanya digunakan untuk wahyu dari Allah. Namun justru dipakai untuk bisikan setan, yang menandakan parodi spiritual, dimana kebatilan justru meniru cara kerja kebenaran.
Sebagai catatan penting, bahwa makna ‘wahyu’ dalam Al-Qur’an tidak selalu berarti wahyu kenabian, tetapi bisa juga berarti bisikan, ilham, atau pengaruh batin, baik dari Allah kepada nabi, dari malaikat kepada manusia, maupun dari setan kepada sekutunya.
Dalam konteks ayat ini, kata yuhi (يُوحِي) berarti membisikkan secara tersembunyi yang menandakan komunikasi rahasia antara para setan (jin dan manusia) dalam merencanakan kejahatan.
Kata ba‘dhu-hum (بَعْضُهُمْ) artinya : sebagian mereka. Kata ila (إِلَىٰ) artinya : kepada. Kata ba‘dhin (بَعْضٍ) artinya : sebagian (yang lain).
Ungkapan ini menunjukkan adanya kerjasama dan sinergi antara dua jenis setan yaitu manusia dan jin. Mereka saling menularkan ide, strategi, dan godaan dalam upaya mengelabui manusia dan menghambat dakwah para nabi.
Penggalan ayat ini menjelaskan mekanisme kerja kebatilan global, yang secara sistematis meniru cara kerja “wahyu”, tetapi dalam bentuk keburukan. Sebagaimana para nabi menerima wahyu dari Allah untuk menegakkan kebenaran, para setan juga saling mewahyukan keburukan untuk menegakkan kebatilan.
Fakhruddin Ar-Razi menegaskan bahwa para setan manusia dan setan jin itu satu sama lain saling mewahyukan kalimat-kalimat yang mengandung syubhat, kata-kata indah yang memutarbalikkan makna, dan argumentasi palsu agar orang yang lemah imannya tertipu.
Al-Alusy menyatakan bahwa yang dimaksud ialah komunikasi batil di antara para pengusung keburukan. Sebagian mereka memberi ide, yang lain menyebarkannya, dalam bentuk yang menarik hati namun menipu. Inilah jaringan setan lintas dunia, antara jin dan manusia, yang bekerja sama dalam kebatilan sebagaimana para nabi dan pengikutnya bekerja sama dalam kebenaran.
زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
Kata zukhrufa (زُخْرُفَ) artinya : hiasan. Asalnya dari akar kata (ز خ ر ف) yang berarti menghias dengan sesuatu yang tampak indah namun palsu. Kata zukhruf secara harfiah berarti perhiasan emas. Namun secara majazi digunakan untuk ucapan yang dihiasi dengan retorika, logika, atau keindahan bahasa, tapi menipu isinya.
Kata al-qauli (الْقَوْلِ) artinya : perkataan. Jadi zukhruf al-qaul (زُخْرُفَ الْقَوْلِ) berarti perkataan yang dihiasi, atau indah di permukaan namun isinya kesesatan. Wujudnya bisa dalam bentuk propaganda, filsafat batil, dan rayuan yang tampak bijak, tetapi menyesatkan hati dari kebenaran.
Kata ini menunjukkan bahasa yang berkilau seperti emas palsu, yang tampak indah tapi menyesatkan. Ini adalah kritik ilahiah terhadap propaganda kebatilan, dimana mereka memakai keindahan kata, tapi kehilangan kebenaran makna.
Kata ghururan (غُرُورًا) berasal dari akar kata (غ ر ر) yang artinya penipuan, delusi, atau daya pikat yang menyesatkan. Maksudnya bahwa semua bisikan dan retorika mereka dibuat untuk menipu, bukan untuk mencari kebenaran.
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ
Kata walau (وَلَوْ) artinya : dan seandainya. Kata syaa (شَاءَ) artinya : Dia menghendaki. Kata rabbuka (رَبُّكَ) artinya : Tuhanmu. Maksudnya jika Allah menghendaki. Pada dasarnya semua yang terjadi di dunia ini, tidak lain adalah kehendak Allah SWT belaka.
Semua aktivitas kebatilan pun terjadi di bawah izin dan qadar Allah, meskipun Allah tidak meridhainya. Ini adalah bentuk pengakuan terhadap qadha dan qadar ilahi, bahwa tidak ada satu pun perbuatan makhluk yang keluar dari kekuasaan-Nya.
Kata ma (مَا) artinya : tidak. Kata fa‘aluhu (فَعَلُوهُ) artinya : mereka melakukannya. Maksudnya bisa saja jika Allah SWT menghendaki para setan manusia dan jin tidak menebar bisikan kebatilan, tidak menyebarkan propaganda, dan tidak melawan kebenaran. Tapi kehendak Allah SWT justru tidak demikian. Maka jadilah mereka melakukan semua itu.
Pesan tersirat di balik penggalan ini agar Nabi Muhammad SAW tidak perlu terlalu terbawa kesedihan. Toh semua ini semata-mata hanya umpama lakon dalam sandiwara kehidupan. Bayangkan bahwa semua ini hanya permainan peran saja, maka tidak perlu terlalu dibawa ke dalam hati.
Ibarat nonton drakor, tidak perlu meneteskan air mata segala. Toh para kru pun pada tertawa-tawa. Ibarat nonton film horor, di tempat shooting, suasananya tidak ada seram-seramnya.
فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
Kata fadzarhum (فَذَرْهُمْ) artinya : maka tinggalkanlah mereka. Perintah ini berasal dari akar kata (وَذَرَ) yang berarti meninggalkan dengan kesengajaan, bukan karena lupa.
Bukan perintah untuk membiarkan secara pasif, melainkan isyarat agar Nabi tidak terbebani secara berlebihan menghadapi kejahatan mereka.
Kata wa (وَ) artinya : dan. Kata ma (مَا) artinya : apa. Kata yaftarun (يَفْتَرُونَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari, dari akar kata (ف ر ي) yang bermakna : mereka mengada-adakan sesuatu yang palsu dan dusta, yakni membuat tuduhan, kebohongan, dan fitnah terhadap para nabi serta wahyu Allah.
Jadi maknanya: “Biarkan mereka dengan kebohongan yang mereka buat; jangan engkau habiskan tenaga untuk mengejar setiap fitnah mereka, karena Allah-lah yang akan mengurus akibatnya.”
[1] Imam Muslim, Shahih Muslim : Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashriha.