Kemenag RI 2019:Jika engkau mengikuti (kemauan) kebanyakan orang (kafir) di bumi ini (dalam urusan agama), niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan. Prof. Quraish Shihab:Dan jika engkau (Nabi Muhammad saw.) menuruti (saran dan cara hidup) kebanyakan (manusia) yang berada di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan mereka tidak lain hanyalah mengira-ngira. Prof. HAMKA:Dan, jika engkau ikut kebanyakan orang di bumi ini, niscaya akan mereka sesatkan engkau daripada jalan Allah. Karena, tidak ada yang mereka ikuti kecuali sangka-sangka. Dan, tidaklah mereka kecuali berdusta.
Allah mengingatkan Nabi SAW jika menuruti ajakan mereka, atau kebanyakan orang di bumi, untuk memakan bangkai atau memakan hewan sembelihan yang mereka persembahkan untuk berhala dan bukan atas nama Allah, maka mereka akan menyesatkan dari jalan kebenaran.
Penggalan ayat ini merupakan peringatan agar tidak mengikuti kemauan kebanyakan manusia di bumi dalam urusan kebenaran dan agama, karena mayoritas mereka hanya berpijak pada prasangka dan dugaan, bukan pada petunjuk yang pasti dari Allah. Jika seseorang mengikuti jalan mereka, niscaya akan tersesat dari jalan Allah yang lurus.
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ
Kata wa in (وَإِنْ) terdiri dari huruf waw (وَ) adalah harfu a’thf yang berfungsi menghubungkan kalimat dengan sebelumnya. Sedangkan inna (إِنْ) bermakna jika. Secara harfiah berarti “dan jika”. Dalam konteks ayat ini, ia berfungsi membuka kalimat bersyarat, menggambarkan sebuah kemungkinan yang dilarang: “dan jika engkau mengikuti…”. Terasa ada peringatan dan penegasan dari Allah kepada Nabi-Nya.
Kata tuthi‘ (تُطِعْ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari, berasal dari akar kata (ط و ع) yang bermakna taat, tunduk, atau mengikuti dengan sukarela. Kata ini memperingatkan agar Nabi SAW tidak mengikuti kemauan mayoritas manusia yang menyimpang dari kebenaran, sekalipun mereka tampak banyak dan kuat.
Kata aktsara (أَكْثَرَ) artinya : kebanyakan. Kata ini bukan sekadar jumlah besar secara statistik, tetapi mayoritas manusia secara umum, yang sering kali mengikuti hawa nafsu dan prasangka tanpa ilmu. Kecenderungan umum manusia untuk berpaling dari kebenaran, bukan hanya angka kuantitatif.
Kata manfil-ardhi (فِي الْأَرْضِ مَنْ) secara harfiyah artinya : orang-orang yang di bumi. Namun yang dimaksud bukan hanya penduduk Mekah atau kaum tertentu, tetapi seluruh manusia di muka bumi, yang kebanyakan dari mereka cenderung jauh dari jalan Allah.
Ath-Thabari dalam tafsir Jami‘ al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Qur’an[1] menjelaskan bahwa mayoritas manusia lebih banyak mengikuti anggapan dan syahwat, bukan ilmu yang benar. Karena itu, Allah melarang Nabi-Nya mengikuti mereka dalam urusan agama.
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim[2] menjelaskan bahwa kebanyakan manusia di dunia tidak berada di atas kebenaran, sebab ilmu dan amal mereka sedikit, dan banyak di antara mereka yang mengikuti kebatilan.
Al-Qurṭubi dalam Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an[3] menambahkan bahwa ayat ini menunjukkan standar kebenaran bukanlah kuantitas pengikut, melainkan kesesuaian dengan wahyu Allah.
يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
Kata yudhilluka (يُضِلُّوكَ) berasal dari akar kata (ض ل ل) yang berarti menyimpang, sesat, atau hilang arah. Kemudian ketambahan huruf alif menjadi (أضَلَّ - يُضِلُّ) sehingga maknanya bergeser sedikit jadi : menyesatkan.
Yang jadi objek atau maf’ul bihi adalah dhamir-ka (كَ) yang menempel di belakang, artinya kamu, maksudnya Nabi Muhammad SAW. Sehingga maknanya menjadi : mereka akan menyesatkanmu.
Allah memperingatkan bahwa jika Nabi SAW mengikuti mayoritas manusia di bumi, akibatnya mereka akan menyesatkan beliau, bukan karena Nabi mungkin tergoda, tetapi untuk menegaskan bahwa kecenderungan manusia adalah mengajak kepada kesesatan, bukan petunjuk.
Kata ‘ansabilil-lah (عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ) artinya : dari jalan Allah. Makna literalnya adalah jalan menuju Allah, sedangkan dalam konteks ayat ini, berarti jalan kebenaran, tauhid dan petunjuk yang telah ditetapkan oleh wahyu.
إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
Kata in (إِنْ) artinya : ‘tidak lain hanyalah’ atau ‘tidak lain kecuali’. Sebuah ungkapan untuk membatasi.
Kata yattabi‘una (يَتَّبِعُونَ) artinya : mereka mengikuti, atau lebih tepatnya mengikuti dari belakang, meniru, berjalan di jejak seseorang.
Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali, berfungsi menegaskan bahwa tidak ada yang mereka ikuti selain satu hal yang disebut sesudahnya.
Kata azh-zhanna (الظَّنَّ) artinya : persangkaan, dugaan, atau keyakinan yang tidak berdasar pada ilmu yang pasti. Asalnya dari akar kata (ظ ن ن)
وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Kata wa in (وَإِنْ) artinya : dan tidak lain mereka. Kata hum (هُمْ) artinya : mereka. Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata yakhrusun (يَخْرُصُونَ) artinya : mereka membuat-buat kebohongan (berandai-andai tanpa ilmu).
Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim[4] menyebutkan, berarti mereka beragama dengan dugaan tanpa hujjah.
Al-Qurṭubi dalam Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an[5] menjelaskan bahwa mereka mengatakan sesuatu tanpa ilmu, yakni menebak dalam urusan agama sebagaimana orang yang menduga hal gaib tanpa dasar.