Kata wa hadza (وَهَذَا) bermakna : dan inilah, merupakan kata tunjuk pada objek yang dekat (اسم الإشارة للقريب). Tentunya yang ditunjuk sudah disebutkan sebelumnya. Namun yang ditunjuk itu apa, ternyata para ulama dan mufassir punya pendapat yang beda.
§ Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘ini’ adalah ajaran Islam yang baru saja diterangkan dalam ayat-ayat sebelumnya.
§ Ada juga yang mengatakan bahwa kata ‘ini’ menunjuk pada jalan hidayah yang Allah jelaskan.
§ Ada juga yang menganggap bahwa kata ‘ini’ maksudnya adalah keterangan tentang siapa yang diberi taufiq dan siapa yang disesatkan.
§ Ada juga yang merujuk kepada Al-Qur’an dan petunjuk yang dibawanya.
Kata shirath (صِرَاط) berasal dari akar kata (ص ر ط) yang dalam bahasa Arab mengandung makna menelan sesuatu dengan cepat, jalan yang luas, jalan yang jelas dan terang, jalan yang mengantar langsung kepada tujuan.
Orang Arab klasik memakai kata ini untuk menyebut jalan raya besar yang tidak bercabang, jalan yang lurus dan jelas batasnya, dan jalan yang “menelan” orang yang melewatinya, yakni membawanya secara pasti menuju tempat tujuan.
Karena itu makna shirath (صِرَاط) bukan sekadar jalan yang lurus, tetapi satu-satunya jalan yang amat lebar, dengan rambu-rambu yang jelas dan pasti mengantarkan kepada tujuan. Berbeda dari kata thariq dan sabil yang lebih sekadar jalan lebih kecil dan sempit.
Kata mustaqim (مُسْتَقِيم) berasal dari akar kata (ق و م) yang kemudian ketambahan beberapa huruf menjadi (اِسْتَقَامَ – يَسْتَقِيمُ). Artinya : lurus, melurus, menjadi tegak, konsisten.
Ibn ‘Abbas radhiyallahuanhu menjelaskan bahwa istilah ash-shirath al-mustaqim (الصراط المستقيم) adalah agama Allah yang lurus, yaitu Islam dalam seluruh ajaran dan perintahnya. Beliau juga menafsirkannya sebagai jalan tauhid, yakni pengesaan Allah tanpa sekutu dan tanpa campuran syirik. Karena itu, siapa pun yang berada di atas tauhid dan mengikuti apa yang diturunkan kepada Rasulullah, ia sedang menapaki shirāṭ al-mustaqīm.
Ibn Mas‘ud radhiyallahuanhu mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ash-shirath al-mustaqim (الصراط المستقيم) adalah Al-Qur’an, karena di dalamnya terdapat petunjuk yang menuntun manusia kepada kebenaran. Pendapat ini dikuatkan oleh sejumlah tabi‘in seperti Qatadah yang mengatakan: “Shirath itu adalah Kitabullah. Siapa yang berpegang teguh padanya ia berada di atas jalan lurus.”
Al-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[1] mengumpulkan berbagai pendapat dan menyimpulkan bahwa ash-shirath al-mustaqim (الصراط المستقيم) adalah jalan Allah, yaitu jalan yang mencakup iman, ketaatan, ketundukan, serta menjalani syariat yang dibawa Rasulullah.
Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[2] menegaskan bahwa ash-shirath al-mustaqim (الصراط المستقيم) adalah agama Islam yang tidak ada kesesatan di dalamnya, hyang merupakan manhaj yang jelas, tidak bercabang ke jalan-jalan kebatilan. Beliau juga menjelaskan bahwa sifat mustaqīm berarti tidak ada kemiringan dan tidak ada perubahan arah dari kebenaran.
Fakhruddin ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[3] mengatakan bahwa ash-shirath al-mustaqim (الصراط المستقيم) adalah jalan yang membawa seseorang dari kebingungan menuju ilmu, dari keraguan menuju keyakinan, dan dari kehancuran menuju keselamatan.
Kata qad (قَدْ) artinya : sungguh atau benar-benar. Berfungsi sebagai huruf tahqiq yang menunjukkan kepastian dan penegasan bahwa apa yang disebut setelahnya benar-benar telah terjadi.
Sedangkan kata fashshalna (فَصَّلْنَا) berasal dari akar kata (ف ص ل) yang bermakna memisahkan, menjelaskan, atau merinci. Ibn Katsir menjelaskan bahwa kata fashshalna (فَصَّلْنَا) berarti ِAllah SWT telah menerangkan dan menjelaskan dengan jelas. Bahwa seluruh bukti, dalil, dan tanda kekuasaan Allah telah dijelaskan secara detail, tetapi hanya kaum yang mau mengingat dan merenung (قوم يذّكرون) yang dapat mengambil manfaat dari penjelasan itu. Ibn Katsir menegaskan bahwa orang-orang yang tidak mau menggunakan akal dan hati tidak akan mendapat petunjuk meskipun ayat-ayatnya sudah sangat rinci.
Kata al-ayaat (الْآيَاتِ) arti harfiyahnya adalah : ayat-ayat, maksudnya ayat-ayat Al-Quran. Namun ada juga sebagian kalangan mufassirin yang memandang cakupannya lebih luas, makna ’ayat-ayat’ ini bisa segala bentuk tanda, bukti, keterangan, dan petunjuk yang menunjukkan kebenaran jalan Allah. Ayat-ayat itu mencakup ayat-ayat yang dibaca dalam kitab suci, ayat-ayat yang terlihat di alam semesta, dan ayat-ayat yang tampak dalam perjalanan hidup manusia. Semua itu telah dijelaskan oleh Allah dengan rincian yang cukup bagi siapa pun yang mau memperhatikannya..
Kata li qaumin (لِقَوْمٍ) artinya : bagi kaum. Kata yadzdzakkrun (يَذَّكَّرُونَ) artinya : mengambil pelajaran.
Menurut Ibn Katsir, hanya mereka yang memfungsikan hati, akal, dan ingatan sajalah yang akan tersentuh oleh rangkaian penjelasan itu. Sebaliknya, orang yang enggan menggunakan akalnya, atau hatinya tertutup, tidak akan mendapatkan manfaat dari ayat-ayat yang sudah begitu rinci, meskipun kejelasannya terang benderang. Dengan kata lain, masalahnya bukan pada kurangnya bukti, tetapi pada ketidakmauan untuk merenungi dan mengambil pelajaran.