Kata lahum (لَهُمْ) artinya: bagi mereka, yaitu orang-orang beriman yang disebutkan pada dua ayat sebelum ayat ini yaitu ayat 125 dan126 dari Surat Al-An‘am berbicara tentang dua golongan. Ada yang diberi kelapangan untuk menerima hidayah sehingga dadanya lapang, dan ada yang dadanya sempit dan sesak karena berpaling dari iman.
Maka ketika ayat 127 ini menyebut bagi mereka yaitu lahum (لهم), maksudnya kembali kepada golongan pertama, yaitu orang-orang yang hatinya dibukakan Allah untuk menerima kebenaran.
Ath-Thabari, Al-Baghawi dan Ibnu Katsir sepakat bahwa dhamir hum (هُم) yang berarti mereka merujuk kepada orang-orang beriman yang membuktikan imannya melalui amal saleh.
Kata daru (دَارُ) maknanya tempat tinggal, atau rumah, juga bisa bermakna negeri. Berasal dari akar kata (د و ر) yang makna asalnya berputar sehingga kembali lagi. Maka maknanya adalah tempat kembali.
Kata as-salam (السَّلَامِ) secara bahasa berarti keselamatan, atau kedamaian atau keamanan. Kata inda rabbihim (عِنْدَ رَبِّهِمْ) berarti : ‘pada sisi Tuhan mereka’. Disebut inda (عِنْدَ) yang berarti di sisi, menunjukkan kedudukan mulia, dekat, dan terhormat.
Ath-Tabari (w. 310 H) sebagai mufassir awal dari abad ketiga hijriyah menegaskan bahwa istilah Darussalam adalah salah satu nama surga, yang dalam hal ini namanya lebih menonjolkan sisi sebagai negeri dengan keselamatan mutlak dari segala keburukan. As-Salam juga merupakan salah satu nama Allah, sehingga penyebutan Darussalam berarti negeri yang dinisbatkan kepada Allah.
Setelahnya, al-Baghawi, sebagai mufassir abad kelima hijriyah menjelaskan bahwa kata Darussalam adalah sebutan bagi Surga karena di sana Allah menyelamatkan para penghuninya dari semua bentuk kesusahan dan bahaya. Surga digambarkan sebagai lingkungan kedamaian yang penuh salam, dimana para penghuninya saling memberi salam, dan bahkan menerima salam dari Allah, sehingga suasana tersebut menegaskan hakikat Surga sebagai negeri ketenteraman yang tidak ternodai oleh gangguan apa pun.
Al-Qurthubi dari abad ketujuh turut menafsirkan istilah ini dengan dua sisi makna: ia adalah Surga karena merupakan negeri keselamatan, dan ia dinisbatkan kepada Allah karena as-Salām adalah salah satu nama-Nya. Menurutnya, penyebutan ini menampilkan kemuliaan Surga bukan hanya sebagai tempat nyaman, tetapi sebagai kehidupan yang benar-benar suci, damai, dan terjaga dari segala cacat, sesuai dengan kebersihan nama Allah yang melekat padanya.
Pada masa yang sama, Fakhruddin ar-Razi memberikan penjelasan yang lebih filosofis tentang kesempurnaan makna tersebut. Baginya, keselamatan adalah keadaan ideal yang tidak memiliki cacat sedikit pun, sedangkan dunia adalah tempat yang penuh kekurangan. Karena itu, Surga disebut Darussalām karena ia merupakan puncak kesempurnaan, tempat berkumpulnya seluruh kebaikan, dan lenyapnya segala bentuk keburukan. Penekanan ini menegaskan bahwa keadaan di Surga bukan hanya lebih baik daripada dunia, tetapi benar-benar berbeda secara hakiki.
Ash-Shawkani menghimpun seluruh pendapat para ulama dan menyimpulkan bahwa tidak mungkin Darussalam dimaknai selain sebagai Surga, sebab ia adalah negeri keselamatan total dari segala bentuk bahaya, kedukaan, dan kematian.
Kata wa huwa (وَهُوَ) artinya: dan Dia. Maksudnya adalah Allah SWT. Kata waliyyu-hum (وَلِيُّهُمْ) artinya: pelindung mereka, bisa juga berarti penolong, pembimbing, pemelihara mereka. Asalnya dari akar kata (و ل ي) yang bermakna dekat, mendampingi, mengurus, dan menolong.
Kata bima (بِمَا) artinya: karena apa. Kata kaanu (كَانُوا) artinya: mereka dahulu. Kata ya’malun (يَعْمَلُونَ) artinya: mereka kerjakan. Kata ini merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari, berasal dari akar kata (ع م ل) yang maksudnya adalah semua yang dia kerjakan terkait dengan beriman dan menjalan semua perintah Allah.
Allah menyebut diri-Nya sebagai wali bagi orang beriman, maka maknanya dimulai di dunia, yaitu bahwa Allah-lah yang membimbing, mengurus, menolong, menjaga, dan meneguhkan hati mereka, memberikan hidayah, menguatkan iman, menjauhkan mereka dari kesesatan, dan mencukupkan kebutuhan mereka.
Inilah sebabnya ayat ini menyebut bima kanu ya’malun (بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ) karena amal-amal mereka di dunia adalah bukti dari hubungan kewalian tersebut, mereka melakukan amal saleh karena Allah menolong mereka, dan Allah menolong mereka karena mereka istiqamah di jalan-Nya.
Namun kewalian itu tidak berhenti di dunia saja. di surga kewalian Allah mencapai bentuknya yang paling sempurna. Allah menjadi wali mereka dengan memberikan keamanan total, salam, kedekatan, dan keridhaan.