Kemenag RI 2019:(Ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan Allah berfirman), “Wahai golongan jin, kamu telah sering kali (menyesatkan) manusia.” Kawan-kawan ) mereka dari golongan manusia berkata, “Ya Tuhan, kami telah saling mendapatkan kesenangan ) dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan buat kami.” Allah berfirman, “Nerakalah tempat kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain.” Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Prof. Quraish Shihab:Dan (ingatlah), pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (baik yang taat maupun yang durhaka), Allah berfirman: “Hai golongan jin (yang durhaka)! Sungguh, kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,” dan telah berkata bekas kawan-kawan mereka (di dunia) dari golongan manusia: “Tuhan Pemelihara kami! Sebagian kami telah memperoleh kesenangan (sementara) dari sebagian (yang lain) dan kami (bersama para jin durhaka itu) telah sampai kepada batas akhir (kematian) yang telah Engkau tentukan bagi kami.” Dia berfirman: “Neraka itulah kediaman kamu, dalam keadaan kekal di dalamnya, kecuali apa yang dikehendaki Allah.” Sesungguhnya Tuhan Pemelihara kamu Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui. Prof. HAMKA:Dan (ingatlah) akan hari, yang akan Dia himpunkan mereka sekalian, “Wahai sekalian golongan jin, sesungguhnya kamu telah mendapat banyak (hasil) dari manusia.” Dan berkata pengikut-pengikut mereka dari (kalangan) manusia, “Wahai Tuhan kami, telah bersenang-senang setengah kami dengan yang setengah dan telah sampai kami kepada ajal kami yang telah Engkau tentukan bagi kami.” Berfirman Dia, “Nerakalah tempat kamu dalam keadaan kekal di dalamnya.” Kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. Sesungguhnya Tuhan engkau adalah Mahabijaksana, lagi Mengetahui.
Allah menetapkan tempat mereka di neraka selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain. Di bagian akhir ayat, sekali Allah SWT memproklamirkan diri sebagai Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا
Kata wa yauma (وَيَوْمَ) artinya adalah : ‘dan hari’. Terdiri dari huruf wawu (وَ) yang disebut dengan wawu 'athf yang menghubungkan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Konteks pembicaraan sebelumnya mengenai ancaman dan kebenaran Hari Akhirat. Kata yauma (يَوْمَ) merupakan keterangan waktu alias zharfu zaman yang berarti hari atau ketika.
Dalam tiga versi terjemahan, kata wa yauma (وَيَوْمَ) diterjemahkan menjadi : ’dan (ingatlah) pada hari’. Padahal di teks ayat aslinya tidak ada kata : ‘ingatlah’. Pertanyaannya, bagaimana bisa muncul kata ini dalam versi terjemah?
Jawabannya bahwa dalam tinjauan bahasa Al-Qur'an, munculnya sisipan kata ’ingatlah’ pada terjemahan wa yauma (وَيَوْمَ) merupakan praktik umum yang dilakukan oleh para ahli tafsir dan penerjemah. Meskipun kata perintah eksplisit seperti udzkur (اُذْكُرْ) tidak ditemukan dalam teks rasm aslinya. Konsep semacam ini dikenal sebagai taqdir al-kalam, yaitu memperkirakan atau mengira-ngira adanya kata kerja apa yang dihilangkan (mahdzuf), namun secara makna sangat diperlukan untuk menyempurnakan kalimat.
Kata yauma (يَوْمَ) adalah keterangan waktu alias zharfu zaman, yang harus terikat pada kata kerja (fi’il). Para ulama tafsir bersepakat untuk memperkirakan yang paling sesuai dengan konteks ayat-ayat tersebut. Adalah udzkur (اذْكُرْ) yang berarti ingatlah atau sebutkanlah.
Ayat ini berada dalam konteks tahdid (ancaman) dan takhwif (menakut-nakuti), yang ditujukan kepada orang-orang yang menolak kebenaran.
Kata yahsuuru-hum (يَحْشُرُهُمْ) berarti mengumpulkan, menghimpun, atau membangkitkan. Dhamir hum (هُمْ) artinya : mereka, merujuk kepada orang-orang musyrik atau golongan yang menolak kebenaran yang telah disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya. Kata jamian (جَمِيعًا) seluruhnya, semuanya, atau secara bersama-sama. Kedudukannya sebagai hal (حال) atau keterangan keadaan. Allah SWT akan mengumpulkan semua makhluk, tidak terkecuali orang-orang musyrik di Padang Mahsyar, secara keseluruhan dari generasi pertama hingga terakhir.
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ
Setelah Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk mengingat peristiwa agung di Hari Kiamat, yaitu hari pengumpulan seluruh makhluk, maka tibalah saatnya Allah SWT menyampaikan teguran dan celaan yang keras kepada golongan yang tersesat. Kalimat teguran itu dibuka dengan panggilan : ya ma’syaral jinni (يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ)
Huruf ya (يَا) disebut harfu-nida’ yang digunakan untuk memanggil, agar dapat menunjukkan penarikan perhatian secara tegas dari Allah. Kata ma‘syar (مَعْشَر) berarti kelompok atau komunitas yang memiliki jenis yang sama, yaitu jin.
Panggilan kepada para jin ini menunjukkan adanya interpelasi langsung dari Allah kepada seluruh golongan jin pada hari kiamat. Nada panggilannya bersifat teguran, mengingatkan adanya tanggung jawab atas apa yang mereka lakukan terhadap manusia. Para ulama bahasa menjelaskan bahwa kata ini digunakan ketika suatu kelompok diperlakukan sebagai satu kesatuan yang harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya.
Penggalan ayat ini menghadirkan suasana dramatis di padang mahsyar. Bangsa jin dipanggil di hadapan seluruh makhluk, mereka kemudian dihadapkan fakta bahwa mereka selama ini mereka telah menyesatkan banyak manusia. Suasana ini membuat manusia yang mengikuti jin turut terpojok, karena mereka sendiri mengakui bahwa mereka saling ridha dalam maksiat itu.
قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ
Kemudian, teguran itu dilanjutkan dengan firman-Nya qadistaktsartum minal ins (قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ).
Kata qad (قَدْ) dalam konteks ini berfungsi sebagai harfu tahqiq yang jadi penegas dan menguatkan serta membenarkan bahwa perbuatan yang akan disebutkan setelahnya benar-benar telah terjadi.
Adapun kata istaktsartum (اسْتَكْثَرْتُمْ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang berasal dari akar kata katsura (كثر) dan artinya : banyak. Ketika ditambahkan tiga huruf yaitu alif,sin dan ta' (ا – س - ت) di awal, maknanya bergeser jadi : meminta lebih banyak, menganggap banyak, atau berusaha menjadikan sesuatu itu banyak. Oleh karena itu, istaktsartum bermakna : ’kalian telah memperbanyak, atau kalian telah mengambil keuntungan yang sangat banyak’.
Lalu kata minal-insi (مِنَ الْإِنْسِ) berarti : dari manusia. Dalam konteks ayat ini, min (مِنْ) tidak hanya berarti : dari, tetapi memiliki makna yang tersirat, yaitu memperbanyak jumlah pengikut dari kalangan manusia atau memperbanyak menyesatkan manusia.
Secara keseluruhan, firman Allah (يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ) adalah celaan dan interogasi dari Penguasa Hari Kiamat kepada golongan jin atas perbuatan mereka. Maknanya adalah "Wahai sekalian jin, sungguh kalian telah mengambil keuntungan yang amat banyak dari manusia," yakni dalam bentuk menyesatkan mereka dari jalan Allah, membujuk mereka untuk berbuat maksiat, dan menjadikan mereka sebagai pengikut setia yang jauh dari petunjuk.
Sebagian mufassir menafsirkan kata istaktsartum (اسْتَكْثَرْتُمْ) sebagai makna memanfaatkan kelemahan manusia untuk diagung-agungkan, sehingga jin meraih keuntungan berupa kesyirikan dan penyembahan dari manusia, membujuk mereka untuk berbuat maksiat, dan menjadikan mereka sebagai pengikut setia yang jauh dari petunjuk. Sebagian mufassir menafsirkan istaktsartum (اسْتَكْثَرْتُمْ) sebagai makna memanfaatkan kelemahan manusia untuk diagung-agungkan, sehingga jin meraih keuntungan berupa kesyirikan dan penyembahan dari manusia.
Selain itu kata istaktsartum (اسْتَكْثَرْتُمْ) menunjukkan bahwa manusia yang terpengaruh bukan sedikit, tetapi jumlah besar, menunjukkan kerelaan sebagian manusia mengikuti bisikan jin tanpa paksaan.
وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ
Kata wa qala (وَقَالَ) adalah kata sambung yang berarti : dan berkatalah, yang menunjukkan segera setelah teguran Allah kepada jin, pengikut manusia mereka merespons. Ibn Katsir menegaskan bahwa ayat ini berbicara tentang hubungan timbal balik antara jin dan manusia. Para jin membisikkan lalu manusia menyambutnya.
Kata auliya’uhum (أَوْلِيَاؤُهُم) adalah bentuk jamak dari kata wali (ولي) yang berarti teman dekat, pelindung, atau pengikut. Para ulama menjelaskan bahwa kedekatan yang dimaksud bukan kedekatan fisik, tetapi ada kesesuaian selera, juga kecocokan kehendak, serta kekompakan dalam menempuh jalan maksiat.
Ibn Katsir menegaskan bahwa yang dimaksud auliya’ di sini bukan sekadar teman, tetapi partner in crime, dimana mereka sudah jadi satu team yang kompak, saling menguatkan satu sama lain dalam kesesatan.
Kata minal-insi (مِّنَ الْإِنسِ) artinya : dari kalangan manusia. Ini adalah penegasan bahwa kolabrasi dan kerjasama jahat memang ada dan terjadi antara kalangan jin dan manusia.
رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ
Sapaan rabbana (رَبَّنَا) artinya : Ya Tuhan Kami. Ini adalah pengakuan ketuhanan Allah, namun terlambat, karena ia diucapkan dalam kondisi terdesak di hari perhitungan.
Memang panggilan ini menunjukkan pengakuan penuh bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak mengadili. Kalimat ini bukan dalam rangka memohon, tetapi sebagai pengakuan dalam suasana sidang pengadilan di akhirat. Para ulama mengatakan, panggilan ini bernuansa getir: bukan doa, tetapi pernyataan kalah dan pasrah di hadapan bukti yang tidak terbantahkan.
Kata istamta‘a (اسْتَمْتَعَ) berasal dari kata mata‘ (مَتَاع) yang berarti kesenangan sementara, kenikmatan yang cepat hilang. Bentuk ini menunjukkan adanya saling menikmati atau saling mendapatkan keuntungan sesaat. Dalam bahasa Arab klasik, kata mata‘ (مَتَاع) sering digunakan untuk menggambarkan kesenangan dunia yang sebentar, atau manfaat palsu yang menghilang begitu ujian datang.
Kata ba’dhuna bi ba’dhin (بَعْضُنَا بِبَعْضٍ) artinya: sebagian kami saling menikmati sebagian yang lain.
Ada dua pihak yang saling memanfaatkan. Di satu sisi jin menikmati ketaatan manusia terhadap bisikan-bisikan mereka. Sementara di sisi lain, manusia menikmati layanan jin untuk memuaskan hawa nafsu, memperoleh ilmu gaib palsu, mencapai keinginan yang dilarang, atau mengikuti langkah setan untuk merasa bebas dari aturan.
Fakhruddin Ar-Razi menggambarkan relasi ini dengan perdagangan batin yang saling menguntungkan tetapi sangat merugikan. Manusia menjual ketaatan, jin memberikan khayalan. Masing-masing merasa menjadi pemenang, padahal keduanya tengah menuju jurang yang sama.
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kenikmatan manusia adalah pada hiasan hawa nafsunya yang dibisikkan jin. Dan kenikmatan jin adalah keberhasilan mereka melihat manusia mengikuti jalan maksiat.
Ibn Katsir menyebut hubungan itu sebagai kesenangan tipuan yang menjebak dua pihak sekaligus.
وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا
Kata wa balaghna (وَبَلَغْنَا) berarti : dan telah sampai, atau telah mencapai. Makna ini menunjukkan sampainya sesuatu setelah perjalanan panjang, sudah berlalu seluruh umur dan sudah berakhirnya kesempatan di dunia. Tibanya saat ketika segala amal dikumpulkan tanpa bisa ditambah ataupun diperbaiki. Sebuah akhir yang tidak mungkin kembali dibuka.
Kata ajal (أَجَل) berarti batas waktu, titik akhir, atau masa yang sudah ditentukan. Ini adalah umur yang telah Allah tetapkan sejak awal. Maka kata ajalana (أَجَلَنَا) berarti batas waktu yang menjadi milik kami sendiri, waktu hidup yang diberikan kepada masing-masing manusia dan jin.
Ungkapan allati ajjalta lana (الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا) artinya : yang telah engkau ajalkan kepada kami. Kata ajjalta (أَجَّلْتَ) berarti : Engkau telah tetapkan waktunya dengan pasti dan Engkau tundakan hingga saat yang Engkau kehendaki. Tidak ada kekuasaan jin, tidak ada kehendak manusia yang dapat mempercepat atau memperlambatnya.
Kalimat penutup ini adalah pernyataan kepasrahan bahwa waktu fana mereka di dunia telah berakhir. Mereka mengakui bahwa segala kesenangan dan pemanfaatan sesat yang mereka lakukan telah selesai, dan kini mereka telah mencapai batas waktu (ajal) yang telah ditetapkan oleh Allah sejak awal penciptaan, sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Ini adalah pernyataan yang penuh penyesalan dan ketidakberdayaan di hadapan takdir Ilahi.
قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا
Kata qala (قَالَ) berarti : berkata. Namun karena yang berkata adalah Allah SWT maka diterjemahkan jadi : berfirman. Uniknya, kata Allah SWT tidak muncul disini, kata-katanya adalah qallannaru (قَالَ النَّارُ), maka sekilas terkesan yang berkata adalah an-naru yakni neraka.
Ath-Thabari menjelaskan bahwa pelakunya tidak disebutkan, namun kata an-naru (النَّارُ) dipastikan bukan pelaku ucapan, tetapi bagian dari isi kata-kata yang difirmankan Allah.
قال (اللهُ لهم) : النَّارُ مَثْوَاكُمْ
Allah berfirman kepada mereka: ‘Neraka adalah tempat tinggal kalian.’
Al-Baghawi menjelaskan bahwa bentuk seperti ini umum dalam bahasa Arab Qur’ani, yaitu (اسناد القول إلى محذوف) atau penisbatan ucapan kepada subjek yang dihapus, sehingga jelas bahwa yang berfirman tetap Allah.
Kata an-nar (النَّارُ) secara harfiyah adalah api, namun maksudnya adalah neraka. Kata neraka ini disebut lebih dulu, diletakkan di posisi paling awal setelah kata qala untuk memberi efek penegasan, bahkan penghentian: tidak ada jalan lain, tidak ada alternatif.
Kata matswa-kum (مَثْوَاكُمْ) artinya tempat tinggal kamu. Kata matswa (مَثْوَى) berasal dari akar kata (ث و ي) yang berarti tempat diam yang menetap, tempat tinggal permanen, rumah yang tidak berpindah. Berbeda dengan kata maskan (مسكن) yang merupakan tempat tinggal sementara) atau ma’wa (مأوى) yang artinya tempat berlindung.
Kata matswa (مَثْوَى) menunjukkan tempat menetap untuk jangka sangat panjang, tempat ujung, tempat akhir keberadaan.
Al-Qurthubi menyebutnya sebagai istilah untuk tempat tinggal permanen di akhirat, sesuai dengan amal.
Kata khalidin (خَالِدِينَ) berarti kekal, tinggal tanpa batas waktu, tanpa ujung. Dalam bentuk jamak, kata ini menunjukkan bahwa keputusan ini berlaku untuk seluruh golongan manusia dan jin yang dimaksud dalam konteks ayat. Kata fiha (فيها) artinya : di dalamnya. Ini mengisyaratkan mereka benar-benar masuk ke dalam neraka, bukan hanya di pinggir, atau bukan sekadar melintas, tetapi menetap di bagian dalam neraka.
إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
Kata illa (إِلَّا) adalah huruf pengecualian, maka diartikan menjadi : kecuali. Kata maa syaa’llah (مَا شَاءَ اللَّهُ) artinya: apa yang Allah kehendaki.
Penggalan ini jelas menimbulkan ambigu, di satu sisi Allah SWT menyebut mereka kekal di dalam neraka, tetapi ketika disebut : kecuali atas kehendak Allah, makna yang muncul di benak kita adalah : Kalau Allah menghendaki, maka mereka tidak kekal di neraka.
Dan kalau mereka tidak kekal di neraka, apakah itu berarti ada kemungkinan mereka juga bisa dikeluarkan dari neraka?
Al-Qurthubi menolak keras pemahaman keliru. Di dalam tafsir beliau menuliskan :
لا يجوز حمل الآية على إخراج الكفار من النار، فإن نصوص القرآن تمنعه
“Tidak boleh memahami ayat ini sebagai pengeluaran orang kafir dari neraka, karena nash Al-Qur’an menolaknya.”
Beliau menjelaskan:
الاستثناء إنما هو لبيان أن الخلود بمشيئة الله.
Pengecualian ini hanya menunjukkan bahwa seluruh keputusan akhirat berada di bawah kehendak Allah.
Makna sebenarnya dari firman Allah SWT : illa masyaallah (إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ) bukanlah bahwa mereka bisa keluar dari neraka, bukan bahwa mereka tidak kekal, dan bukan pula bahwa ada kemungkinan neraka menjadi kosong.
Para mufassir sepakat bahwa makna pengecualian ini tidak berkaitan dengan durasi hukuman bagi orang kafir. Yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah bahwa kekekalan mereka pun terjadi karena kehendak Allah semata, dan Allah-lah yang menghendaki mereka untuk kekal selama-lamanya.
Dengan kata lain, Allah sedang menegaskan: “Kalian kekal di dalamnya, dan kekekalan itu berlangsung karena Aku menghendakinya, bukan karena neraka memiliki kekekalan yang berdiri sendiri atau sifat alami yang membuatnya abadi.” Pengecualian ini diperlukan untuk menegaskan bahwa seluruh hukum akhirat berada di bawah kekuasaan Allah secara mutlak.
Menurut al-Qurthubi dan Fakhruddin ar-Razi, tanpa pengecualian seperti ini, orang bisa saja berprasangka bahwa neraka kekal secara mandiri, atau bahwa kekekalan adalah sifat asli neraka, atau bahwa kekekalan terjadi otomatis tanpa kehendak Tuhan. Karena itulah kenapa Allah menutup seluruh kemungkinan dugaan tersebut dengan ungkapan: إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ, yaitu “semuanya terjadi sebagaimana Allah kehendaki.”
Pengecualian ini bukanlah pengecualian durasi, melainkan pengecualian yang berkaitan dengan fakta bahwa tidak ada satu pun perkara akhirat, termasuk kekekalan itu sendiri, yang terlepas dari kehendak Allah.
إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
Huruf inna (إِنَّ) artinya : sesungguhnya, berfungsi untuk penegasan dan memberi bobot pada kalimat setelahnya. Beginilah ciri khas bahasa Arab, banyak ungkapan yang diawali dengan penegasan.
Kata rabbaka (رَبَّكَ) bermakna : Tuhanmu, yaitu Allah SWT. Kata hakim (حَكِيم) berarti Mahabijaksana. Maksudnya Allah SWT Mahasempurna dalam keputusan, tidak satu pun hukum-Nya keluar dari timbangan hikmah.
Kata ini menunjukkan bahwa hukuman, kekekalan, dan pengecualian tadi bukan sekadar keputusan keras, tetapi keputusan yang berada di bawah payung hikmah ilahi, tidak satu pun keputusan itu sia-sia atau keliru.
Kata ’alim (عَلِيمٌ) berarti : Maha Mengetahui. Kata ini merupakan bentuk mubalaghah dari ’alim (عالم) yang konotasinya sekedar mengetahui. Sedangkan kata ’alim (عَلِيمٌ) berarti mengetahui secara sempurna, baik yang tampak dan tersembunyi seperti niat, rahasia, dan lintasan hati. Bahkan apa yang nantinya akan terjadi, hanya Allah SWT saja yang tahu.
Ibn Katsir menjelaskan bahwa Allah SWT Mahabijaksana dalam semua urusan-Nya, Maha Mengetahui keadaan makhluk-Nya, tidak menempatkan sesuatu kecuali pada tempat yang tepat.
Antara Sifat Hakim dan Alim
Ada fenomena unik yang terjadi pada dua kata yang juga jadi nama Allah SWT yaitu antara hakim (حكيم) dan ’alim (عليم). Keduanya sering ditampilkan bersama, namun kadang alim (عليم) disebutkan dulu baru hakim (حكيم) menyusul. Namun kadang alim (عليم) dulu baru hakim (حكيم) seperti pada surat An-Nahl ayat 60 : (إِنَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ), begitu juga dalam surat At-Tahrim ayat 2 : (وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ).
Para ulama balaghah menjelaskan bahwa dua nama sifat Allah bisa saling bertukar posisi, dan Al-Qur’an memilih urutan sesuai konteks kalimatnya. Jika konteks ayat menonjolkan hukum, keputusan, atau penetapan, maka yang lebih tepat didahulukan adalah hakim (حَكِيمٌ).
Namun jika konteks ayat menonjolkan ilmu Allah tentang makhluk dan rahasia mereka, maka yang lebih tepat didahulukan adalah ’alim (عَلِيمٌ).
Urutan: حَكِيمٌ عَلِيمٌ muncul 3 kali dalam Al-Qur’an, yaitu :
Urutan: عَلِيمٌ حَكِيمٌ muncul 8 kali dalam Al-Qur’an :
No
Surah – Ayat
Teks Ayat
1
Al-Baqarah 32
إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ
2
An-Nisā’ 11
إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
3
An-Nisā’ 17
إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
4
An-Nisā’ 26
وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
5
An-Nisā’ 92
وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
6
At-Tawbah 15
وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
7
At-Taḥrīm 2
وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
8
At-Taḥrīm 3
إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
9
Al-Insān 30
إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Para ulama menyebutnya ilmu azwaj ash-shifat (علم أزواج الصفات) yaitu ilmu khusus yang membahas tentang pasangan-pasangan sifat Allah dalam Al-Qur’an. Ulama klasik seperti Fakhruddin ar-Razi, al-Baidhawi, al-Alusi, dan Ibn al-Qayyim banyak membahas mengapa satu nama mendahului nama lain.
Ini lebih seru daripada sekadar menghafal daftar 99 nama Allah SWT. Kita tidak sedang menghafalkan nama, tetapi membaca pola, menelusuri ritme, menangkap hikmah, memahami struktur, merasakan ruh retorika Qur’an. Ini bukan menghitung nama Allah SWT tetapi membaca cara Allah memperkenalkan diri-Nya. Dan itu jauh lebih dahsyat.