Kemenag RI 2019:Masing-masing orang ada tingkatannya, (sesuai) dengan apa yang mereka kerjakan. Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. Prof. Quraish Shihab:Dan setiap orang memperoleh derajat-derajat (tingkat-tingkat di surga atau neraka) dari (seimbang dengan) apa yang telah mereka kerjakan. Dan Tuhan Pemeliharamu sekadar tidak lengah dari apa yang mereka perbuat (baik yang durhaka maupun yang taat). Prof. HAMKA:Dan bagi tiap-tiap seseorang ada beberapa derajat dari apa yang mereka amalkan. Dan tidaklah Tuhan engkau lalai dari apa yang mereka amalkan itu.
Selain itu ayat ke-132 juga menjadi pengantar untuk ayat sesudahnya yaitu ayat ke-133 yang memperingatkan bahwa Allah mampu mengganti suatu kaum dengan kaum lain, sehingga manusia tidak boleh merasa aman dari murka-Nya.
Kemudian Allah menutup ayat ini dengan menafikan sifat lalai dari diri-Nya, hikmahnya agar menjadi peringatan bagi yang berbuat maksiat tidak merasa aman dari hukuman Allah, karena seluruh amal mereka berada dalam pengawasan dan catatan Ilahi.
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ
Kata wa li-kullin (وَلِكُلٍّ) artinya: dan bagi setiap orang. Huruf wawu di awal merupakan harfu a’thf yang menyambungkan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Sedangkan li menunjukkan kepemilikan dan hak. Kemudian kata kullin (كُلٍّ) menunjukkan keumuman, yaitu mencakup semua pihak, namun maksudnya semua manusia. Dalam hal ini apakah dia baik mukmin atau pun kafir, taat maupun maksiat, semua termasuk ke dalam ruang lingkup kullin.
Kata darajat (دَرَجَاتٌ) maknanya: tingkatan-tingkatan. Kata ini adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu darajah (دَرَجَة). Makna harfiyahnya adalah tempat yang lebih tinggi secara bertahap, seperti anak-anak tangga yang naik setingkat demi setingkat. Penggunaan bentuk jamak di sini mengisyaratkan banyaknya tingkatan balasan, baik di surga maupun di neraka. Tingkatan ini berbeda-beda antara satu manusia dengan lainnya menurut kadar amal masing-masing.
At-Thabari menjelaskan dalam Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran [1] bahwa tingkatan balasan di akhirat yang berbeda-beda sesuai kadar amal. Orang beriman memiliki tingkatan surga menurut amal ketaatan mereka, sedangkan orang kafir juga memiliki tingkatan azab menurut kadar kekufuran dan keburukan mereka. Keadilan ini berlaku bagi seluruh manusia tanpa kecuali, karena Allah tidak pernah lalai dalam memperhitungkan amal siapa pun.
Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[2] mengutip pendapat para ulama bahwa kata darajat (درجات) digunakan untuk orang beriman, sedangkan kata darakat (دركات) dipakai untuk menggambarkan tingkatan neraka bagi orang kafir.
مِمَّا عَمِلُوا
Kata mimma (مِمَّا) terdiri dari huruf min (مِنْ) dan huruf maa (ما) yang digabungkan, hal ini menyebabkan perubahan bentuk melalui proses idgham, yaitu memasukkan huruf nun (ن) pada min (مِنْ) ke dalam huruf mim (م) berikutnya.
Keduanya sama-sama huruf syafawiyyah yang keluarnya dari dua bibir, maka ketika huruf nun di-idgham-kan ke dalam mim, suaranya berubah menjadi tasydid sehingga terbaca jadi : mimma (مِمَّا). Proses ini disebut idgham mitslain shaghir, yaitu penggabungan dua huruf yang sama makhraj dan sifatnya.
Secara makna huruf min (مِنْ) adalah min lit-tab‘idh (من للتبعيض) yang menunjukkan makna sebagian dari. Maksudnya, tingkatan-tingkatan balasan itu disusun berdasarkan sebagian dari amal yang mereka kerjakan, baik amal baik maupun amal buruk, besar ataupun kecil.
Sedangkan huruf ma (مَا) disebut ma mashdariyyah. Kata amilu (عَمِلُوا) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang artinya : mengerjakan.
Ketika mimma digabungkan dengan ‘amilu (مِمَّا عَمِلُوا), maka keduanya jadi mashdar, sehingga maknanya menjadi: “berdasarkan kadar amal yang telah mereka kerjakan.”
وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ
Huruf wawu (وَ) di awal merupakan harfu ‘athf yang menghubungkan kalimat ini dengan sebelumnya, bahwa setelah Allah menjelaskan sistem balasan berdasarkan amal manusia, kemudian ditegaskan bahwa semua itu terjadi dalam pengawasan dan ilmu Allah yang sempurna.
Huruf maa (مَا) artinya : tidak atau bukan, merupakan huruf nafyi yang menolak dan menyangkal yang kuat. Dalam retorika bahasa Arab, penafian melalui huruf maa (مَا) lebih kuat dari sekadar pemberitahuan, karena ia membawa makna penolakan terhadap anggapan lawan bicara.
Kata rabbuka (رَبُّكَ) artinya : Tuhanmu, terdiri dari kata rabbu (رَبّ) yang berarti Tuhan dan dhamir ka (كَ) yang berarti : kamu, yang menunjuk kepada Nabi Muhammad SAW secara khusus.
Kata bi ghafilin (بِغَافِلٍ) terdiri dari huruf ba (بِ) yang merupakan huruf zaidah (الزّائِدَة) yaitu tambahan yang masuk setelah kata nafyi dan berfungsi untuk menguatkan penafian.
Kata ghafil (غَافِلٍ) merupakan isim fa‘il dari akar kata (غ ف ل) yang bermakna lalai, lupa, tidak memperhatikan, tidak mengetahui sesuatu karena tidak peduli.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim [3] mengutip beberapa ayat yang serupa, seperti QS. Al-Kahfi ayat 49 dan QS. Az-Zalzalah ayat 7–8. Penafian sifat lalai dari Allah merupakan bentuk ancaman bagi para pelaku dosa dan bentuk ketenangan bagi orang yang menjaga amal saleh.
عَمَّا يَعْمَلُونَ
Lafaz amma (عَمَّا) adalah gabungan dari huruf ‘an (عَنْ) yang memiliki makna dasar: dari, terhadap, atau tentang, dengan huruf maa (مَا) yang berarti : apa. Penggabungan ini kemudian mengalami proses idgham mitslain sehingga menjadi amma (عَمَّا) dengan tasydid.
Kata ya’malun (يَعْمَلُونَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi‘il mudhari’ dari akar kata (ع م ل) yang bermakna melakukan sesuatu, namun sifatnya dengan usaha dan kesengajaan.