Huruf inna (إِنَّ) artinya : sesungguhnya, merupakan penegasan yang sangat kuat untuk menghilangkan keraguan dan menunjukkan kepastian mutlak.
Huruf maa (مَا) artinya : apa. Kata tu’aduna (تُوعَدُونَ) : kamu dijanjikan. Apa yang dijanjikan itu maksudnya adalah hari kiamat alias hari kebangkitan pasca kehancuran alam semesta. Maka setelah itu Allah SWT menghidupkan kembali semuanya, termasuk manusia, untuk perhitungan amal dan pembalasan di surga dan neraka. Seluruh janji akhirat tercakup dalam ungkapan ini.
Kata la aatin (لَآتٍ) artinya: pasti datang. Kata ini memakai lam taukid sebagai penegasan tambahan, sehingga maknanya adalah kepastian total yang tidak mungkin batal atau tertunda tanpa hikmah.
Kata wa maa antum (وَمَا أَنْتُمْ) artinya: dan kalian sekali-kali tidaklah. Kata bi mu’jizin (بِمُعْجِزِينَ) merupakan isim fa’il dari akar kata (ع ج ز) yang bermakna lemah, tidak mampu atau tak berdaya. Kata mu‘jiz (مُعْجِز) berarti : ‘orang yang melemahkan’.
Ketika Al-Qur’an mengatakan wa maa antum bi mu’jizin (وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ) maksudnya kalian tidak akan mampu melemahkan Allah dan tidak dapat menggagalkan rencana-rencana Allah, atau lari dari ketetapan Allah, atau menghalangi terjadinya hari pembalasan.
Al-Baidhawi dalam tafsir Anwar At-Tanzil wa Asraru At-Ta’wil[1] menafsirkan penggalan ini sebagai bentuk ancaman tegas, seandainya manusia berkumpul untuk melarikan diri dari azab Allah, mereka tidak akan pernah berhasil. Kata mu‘jizin (مُعْجِزِينَ) menurut beliau berarti mereka yang berupaya mengalahkan keputusan Allah, tetapi upaya itu mustahil berhasil.
Ibnu ‘Athiyyah dalam tafsir Al-Muharrar Al-Wajiz fi Tafsir Al-Kitab Al-Aziz[2] menjelaskan bahwa ayat ini menutup pintu harapan palsu bagi para pembangkang yang mengira waktu azab dapat ditunda atau dihindari. Kata mu‘jizin (مُعْجِزِينَ) menurutnya berarti orang yang menyangka bisa mengelabui Allah atau menunda keputusan-Nya melalui kekuatan atau kelicikan.
Abu al-Laits As-Samarqandi dalam tafsir Bahrul-‘Ulum [3] menyebut bahwa ayat ini menolak keyakinan jahiliyah yang menganggap dapat berlindung kepada berhala atau kekuatan duniawi untuk menghindari azab Allah. Kata mu‘jizin (مُعْجِزِينَ) bermakna mereka yang mengira bisa lolos dan membuat Allah “tak mampu” menjangkau mereka.