Kata fattabi’uhu (فَاتَّبِعُوهُ) artinya : maka ikutilah dia. Dia yang dimaksud tidak lain adalah shirath mustaqim (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ). Huruf wa (وَ) artinya : dan. Huruf la (لَا) artinya : jangan. Kata tattabi’u (تَتَّبِعُوا) artinya : kalian mengikuti. Kata as subula (السُّبُلَ) artinya : jalan-jalan.
Terdapat tiga penafsiran yang berbeda terkait apa yang dimaksud dengan istilah subul yang berarti : ‘jalan-jalan’ atau ’beberapa jalan’
§ Pertama, yang dimaksud adalah kitab-kitab samawi yang telah terdahulu, yang telah dihapus hukumnya oleh Al-Qur’an. Penafsiran ini dimungkinkan.
§ Kedua, yang dimaksud adalah agama-agama terdahulu, yang telah dihapus hukumnya oleh Islam. Penafsiran ini juga dimungkinkan.
§ Ketiga, yang dimaksud adalah bid‘ah-bid‘ah dan syubhat-syubhat.
Imam Ahmad bin Hanbal meruiwayatkan dari dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu terkait dengan ayat ini:
خَطَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خَطًّا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: "هَذَا سَبِيل اللَّهِ مُسْتَقِيمًا". وَخَطَّ عَلَى يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: "هَذِهِ السُّبُل لَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ
Rasulullah SAW menggambar satu garis dengan tangannya, lalu beliau bersabda: Inilah jalan Allah yang lurus. Kemudian beliau menggambar garis-garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu bersabda: “Ini adalah jalan-jalan (lain), tidak ada satu pun jalan darinya kecuali di atasnya ada setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.
Huruf fa (فَ) artinya : maka. Kata tafarrqa (تَفَرَّقَ) artinya : ia memecah-belahkan. Huruf bikum (بِكُمْ) artinya : kalian. Huruf an (عَنْ) artinya : dari. Kata sabilihi (سَبِيلِهِ) artinya : jalan-Nya.
Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Quran Al-Azhim[2] mengisyaratkan bahwa perintah kepada orang banyak untuk mengikuti hanya satu jalan yang lurus merupakan perintah untuk berjamaah dan larangan untuk bercerai berai.
Larangan untuk berpecah-belah ini ditegaskan agar jangan sampai terjadi pengulangan sejarah. Sebab di masa lalu, salah satu sebab kenapa Allah SWT sudah tidak lagi memberlakukan agama samawi sebelumnya, karena berbagai perpecahan telah terjadi secara nyata pada agama Yahudi dan Nasrani.
Al-Qur’an sendiri yang menceritakan perpecahan demi perpecahan telah terjadi di dalam tubuh agama Yahudi dan agama Nasrani.
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ
Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi berkelompok-kelompok, engkau (Muhammad) tidak termasuk golongan mereka sedikit pun. (QS. Al-An‘am: 159)
Ayat ini turun tepat setelah rangkaian ayat yang kita bahas, dan oleh banyak mufassir dipahami sebagai isyarat kuat kepada Yahudi dan Nasrani, yang memecah agama wahyu menjadi sekte-sekte.
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ
Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas. (QS. Ali ‘Imran: 105)
فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ
Maka kelompok-kelompok di antara mereka pun berselisih. (QS. Maryam: 37)
Rasulullah SAW bersabda:
افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً
Kaum Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan kaum Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Hadits ini menegaskan bahwa perpecahan adalah fakta sejarah, bukan klaim polemis.
A. Sekte-Sekte Besar Dalam Internal Yahudi
Dalam sejarah Yahudi, perpecahan internal tidak terjadi karena penolakan terhadap Taurat, melainkan karena perbedaan cara memahami, menafsirkan, dan menentukan otoritas agama.
Sejak periode Bait Suci Kedua, Yahudi sudah terbagi ke dalam beberapa arus besar yang masing-masing mengklaim diri paling setia kepada ajaran Musa.
1. Farisi
Kelompok yang paling berpengaruh adalah Farisi. Mereka menekankan bahwa Taurat tidak hanya berbentuk teks tertulis, tetapi juga memiliki penjelasan lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi lisan ini kemudian berkembang menjadi sistem hukum rabinik yang sangat rinci.
Dalam pandangan Farisi, kehidupan beragama tidak terbatas pada Bait Suci, tetapi harus meresap ke seluruh aspek hidup. Setelah kehancuran Bait Suci, justru kelompok inilah yang bertahan dan menjadi fondasi Yahudi rabinik modern.
2. Saduki
Berbeda dengan Farisi, Saduki adalah kelompok elit keagamaan yang dekat dengan otoritas politik dan Bait Suci. Mereka hanya menerima Taurat tertulis dan menolak tradisi lisan.
Saduki juga dikenal menolak keyakinan tentang kebangkitan, malaikat, dan kehidupan akhirat. Karena keberadaan mereka sangat bergantung pada Bait Suci, ketika Bait Suci hancur, kelompok ini pun lenyap dari sejarah.
3. Esseni
Ada pula Esseni, kelompok yang memilih hidup menyendiri dan asketis. Mereka memandang masyarakat Yahudi arus utama telah rusak dan menyimpang, sehingga memilih membentuk komunitas tertutup dengan disiplin spiritual yang ketat.
Banyak peneliti meyakini bahwa manuskrip Dead Sea Scrolls berasal dari lingkungan mereka. Esseni menekankan kesucian moral, ketaatan ketat, dan penantian akan datangnya masa akhir.
4. Zealot
Sementara itu, Zealot muncul sebagai kelompok yang memadukan agama dengan perlawanan politik. Mereka melihat penjajahan Romawi bukan sekadar masalah politik, tetapi penghinaan terhadap kedaulatan Tuhan.
Sikap militan mereka memicu pemberontakan bersenjata yang akhirnya berujung pada kehancuran Yerusalem dan Bait Suci, membawa dampak besar bagi seluruh komunitas Yahudi.
5. Samaritan
Selain itu ada Samaritan, kelompok yang mengklaim diri sebagai pewaris asli ajaran Musa, tetapi hanya mengakui Taurat versi mereka dan menolak otoritas Yerusalem. Mereka menjadikan Gunung Gerizim sebagai pusat ibadah.
Hingga hari ini komunitas ini masih ada, meskipun sangat kecil jumlahnya, menjadi saksi hidup perpecahan lama dalam sejarah Yahudi.
Dari semua dinamika ini, lahirlah apa yang kemudian dikenal sebagai Yahudi Rabinik, yakni bentuk Yahudi yang didominasi oleh otoritas rabbi dan kitab Talmud. Inilah arus utama Yahudi hingga sekarang, hasil dari proses seleksi sejarah setelah berbagai sekte lain melemah atau punah.
Inilah gambaran nyata dari makna firman Allah: “maka jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya”—sebuah peringatan historis agar umat setelahnya tidak mengulangi pola yang sama.
2. Sekte-Sekte Besar Dalam Internal Nasrani
Perpecahan dalam Nasrani terjadi lebih tajam dan lebih struktural dibandingkan Yahudi, karena pusat konflik mereka bukan sekadar hukum, tetapi hakikat Isa dan otoritas agama.
Pada awalnya, para pengikut Isa berada di atas ajaran tauhid yang sederhana. Namun setelah risalah itu berinteraksi dengan filsafat Yunani, kekuasaan Romawi, dan institusi gereja, perbedaan pandangan berkembang menjadi perpecahan permanen.
1. Katolik
Sekte terbesar dan paling berpengaruh adalah Katolik. Gereja Katolik menempatkan Paus sebagai otoritas tertinggi dalam urusan iman dan gereja, dengan klaim kesinambungan langsung dari rasul-rasul, khususnya Petrus.
Selain Kitab Suci, Katolik juga menempatkan tradisi gereja sebagai sumber ajaran. Dalam doktrin, Katolik menetapkan konsep Trinitas dan hakikat Isa sebagai Tuhan Anak melalui konsili-konsili gereja yang diputuskan secara institusional.
2. Ortodoks Timur
Berbeda dengan Katolik, Ortodoks Timur muncul dari perpecahan besar antara gereja Barat dan Timur.
Ortodoks menolak supremasi Paus dan menekankan kepemimpinan kolektif para uskup. Mereka tetap memegang ajaran Trinitas, tetapi memiliki perbedaan dalam teologi, liturgi, dan struktur gereja.
Perpecahan ini bukan hanya teologis, tetapi juga dipengaruhi faktor budaya, bahasa, dan politik Kekaisaran Romawi Timur dan Barat.
3. Protestan
Kemudian lahirlah Protestan, hasil dari gerakan reformasi yang dipelopori tokoh-tokoh seperti Martin Luther dan John Calvin.
Protestan menolak otoritas Paus dan sebagian besar tradisi gereja, serta menekankan prinsip sola scriptura, yaitu Kitab Suci sebagai satu-satunya rujukan iman.
Namun penolakan terhadap otoritas tunggal justru melahirkan fragmentasi baru, sehingga Protestan berkembang menjadi ratusan denominasi dengan tafsir dan praktik yang berbeda-beda.
Selain tiga arus besar tersebut, dalam sejarah awal Nasrani juga terdapat kelompok-kelompok teologis yang kemudian dianggap menyimpang atau sesat oleh gereja arus utama.
Di antaranya adalah Arianisme, yang memandang Isa sebagai makhluk ciptaan dan bukan Tuhan, serta Nestorianisme dan Monofisitisme, yang berselisih tentang hubungan antara sifat ketuhanan dan kemanusiaan Isa. Banyak dari perdebatan ini diputuskan melalui konsili gereja, bukan melalui wahyu baru, sehingga perbedaan pandangan berubah menjadi keputusan politik-keagamaan.
Dari perspektif Al-Qur’an, perpecahan Nasrani ini menunjukkan pola yang sama dengan umat-umat sebelumnya: wahyu yang satu dipecah oleh jalan-jalan pemikiran tambahan. Perbedaan yang awalnya bersifat konseptual kemudian dilembagakan, dipaksakan, dan diwariskan sebagai identitas kelompok. Maka tidak mengherankan jika Al-Qur’an menggambarkan mereka sebagai kelompok-kelompok yang berselisih setelah datangnya petunjuk.