Kata tsumma (ثُمَّ) artinya : kemudian. Ayat ini datang setelah rangkaian panjang wasiat-wasiat besar pada ayat 151–153 yang berisi tauhid, bakti kepada orang tua, larangan membunuh, larangan mendekati zina, keadilan, amanah, dan mengikuti jalan Allah yang lurus.
Maka berbeda dengan huruf wa (وَ) atau huruf fa (فَ) yang lebih cepat dan langsung, kata sambung tsumma (ثُمَّ) memberi kesan untuk berhenti sejenak, sebelum masuk ke perkara besar berikutnya.
Kata aataina (آتَيْنَا) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi, yang artinya : Kami telah memberikan. Kami yang dimaksud adalah Allah SWT. Pihak yang diberi adalah Musa (مُوسَى) sebagai salah satu nabi yang paling besar di kalangan Bani Israil dan menjadi tokoh yang paling mereka banggakan dalam sejarah. Salah satunya karena Musa menerima kitab suci samawi berisi ajaran dan hukum-hukum dari Allah SWT.
Kata al-kitab (الْكِتَابَ) secara bahasa Arab modern artinya buku, namun di masa lalu, kitab itu bukan buku, mengingat wujud buku seperti yang kita kenal di masa sekarang ini belum ada.
Ketika kita menyebut kata buku hari ini, yang terbayang adalah benda yang rapi, ringan, berlembar-lembar kertas, dicetak massal dengan mesin, dijilid kuat, hurufnya seragam, mudah dibawa, mudah disalin, dan nyaris tanpa usaha fisik yang berarti. Buku modern adalah produk teknologi panjang: ada kertas, tinta industri, mesin cetak, mesin potong, mesin jilid, bahkan distribusi digital. Pengetahuan kini tinggal dibuka, dibaca, dan disimpan.
Namun buku di masa Nabi Musa sama sekali bukan seperti itu. Tidak ada kertas, tidak ada percetakan, tidak ada penjilidan, bahkan tidak ada konsep buku dalam bentuk lembaran seperti yang kita kenal.
Yang ada hanyalah media tulis yang sangat terbatas: batu, lempengan keras, kulit hewan, atau bahan alam sederhana lain. Penulisan dilakukan dengan cara dipahat, diukir, atau ditoreh, bukan ditulis cepat dengan pena.
Gambaran Al-Quran Terkait Bentuk Fisik
Al-Quran cukup banyak bicara tentang Kitab Taurat, tak terkecuali terkait dengan bentuk fisiknya.
1. Taurat Musa Berupa Lempangan-lempengan Batu
Al-Qur’an memberikan informasi yang cukup jelas tentang bagaimana wujud fisik Taurat yang diterima Nabi Musa. Kitab itu tidak digambarkan sebagai lembaran-lembaran tipis atau gulungan panjang, melainkan dituliskan pada alwah (الألواح) yaitu lempengan-lempengan yang bersifat keras dan kokoh.
Penyebutan istilah ini bukan sekadar nama, tetapi penanda bentuk fisik yang sangat menentukan cara kitab itu ditulis, dibawa, dan diperlakukan.
وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ
Dan Kami telah menuliskan untuknya pada alwah. (QS. Al-A‘raf: 145)
Ayat ini menegaskan bahwa Taurat ditulis secara fisik, dan media penulisannya adalah lempengan-lempengan batu. Media semacam ini meniscayakan keterbatasan ruang tulis dan berat benda. Namun Al-Qur’an tetap menggambarkan Musa sebagai pihak yang mampu membawa lempengan-lempengan tersebut secara langsung, bahkan dalam kondisi turun dari gunung. Ini memberi kesan bahwa jumlah dan ukurannya masih berada dalam batas yang mungkin ditangani seorang manusia.
Gambaran itu semakin jelas ketika Musa turun dan mendapati kaumnya menyembah anak sapi. Al-Qur’an menyebut bahwa dalam keadaan marah dan sedih, Musa melemparkan alwāḥ yang dibawanya.
وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ
Lalu ia melemparkan alwāḥ itu. (Al-A‘raf: 150)
Bahkan jika kita berasumsi bahwa Nabi Musa memiliki fisik yang besar dan kuat, mampu mengangkat beban dua atau tiga orang sekaligus, tetap saja tindakan membawa, melempar, lalu mengambil kembali sekian banyak lempengan batu menunjukkan bahwa jumlah lempengan itu tidak berlebihan secara fisik. Yang pasti bukan kumpulan besar yang memerlukan banyak orang atau alat bantu, melainkan satu kesatuan yang masih dapat dikelola oleh satu orang saja bahkan dalam situasi emosional sekalipun.
Hal ini ditegaskan kembali ketika Al-Qur’an menyebut bahwa setelah amarah Musa reda, ia kembali mengambil berbagai lempengan batu tersebut dan memuliakan isinya.
وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُوسَى الْغَضَبُ أَخَذَ الْأَلْوَاحَ وَفِي نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ
Dan ketika amarah Musa telah reda, ia pun mengambil alwāḥ itu. Dan pada tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat. (Al-A‘raf: 154)
Dengan demikian, Al-Qur’an secara implisit memberi batas yang realistis tentang ukuran dan jumlah Taurat. Sekuat apa pun fisik Musa, lempengan-lempengan batu itu tetap harus masuk akal untuk dibawa, dijatuhkan, dan diambil kembali oleh satu orang. Gambaran fisik ini sekaligus mengarahkan kesimpulan bahwa Taurat Musa ringkas secara teks, padat secara isi, dan berat dalam amanah, sejalan dengan medium keras tempat ia dituliskan.
2. Taurat di Masa Nabi SAW Berupa Lembaran-lembaran
Al-Qur’an menyebut bahwa pada masa Nabi SAW, Taurat tidak lagi berada dalam bentuk alwah lempengan batu, tetapi telah menjadi qarathis (قَرَاطِيسَ) yaitu lembaran-lembaran terpisah yang bisa dibuka, ditutup, dan dipilih sebagian.
قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَىٰ نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا
Siapakah yang menurunkan kitab yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia?” Kalian menjadikannya qarāṭīs, kalian tampakkan sebagiannya dan kalian sembunyikan banyak darinya. (QS. Al-An‘am: 91)
Berarti ini boleh jadi salinan dan bukan aslinya. Sebab aslinya berupa batu lempengan, sedangkan kata qarathis (قَرَاطِيسَ) meski bukan secara fisik berarti kertas yang kita kenal, namun kertas yang dikenal di masa itu boleh jadi terbuat dari kulit, papirus, atau kain, bertekstur keras dan tebal.
3. Hadits Terkait Panjangnya Taurat
Tidak ada informasi yang lengkap tentang seberapa banyak isi Taurat, namun ada sebuah informasi yang bisa digali dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Watsilah bin al-Asqa‘ radhiyallahu‘anhu bahwa Nabi SAW bersabda:
أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ الطِّوَالَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمِئِينَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ، وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ
Aku diberi (Al-Qur’an) sebagai pengganti Taurat tujuh surat yang panjang. Aku diberi sebagai pengganti Zabur surat-surat yang berjumlah ratusan ayat. Aku diberi sebagai pengganti Injil surat-surat al-Matsani. Dan aku dilebihkan dengan al-Mufashshal. (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani)
Banyak kalangan menjadi hadits ini sebagai dasar informasi seberapa banyak isi Taurat, yaitu sebanyak 7 surat yang paling panjang dalam Al-Quran, yaitu surat Al-Baqarah (286 ayat), Ali ‘Imran (200 ayat), An-Nisa’ (176 ayat), Al-Ma’idah (120 ayat), Al-An‘am (165 ayat), Al-A‘raf (206 ayat), dan surat Al-Anfal (75 ayat).
Kalau kita buka mushaf di zaman sekarang, maka surat Al-Anfal itu berakhir di halaman 186. Bayangkan teks tertulis di atas 186 lempengan batu, kira-kira bagaimana membawanya? Anggaplah ketebalan lempengan itu 2 cm, maka tebalnya menjadi 3,72 meter.
Saya meminta ChatGPT membuat gambar ilustrasi orang membawa 186 lempengan batu secara sekaligus, kira-kira seperti ini.
Perlu dicatat bahwa huruf-huruf pada mushaf modern itu kecil, tinta rapat, dan kertas sangat tipis. Tapi bayangkan jika kita menuliskan tujuh surat itu di atas lempengan-lempengan batu, maka hurufnya harus lebih besar, jarak antarhuruf dan antarbaris longgar tidak bisa rapat. Mungkin jumlah lempengannya bisa dua kali lipatnya.
Sekarang pertanyaan kuncinya : apakah logis Nabi Musa membawa lempengan-lempengan batu sekaligus, lalu melemparnya, lalu mengambilnya kembali?
Oleh karena itu banyak juga kalangan yang menafsirkan bahwa hadits ini tidak secara teknikal menyebutkan jumlah ayat pada Taurat, melainkan hanya sekedar ungkapan saja.
Dalam bahasa Arab kata makana (مَكَانَ) bermakna pengganti dalam fungsi, kedudukan, dan kandungan hidayah, bukan pengganti dalam jumlah huruf, ayat, atau halaman. Hadis ini sedang berbicara tentang pembagian struktur Al-Qur’an yang menggantikan peran kitab-kitab sebelumnya, bukan membandingkan ukuran teks.
4. Taurat Yahudi Hari ini
Yang disebut Taurat oleh orang-orang Yahudi hari ini adalah apa yang dalam studi disebut Pentateukh atau Lima Kitab Musa. Isinya adalah: Kejadian (Genesis), Keluaran (Exodus), Imamat (Leviticus), Bilangan (Numbers), dan Ulangan (Deuteronomy). Secara fisik, Taurat ini bukan lempengan batu, tetapi gulungan panjang dari kulit hewan disebut perkamen yang ditulis tangan, tanpa harakat, tanpa tanda baca, dan sangat panjang. Jika dibentangkan, satu gulungan Taurat bisa mencapai puluhan meter.
Sekarang bandingkan dengan gambaran Al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut Taurat Musa ditulis pada lempengan-lempengan. Nabi Musa membawanya, melemparkannya, lalu mengambilnya kembali. Ini jelas tidak cocok secara fisik dengan Taurat Yahudi hari ini yang berupa narasi panjang, detail sejarah, silsilah, dialog, dan kisah kematian Musa sendiri.
Bahkan di dalam Taurat Yahudi, diceritakan Musa wafat dan dikuburkan, sesuatu yang secara logika tidak mungkin ditulis oleh Musa sendiri, apalagi dipahat pada lempengan-lempengan.
Di sinilah perbandingan menjadi terang. Taurat versi Al-Qur’an adalah wahyu ringkas, prinsipil, hukum-sentris, ditulis pada media keras, dan berfungsi sebagai piagam syariat awal. Sedangkan Taurat versi Yahudi hari ini adalah kompilasi besar yang memuat wahyu, sejarah, tradisi lisan, tafsir, dan penulisan pasca-Musa, disusun dalam bentuk teks panjang yang mustahil cocok dengan deskripsi alwāḥ.
Maka kesimpulan awal yang perlu kita catat sebelum melangkah lebih jauh adalah bahwa Taurat Yahudi hari ini tidak identik dengan Taurat yang diterima Musa sebagaimana digambarkan Al-Qur’an. Ia adalah teks yang bertumbuh, berlapis, dan melewati proses panjang, sementara Taurat Musa adalah inti wahyu yang ringkas dan mengikat.
Lantas apakah pemeluk Yahudi hari ini masih meyakini bahwa Taurat mereka asli?
Jawaban singkatnya: ya, secara keimanan resmi mereka meyakini Taurat yang ada sekarang adalah Taurat yang sama yang diberikan kepada Nabi Musa, tetapi cara keyakinan itu dipahami perlu diluruskan, karena tidak sesederhana “turun lalu utuh tanpa proses”.
Dalam akidah Yahudi arus utama (Rabbinic Judaism), Taurat diyakini sebagai Torah min ha-Shamayim yaitu Taurat berasal dari langit. Mereka meyakini Musa menerima Taurat di Sinai dan menyampaikannya kepada Bani Israil. Mushaf yang mereka miliki hari ini dalam bentuk gulungan kulit dipandang sebagai kelanjutan sah dari Taurat Musa, bukan teks baru. Karena itu, secara teologis mereka menganggapnya autentik dan suci.
Namun ketika masuk ke penjelasan internal mereka sendiri, keyakinan itu tidak berarti setiap hurufnya diyakini ditulis langsung oleh Musa pada saat yang sama. Dalam literatur Yahudi klasik terdapat pengakuan adanya tradisi lisan (Torah Shebe‘al Peh) yang berjalan berdampingan dengan Taurat tertulis. Bahkan sebagian rabi klasik mengakui bahwa beberapa bagian Taurat ditulis atau disempurnakan setelah Musa, misalnya bagian tentang wafatnya Musa.
Ini dibahas panjang dalam Talmud dan tafsir rabinik, bukan isu yang disembunyikan.
Dalam kajian modern Yahudi sendiri, terutama akademik, lebih jauh lagi diakui bahwa teks Taurat yang sekarang distandardisasi melalui tradisi panjang penyalinan, dan bentuk bakunya dikenal sebagai Masoretic Text. Artinya, teks itu dijaga, disalin, distandardisasi, dan dibakukan berabad-abad setelah Musa. Jadi istilah ’asli’ dalam keyakinan Yahudi bukan berarti bebas dari sejarah penulisan, melainkan dianggap setia pada tradisi wahyu yang diwariskan.
Di sinilah letak perbedaannya dengan gambaran Al-Qur’an. Al-Qur’an berbicara tentang Taurat Musa sebagai wahyu ringkas yang ditulis pada alwah. Sementara Taurat Yahudi hari ini adalah teks panjang berbentuk narasi sejarah dan hukum, yang oleh mereka diyakini sebagai Taurat yang sama dalam makna keagamaan, meskipun dalam bentuk tekstual ia telah melalui proses panjang.