Kemenag RI 2019:(Al-Qur’an) ini adalah Kitab yang Kami turunkan lagi diberkahi. Maka, ikutilah dan bertakwalah agar kamu dirahmati. Prof. Quraish Shihab:Dan (al-Qur’an) ini adalah kitab yang telah Kami turunkan, (lagi) diberkahi, maka ikutilah ia dan bertakwalah supaya kamu mendapatkan rahmat. Prof. HAMKA:Dan ini adalah sebuah kitab yang telah Kami turunkan dia yang diberkati. Ikutilah olehnya akan dia dan bertakwalah. Mudah-mudahan kamu diberi rahmat.
Al-Quran disebut sebagai kitab suci yang diberkahi dalam artinya memberikan banyak sekali kebaikan yang tidak pernah berhenti mengalir.
Maka perintahnya adalah untuk mengikuti Al-Quran dan untuk bertakwa. Tentu manfaatnya bukan demi kepuasan Allah SWT, tetapi demi kebaikian diri mereka sendiri, yaitu agar mereka mendapatkan rahmat dari Allah SWT.
وَهَٰذَا كِتَابٌ
Kata wa hadaza (وَهَٰذَ) artinya: dan ini, merupakan ism isyarah atau kata tunjuk yang fungsinya menunjuk suatu objek yang dekat.
Kata kitab (كِتَابٌ) artinya: sebuah kitab. Meski tidak disebut secara eksplisit sebagai Al-Quran, namun secara siyaq kita paham bahwa yang dimaksud dalam konteks ini adalah Al-Quran Al-karim. Sebab setelah sebelumnya bicara tentang Taurat, maka selanjutnya bicara tentang A;l-Quran yang merupakan kitab samawi terakhir dari semua rangkaian kitab-kitab suci sebelumnya.
أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ
Kata anzalnahu (أَنْزَلْنَاهُ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang artinya: Kami menurunkannya. Yang dimaksud dengan ‘Kami’ disini tidak lain adalah Allah SWT.
Konteks penggalan ini adalah merupakan jawaban dari Allah SWT kepada kaum musyrikin Mekkah, dimana mereka lebih menghargai para ahli kitab yang mereka bangga-banggakan di hadapan Nabi SAW, karena dianggap memiliki kitab suci samawi yang turun dari langit.
Padahal Al-Quran ini pun juga kitab suci samawi yang sama-sama turun dari langit. Secara logika, kalau pun kaum musyrikin membanggakan kitab suci samawi bangsa lain, maka akan jauh lebih logis dan pantas untuk beriman kepada kitab suci samawi yang justru diturunkan di negeri mereka sendiri.
Kalau kita telaah lebih jauh, kadang Allah SWT menggunakan kata anzala (أَنْزَلَ) dan kadang menggunakan kata nazzala (نَزَّلَ). Meski makna utamanya sama-sama menurunkan, namun anzala (أَنْزَلَ) mengandung makna pekerjaan yang sudah selesai dilakukan, Ini mengaku kepada turunnya Al-Quran sekaligus dari sisi Allah SWT ke langit dunia. Sedangkan jika menggunakan kata nazzala (نَزَّلَ), maka konotasinya Allah SWT menurunkannya berkali-kali. Mengacu kepada proses turunnya Al-Quran yang berlangsung sedikit demi sedikit selama kurung waktu 23 tahun.
Kata mubarak (مُبَارَكٌ) berupa ism maf’ul yang akar katanya dari (برك) dan artinya: yang diberkahi. Ar-Raghib al-Ashfahani dalam Mufradat Alfazh al-Qur’an menjelaskan bahwa makna kata barakah (بركة) adalah:
ثبوت الخير الإلهي في الشيء
tetap dan menetapnya kebaikan ilahi pada sesuatu.
Maka kata mubarak (مُبَارَك) secara harfiyah berarti sesuatu yang kebaikannya banyak, terus bertambah, dan tidak cepat hilang.
Ath-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[1] menjelaskan bahwa Al-Qur’an disebut mubarak karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak dan manfaat yang besar, yang mencakup petunjuk iman, hukum kehidupan, dan keselamatan akhirat.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim[2] menegaskan bahwa keberkahan Al-Qur’an tampak karena siapa yang berpegang dengannya akan selamat. Al-Qur’an membawa kebaikan yang berdampak langsung pada kehidupan dunia dan akhirat, bukan sekadar bacaan spiritual.
Al-Qurtubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[3] memperluas maknanya dengan mengatakan bahwa Al-Qur’an disebut mubarak karena:
تكثر بركته بتلاوته والعمل به
keberkahannya bertambah melalui pembacaan dan pengamalan.
Keberkahan Al-Qur’an aktif, bukan pasif. Semakin berkah ketika dibaca, dipahami, dan diamalkan.
فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا
Kata fat-tabi’uu-hu (فَاتَّبِعُوهُ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il amr, yang asalnya dari kata (اتبع يتبع). Artinya: maka ikutilah ia. Dhamir hu ini kembali kepada Al-Quran.
Para mufassir mengatakan bahwa perintah untuk mengikuti Al-Quran ini bukan ditujukan kepada Nabi SAW, melainkan kepada orang-orang musyrikin Mekkah. Sebab sejak awal kita sepakat bahwa ayat-ayat ini memang turun di Mekkah, sehingga dialog-dialognya masih melibatkan kaum musyrikin Mekkah, bukan orang-orang Yahudi di Madinah.
Kata wattaqu (وَاتَّقُوا) berasal dari akar kata (و ق ي) yang makna asalnya adalah melindungi diri atau menjaga diri dari sesuatu yang membahayakan. Jadi sejak awal, takwa bukan emosi, bukan pula sekadar rasa takut, tetapi tindakan sadar untuk membuat perlindungan.
Maka makna kata wattaqu (وَاتَّقُوا) bukan sekadar takutlah, tetapi buatlah pelindung bagi diri kalian untuk melindungi diri dari dari murka dan hukuman Allah, dan caranya adalah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Kata la’allakum (لَعَلَّكُمْ) artinya: agar kalian. Kata turhamun (تُرْحَمُونَ) artinya: diberi rahmat.
Kata la’allakum (لَعَلَّكُمْ) di sini sebagaimana penjelasan para mufassir bukan bermakna mudah-mudahan atau ‘semoga’. Kata ini bukan berarti keraguan karena sifatnya belum pasti. Kata ini bermakna agar atau supaya. Ini adalah bahasa pendidikan ilahi. Allah sudah mengetahui siapa yang akan mendapat rahmat, tetapi manusia harus berjalan melalui sebab-sebabnya. Dan sebab-sebab itu telah disebutkan secara berurutan: Al-Qur’an diturunkan, diminta untuk diikuti, lalu diminta dijalani dengan takwa.
Sedangkan kata turhamun (تُرْحَمُونَ) berarti kalian diberi rahmat. Rahmat di sini bukan sekadar ampunan di akhirat, tetapi mencakup kasih sayang Allah secara menyeluruh: ketenangan hati, kelurusan hidup, perlindungan dari kesesatan, keberkahan amal di dunia, dan keselamatan di akhirat. Para mufassir menegaskan bahwa rahmat ini adalah hasil, bukan titik awal. Ia datang setelah ittiba‘ dan takwa, bukan sebelumnya.
Perhatikan juga bentuk pasif kata turhamun (تُرْحَمُونَ), Allah tidak menyebut secara eksplisit “Aku merahmati kalian”, tetapi menggunakan bentuk pasif untuk menunjukkan bahwa rahmat itu luas, terus mengalir, dan datang dari berbagai pintu selama manusia berada di jalan yang benar. Selama seseorang mengikuti Al-Qur’an dan menjaga takwa, ia berada dalam lingkaran rahmat Allah, meskipun ia tidak sempurna dan masih jatuh bangun.
[1] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)
[2] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)
[3] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)