Kemenag RI 2019:(Kami turunkan Al-Qur’an itu) supaya kamu (tidak) mengatakan, “Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan sebelum kami (Yahudi dan Nasrani) dan sesungguhnya kami lengah dari apa yang mereka baca,” Prof. Quraish Shihab:(Kami telah menurunkan al-Qur’an itu) supaya kamu (tidak berdalih pada Hari Kiamat dengan) mengatakan: “Sesungguhnya Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan (Yahudi dan Nasrani saja) sebelum kami, dan sesungguhnya kami lengah terhadap (apa) yang (berulang-ulang) mereka baca.” Prof. HAMKA:Supaya kamu tidak berkata, “Semata-mata diturunkan kitab hanyalah kepada dua golongan sebelum kita dan sesungguhnya kita adalah lalai dari bacaan mereka.”
Maka sebelum alasan yang dicari-cari itu mereka pikirkan. Allah SWT langsung sampaikan duluan dengan mengatakan bahwa nanti mereka akan beralsan bahwa kitab suci samawi itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani. Sedangkan bangsa Arab musyrikin mengaku lengah dari apa yang mereka baca. Karena itu wajar jika mereka tidak mengimani Al-Quran.
أَنْ تَقُولُوا
Secara harfiah murni ungkapan an taqulu (أَنْ تَقُولُوا) berarti : agar kalian mengatakan. Namun jika kita baca tiga terjemahan di atas, ternyata mereka menambahkan kata ’tidak’ di dalamnya. Tentu hal-hal semacam ini luput dari pelajaran terjemah kata per kata, apalagi jika hanya mengandalkan ilmu gramatika semacam Nahwu dan Sharaf saja.
Untuk memahaminya, kita perlu belajar ilmu yang lebih tinggi, yaitu ilmu balaghah. Disana akan dijelaskan bahwa frasa ini tidak berdiri sendiri, melainkan sangat bergantung pada kalimat sebelumnya dan pada maksud keseluruhan ayat.
Ayat sebelumnya berbunyi: “Maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kalian diberi rahmat.” Setelah itu, langsung disambung dengan ungkapan ini yaitu (أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنزِلَ الْكِتَابُ). Secara struktur, frasa ini berfungsi menjelaskan tujuan lain dari diturunkannya Al-Qur’an, yaitu menutup pintu alasan dan dalih yang biasa diucapkan oleh kaum musyrikin.
Dalam bahasa Arab Al-Qur’an, ini adalah bentuk yang sangat dikenal, di mana sebuah tujuan pencegahan diungkapkan tanpa menyebut kata “tidak” secara eksplisit, karena sudah dipahami dari konteks. Para ulama nahwu dan tafsir menjelaskan bahwa huruf an (أَنْ) pada posisi ini disebut dengan an ta‘liliyyah, yaitu yang menjelaskan maksud dan tujuan, dan di dalamnya terdapat unsur yang dihilangkan tetapi dipahami, yakni makna “agar jangan sampai”.
Secara makna lengkap, ayat ini seakan berkata: Allah menurunkan Al-Qur’an yang diberkahi ini, memerintahkan untuk mengikutinya dan bertakwa agar memperoleh rahmat, dan agar kalian tidak sampai mengatakan alasan-alasan seperti: “Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan sebelum kami, dan kami lalai mempelajarinya.”
Jadi kata ’tidak’ muncul bukan dari terjemahan bebas, tetapi dari pemahaman struktur kalimat Arab yang memang menuntut demikian. Keindahan balaghah Al-Qur’an tampak di sini, yaitu dengan tidak menyebut la (لا) secara eksplisit, namun maknanya tetap kesana.
Maka ketika dalam terjemahan bahasa Indonesia muncul ungkapan “agar kalian tidak mengatakan”, itu bukan perubahan makna, tetapi penyesuaian yang wajib dilakukan agar maksud ayat tidak terbalik. Jika diterjemahkan secara kaku tanpa “tidak”, makna ayat justru menjadi bertentangan dengan tujuan wahyu.
Kata innama (إِنَّمَا) artinya: sesungguhnya hanyalah. Huruf inna (إِنَّ) berfungsi sebagai pembatas dan penegasan, dimana maknanya bukan sekadar ’sesungguhnya’, tetapi tidak lain kecuali. Dengan kata ini, mereka ingin mengatakan bahwa wahyu kitab hanya terbatas pada kelompok tertentu saja. Seolah-olah ada klaim eksklusivitas bahwa kitab suci itu bukan urusan kami, melainkan urusan orang lain sebelum kami.
Kata unzila (أُنزِلَ) artinya: diturunkan. Kata al-kitab (الْكِتَابُ) artinya: kitab itu. Ungkapan ini memakai bentuk pasif. Mereka tidak menyebut Allah secara eksplisit sebagai subjek, karena fokusnya bukan pada Tuhan yang menurunkan, tetapi pada fakta sejarah yang mereka jadikan dalih. Yang mereka tekankan adalah: kitab itu memang pernah turun, tetapi bukan kepada kami.
Kata ‘ala (عَلَىٰ) artinya: kepada. Kata thaifatain (طَائِفَتَيْنِ) artinya: dua golongan, dua komunitas agama besar sebelum Islam : Yahudi dan Nasrani. Ini adalah cara orang Arab menyebut Ahlul Kitab secara ringkas. Mereka mengakui keberadaan Taurat dan Injil, tetapi sekaligus menjadikannya alasan untuk melepaskan tanggung jawab diri.
Kata min (مِنْ) artinya: dari. Kata qablina (قَبْلِنَا) artinya: sebelum kami. Ungkapan ini menunjukkan logika yang tersembunyi, yaitu bahwa urusan mengikuti kitab suci samawi itu urusan masa lalu dan urusan bangsa lain.
Sedangkan kaum musyrikin menegaskan bahwa mereka hidup di luar tradisi kitab, sehingga wajar bila mereka tidak terikat oleh wahyu dan hukum ilahi.
وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ
Kata wa in kunna (وَإِنْ كُنَّا) di sini bermakna : dan sungguh kami, atau padahal kami. Ungkapan ini memberi kesan pembelaan diri. Seakan-akan mereka berkata: bukan hanya kitab itu tidak turun kepada kami, tetapi kami juga berada di luar tradisi keilmuan mereka.
Frasa an dirasatihim (عَنْ دِرَاسَتِهِمْ) berarti dari pelajaran atau kajian mereka. Yang dimaksud dengan dirasah di sini bukan sekadar membaca teks, tetapi tradisi belajar, memahami, dan mengkaji kitab-kitab suci. Kaum musyrikin mengakui bahwa mereka tidak pernah masuk ke dunia itu. Mereka tidak belajar Taurat, tidak mengkaji Injil, dan tidak hidup dalam budaya kitab.
Kata la-ghafilin (لَغَافِلِينَ) memberi tekanan makna yang kuat. Mereka tidak mengatakan “tidak tahu”, tetapi “lalai”. Seolah-olah mereka berkata: kami memang tidak peduli dan tidak terlibat.
Namun kata ini dipakai sebagai alasan pemaaf, bukan pengakuan dosa. Maksud tersembunyinya: kalau kami salah, itu karena kondisi kami, semua itu karena pada dasarnya kami memang tidak pernah dibina dengan kitab.
Jika dirangkai dengan penggalan sebelumnya, logika mereka menjadi jelas. Mereka berkata: kitab itu hanya turun kepada dua golongan sebelum kami, dan kami pun tidak pernah mempelajari kitab-kitab mereka. Maka wajar jika kami tidak beriman dan tidak terikat oleh wahyu.
Justru di sinilah letak pukulan Al-Qur’an. Dengan menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa mereka sendiri, kepada nabi dari kalangan mereka sendiri, Allah mematahkan alasan ini secara total. Tidak ada lagi alasan “kami tidak tahu”, “kami tidak belajar”, atau “kami bukan ahli kitab”.