Kemenag RI 2019:Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menentukan batas waktu hidup (masing-masing). Waktu yang ditentukan (untuk kebangkitan setelah mati) ada pada-Nya. Kemudian, kamu masih meragukannya. Prof. Quraish Shihab:Dia-lah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukan-Nya ajal (masing-masing) dan (ada lagi suatu) ajal (yaitu kebangkitan setelah mati) yang (juga) ditentukan di sisi-Nya, kemudian kamu (masih terus) ragu (akan keniscayaan Hari Kebangkitan itu). Prof. HAMKA:Dialah yang telah menjadikan kamu dari tanah, lalu Dia tentukan suatu ajal dan suatu ajal lagi yang telah tertentu ada di sisi-Nya. Kemudian, kamu masih (juga) ragu-ragu.
Ayat kedua dari surat Al-An’am ini menegaskan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Mencipta, khususnya menciptakan manusia yang unik, dimana asal muasalnya dari satu manusia yang Allah SWT ciptakan dari tanah.
Kemudian Allah SWT menegaskan bahwa semua manusia itu punya limitasi atau batasan waktu untuk hidup di dunia. Manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan hewan pada umumnya, manusia punya usia rata-rata yang paling panjang. Namun begitu tetap saja manusia punya usia yang telah ditetapkan dengan batasan.
Di ayat ini Allah SWT juga menetapkan bahwa setelah selesai ajalnya, manusia pada waktunya nanti akan dibangkitkan. Sayangnya banyak manusia masih meragukan akan dibangkitkan setelah kematian.
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ
Kata huwa (هُوَ) artinya : Dialah. Kata alladzii (الَّذِي) artinya : yang. Kata khalaqakum (خَلَقَكُمْ) artinya : menciptakan kalian. Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata thiin (طِينٍ) artinya : tanah liat.
Meskipun Allah SWT menyebut kamu, namun sebenarnya yang dimaksud bukan manusia secara umumnya. Sebab manusia itu tidak diciptakan dari tanah liat. Manusia diciptakan dari sel sperma yang membuahi sel telur alias ovum. Sedangkan yang diciptakan dari tanah liat itu bukan manusia pada umumnya, melainkan manusia pertama, yaitu Nabi Adam alaihissalam.
Dalam bahasa Arab dan tafsir, ini dikenal sebagai idlafah ma'nawiyah atau penyandaran makna, dan sering digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan asal-usul bersama. Dengan kata lain, ungkapan ini bukan tentang proses penciptaan kita secara langsung, tapi tentang asal-usul manusia secara umum.
وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ
Kata wa-ajalun (وَأَجَلٌ) artinya : dan waktu. Kata musamman (مُسَمًّى) secara bahasa berarti ‘yang dinamakan’ atau ‘yang diberi nama’. Namun dalam konteks ayat ini, maknanya menjadi lebih luas, tidak hanya menunjuk pada sesuatu yang memiliki nama, melainkan pada sesuatu yang telah ditentukan waktunya secara pasti oleh Allah.
Dalam bahasa Arab, memberikan nama pada sesuatu tidak sekadar menamainya, tetapi juga menunjukkan bahwa sesuatu itu telah ditetapkan, dipisahkan, dan dikenali dengan jelas. Maka ketika Allah menyebut adanya ajal musamman, itu berarti ajal tersebut bukan sesuatu yang samar atau belum pasti, tetapi sudah benar-benar ditentukan waktunya oleh Allah, dan ada dalam ilmu-Nya yang sempurna. Manusia mungkin tidak mengetahuinya, tetapi di sisi Allah, waktu itu sudah ditetapkan secara pasti dan tidak mungkin berubah.
Dengan kata lain, ayat ini mengandung makna bahwa segala sesuatu di alam ini, termasuk kehidupan dan kematian, telah memiliki waktu yang jelas di sisi Allah, sebuah waktu yang telah disebut dan ditetapkan, tidak tergantung pada kehendak manusia atau takdir yang bisa berubah-ubah.
Kata ‘indahuu (عِنْدَهُ) artinya : di sisi-Nya. Semua yang ditetapkan itu pada dasarnya adalah ketetapan dari sisi Allah SWT.
ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ
Setelah semua bukti kekuasaan Allah dipaparkan, setelah dijelaskan bahwa segala sesuatu, termasuk ajal manusia pun telah ditetapkan dan berada di sisi Allah, justru kalian masih meragukannya. Itulah makna dari (ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ) : Lalu kalian masih meragukan (kebenaran itu).
Kata tsumma (ثُمَّ) dalam bahasa Arab tidak hanya bermakna kemudian, tetapi juga menyiratkan adanya jeda dan penekanan. Seolah-olah Allah sedang mengatakan: setelah semua itu jelas, lengkap, masuk akal, dan penuh bukti, mengapa kalian masih ragu?.
Sedangkan kata tamtarun (تَمْتَرُونَ) berasal dari akar kata (م ت ر) yang artinya ragu, bimbang, atau memperdebatkan sesuatu karena tidak yakin. Maka, ayat ini menggambarkan sikap orang-orang yang tetap mempertanyakan atau menolak kebenaran, meskipun semua dalil dan hujjah telah dijelaskan dengan terang.