Kemenag RI 2019:Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung. Prof. Quraish Shihab:Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan besar terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat (bukti-bukti keesaan dan kekuasaan) Nya dan (akan kebenaran al-Qur'an)? Sesungguhnya tidaklah beruntung orang-orang zalim. Prof. HAMKA:Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan atas nama Allah akan kedustaan atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung.
Ayat ke-21 dari surat Al-An’nam ini mengandung kecaman keras dari Allah terhadap dua bentuk kezaliman paling besar, yaitu mengada-adakan kebohongan atas nama Allah dan mendustakan ayat-ayat Allah. Tidak ada yang lebih zalim daripada dua kezaliman ini.
Mereka telah melampaui batas. Karena itu Allah menegaskan bahwa orang-orang zalim tidak akan pernah memperoleh keberuntungan.
Ayat ini menjadi pembuka bagi rangkaian penjelasan berikutnya. Setelahnya Allah SWT akan menggambarkan peristiwa hari kiamat, dimana orang-orang yang dulu mendustakan kebenaran akan dihadirkan dan dimintai pertanggungjawaban.
Digambarkan nanti mereka menyangkal kesyirikan yang pernah mereka lakukan. Mereka kehilangan semua dalih dan kebohongan yang dulu mereka ciptakan.
Kata wa-man (وَمَنْ) artinya : dan siapakah. Kata azhlamu (أَظْلَمُ) artinya : yang lebih zalim. Kata mimman (مِمَّنِ) artinya : daripada orang yang.
Kata iftaraa (افْتَرَىٰ) artinya : mengada-adakan. Asalnya dari akar (فَرَىٰ) yang secara harfiah berarti “membelah, mengiris, memotong kulit lalu membentuk sesuatu yang baru.” Dalam bahasa Arab kuno, tukang kulit yang mengiris bahan mentah untuk dijadikan barang disebut farra’ (فَرَّاء). Lalu dari makna membelah dan membentuk ini, lahir arti kiasan : “mengada-ada, menciptakan sesuatu dari nol.”
Karena yang sesusatu yang dibentuk” itu bisa juga dalam bentuk ucapan atau perkataan, maka kata iftara (افترى) akhirnya berarti : “merekayasa, mengarang, dan memalsu.” Intinya bermakna menciptakan sesuatu tanpa dasar, yaitu (الخَلْقُ بعد العَدْم = إحداثُ شيءٍ مِن غير أصلٍ)
Kata ‘alallaahi (عَلَى اللَّهِ) artinya : terhadap Allah. Kata kadziban (كَذِبًا) artinya : kebohongan. Berbeda dengan kata kadzaba (كَذَبَ) yang berarti berkata tidak benar atau menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan fakta, kata iftara (افترى) lebih berat karena mengandung unsur penciptaan kebohongan yang kemudian dinisbatkan kepada Allah secara langsung.
Contohnya kaum musyrikin Makkah mengarang-ngarang hukum tentang binatang ternak dan berkata bahwa itu berasal dari Allah. Mereka berkata bahwa isi perut binatang tertentu hanya boleh dimakan oleh laki-laki mereka dan diharamkan atas perempuan. Namun jika binatang itu mati, semua boleh memakannya. Al-Qur'an mencela perbuatan ini dan menyatakan bahwa Allah akan membalas kedustaan yang mereka buat.
Penggalan ini merupakan pertanyaan yang bersifat retoris, istilahnya adalah istifham inkari (استفهام إنكاري). Meski secara teks nampak seperti pertanyaan, namun bukan pernyataan biasa. Secara harfiah berarti : "Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?"
Namun, dalam gaya bahasa Arab, bentuk tanya seperti ini dipakai bukan untuk menuntut jawaban, melainkan untuk menegaskan bahwa: “Tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang berdusta atas nama Allah”.
Fungsinya untuk menunjukkan tidak ada seorang pun yang lebih zalim daripada itu. Dalam tafsir dan retorika Arab, bentuk seperti ini sering digunakan untuk menguatkan makna dengan nada kecaman atau celaan.
@@@
أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ
Kata aw (أَوْ) artinya : atau. Kata kadzdzaba (كَذَّبَ) ini bertasydid yang berarti mendustakan bukan sesekali atau secara kebetulan, melainkan secara sadar, tegas atau terus-menerus menolak untuk membenarkan.
Kata bi-aayaatihi (بِآيَاتِهِ) artinya : dengan ayat-ayat-Nya. Maksudnya adalah ayat-ayat Al-Quran yang turun kepada Nabi SAW. Penggalan ini melengkapi bentuk-bentuk kezaliman lainnya, yaitu orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya. Mereka adalah kaum musyrikin Mekkah yang pastinya tahu adanya ayat-ayat Al-Quran dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi SAW. Namun sayang sekali mereka malah mengingkari fakta itu. Dengan tegas mereka menolak keabsahan adanya ayat Al-Quran.
Namun bisa saja yang dimaksud termasuk mereka yaitu para ahli Kitab, baik Yahudi ataupun Nasrani, yang sebenarnya sudah mengenal ciri-ciri kenabian Muhammad SAW. Namun entah bagaimana merekamalah menolak semua ayat yang turun kepada Beliau SAW, bahkan yang lebih parah mereka malah tidak mau mengakui bahwa Beliau SAW adalah nabi utusan Allah.
إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
Kata innahu (إِنَّهُ) artinya : sesungguhnya Dia. Kata laa yuflihu (لَا يُفْلِحُ) artinya : tidak akan beruntung. Kata azh-zhoolimuun (الظَّالِمُونَ) artinya : orang-orang yang zalim.
Jika diterjemahkan secara harfiah, kalimat ini berarti: "Sesungguhnya dia tidak akan beruntung, orang-orang yang zalim." Struktur kalimat seperti ini agak membingungkan karena adanya dhamir hu pada kata innahu (إِنَّهُ). Siapa yang dimaksud dengan ‘dia’?
Kata ganti hu bukanlah dhamir biasa yang kembali kepada subjek tertentu, melainkan sebuah dhamir yang disebut dhamirasy-sya’n (ضمير الشأن). Sejenis kata ganti yang berfungsi sebagai pembuka untuk menyampaikan suatu pernyataan penting karena mengandung makna besar atau berita penting. Kurang lebih maknanya menjadi :
"Sesungguhnya perkara yang akan disebutkan ini adalah bahwa orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung."
Kalimat ini sebaiknya tidak diterjemahkan secara kaku, tetapi cukup dengan bentuk yang lebih komunikatif dan sesuai makna retorisnya: “Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung.”
Kata yuflihu (يُفْلِحُ) berasal dari akar kata fa-la-ha (ف ل ح) yang secara dasar bermakna berhasil, memperoleh kemenangan, atau mencapai keberuntungan. Dalam konteks Al-Qur'an, istilah al-falah pada umumnya mencakup keberhasilan yang hakiki yaitu keselamatan di akhirat, kebahagiaan yang abadi, dan pencapaian ridha Allah.
Kata azh-zhalimun (الظَّالِمُونَ) adalah bentuk jamak dari zhalim (ظَالِم) yaitu orang yang berbuat zhulm atau kezaliman. Makna zalim disini bukan hanya penindasan dalam arti sosial, tetapi lebih luas lagi mencakup perbuatan syirik, mendustakan wahyu, menolak kebenaran, dan merusak tatanan kebenaran yang telah ditetapkan oleh Allah.
Dalam kerangka ayat yang sedang dibahas, kezaliman itu diwujudkan dalam dua bentuk utama: Pertama, berdusta atas nama Allah dalam bentuk membuat-buat ajaran agama yang sebenarnya tidak Allah wahyukan. Kedua, mendustakan ayat-ayat Allah yakni mengingkari kebenaran wahyu.
Dengan mengatakan bahwa orang-orang zalim tidak akan beruntung, Allah SWT ingin menegaskan kepastian bahwa segala bentuk kezaliman, khususnya yang menyangkut hubungan antara manusia dengan Allah, akan berakhir dengan kerugian total, baik di dunia maupun di akhirat.
Ungkapan ini sekaligus menjadi penutup yang memberi vonis moral dan teologis, bahwa siapa pun yang memalsukan agama atau menolak kebenaran, tempatnya bukan dalam keberuntungan dan keselamatan, tetapi dalam kecelakaan dan kebinasaan. Maka kalimat ini membawa makna ancaman sekaligus penegasan tentang keadilan Ilahi.