Kemenag RI 2019:Di antara mereka ada yang mendengarkan engkau (Nabi Muhammad membaca Al-Qur’an), padahal Kami menjadikan di hati mereka penutup, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami jadikan) pada telinga mereka penyumbat. Jika mereka melihat segala tanda kebenaran, mereka tetap tidak beriman padanya, sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata, “Ini (Al-Qur’an) tiada lain hanyalah dongengan orang-orang terdahulu.” Prof. Quraish Shihab:Dan di antara mereka (yang mendustakan kebenaran) ada orang yang mendengarkanmu (membaca al-Qur'an), padahal Kami telah meletakkan di atas hati mereka penutup-penutup (karena mereka pada dasarnya tidak mau) memahaminya, dan di telinga mereka ada penyumbat (sehingga mereka tidak mendengar dengan benar). Dan jika mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak (mau) beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang yang kafir berkata: "Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu." Prof. HAMKA:Dan di antara mereka ada yang mendengar kepadamu. Dan Kami jadikan atas hati mereka penutup sehingga mereka tidak mengerti dan atas telinga mereka ada pekak. Dan walaupun mereka melihat tiap-tiap tanda, mereka tidak akan beriman kepadanya sehingga tatkala mereka datang kepadamu, mereka berbantah-bantahan dengan kamu, berkatalah orang-orang yang kafir, "Tidak lain ini hanyalah dongeng orang-orang dahulu."
Al-Qurthubi dalam tafsir Al-jami’ li-Ahkam Al-Quran menuliskan riwayat dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ayat ke-25 dari surat Al-An’am ini dilatar-belakangi dari datangnya beberapa pemuka Quraisy hadir di hadapan Rasulullah SAW. Mereka adalah tokoh utama seperti Abu Sufyan, al-Walid bin al-Mughirah, an-Nadhr bin al-Harits, ‘Utbah dan Syaibah putra Rabi‘ah, Umayyah dan Ubayy putra Khalaf, al-Harits bin ‘Amir, serta Abu Jahal. Mereka bilang mau mendengarkan pembicaraan Rasulullah SAW.
Lalu mereka berkata kepada an-Nadhr, "Apa yang dikatakan Muhammad?". Dia menjawab,”Aku tidak tahu apa yang dia katakan, tetapi aku melihat dia menggerakkan kedua bibirnya dan berbicara dengan kisah-kisah orang terdahulu, seperti yang dulu aku ceritakan kepada kalian tentang berita umat-umat zaman dahulu."
Abu Sufyan berkata,"Sesungguhnya aku melihat sebagian dari apa yang dia katakan itu benar." Abu Jahal berkata, "Tidak!" Maka Allah SWT kemudian menurunkan ayat ini.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ
Kata wa min-hum (وَمِنْهُمْ) artinya : dan di antara mereka. Mereka yang dimaksud dalam konteks turunnya ayat ini adalah orang-orang musyrikin Mekkah, yang telah menyekutukan Allah SWT.
Kata man (مَنْ) itu sering diterjemahkan menjadi : siapa, namun akan lebih tepat artinya adalah : orang. Maka ungkapan ini akan lebih mudah diterjamahkan menjadi : “dan ada sebagian dari mereka orang-orang musyrikin itu yang . . .”.
Kata yastami‘u (يَسْتَمِعُ) artinya : mendengarkan, merupakan kata kerja dalam bentuk fi‘il mudhari‘ dengan wazan (يَسْتَفْعِلُ) dari akar sa-mi-‘a (س م ع). Makna yang aslinya bukan sekedar mendengar, tetapi mendengarkan dengan sepenuh perhatian. Kata ilaika (إِلَيْكَ) artinya : kepadamu. Kamu yang dimaksud dalam hal ini maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW.
Kata waja‘alnaa (وَجَعَلْنَا) artinya : dan Kami jadikan. Kata ‘alaa quluubihim (عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ) artinya : atas hati-hati mereka.
Kata akinnah (أَكِنَّةً) itu bentuk jamak dari kinan (كِنَان) yang artinya : penutup, selubung, atau sesuatu yang menutupi. Ada juga bentuk tunggal lain yang semakna, yaitu kinn (كِنّ) dengan tasydid pada nun yang maknanya sama. Secara umum digunakan untuk menunjukkan penutup fisik atau maknawi. Misalnya kinanus-sahm (كِنَان السَّهْم) yang berartisarung anak panah, juga ada kinanussaif (كِنَان السيف) yang berarti sarung pedang. Maka kalau disebut kinanul-qalbi (كِنَان القَلْب) artinya adalah penutup hatiyang membuat seseorang jadi terhalangi dari kemampuan untuk memahami sesuatu.
Kata an yafqahuu-hu (أَنْ يَفْقَهُوهُ) kata ini kalau kita terjemahkan secara harfiyah, maka artinya menjadi : agar mereka memahaminya. Padahal maksudnya justru sebaliknya, bahwa adanya penutup itu agar mereka tidak memahami. Tapi ayat ini secara teksnya tidak mencantumkan kata : tidak. Mengapa demikian?
Penjelasannya bahwa ayat ini dimulai dengan pernyataan Allah telah menjadikan penutup-penutup di atas hati mereka. Penutup hati adalah penghalang yang membuat pesan kebenaran tidak dapat masuk dan bersemayam di dalam sanubari. Maka, meskipun secara literal kata kerja yafqahūhu berarti “memahami”, logika bahasa dan kenyataan situasi mengubah makna tujuannya.
Penutup itu dipasang dengan tujuan supaya mereka tidak sampai pada pemahaman yang benar. Dengan kata lain, redaksi ayat membiarkan kata “tidak” itu tidak diucapkan secara eksplisit, tetapi maknanya hadir secara otomatis karena hubungan antara sarana yaitu penutup hati dan akibatnya yaitu hilangnya pemahaman.
Inilah salah satu keindahan retorika bahasa Arab dalam Al-Qur’an. Alih-alih menulis “agar mereka tidak memahaminya”, ayat membiarkan ironi itu berbicara sendiri: tujuan yang disebutkan secara positif justru dihalangi total oleh sarana yang dipasang sebelumnya. Efeknya lebih tajam, karena pembaca atau pendengar langsung membayangkan kontradiksi itu—seakan berkata, “bagaimana mungkin mereka bisa memahami, jika hati mereka sudah dibungkus rapat?”
Dengan cara ini, ayat tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menanamkan kesan psikologis bahwa penutupan hati itu adalah penghalang mutlak, bukan sekadar kesulitan sementara.
Pemahaman yang dimaksud pun bukan sekadar pemahaman teknis atau bahasa, melainkan pemahaman hidayah yaitu pemahaman yang mengantarkan pada iman. Mereka mungkin mengerti kata-kata yang diucapkan Nabi, tetapi hati mereka tidak dapat meresapi kebenarannya. Itulah mengapa, meskipun kata “tidak” tidak hadir secara eksplisit, pesan ayat tetap tegas: penutup itu ada, agar mereka tidak pernah benar-benar memahami.
Bila kita ulas makna ‘paham’ disini tentu yang dimaksud adalah dalam konteks hidayah dan bukan paham secara teknis. Kalau secara teknis, organ tubuh yang bisa melakukannya bukan hati atau jantung, melainkan otak.
Namun karena Al-Quran bukan kitab sains, tetapi lebih kuat bernuansa sastra, maka yang dibicarakan memang bukan otak melainkan qalb. Sebenarnya makna qalb itu sendiri bukan hati, melainkan jantung. Namun kita tidak sedang bicara ilmu biologi yang mana jantung itu adalah organ fisik pemompa darah. Disini jantung itu dipahami sebagai pusat kesadaran, niat, keyakinan, dan kemauan batin. Memang demikianlah Al-Qur’an sering menggunakan qalb untuk menggambarkan pusat penerimaan kebenaran.
وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا
Kata wa fi (وَفِي) artinya : dan pada. Kata aadzaani-him (آذَانِهِمْ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu udzun (أذن) yang artinya telinga. Maka ungkapan wa fi adzanihiim (وَفِي آذَانِهِمْ) artinya : dan pada telinga mereka.
Kata waqran (وَقْرًا) akar katanya berasal dari huruf (و ق ر) yang pada dasarnya bermakna berat atau beban. Namun dalam konteks pendengaran, makna “berat” ini dipahami sebagai telinga yang tidak bisa menerima suara dengan jelas dan seolah-olah ada beban yang menutupinya. artinya : sumbatan.
Penggalan ini pun sebenarnya bersifat majazi. Sebab tidak ada sumbatan di telinga mereka. Namun betapa mereka tidak mau mendengarkan ayat-ayat Al-Quran, kemudian digambarkan seolah-olah di telinga mereka ada sumbatan.
Kalau kata akinnah (أَكِنَّةً) itu sifatnya menutup hati sehinggamenghalangi pemahaman, maka waqra (وَقْرًا) adalah penutup telinga yang menghalangi pendengaran. Ayat ini memadukan keduanya untuk memberi gambaran bahwa penghalangan mereka dari hidayah bersifat total: pesan kebenaran tidak masuk lewat telinga, dan sekalipun sampai ke telinga, ia tidak bisa menembus hati.
وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا
Kata wa-in yaraw (وَإِنْ يَرَوْا) artinya : dan jika mereka melihat. Kata kulla aayah (كُلَّ آيَةٍ) artinya : setiap tanda (ayat). Kata laa yu’minuu biha (لَا يُؤْمِنُوا بِهَا) artinya : mereka tidak akan beriman kepadanya.
Secara bahasa, penggalan kalimat ini berarti: “Dan sekalipun mereka melihat setiap tanda (ayat), mereka tidak akan beriman kepadanya.” Kata kulla ayatin (كُلَّ آيَةٍ) disini bersifat umum dan mencakup seluruh jenis ayat, baik ayat kauniyah berupa tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta maupun ayat qur’aniyah berupa wahyu dan mukjizat yang diturunkan kepada Rasul.
Penekanannya bahwa tidak berimannya mereka bukan karena kurang bukti, melainkan karena hati mereka sudah menolak kebenaran sejak awal. Struktur ini juga mengandung unsur hiperbola maknawi—seolah-olah Allah mengatakan: “Biarpun semua bukti kebenaran dipaparkan di hadapan mereka, hasilnya tetap sama: mereka tidak akan beriman.”
Ini menggambarkan penguncian hati yang disebutkan di bagian ayat sebelumnya dengan istilah أَكِنَّةً dan وَقْرًا. Jadi, masalahnya bukan pada kurangnya bukti atau lemahnya dalil, tapi pada sikap batin yang sudah menutup diri dari menerima kebenaran.
حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ
Kata hattaa (حَتَّىٰ) artinya : hingga. Kata idzaa jaa-uka (إِذَا جَاءُوكَ) artinya : apabila mereka datang kepadamu. Kata yujaadiluunaka (يُجَادِلُونَكَ) artinya : mereka membantahmu.
Setelah sebelumnya Allah menggambarkan bagaimana orang-orang kafir menutup diri dari hidayah hingga setiap bukti kebenaran tidak mampu menggerakkan hati mereka, ayat ini berlanjut dengan gambaran sikap mereka ketika akhirnya mendatangi Nabi SAW. Namun kedatangan mereka bukanlah untuk mencari kebenaran atau belajar, melainkan untuk berdebat dan mematahkan hujjah Nabi. Kata yujaadilunaka (ُجَادِلُونَكَ) di sini mengandung nuansa penolakan, perlawanan, dan debat kusir, sebuah perbincangan yang tujuannya bukan menemukan kebenaran, melainkan mempertahankan kesesatan.
يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا
Kata yaquulu (يَقُولُ) artinya : berkata. Kata alladziina kafaruu (الَّذِينَ كَفَرُوا) artinya : orang-orang yang kafir.
Setelah beradu argumentasi sekian banyak dan tidak menemukan titik kesepakatan, atau lebih tepatnya setelah tidak mampu menjawab argumentasi dari Nabi SAW, maka mereka pun menyudahi saja dengan langsung membuat pernyataan yang sifatnya sudah jadi kesimpulan akhir.
إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Kata in haadzaa (إِنْ هَٰذَا) artinya : ini tidak lain. Yang dimaksud dengan ‘ini’ bisa saja Al-Quran, juga bisa saja hujjah perkataan Nabi Muhammad SAW.
Kata illaa asaathiirul-awwaluun (إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ) artinya : hanyalah dongeng-dongeng orang-orang dahulu.
Kata asathirأَسَاطِير berasal dari kata sathr (سطر) yang berarti “tulisan baris demi baris” dan berkembang menjadi makna cerita-cerita lama atau mitos kuno yang tidak memiliki dasar kebenaran. Tuduhan ini mereka lontarkan untuk mendiskreditkan wahyu, seolah-olah Al-Qur’an hanyalah salinan dari kisah-kisah lama yang sudah ada sebelumnya.
Orang-orang Quraisy hidup di Mekah, sebuah kota dagang yang strategis di jalur perdagangan internasional. Kafilah-kafilah Quraisy rutin bepergian ke Syam (Levant) dan Yaman, sehingga mereka sering bertemu dengan bangsa-bangsa lain, termasuk orang Yahudi dan Nasrani, serta mendengar kisah-kisah keagamaan dari kitab-kitab terdahulu.
Sebagian dari mereka, seperti an-Nadhr bin al-Harits, bahkan pernah berpergian jauh hingga ke Persia, lalu membawa cerita-cerita rakyat dan kisah sejarah bangsa-bangsa kuno untuk diceritakan kembali di Mekah. Ketika Nabi Muhammad SAW mulai membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi kisah umat-umat terdahulu, seperti kisah Nabi Nuh, Musa, atau kaum ‘Aad dan Tsamud dan lainnya, para pemuka Quraisy yang keras kepala tidak mau mengakuinya sebagai wahyu.Sebaliknya, mereka menuduh bahwa Muhammad hanya mengulang dongeng lama yang sudah pernah diceritakan oleh orang lain.
Tuduhan ini sering diarahkan terutama karena mereka tahu Nabi SAW bukan orang yang pernah belajar kepada ahli kitab atau membaca kitab suci sebelumnya. Jadi, untuk melemahkan pengaruh Al-Qur’an, mereka membuat tuduhan ini agar masyarakat menganggap wahyu itu tidak istimewa.
Menariknya, Al-Qur’an membantah tuduhan ini di beberapa tempat. Misalnya, di QS. Al-Furqan: 5 disebutkan bahwa mereka berkata, “Itu hanyalah dongeng orang-orang dahulu yang diminta dituliskan, lalu dibacakan kepadanya pagi dan petang.” Tuduhan ini menunjukkan kebingungan mereka, di satu sisi mengakui Muhammad buta huruf dan tidak pernah belajar, di sisi lain menuduh beliau mendapatkan cerita tertulis dari orang lain.