Kemenag RI 2019:Namun, (sebenarnya) kejahatan yang mereka selalu sembunyikan dahulu telah tampak bagi mereka. Seandainya dikembalikan (ke dunia), tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Sesungguhnya mereka benar-benar para pendusta. Prof. Quraish Shihab:(Tidak demikian)! Bahkan sebenarnya telah nampak bagi mereka (azab yang tidak dapat mereka elakkan, sebagai akibat dari) apa yang dahulu selalu mereka sembunyikan. Dan jika seandainya mereka dikembalikan (ke dunia), tentulah mereka kembali kepada apa (kejahatan) yang mereka telah dilarang mengerjakannya, dan sesungguhnya mereka benar-benar para pembohong. Prof. HAMKA:Bahkan telah nyatalah bagi mereka apa yang mereka sembunyikan dahulunya. Tetapi jika sekiranya mereka dikembalikan pun niscaya mereka akan kembali (pula) kepada apa yang mereka telah dilarang daripadanya itu. Karena sesungguhnya mereka itu adalah pendusta.
Ayat ke-28 dari surat Al-An’am ini masih berkisar perilaku menyimpang dari orang-orang musyrikin Arab, yang sedang mengancam mereka jika tidak mau beriman kepada Nabi SAW dengan cerita tentang nasib yang akan mereka alami nanti di akhirat.
Allah SWT akan memperlihatkan apa yang selama di dunia mereka sembunyikan. Tentu mereka akan amat menyesal atas segala tindakan bodoh mereka selama di dunia.
Sehingga diceritakan bahwa mereka sangat ingin dikembalikan lagi ke dunia, agar bisa memperbaiki nasib mereka di akhirat. Sayangnya Allah SWT langsung memvonis mereka dengan cara yang benar-benar mematahkan argumentasi, yaitu dipastikan kalau pun misalnya mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali melakukan hal-hal yang terlarang untuk mereka.
Allah SWT langsung menvonis mereka dengan cap sebagai pembohong, karena ternyata setelah dikembalikan ke dunia, ternyata mereka tetap saja tidak beriman.
بَلْ بَدَا لَهُمْ
Kata bal (يل) bisa berfungsi dua macam, yaitu pembalikan atas penguatan. Kalau pembalikan itu contohnya kata : tetapi. Sedangkan ketika berfungsi sebagai penguatan menjadi : bahkan. Dalam hal ini nampaknya sebagai penguatan, sehingga lebih tepat dimaknai : bahkan.
Kata bal (يل) disini menunjukkan pengalihan makna atau disebut dengan idhraab (إضراب) dari angan-angan mereka dan klaim mereka bahwa seandainya mereka dikembalikan ke dunia, niscaya mereka akan beriman.
Kata bada lahum (بَدا لَهُمْ) artinya : nampak atau terlihat oleh mereka. Kata ini sebenarnya merupakan kata kerja, yaitu : badaa – yabduu (بَدَا - يَبْدُو).
Namun tentang siapakah yang dimaksud, ternyata para ulama berbeda pendapat sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran .[1]
1.Orang Munafik : sebagian mengatakan yang dimaksud adalah orang-orang munafik, karena istilah kufur mencakup mereka juga. Maka dhamir atau kata ganti lahum (لهم) kembali kepada sebagian dari yang telah disebutkan.
2.Orang Kafir : sebagian lain berpendapat bahwa yang dimaksud adalah orang-orang kafir. Dahulu, ketika Nabi SAW menasihati mereka, mereka merasa takut, tetapi menyembunyikan rasa takut itu agar jangan sampai diketahui oleh orang-orang lemah di kalangan mereka. Maka pada hari kiamat hal itu akan tampak.
3.Perbuatan Syirik : sebagian lain menyebutkan bahwa yang ditampakkan adalah kesyirikan. Hal itu karena merekaberkata,”Demi Allah, Tuhan kami, kami tidaklah mempersekutukan (Engkau).” Lalu Allah menjadikan anggota tubuh mereka berbicara, maka ia bersaksi atas kekafiran mereka. Itulah saatnya tampak bagi mereka apa yang dahulu mereka sembunyikan.” Ini pendapat Abu Rawq.
4.Amal Buruk : ada pula yang berpendapat bahwa yang dinampakkan bagi mereka adalah semua amal buruk selama di dunia. Sebagaimana firman Allah: “Dan tampaklah bagi mereka azab dari Allah yang tidak pernah mereka perkirakan.” (Az-Zumar: 47). Al-Mubarrid berkata: “Tampak bagi mereka balasan dari kekufuran mereka yang dahulu mereka sembunyikan.”
5.Penyesat : ada juga yang berpendapat bahwa yang dinampakkan adalah para penyesat atau al-ghuwah. Dahulu para penyesat itu telah menyembunyikan berita kebangkitan dan hari kiamat. Karena setelah ayat itu disebutkan: ‘Dan mereka berkata: Tidak ada kehidupan selain kehidupan dunia ini, dan kami tidak akan dibangkitkan.’”
[1] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ
Kata ma (مَا) artinya : apa. Ini adalah huruf atau harf yang dalam konteks ayat ini berfungsi sebagai ma maushulah alias kata sambung yang bermakna “apa yang”. Maka dia berfungsi jadi penghubung dengan kalimat setelahnya.
Kata kanu (كانُوا) artinya : mereka telah. Ini adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi. Artinya adalah atau telah. Ditambah dhamir waw pada akhirnya, maka bermakna “mereka telah”.
Kata yukhfuna (يُخْفُونَ) artinya : mereka menyembunyikan. Ini adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’. Bentuk asalnya yukhfuna dari akar kata khafa (خفى) yang maknanya tersembunyi dengan pola (يُفْعِلُون). Dhamir waw di akhirnya menunjukkan pelaku jamak alias mereka.
Kata min (مِنْ) artinya : dari. Ini adalah huruf jar atau kata depan yang berfungsi menjadikan kata sesudahnya dalam keadaan majrur.
Kata qoblu (قَبْلُ) artinya : dahulu atau sebelumnya. Ini adalah isim atau kata benda dalam bentuk zharfu zaman. Kita biasa menyebutkan sebagai kata keterangan waktu sehingga maknanya “dahulu” atau “sebelumnya”.
Maksudnya, pada hari kiamat akan terbongkar segala hal yang pernah mereka tutupi ketika di dunia. Bisa berupa kekufuran yang mereka sembunyikan, rasa takut yang tidak mereka akui, kemunafikan, atau amal buruk yang mereka pura-pura tidak lakukan. Penggalan ayat ini menggambarkan bahwa semua kedok dan rahasia manusia yang disembunyikan ketika di dunia akan ditampakkan di hadapan Allah, bahkan tubuh mereka sendiri akan menjadi saksi.
وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ
Kata wa (وَ) artinya : dan. Ini adalah harfu‘athafatau kata sambung yang menghubungkan kalimat dengan sebelumnya. Kata lau (لَوْ) artinya : seandainya. Ini adalah harfu syarth atau kata pengandaian yang menunjukkan sesuatu yang mustahil terjadi.
Kata ruddu (رُدُّوا) artinya : mereka dikembalikan. Ini adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi majhul, yaitu kata kerja lampau dalam bentuk pasif dari kata radda yang berarti mengembalikan. Karena bentuknya majhul atau pasif, maka maknanya menjadi “mereka dikembalikan”. Dhamir waw di akhir menunjukkan pelaku jamak.
Kata la’adu (لَعَادُوا) artinya : sungguh mereka akan kembali. Ini adalah kata kerja lampau atau fi’il madhi dengan lam taukid yang memberikan penegasan. Asalnya dari kata (عَادَ - يَعُودُ) yang artinya : kembali. Dhamir waw menunjukkan pelaku jamak, sehingga maknanya “sungguh mereka akan kembali”.
Kata lima (لِمَا) artinya : kepada apa yang. Huruf lam di sini disebut lamut-ta‘lil yaitu lam yang bermakna untuk atau kepada, sedangkan maa disebut ma maushulah yang artinya kata sambung dan bermakna “apa yang”.
Kata nuhu (نُهُوا) artinya : mereka dilarang. Ini juga fi’il madhi majhul yaitu kata kerja lampau dalam bentuk pasif. Asalnya dari kata (نَهَى - يَنْهَى)yang artinya : melarang. Dhamir waw di akhir menunjukkan pelaku jamak, sehingga maknanya “mereka telah dilarang”.
Kata ‘anhu (عَنْهُ) artinya : darinya. Ini adalah huruf jar (‘an artinya “dari”) ditambah dhamir hu yang kembali pada perkara larangan itu.
Maka penggalan (وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ) ini bermakna “Dan seandainya mereka dikembalikan (ke dunia), niscaya mereka akan kembali lagi kepada apa yang telah dilarang untuk mereka.”
Maksudnya, meskipun orang-orang kafir dan munafik menyesali perbuatan mereka di akhirat, lalu berkata seolah-olah ingin beriman jika diberi kesempatan kembali, itu hanyalah ucapan kosong. Allah menegaskan, sekalipun benar-benar dikembalikan ke dunia, mereka akan tetap mengulangi kekufuran dan kemaksiatan yang sama. Ini menegaskan kerasnya hati mereka dan betapa tidak bergunanya penyesalan yang hanya muncul setelah melihat azab.
وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
Kata wa (وَ) artinya : dan. Ini adalah huruf ‘athaf (kata sambung) yang menghubungkan kalimat dengan sebelumnya. Kata innahum (إِنَّهُمْ) artinya : sesungguhnya mereka. Ini adalah huruf taukīd wa nasb (inna yang berfungsi memberi penekanan dan menjadikan isim sesudahnya dalam keadaan manshub). Dhamir hum di dalamnya berarti “mereka”.
Kata la (لَ) artinya : benar-benar / sungguh. Ini adalah lam taukīd (huruf penegas). Kata kadhibun (كَاذِبُونَ) artinya : pendusta. Ini adalah isim fa‘il (kata pelaku) dari kata kazhiba (berdusta), dalam bentuk jamak mudzakkar salim, sehingga artinya “para pendusta”.
Maka penggalan (وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ) bermakna “Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang pendusta.” Maksudnya, Allah menegaskan bahwa klaim orang-orang kafir ketika di akhirat, bahwa mereka akan beriman jika dikembalikan ke dunia, tidaklah benar. Ucapan itu hanya dusta belaka, karena hakikatnya meskipun dikembalikan, mereka akan mengulangi kekufuran. Ayat ini menunjukkan betapa kuatnya sifat kedustaan dalam diri mereka, hingga bahkan penyesalan mereka pun hanyalah kebohongan.