Kata wa (وَ) artinya : dan. Ini adalah huruf ‘athaf atau kata sambung. Kata qalu (قَالُوا) artinya : mereka berkata. Mereka yang dimaksud adalah kaum kafir Quraisy dan orang-orang kafir pada umumnya yang mengingkari kebangkitan setelah mati. Mereka meyakini bahwa kehidupan hanyalah sekali, yaitu kehidupan dunia, tanpa adanya hari kebangkitan, perhitungan amal, atau kehidupan akhirat.
Kata in (إِنْ) artinya : tidaklah yang merupakan harfu nafyin yaitu menafikan atau menolak. Kata hiya (هِيَ) artinya : dia atau itu. Sebenarnya merupakan dhamir atau kata ganti untuk menunjuk kepada kehidupan mereka. Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali, yang merupakan harfu hashrin yaitu yang membatasi makna sebelumnya.
Kata hayatuna (حَيَاتُنَا) artinya : kehidupan kami. Kata ad-dunya (الدُّنْيَا) artinya : dunia, merupakan sifat muannats dari adna (أدنى) yang berarti rendah atau dekat. sehingga al-hayatu ad-dunya bermakna “kehidupan dunia”.
Maka penggalan (وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا) ini bermakna “Dan mereka berkata: tidak ada kehidupan selain kehidupan dunia kami ini.”
Maksudnya, orang-orang kafir menolak adanya kehidupan setelah mati. Mereka mengingkari kebangkitan dan membatasi eksistensi hidup hanya pada kehidupan dunia yang fana. Ini adalah bentuk kedustaan sekaligus pengingkaran terhadap janji Allah tentang akhirat.
Meski ungkapan ini khas muncul dari mulut orang-orang kafir Quraisy dalam Al-Qur’an, namun kalau kita lihat lebih luas, pandangan serupa ternyata juga dianut oleh sebagian besar kelompok manusia sepanjang sejarah, khususnya yang berada di luar agama samawi yaitu Yahudi, Nasrani, Islam.
Materialis Yunani kuno seperti Epikurean berkeyakinan bahwa setelah mati, manusia lenyap total. Tubuh hancur, jiwa pun sirna, tak ada yang tersisa. Ini sangat mirip dengan ucapan Quraisy dalam ayat tadi. Begitu juga Ateis modern dan kelomok sekuler juga menggemakan hal sama yaitu hidup hanyalah di dunia, setelah mati tidak ada kehidupan.
Lalu bagaimana dengan keyakinan dalam Hindu, Buddha, Jainisme? Bukankah mereka meyakini reinkarnasi?
Di satu sisi memang ada sedikit kemiripan, yaitu konsep reinkarnasi memang sama-sama berbicara tentang kehidupan setelah mati, tetapi sangat berbeda dengan konsep akhirat dalam agama samawi. Dalam reinkarnasi versi Hindu, Buddha, dan Jainisme, diyakini bahwa jiwa akan lahir kembali ke dunia dalam bentuk lain. Misalnya manusia, hewan, bahkan makhluk halus, bergantung pada karma. Tujuannya adalah siklus kelahiran-ulang sampai mencapai moksha bebas dari siklus.
Tapi konsep semacam ini jelas jauh berbeda dengan konsep akhirat, dimana seluruh makhluk bernyawa dimatikan terlebih dahulu dalam proses kiamat kubra. Kemudian Allah SWT membangkitkan semua secara bersama-sama untuk dikumpulkan di Padang Mahsyar. Tujuannya untuk dilakukan hisab, lalu sebagian masuk surga dan sebagian masuk neraka.
Kata wa (وَ) artinya : dan. Ini adalah harfu ‘athf atau kata sambung. Kata ma (مَا) artinya : tidak. Ini adalah harfu nafyi penafian yang meniadakan makna setelahnya. Kata nahnu (نَحْنُ) artinya : kami. Kami yang dimaksud adalah orang-orang musyrikin Mekkah yang sejak awal tidak mau percaya adanya kehidupan setelah kematian.
Kata bi (بِـ) artinya : dengan atau akan. Dalam konteks ini, huruf jar ini digunakan sebagai zaidah atau tambahan untuk menguatkan makna penafian. Kata mab’utsin (مَبْعُوثِينَ) artinya : orang-orang yang dibangkitkan, berbentuk isim maf‘ul dari asalnya (بَعَثَ - يَبْعَثُ) yang berarti : membangkitkan, sehingga maknanya “orang-orang yang dibangkitkan”.
Sebenarnya ayat ini punya banyak pendamping yang sejalan di ayat-ayat lain dari Al-Quran, seperti ayat-ayat berikut :
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ
Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja; kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa. (QS. Al-Jatsiyah: 24)
قَالُوا أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ
Mereka berkata: ‘Apabila kami telah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah benar kami akan dibangkitkan lagi?’” (QS. Al-Mu’minun: 82)
أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ
“Apabila kami telah mati dan menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan (untuk diberi pembalasan)? Apakah juga nenek moyang kami yang terdahulu (akan dibangkitkan)?” (QS. As-Saffat: 16–17)