Kemenag RI 2019:Sungguh, Kami mengetahui bahwa sesungguhnya apa yang mereka katakan itu betul-betul membuatmu (Nabi Muhammad) bersedih. (Bersabarlah) karena sebenarnya mereka tidak mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu selalu mengingkari ayat-ayat Allah. Prof. Quraish Shihab:Sungguh, Kami mengetahui sesungguhnya apa yang mereka katakan itu tentu menyedihkan hatimu (Nabi Muhammad saw.); (tetapi janganlah bersedih hati), karena sesungguhnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang yang zalim (itu) mengingkari ayat-ayat Allah. Prof. HAMKA:Sesungguhnya, Kami tahu bahwa telah sangat mendukacitakan engkau apa yang mereka katakan. Sesungguhnya bukanlah mereka itu mendustakan engkau, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.
Ayat ke—33 dari surat Al-An’am ini berisi tasliyah yaitu Allah SWT membesarkan hati Nabi Muhammad SAW yang merasa kecil hati, kecewa dan putus asa akibat sikap pembangkangan kaumnya sendiri untuk mau ikuti ajaran yang diamanatkan ke pundaknya.
Jelas sekali bagaimana Allah SWT memberikan tasliyah itu dengan kalimat yang simpatik, : “Sungguh, Kami mengetahui bahwa sesungguhnya apa yang mereka katakan itu betul-betul membuatmu (Nabi Muhammad) bersedih.
Lalu pesan yang Allah sampaikan adalah usahakan untuk terus istiqamah, tegar di jalannya. Toh yang mereka ingkari itu bukan kepribadian Nabi Muhammad SAW. Tetapi yang mereka ingkari adalah ayat-ayat Allah SWT.
Kata qad (قَدْ) artinya: “sungguh” atau “sesungguhnya”, berfungsi sebagai harfu tahqiq yang sifatnya menegaskan fi’il mudhari’ setelahnya dan menunjukkan kepastian. Kata na’lamu (نَعْلَمُ) artinya: “Kami mengetahui”. Kami yang dimaksud tidak lain adalah Allah SWT.
Kata innahu (إِنَّهُ) artinya: “sesungguhnya dia”. Kata inna adalah huruf taukid wa nasbyaitu penegas sekaligus menjadikan ism setelahnya manshub. Sedangkan dhamir hu kembali kepada ucapan orang-orang kafir (الذي يقولون). Jadi maknanya: “Sesungguhnya (ucapan mereka itu) benar-benar membuatmu sedih.”
Kata la-yahzunuka(لَيَحْزُنُكَ) artinya: “benar-benar menyedihkanmu”. Huruf lam itu disebut dengan lam taukid yang sifatnya penegasan. Subjek atau pelakunya adalah : ucapan mereka. Sedangkan objek atau maf’ul bih berupa dhamirka untuk mukhathab yaitu orang yang diajak bicara. Dalam hal ini maskudnya adalah Nabi Muhammad SAW.
Kata alladzi (الَّذِي) artinya: “apa atau yang, sebutannya adalah ism maushul, yaitu kata benda penghubung yang menjelaskan sesuatu yang dikatakan. Kata yaquuluuna (يَقُولُونَ) artinya: “mereka katakan”.
Allah menegaskan bahwa Dia benar-benar mengetahui kesedihan Nabi Muhammad SAW akibat ucapan orang-orang kafir Quraisy yang menuduh beliau dengan tuduhan keji seperti penyihir, pendusta, atau penyair. Ayat ini adalah bentuk tasliyah alias hiburan dari Allah kepada Rasul-Nya agar tidak larut dalam kesedihan, karena penentangan mereka bukan ditujukan secara pribadi, tetapi pada kebenaran yang beliau bawa.
فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ
Kata fa (فَ) artinya: “maka” atau “oleh karena itu”, merupakan harfu athf atau kata sambung yang berfungsi sebagai penghubung antar kalimat dan menunjukkan konsekuensi dari pernyataan sebelumnya.
Kata innahum (إِنَّهُمْ) artinya: “sesungguhnya mereka”. Terdiri dari harfuinna (إِنَّ) yang merupakan harfu taukid wa nashb, yaitu penegas sekaligus menjadikan isim setelahnya manshub. Sedangkan dhamirhum (هُمْ) merupakan kata ganti yang merujuk kepada orang-orang kafir Quraisy.
Kata laa (لَا) artinya: “tidak”. Ia adalah harfun-nafyi yang sifatnya menafikan atau meniadakan perbuatan yang datang setelahnya. Kata yukadzdzibuuna-ka (يُكَذِّبُونَكَ) artinya: “mereka mendustakanmu”. Kata ini adalah fi’il mudhari’ dari akar kata kadzaba (كذب) yang berarti : mendustakan. Sedangkan dhamir ka di akhir adalah dhamir maf’ul bih yang berarti kamu. Dalam hal ini yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW.
Allah menegaskan kepada Nabi SAW bahwa sebenarnya kaum kafir Quraisy tidak benar-benar mendustakan beliau sebagai pribadi. Mereka tahu dan mengakui bahwa Nabi SAW jujur dan terpercaya (al-Amîn). Akan tetapi, yang mereka ingkari dan tolak adalah ajaran yang beliau bawa berupa wahyu Allah. Jadi, penolakan mereka bukan karena pribadi Nabi, melainkan karena kedegilan mereka terhadap kebenaran.
Kata wa-lakinna (وَلَٰكِنَّ) artinya : akan tetapi. Kata azh-zhaalimiina(ٱلظَّالِمِينَ) artinya: orang-orang yang zalim. Maksudnya bahwa orang-orang kafir itu telah menzalimi diri mereka sendiri dengan cara tidak mau beriman kepada hari kiamat. Sebab akibatnya akan mereka rasakan nanti begitu kiamat tiba, yaitu mereka akan disiksa di dalam neraka.
Intinya bukan Allah SWT yang menzalimi mereka, melainkan mereka sendiri yang telah menzalimi diri mereka sendiri. Makanya alih-alih menyebut mereka sebagai orang kafir, di ayat ini Allah SWT lebih menonjolkan perilaku zalim mereka.
Kata bi-aayaatillahi(بِآيَاتِ ٱللَّهِ) artinya: “terhadap ayat-ayat Allah”. Makna ayat-ayat Allah itu memang luas, namun setidaknya ada dua yang utama. Pertama adalah Al-Qur’an Al-Karim yang merupakan firman dan perkataan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka orang kafir itu tidak percaya bahwa Al-Quran adalah kalamullah. Isi kisah dalam Al-Quran mereka tuduhkan sebagai dongeng umat terdahulu.
Kedua adalah keberadaan hari kiamat. Orang-orang kafir khususnya kaum musyrikin di masa Nabi SAW masih tinggal di Mekkah, memang isu paling utama yang mereka tentang selain urusan menyekutukan Allah adalah masalah penolakan mereka atas kabar bahwa akan terjadi hari kiamat, lalu seluruh makhluk hidup yang awalnya sudah dimatikan kemudian akan dibangkitkan dan hidup kembali.
Kata yajhaduuna (يَجْحَدُونَ) artinya: “mereka mengingkari”. Kata ini bukan sekedar mengingkari tetapi juga secara konsisten menolak untuk melakukan konsekuensinya. Maka kata ini juga digunakan untuk mereka yang tidak mau bayar zakat sambil tidak mengakui keberadaan syariat zakat. Mereka disebut jahidu az-zakah yaitu para pengingkar zakat. Sudah tidak mau bayar zakat, bahkan mereka pun mengingkari keberadaan syariatnya.
Demikian pula di ayat ini, sudah tidak percaya kepada hari kiamat, mereka pun tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapinya di kemudian hari.