Kemenag RI 2019:Sungguh rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, lalu mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tidak ada yang dapat mengubah kalim?t Allah. ) Sungguh, telah datang kepadamu sebagian berita rasul-rasul itu. Prof. Quraish Shihab:Dan demi (Allah)! Sungguh, telah didustakan (pula oleh kaum mereka) para rasul (yang diutus Allah swt.) sebelummu (Nabi Muhammad saw.), tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan gangguan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji dan ketetapan-ketetapan) Allah. Dan demi (Allah)! Sungguh, telah datang kepadamu sebagian dari berita (penting yang dialami oleh) para rasul. Prof. HAMKA:Sesungguhnya, telah didustakan beberapa rasul dari sebelum engkau, tetapi mereka adalah sabar atas apa yang didustakan mereka dan disakiti mereka. Sehingga datanglah kepada mereka pertolongan Kami. Karena tidaklah ada pengganti dari kalimat-kalimat Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepada engkau setengah dari berita utusan-utusan itu.
Ayat ke-34 dari surat Al-An’am ini merupakan tasliyah dari Allah SWT untuk mengisi kekosongan hati Nabi Muhammad SAW. Tehniknya dengan menyatakan bahwapara rasul sebelumnya juga telah didustakan oleh masing-masing kaumnya. Seolah ingin menegaskan bahwa soal itu jangan terlalu dijadikan beban pikiran, toh semua rasul pun juga pernah mengalaminya.
Selain itu Allah SWT masih belum memerintahkan apa-apa kecuali hanya untuk terus bersabar saja atas pendustaan dan penganiayaan. Sabar disini maksudnya bahwa akan ada waktunya nanti Allah SWT akan menurunkan pertolongan-Nya.
Di bagian akhir, Allah SWT menegaskan bahwa tidak ada yang dapat mengubah kalimat Allah.
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ
Huruf wa (وَ) artinya: dan. Merupakanharfu ‘athaf alias kata sambung,gunanya menghubungkan kalimat sebelumnya dengan sesudahnya. Kata la-qad (لَقَدْ) artinya: sungguh, terdiri dari dua unsur, yaitu lam tawkid alias huruf penegas dan qad yang merupakan huruf tahqiq dalam arti penegas atau kepastian. Secara harfiah maknanya: “sungguh benar-benar”. Digunakan untuk menegaskan kenyataan yang pasti.
Kata kuddzibat (كُذِّبَتْ) artinya: telah didustakan. Bentuknya adalah fi’il madhi majhul yaitu kata kerja bentuk lampau dalam bentuk pasif. Akar katanya dari kadzaba yang berarti mendustakan. Digunakan di sini untuk menggambarkan perlakuan kaumnya terhadap para rasul yang terdahulu.
Kata rusulun (رُسُلٌ) artinya: rasul-rasul atau para rasul, merupakan bentuk jamak dari kata rasul (رسول). Kata min qablika(مِنْقَبْلِكَ) artinya: dari masa sebelum kamu, yaitu sebelum Nabi Muhammad SAW.
Penggalan ayat ini menegaskan bahwa Rasul SAW tidak sendirian dalam menghadapi pendustaan, karena para rasul terdahulu pun mengalami hal yang sama, sama-sama ditolak oleh kaumnya dan ajarannya didustakan.
فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا
Huruf fa (فَ) artinya: maka, yang merupakan harfu 'athfyang menjadi penghubung sekaligus juga menjadi harfu jawab. Makna harfiahnya adalah : maka. Kata shabaru (صَبَرُوا) artinya: mereka bersabar. Asal katanya dari shabara (صَبَرَ) yang bermakna menahan diri atau tabah. Kata ini dipakai untuk menunjukkan tingkat kesabaran para rasul dalam menghadapi penentangan kaumnya.
Kata ‘ala (عَلَىٰ) artinya: atas atau terhadap. Kata ma (مَا) artinya: apa.Kata kudzdzibuu (كُذِّبُوا) artinya: mereka didustakan. Asal katanya kadzaba (كَذَبَ) artinya berdusta. Bentuk majhul-nya berarti “didustakan” atau “dituduh berdusta”.
Huruf wa (وَ) artinya: dan. Kata uudzuu (أُوذُوا) artinya: mereka disakiti. Asal katanya adzaa (أذًى) yang berarti gangguan atau penderitaan. Kata ini dipakai untuk menunjukkan bahwa para rasul bukan hanya didustakan, tetapi juga mengalami penderitaan fisik maupun psikis dari kaum mereka.
Penggalan ini melanjutkan kisah bahwa setelah para rasul didustakan, mereka tetap bersabar atas segala penolakan itu. Tidak hanya dituduh berdusta, mereka juga mendapatkan gangguan, penderitaan, bahkan penyiksaan. Namun sikap mereka adalah menanggung semua itu dengan sabar. Hal ini dimaksudkan sebagai penghiburan dan teladan bagi Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi kaum Quraisy yang mendustakan dan menyakiti beliau.
Kata shabaru (صَبَرُوا) juga sering muncul di banyak ayat lain untuk menekankan kesabaran para nabi dan orang beriman, misalnya dalam surat Al-Baqarah ayat 177 dan surat Al-‘Ashr ayat 3.
Sedangkan kata uudzuu (أُوذُوا) juga terdapat pada surat Ali ‘Imran ayat 186
Ayat ini menggambarkan gangguan dari orang-orang musyrik dan ahli kitab.
حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا
Kata hatta (حَتَّىٰ) artinya: hingga atau sampai, yang merupakan harfu ghayah yaitu pembatas tujuan akhir. Makna asalnya adalah “hingga batas tertentu”. Kata ini dipakai untuk menunjukkan bahwa kesabaran para rasul berlangsung terus sampai titik datangnya pertolongan Allah.
Kata ataahum (أَتَاهُمْ) artinya: telah datang kepada mereka. Asal katanya ataa (أَتَى) yang bermakna datang atau tiba. Kata ini digunakan untuk menegaskan bahwa pertolongan Allah akhirnya sampai kepada mereka.
Kata nashrunaa (نَصْرُنَا) artinya: pertolongan Kami. Kata ini dipakai untuk menekankan bahwa kemenangan dan pertolongan itu bukan berasal dari kekuatan rasul-rasul sendiri, melainkan murni dari Allah.
Penggalan ini menegaskan bahwa kesabaran para rasul berbuah pada saat Allah menurunkan pertolongan-Nya. Kata hatta (حَتَّىٰ) menunjukkan kesabaran mereka tidak sebentar, melainkan berlangsung lama sampai Allah menetapkan waktunya. Pertolongan Allah yang dimaksud bisa berupa kemenangan atas musuh, keselamatan dari gangguan, atau tegaknya kebenaran.
Kata nashruna (نَصْرُنَا) juga muncul dalam banyak ayat lain seperti Surat Al-Baqarah ayat 214 :
Ayat ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah itu selalu dekat, meskipun datang setelah ujian panjang. Dalam konteks ini, dhamir -naa (نَا) jelas kembali kepada Allah sebagai pemilik pertolongan mutlak.
وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ
Huruf wawu (وَ) artinya: dan, yang merupakan harfu ‘athf untuk menyambungkan kelanjutan makna sebelumnya. Dalam konteks ini menyambungkan keadaan pertolongan Allah dengan ketetapan yang tidak mungkin berubah.
Kata laa (لَا) artinya: tidak. Kata mubaddila (مُبَدِّلَ) adalah isim fa‘il dari fi’il baddala (بَدَّلَ) yang berarti mengganti, mengubah, atau menukar. Dengan didahului laa, maka maknanya menjadi “tidak ada pengubah”. Maksudnya tidak ada satu makhluk pun yang bisa mengubah keputusan Allah.
Kata likalimaati (لِكَلِمَاتِ) artinya: terhadap kalimat-kalimat. Kata allaah (اللَّهِ) artinya: Allah. Kata kalimaat (كَلِمَات) yang merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu kalimah (كَلِمَة). Dalam hal ini yang dimaksud dengan kalimat-kalimat Allah SWT SWT adalah firman, janji, ketetapan, dan hukum Allah.
Penggalan ayat ini menegaskan bahwa ketetapan dan janji Allah adalah sesuatu yang mutlak dan tidak mungkin berubah. Janji pertolongan Allah kepada para rasul pasti terjadi, tidak bisa diganti, diundur, atau dibatalkan oleh siapa pun.
Memang istilah kalimaatullah (كَلِمَاتِ اللَّهِ) dalam Al-Qur’an sering dipakai untuk menunjukkan janji, ketentuan, atau firman Allah, misalnya dalam QS. Yunus: 64 dengan redaksi yang hampir sama.
لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ
Hal ini menjadi penghiburan sekaligus penguatan iman, bahwa sekalipun jalan dakwah penuh ujian, janji Allah pasti berlaku dan tidak akan berubah.
وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ
Huruf wawu (وَ) artinya: dan, yang fungsinya menjadi penyambung dengan kalimat sebelumnya. Kata laqad (لَقَدْ) artinya: sungguh, terdiri dari huruf lam (لَ) yang fungsinya memberi penekanan dan qad (قد) sebagai huruf tahqiq yang jadi penegas atas suatu kepastian. Jadi mudahnya kita terjemahkan menjadi : “sungguh benar-benar”.
Kata jaa’a-ka (جَاءَكَ) asal katanya jaa’a (جاء) yang berarti datang atau tiba. Pelakunya adalah kata naba’ (نَبَإِ) yang artinya : berita. Objeknya adalah dhamir-ka (كَ) yang berarti engkau, yaitu Nabi Muhammad SAW.
Kata min (مِنْ) artinya: sebagian dari. Kata naba’i (نَبَإِ) artinya: berita. Dalam hal ini maksudnya adalah kisah-kisah yang mengharu biru para rasul utusan Allah yang pernah diutus ke tengah umat manusia. Kata al-mursaliin (ٱلْمُرْسَلِينَ) artinya: para rasul. Ia adalah bentuk jamak dari mursal (مُرْسَل) yang berarti utusan.
Penggalan ini menutup rangkaian ayat dengan menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW sudah mendapatkan berita tentang para rasul sebelumnya. Berita ini berisi kisah perjuangan, penolakan, ujian kesabaran, dan akhirnya pertolongan Allah yang diberikan kepada mereka.
Hal itu berfungsi sebagai penghiburan sekaligus penguatan bagi Nabi Muhammad SAW agar beliau tetap sabar dan tabah, karena jalan dakwah beliau sejajar dengan jalan dakwah para rasul sebelumnya.