Kemenag RI 2019:Hanya orang-orang yang menyimak (ayat-ayat Allah) sajalah yang mematuhi (seruan-Nya). Adapun orang-orang yang mati ) kelak akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya mereka dikembalikan. Prof. Quraish Shihab:Sesungguhnya hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang memperkenankan (seruan Allah swt.) dengan sungguh-sungguh, sedangkan orang-orang yang mati akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian hanya kepada-Nya mereka akan dikembalikan. Prof. HAMKA:Hanya saja yang mau menyahut ialah orang-orang yang mendengar. Sedang orang-orang yang mati itu akan dibangkitkan mereka oleh Allah. Kemudian itu kepada-Nyalah mereka akan dikembalikan.
Ayat ke-36 dari surat Al-An’am ini menegaskan bahwa yang biasanya menerima dakwah Nabi SAW hanyalah mereka yang mau mendengar isi dakwah itu. Apapun penolakan dakwah, umumnya disebabkan karena mereka tidak pernah mendengar langsung isi dan kontens dakwah. Boleh jadi mereka hanya mendengar dari sumber lain yang belum tentu benar.
Orang yang tidak sempat mendengar langsung dakwah itu diibaratkan seperti orang yang mati, walaupun boleh jadi secara fisik mereka masih hidup.
Uniknya meski orang mati di ayat ini awalnya hanya metafora saja, namun ujung akhirnya malah jadi orang mati dalam arti sesugguhnya. Terbukti bahwa di bagian akhir ayat, Allah SWT malah menyebutkan bahwa mereka yang mati itu nantinya juga akan dibangkitkan di akhirat dan hidup kembali.
إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ
Kata innama (إِنَّمَا) artinya: sesungguhnya hanyalah. Ini adalah gabungan dari huruf inna (إنَّ) dan huruf ma(ما). Secara asal kata inna (إنَّ) berarti “sesungguhnya” dan digunakan untuk menguatkan pernyataan. Sedangkan tambahanhuruf ma(ما) menjadikannya pembatas eksklusif. sehingga keduanya kalau digabungkan maknanya menjadi : “hanya inilah dan tidak selainnya”.
Dalam konteks ayat ini kata innama (إِنَّمَا) berfungsi untuk menegaskan bahwa yang benar-benar akan merespons hanyalah golongan tertentu, bukan semua orang.
Kata yastajiibu (يَسْتَجِيبُ) artinya: akan menjawab, merespons, atau menyambut. Kata ini sebenarnya merupakankata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’ dari wazan (استفعل – يستفعل - استفعالا) yang menunjukkan bahwa ada orang-orang yang bersedia memberikan tanggapan terhadap seruan kebenaran, yaitu dalam hal ini adalah menerima dakwah Nabi Muhammad SAW.
Kata alladziina (الَّذِينَ) artinya: orang-orang yang. Kata yasma’uuna (يَسْمَعُونَ) artinya : mereka mendengar.
Ada banyak penafsiran para ulama terkait apa maksud dan tujuan ayat ini. Dari sekian banyak penafsiran itu, Penulis cenderung kepada salah satunya, yaitu bahwa ayat ini bicara tentang arahan dari Allah SWT tentang bagaimana tehnik berdakwah.
Allah SWT menegaskan bahwa yang umumnya mereka yang mau menerima dakwah dan seruan kebenaran hanyalah mereka yang mau mendengar. Setidaknya jika memang nanti tidak mau terima dakwah, minimal sudah dengar. Maka ayat ini lebih fokus bahwa kerja Nabi SAW adalah bicara, dialog, diskusi, dan tukar fikiran dengan objek dakwah.
Dan memang begitulah tehnik yang berhasil membawa sukses Nabi SAW dalam berdakwah. Beliau SAW menjamin tidak akan memaksa atau menuntut orang untuk jadi pengikut atau baca syahadat. Yang Beliau pinta cukup dengarkan dulu saja, tapi langsung dari sumber aslinya biar tidak bias atau salah dalam memahami.
Kepada para kafilah dagang dan juga jamaah haji dari berbagai penjuru negeri Arab, Nabi SAW rajin menyapa mereka. Sebagai penduduk asli Mekkah yang punya tanah, Beliau SAW dan para shahabat aktif mampir ke tenda-tenda mereka, berbagai makanan dan minuman, atau kita menyebutnya menyambut dengan semacam welcome drink, menyapa dan mengajak bincang-bincang.
Dengan cara itu mereka jadi punya akses kepada sumber informasi A1 yang paling valid. Bahkan mereka bisa langsung diskusi dan tanya jawab langsung dengan Nabi SAW.
وَالْمَوْتَىٰ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ
Kata wal-mauta (وَالْمَوْتَى) artinya: dan orang-orang mati. Huruf wa di awal adalah harfu 'athf yang berfungsi menghubungkan kalimat sebelumnya. Sedangkan kata al-mauta sendiri adalah bentuk jamak dari kata mayyit yang berarti orang mati.
Secara gramatikal ia berposisi sebagai ma’thuf terhadap kata sebelumnya, dan secara makna ia menunjukkan kelompok yang berlawanan dengan kata yasma’uuna (yang mendengar), karena orang mati tidak bisa mendengar. Pemilihan kata ini untuk menegaskan ketidakmampuan orang-orang kafir yang menutup hati, disamakan dengan orang mati.
Ibnul Jauzi dalam tafsirnya Zadul Masir fi Ilmi At-Tafsir[1] menuliskan bahwa ada dua pendapat terkait dengan al-mauta (الْمَوْتَىٰ) disini:
Pertama, bahwa yang dimaksud dengan al-mauta (الْمَوْتَىٰ) bahasa ungkapan terkait orang-orang kafir. Karena mereka itu mati hatinya, meski secara biologis mereka hidup. Hal itu dikatakan oleh Al-Hasan, Mujahid, dan Qatadah. Maka maknanya ialah: sesungguhnya yang mau menyambut (seruan) hanyalah orang-orang beriman; adapun orang-orang kafir, mereka tidak akan menyambut hingga Allah membangkitkan mereka, lalu Allah mengumpulkan mereka dalam keadaan kafir, maka saat itu mereka menjawab dengan terpaksa.
Kedua, bahwa yang dimaksud dengan al-mauta (الْمَوْتَىٰ) adalah memang orang-orang yang sudah mati secara hakiki. Allah menjadikan mereka sebagai perumpamaan; dan maknanya ialah: orang-orang mati tidak akan menyambut hingga Allah membangkitkan mereka, demikian pula halnya dengan orang-orang yang tidak mau mendengar.
Kata yab’atsu-hum (يَبْعَثُهُمُ) artinya: Dia yaitu Allah SWT akan membangkitkan mereka. Kata (يبعث) ini adalah fi’il mudhari’ dari akar kata ba’atsa yang berarti mengutus, membangkitkan, menggerakkan. Bentuk yab’atsu berarti “membangkitkan”, sedangkan tambahan dhamir hum di akhirnya adalah dhamir muttashil yaitu kata ganti yang melekat bermakna “mereka”. Fungsinya sebagai maf’ul bih pertama dari fi’il tersebut. Penggunaan kata ini karena konteksnya berbicara tentang kebangkitan di akhirat, di mana Allah akan membangkitkan orang-orang mati untuk dihisab.
Kata Allah (اللَّهُ) artinya: Allah. Ini adalah lafzhul jalalah khusus terkait nama dan lafazh Allah SWT. Dialah yang berkuasa penuh untuk membangkitkan manusia setelah kematian.
Penggalan ayat ini menegaskan bahwa orang-orang mati tidak bisa mendengar atau merespons, tetapi Allah-lah yang akan membangkitkan mereka pada hari kiamat. Konteksnya menyambung dari penggalan sebelumnya, yaitu hanya orang-orang yang benar-benar mau mendengar yang bisa merespons dakwah, sedangkan orang-orang yang keras hati diibaratkan seperti orang mati yang baru bisa bangkit ketika Allah membangkitkan mereka di akhirat.
Kata tsumma (ثُمَّ) artinya: kemudianm yang merupakan harfu ‘athf yang menunjukkan urutan waktu dengan jarak, berbeda dengan fa yang menunjukkan cepat. Kata ilaihi (إِلَيْهِ) artinya: kepada-Nya. Huruf ila (إلى) itu harfu jar yang bermakna menuju atau ke arah, sedangkan dhamirhi (ـهِ) di ujungnya berarti “Dia”, merujuk kepada Allah.
Kata yurja’uun (يُرْجَعُونَ) artinya: mereka akan dikembalikan. Kata kerja ini adalah fi’il mudhari’ majhul yaitu kata kerja sedang atau akan dalam bentuk pasif. Asalnya dari akar kata (رَجَعَ - يَرْجِعُ). Karena berbentuk majhul alias pasif maka artinya menjadi dikembalikan dan bukan kembali sendiri. Setelah Allah membangkitkan orang-orang mati, mereka tidak akan dibiarkan begitu saja, tetapi pasti akan dikembalikan kepada Allah untuk dihisab dan diberi balasan.