Kata wa-qaluu (وَقَالُوا) artinya: dan mereka berkata. Wa adalah harfu 'athf alias yang menyambungkan dengan ayat sebelumnya. Kata qaluu adalah fi’il madhi yang secara makna menunjukkan ucapan kaum musyrikin yang penuh keberatan terhadap Nabi SAW.
Kata laula (لَوْلَا) artinya: mengapa tidak atau seandainya saja. Huruf ini disebut harfu tahdhir wa tahdid yaitu huruf yang menunjukkan celaan atau penantangan. Fungsinya untuk mengungkapkan sikap menolak dengan nada menyalahkan: ”mengapa tidak terjadi begini, padahal seharusnya begitu”. Dalam ayat ini, orang kafir mencela: mengapa tidak diturunkan ayat dalam bentuk mukjizat, yaitu berbagai macam atraksi heboh dan ajaib pada diri Nabi SAW.
Kata nuzzila (نُزِّلَ) artinya: telah diturunkan. Ia adalah fi’il madhi majhul yaitu kata kerja lampau bentuk pasif dari kata nazzala yang berarti menurunkan. Bentuk majhul membuat makna menjadi “diturunkan” bukan “menurunkan”. Fungsinya di sini untuk menunjukkan objek yang diharapkan orang kafir, yakni mukjizat yang diturunkan kepada Nabi SAW. Kata ‘alaihi (عَلَيْهِ) artinya: atasnya atau kepadanya. Huruf ‘ala (على) adalah harf jar, sedangkan dhamir hi (ـهِ) berarti “dia” dan yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW.
Kata ayatun (آيَةٌ) artinya: tanda, bukti, atau isyarat yang menunjukkan sesuatu. Orang kafir menuntut agar diberikan tanda khusus selain Al-Qur’an, yaitu mukjizat yang berupa show dan penampakan yang luar biasa dan menyalahi kebiasaan. Kata min (مِنْ) artinya: dari. Kata rabbihi (رَبِّهِ) artinya: Tuhannya.
Meski bangsa Arab tidak terlalu banyak mengenal para nabi dan rasul, namun kisah-kisah tentang para nabi Bani Israil yang punya banyak mukjizat sudah seringkali mereka dengar. Oleh karena itulah mereka minta ditunjukkan mukjizat sebagaimana yang pernah mereka dengar dari para ahli kitab.
Nabi Musa alaihissalam dianugerahi banyak mukjizat. Tongkatnya berubah menjadi ular besar sebagaimana Allah berfirman:
وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ
Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya yang mereka perbuat hanyalah tipu daya tukang sihir. Dan tidak akan menang tukang sihir dari mana saja ia datang.” (QS. Thaha: 69)
Dengan tongkat yang sama, lautan pun terbelah ketika dipukulkan oleh Musa. Allah menegaskan:
فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah laut dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah ia, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS. Asy-Syu’ara: 63)
Bahkan dari batu pun memancar dua belas mata air ketika Musa alaihissalam memukulkannya dengan tongkat, sebagai jawaban atas permintaan Bani Israil. Allah berfirman:
وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا
Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Maka memancarlah darinya dua belas mata air.” (QS. Al-Baqarah: 60)
Nabi Isa alaihissalam juga diberikan banyak mukjizat. Ketika masih bayi, beliau sudah berbicara membela ibunya, Maryam:
قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا
Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Kitab dan menjadikanku seorang Nabi.” (QS. Maryam: 30)
Saat dewasa, Nabi Isa alaihissalam membuat burung-burungan dari tanah lempung yang ketika ditiup tiba-tiba berubah jadi burung betulan. Bisa juga menyembuhkan orang buta sejak lahir, orang sakit lepra bahkan bisa menghidupkan orang mati.
أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ
Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah. (QS. Ali Imran : 49)
Nabi Ibrahim alaihissalam dilemparkan ke dalam api, Allah menyelamatkannya dengan menjadikan api itu dingin:
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
Kami berfirman: Wahai api, jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya: 69)
Nabi Ismail alaihissalam diuji dengan perintah penyembelihan, namun Allah menggantikannya dengan sembelihan besar sebagai mukjizat dan pertolongan-Nya.
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)
Nabi Shalih alaihissalam diberi mukjizat berupa seekor unta betina yang keluar dari batu besar. Allah berfirman:
وَيَا قَوْمِ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيبٌ
Dan wahai kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai tanda bagi kalian. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian mengganggunya, (jika tidak) kalian akan ditimpa azab yang dekat.” (QS. Hud: 64)
Nabi Yunus alaihissalam ditelan ikan besar, lalu berdoa dalam kegelapan:
فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Maka ia berdoa dalam kegelapan: Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)
Nabi Dawud alaihissalam dianugerahi kemampuan untuk melunakkan besi sehingga mampu menciptakan banyak perkakas dari logam, termasuk baju besi yang bisa digunakan untuk berperang.
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
Dan Kami lembutkan besi untuknya.” (QS. Saba’: 10)
Putranya, Nabi Sulaiman alaihissalam diberi kemampuan memahami bahasa binatang:
وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ
Dan Sulaiman mewarisi Daud dan dia berkata: Wahai manusia, kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. (QS. An-Naml: 16)
Nabi Nuh alaihissalam diselamatkan Allah dengan bahtera ketika banjir besar datang:
فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ
Maka Kami selamatkan dia (Nuh) dan orang-orang yang bersama dalam kapal, dan Kami jadikan kapal itu sebagai tanda bagi semua manusia.” (QS. Al-‘Ankabut: 15)
Nabi Zakariya alaihissalam diberi kabar gembira akan lahirnya anak meski beliau tua dan istrinya mandul:
فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ...
Maka malaikat menyerunya ketika ia berdiri berdoa di mihrab: Sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan kelahiran Yahya...” (QS. Ali Imran: 39)
Kata walaakinna (وَلَٰكِنَّ) merupakan harfu ‘athf yang berfungsi menyambungkan penggalan ini. Kata laakinna disebut dengan huruf istidrak yaitu kata yang berfungsi mengecualikan atau mengoreksi pemahaman sebelumnya. Fungsinya untuk menunjukkan kontras, meskipun Allah Mahakuasa menurunkan tanda, tetapi kenyataannya berbeda dengan harapan mereka.
Kata aktsarahum (أَكْثَرَهُمْ) artinya: kebanyakan dari mereka. Kata aktsar adalah isim tafdhiil yaitu kata perbandingan dari kata katsiir yang artinya : banyak, sedangkan dhamir hum berarti mereka, yakni kaum musyrikin yang menentang Nabi SAW. Secara gramatikal ia menjadi isim dari laakinna.
Kata laa (لَا) artinya: tidak, yang merupakan harfu nafi atau kata penafian yang berfungsi meniadakan perbuatan setelahnya. Kata ya’lamuun (يَعْلَمُونَ) artinya: mereka mengetahui.
Penggalan ayat ini menegaskan bahwa meskipun Allah berkuasa penuh untuk menurunkan mukjizat, namun kebanyakan orang kafir tidak mengetahui atau tidak memahami hikmah di baliknya.
Hikmah di Balik Sepinya Mukjizat
Lalu kira-kira apa hikmah di balik sepinya mukjizat pada diri Nabi SAW, dibandingkan dengan mukjizat yang Allah SWT anugerahkan keada para nabi sebelumnya?
Kita sepakati dulu bahwa Nabi Muhammad SAW itu bukan tidak punya mukjizat. Beliau diberi mukjizat, namun jenis dan genrenya tidak seperti yang umumnya kita kenal. Mukjizat para nabi terdahulu itu memang terlihat sangat atraktif, bisa menampilkan performa pertunjukan dengan berbagai kejadian aneh yang tidak masuk akal.
Namun mari kita diskusikan, seberapa besar pengaruh mukjizat yang atraktif itu dengan tingkat penerimaan dakwah suatu kaum? Untuk Nabi Musa yang bisa mengubah tongkat jadi ular besar di hadapan para penyihir, memang otomatis mereka langsung pindah agama dan ikut jadi umat Nabi Musa. Tetapi bagaimana dengan Fir’aun dan rakyat Mesir kebanyakan? Apakah mereka juga tiba-tiba jadi ikut beriman? Ternyata tidak juga. Semakin banyak pertunjukan mukjizat ditampilkan, ternyata tingkat penerimaan mereka terhadap dakwah Nabi Musa tidak signifikan.