Kemenag RI 2019:Tidak! Hanya kepada-Nya kamu menyeru. Maka, jika Dia menghendaki, Dia hilangkan apa (bahaya dan siksa) yang (karenanya) kamu memohon kepada-Nya, dan (karena dahsyatnya keadaan) kamu tinggalkan apa yang kamu persekutukan (dengan Allah). Prof. Quraish Shihab:Tidak! Tetapi hanya Dia-lah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan apa (bahaya dan siksa) yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya jika Dia menghendaki. Dan (karena dahsyatnya bahaya dan mencekamnya keadaan) kamu lupakan apa (sembahan-sembahan) yang kamu sekutukan (dengan Allah swt.). Prof. HAMKA:Bahkan, Dialah yang kamu seru maka Dialah yang akan melepaskan apa yang kamu mohonkan kepada-Nya itu, jika Dia kehendaki dan akan lupakan kamu kepada apa yang kamu persekutukan itu.
Ayat ke-41 dari surat Al-An’am ini kembali menegaskan bahwa dalam keadaan genting atau terjepit, manusia akan kembali hanya kepada Allah. Semua sekutu atau sesembahan selain-Nya yang biasanya mereka agungkan menjadi sirna dari ingatan dan tidak bisa memberikan pertolongan. Ayat ini menggambarkan fitrah manusia yang pada akhirnya sadar siapa sesungguhnya tempat meminta pertolongan.
Selain itu ditegaskan juga bahwa Allah yang benar-benar mampu menghilangkan bahaya dan musibah. Manusia mungkin masih mengandalkan makhluk atau benda lain dalam keseharian, tetapi ketika menghadapi keadaan yang tak tertolong, mereka terpaksa menyadari ketidakberdayaan semua itu.
بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ
Huruf bal (بَلْ) adalah harfu idhrab atau huruf pemalingan, artinya bahkan. Fungsinya mengalihkan dari perkataan sebelumnya menuju makna yang lebih benar atau lebih utama. Dalam ayat ini, denganmenyebut bal, Allah SWT hendak menolak anggapan bahwa mereka akan menyeru selain Allah. Kenyataan bahwa yang mereka seru justru hanyalah Allah semata.
Kata iyyaahu (إِيَّاهُ) artinya: hanya Dia. Kata ini sebenarnya merupakan dhamir atau kata ganti yang berkedudukan sebagai objek atau maf’ul bih dari fi’il setelahnya. Secara khusus, bentuk iyya (إِيًّا) digunakan untuk menunjukkan pengkhususan, sedangkan dhamir-humerujuk kepada Allah SWT, sehingga artinya: hanya kepada-Nya, maksudnya hanya kepada Allah saja.
Susunan iyyaahu (إِيَّاهُ) agak unik, yaitu didahulukan penyebutannya, sehingga menjadi maf’ul bih muqaddam. Struktur ini memberi makna pembatasan atau al-hashr, sehingga maknanya menjadi : “hanya Dia (Allah) sajalah yang kalian seru.”
Struktur serupa ini juga muncul dalam kalimat terkenal (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) dalam Surah Al-Fatihah ayat 5, yang menunjukkan eksklusivitas ibadah dan doa hanya kepada Allah.
Kata tad’uuna (تَدْعُونَ) artinya: kamu menyeru, memohon.memanggil, atau berdoa. Digunakan kata ini dalam ayat ini untuk menekankan bahwa ketika dalam keadaan genting, mereka tidak lagi berpaling pada selain Allah, melainkan hanya berdoa kepada-Nya.
Secara keseluruhan, penggalan ini menegaskan realitas psikologis dan spiritual manusia. Dalam kondisi darurat, insting fitrah mereka mendorong untuk menyeru hanya kepada Allah. Ayat ini merupakan kelanjutan dari pertanyaan retoris pada ayat sebelumnya, sebagai jawaban langsung bahwa tidak mungkin mereka menyeru selain Allah.
فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ
Kata fa-yaksyifu (فَيَكْشِفُ) artinya : maka dia hilangkan. Kata ini diawali dengan huruf fa(فَ) artinya: maka, salah satu dari harfu ‘athf yang menunjukkan konsekuensi atau urutan dari sesuatu yang terjadi sebelumnya. Kata yaksyifu (يَكْشِفُ) artinya: Dia menyingkap atau Dia menghilangkan, yang merupakan fi’il mudhari’. Pelakunya adalah Allah.
Walaupun kata ini berarti membuka atau menyingkap sesuatu yang tertutup, namun dalam konteks ayat ini bermakna Allah mengangkat kesulitan atau azab.
Kata maa tad’una (مَا تَدْعُونَ) artinya : apa yang kamu serukan. Kata ma (مَا) artinya: apa atau sesuatu, merupakan isim maushul yang berfungsi sebagai objek dari kata kerja sebelumnya, menunjukkan sesuatu yang diminta untuk dihilangkan. Kata tad’uuna (تَدْعُونَ) artinya: kalian menyeru atau kalian berdoa. Kata ini adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’ yang menunjukkan bahwa kaum musyrikin itu berdoa dan memohon dalam keadaan terjepit. Kata ilaihi (إِلَيْهِ) artinya: kepadanya.
Kata in syaa’a (إِنْ شَاءَ) artinya : jika Dia menghendaki. Maksudnya penghilangan dosa itu bisa saja Allah SWT lakukan jika memang Allah SWT menghendaki.
Secara keseluruhan, penggalan ayat ini menggambarkan bahwa ketika manusia berada dalam kesulitan, mereka menyeru Allah agar mengangkat bencana yang menimpa mereka. Namun, meskipun doa itu dipanjatkan, Allah menegaskan bahwa hanya dengan kehendak-Nya sajalah azab itu bisa dihilangkan.
Kata yaksyifu dalam arti menghilangkan juga muncul di beberapa ayat lain, misalnya dalam ayat berikut ini :
Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. (QS. Yunus : 107)
وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ
Huruf wawu (وَ) artinya: dan, yang merupakan harfu ‘athf, berfungsi untuk menyambungkan penggalan ini dengan penggalan sebelumnya dan menunjukkan kelanjutan makna bahwa setelah Allah menyingkap kesusahan, maka sesuatu terjadi, yaitu mereka melupakan sekutu-sekutu mereka.
Kata tansauuna (تَنْسَوْنَ) artinya: kamu melupakan. Kata ini adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’, asalnya dari (نَسِيَ - يَنْسَى) yang berarti meninggalkan sesuatu dari ingatan. Kata ini dipakai disini untuk menunjukkan bahwa mereka lupa dan mengabaikan tuhan lain yang pernah mereka sembah selain Allah.
Kata maa tusyrikun (مَا تُشْرِكُونَ) artinya : apa yang kamu sekutukan. Terdiri dari maa (مَا) artinya: apa, yang merupakan ism maushul, fungsinya sebagai objek dari kata kerja sebelumnya. Kata tusyrikuuna (تُشْرِكُونَ) artinya: kamu sekutukan. Kata ini adalah fi’il mudhari’ yang berasal dari akar (أشْرَكَ - يُشْرِكُ) yang bermakna : menggandakan, atau menjadikan tandingan, atau mengadakan sekutu.
Secara umum, rangkaian ayat ini menggambarkan keadaan orang-orang musyrik nanti di akhirat. Ternyata karena siksa yang amat pedih, mereka melupakan semua tuhan lain selain Allah yang biasanya mereka agung-agungkan. Dalam kondisi genting, terbukti bahwa sesembahan itu tidak berguna, dan hanya Allah yang diingat serta dimohon pertolongan.
Jadi kalau kita bisa sedikit meminjam logika mereka yang menyekutukan Allah SWT dengan juga menyembah berbagai berhala, kira-kira begini : Sebenarnya mereka itu menyembah Allah SWT. Mereka mengakui bahwa yang jadi Tuhan sebenarnya itu adalah Allah SWT. Lalu kenapa mereka menyembah juga berhala-berhala yang sebenarnya hanya batu yang tidak bisa bicara?
Logika mereka adalah bahwa di dalam batu-batu yang disebut berhala ini bersemayam ruh para orang suci yang punya kedudukan dekat dengan Allah SWT. Nalar bodoh mereka kemudian mengajarkan mereka bahwa dengan ikut kita sembah ruh dari orang-orang suci itu, maka kita pun akan ketularan dari dekat kepada Allah SWT.
Jadi sembari mereka menyembah Allah SWT, disambi juga dengan menyembah batu-batu yang mereka anggap bisa mendekatkan mereka kepada Allah SWT. Begitulah Allah SWT menceritakan nalar sesat mereka dalam Al-Quran.
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya" (QS. Az-Zumar : 3)