Kemenag RI 2019:Sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, (tetapi mereka membangkang,) kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar tunduk merendahkan diri (kepada Allah). Prof. Quraish Shihab:Dan demi (keagungan dan kekuasaan Kami)! Sungguh, Kami telah mengutus kepada umat-umat sebelum engkau (Nabi Muhammad saw.), tetapi mereka membangkang. Maka Kami siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan supaya mereka tunduk merendahkan diri. Prof. HAMKA:Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (beberapa) umat-umat sebelum engkau (Nabi Muhammad saw.), kemudian Kami timpakan kepada mereka kesengsaraan dan penderitaan agar mereka tunduk dengan merendahkan diri (kepada Allah).
Ayat ke-42 dari surat Al-An’am ini menjelaskan bahwa sebenarnya Allah SWT sudah berulang kali mengutus para rasul kepada umat-umat terdahulu. Namun mereka tidak mengimaninya tapi justru padamembangkang dan menolak kebenaran.
Oleh karena itu sebagai peringatan, Allah menimpakan kesulitan dan penderitaan hidup kepada mereka, agar hati mereka luluh, sadar, lalu kembali tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ
Kata wa-laqad (وَلَقَدْ) diterjemahkan berbeda-beda. Kemenag RI 2019 menerjemahkannya menjadi : “sungguh”. Lalu Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : “Dan demi (keagungan dan kekuasaan Kami). Sungguh”. Kemudian Buya HAMKA menerjemahkannya : “dan sesungguhnya”.
Rinciannya mulai dari huruf wa (وَ) yang berarti : dan, merupakan harfu ‘athf yang menghubungkan kalimat ini dengan kalimat sebelumnya. Kata laqad (لَقَدْ) artinya: sungguh, yang terdiri dari huruf lam (لَ) sebagai lam taukid yang sifatnya jadi penegas. Sedangkan makna qad (قَدْ) juga memberi makna kepastian juga, perbuatan yang disebut setelahnya benar-benar telah terjadi.
Kata arsalna (أَرْسَلْنَا) artinya: Kami telah mengutus. Kami yang dimaksud adalah Allah SWT. Kata ilaa (إِلَىٰ) artinya: kepada, yang merupakan harfu jarr. Kata umamin (أُمَمٍ) adalah bentuk jamak dari kata ummat, sehingga artinya menjadi: berbagai umat yang banyak. Kata minqablika (مِنْ قَبْلِكَ) artinya: sebelum kamu, maksudnya sebelum era diutusnya Nabi Muhammad SAW.
فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ
Al-Wahidi dalam tafsirnya Tafsir Al-Basith[1]mengatakan secara struktur bahasa bahwa pada penggalan ayat ini sebenarnya ada beberapa bagian yang dimahdzuf alias dihilangkan. Lengkapnya jika belum dihilangkan adalah sebagai berikut :
Dan sungguh Kami telah mengutus kepada umat-umat sebelum engkau, (para rasul lalu mereka membangkang), maka Kami siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan.
Tambahannya adalah para rasul yang kemudian mereka diingkari, didustakan, dimusuhi bahkan banyak juga yang malah diperangi dan dibunuh. Memang apa yang dihilangkan ini tidak dinampakkan dalam teks, namun secara logika bahasa, kita bisa merasakan ada maknanya disitu.
Kata fa-akhadzna-hum (فَأَخَذْنَاهُمْ) secara harfiyah artinya : maka Kami ambil mereka. Asalnya memang dari kata (أَخَذَ - يَأْخُذُ) yang artinya mengambil. Namun karena terkait dengan kata al-ba’sa’ (الْبَأْسَاءِ) :kemelaratan, dan adh-dharra’ (الضَّرَّاءِ) : kesengsaraan, maka maknanya akan mengikuti konteksnya sehingga menjadi : menimpakan.
Uniknya tiga sumber terjemahan kita malah tidak kompak ketika menerjemahkan kedua istilah itu. Penulis coba buatkan dalam format tabel berikut ini :
VERSI
البَأْسآء
الضَرَّاءُ
Kemenag RI 2019
Kemelaratan
Kesengsaraan
Quraish Shihab
Kesengsaraan
Kemelaratan
HAMKA
Kesengsaraan
Penderitaan
Ibnu Abbas berkata bahwa yang dimaksud dengan al-ba’sa’ (الْبَأْسَاءِ) adalah kefakiran, sedangkan adh-dharra’ (الضَّرَّاءِ) : adalah berbagai penyakit. Al-Hasan berkata bahwa yang dimaksud dengan al-ba’sa’ (الْبَأْسَاءِ) adalah kefakiran yang sangat, sedangkan adh-dharra’ (الضَّرَّاءِ) : adalah penyakit dan rasa sakit.
[1] Al-Wahidi (w. 468 H), Tafsir Al-Basith, (Riyadh, Jamiah Al-Imam Muhammad bin Suud Al-Islamiyah, Cet. 1, 1430 H))
لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ
Kata la’alla-hum (لَعَلَّهُمْ) artinya : agar mereka, atau supaya mereka. Az-Zajjaj mengatakan bahwa kata la‘alla itu adalah berharap, namun pengharapan ini diarahkan untuk hamba dan bukan untuk Allah.
Kata yatadharra’un (يَتَضَرَّعُونَ) artinya : tunduk merendahkan diri, yaitu merendahkan diri kepada Allah. Kata asalnya dari dlaru‘ yang bermakna rendah, tunduk, atau hancur. Kata ini dipakai di sini untuk menggambarkan sikap ketika ditimpa azab, yaitu merendahkan diri di hadapan Allah.
Allah SWT menimpakan mereka al-ba’sa’ dan adh-dharra’ agar mereka mau merendahkan diri alias tadlarru‘.