Kata fa-laula (فَلَوْلَا) tidak satupun dari tiga sumber terjemahan yang biasa kita gunakan yang menerjemahkannya secara harfiyah, tetapi sudah diubah menjadi bagian dari kalimat.
Sebenarnya masih bisa diurai. Huruf fa (فَ) artinya: maka, yang merupakan harfu ‘athf yang menghubungkan dengan kata atau kalimat sebelumnya dan berkonsekuensi urutan. Kemudian kata laulaa (لَوْلَا) artinya : mengapa tidak. Disebut dengan harfu tahdid, yaitu huruf yang mendorong atau menegur atas sesuatu yang seharusnya dilakukan namun ternyata malah ditinggalkan.
Kata idz (إِذْ) artinya: ketika, merupakan zharf zaman atau keterangan waktu, yang menunjukkan waktu tertentu, yaitu waktu saat datangnya siksa. Kata ini dipakai untuk membatasi situasi peristiwa yang dimaksud dalam ayat.
Kata jaa’ahum (جَاءَهُمْ) artinya: telah mendatangi mereka, menunjuk kepada kaum yang didatangi azab. Kata ini digunakan untuk menggambarkan kedatangan azab sebagai sesuatu yang nyata dan langsung menimpa.
Kata ba’sunaa (بَأْسُنَا) sudah disinggung di atas, yaitu : kemelaratan, kesengsaraan, atau termasuk juga kefakiran, yang disandarkan dengan dhamir naa (نَا) yang berarti Kami, yang merujuk kepada Allah.
Kata tadlarra’uu (تَضَرَّعُوا) sebagaimana juga sudah disebutkan pada penjelasan ayat sebelumnya, artinya: mereka merendahkan diri kepada Allah SWT. Ayat ini ingin menunjukkan bahwa tujuan Allah menurunkan azab dunia adalah agar manusia kembali kepada-Nya dengan penuh ketundukan, bukan semakin keras kepala.
Kata walakin (وَلَٰكِنْ) diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab menjadi : bahkan, sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya : bahkan.
Kata laakin (لَكِنْ) sendiri merupakan harfu istidraak, yaitu huruf yang berfungsi menyanggah atau mengecualikan keadaan yang seharusnya. Makna asalnya adalah menghapus dugaan sebelumnya dengan menyatakan hal yang berlawanan.
Kata qasat (قَسَتْ) artinya: telah menjadi keras. Asalnya merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi dari akar kata qasuwah yang bermakna keras, kaku, tidak bisa dilunakkan. Yang dimaksud tidak lain adalah keadaan hati mereka yang mengeras dan membatu, lantaran tidak tersentuh oleh nasihat maupun peringatan.
Kata quluubu-hum (قُلُوبُهُمْ) artinya: hati-hati mereka. Bentuk tunggalnya adalah qalb (قلب) Dihubungkan dengan dhamir hum (هُمْ) yang berarti mereka, menunjuk kepada kaum yang kafir dan mendustakan.
Makna asal qalb adalah sesuatu yang berbolak-balik, namun dalam konteks ini ia berarti pusat perasaan, iman, dan kesadaran.
Penggalan ini menjelaskan bahwa bukannya mereka merendahkan diri saat azab datang, malah hati mereka justru membatu dan menjadi keras.
Huruf wa (وَ) artinya: dan, merupakan harfu 'athf yang menyambungkan penggalan ini dengan penggalan sebelumnya serta menambahkan keterangan tentang sebab mereka tidak tunduk.
Kata zayyana (زَيَّنَ) artinya: telah menghiasi, merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi dari akar (ز ي ن) yang bermakna indah atau hiasan. Makna asalnya adalah menampakkan sesuatu seolah bagus padahal buruk. Dalam ayat ini menunjukkan perbuatan setan yang membuat maksiat tampak menarik.
Kata lahum (لَهُمُ) artinya: bagi mereka, yaitu bagi orang kafir. Kata asy-syaythaanu (الشَّيْطَانُ) artinya: setan, sebagai fa’il atau pelaku. Makna asalnya dari kata syathana (شَ طَ نَ) yang berarti jauh, maksudnya makhluk yang jauh dari rahmat Allah. Digunakan di sini untuk menunjukkan sumber godaan dan penyesatan.
Kata maa kaanuu (مَا كَانُوا) artinya : apa-apa yang dahulu. Kata ya’maluuna (يَعْمَلُونَ) artinya: mereka kerjakan, yaitu kejahatan dan dosa yang sudah jadi kebiasaan mereka, namun dijadikan tampak indah oleh setan.
Ayat ini melengkapi penjelasan sebelumnya, bahwa selain hati mereka keras, ada faktor eksternal yaitu setan yang menghiasi perbuatan buruk mereka sehingga tampak baik. Dengan begitu mereka semakin jauh dari kebenaran.
Tazyin
Dalam Al-Qur’an, kata zayyana (زَيَّنَ) atau tazyin yaitu menjadikan sesuatu tampak indah disebut dalam beberapa konteks yang berbeda. Kadang Allah menisbatkannya kepada setan, seperti firman-Nya:
وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Setan menjadikan indah bagi mereka apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-An‘am: 43)
Pada kesempatan lain, Allah menyandarkannya kepada diri-Nya sendiri, sebagaimana firman-Nya:
كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ
Demikianlah Kami jadikan indah bagi setiap umat perbuatan mereka. (QS. Al-An‘am: 108)
Di tempat lain, kata itu disandarkan kepada manusia, seperti firman Allah:
وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَـٰدِهِمْ شُرَكَآؤُهُمْ
Demikianlah sekutu-sekutu mereka memperindah bagi banyak orang musyrik perbuatan membunuh anak-anak mereka.” (QS. Al-An‘am: 137)
Ada pula ayat yang menyebutkan tazyīn tanpa menyebut siapa pelakunya, seperti firman-Nya:
زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Telah dijadikan indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 12)
Makna dari kata tazyin ini sendiri cukup beragam. Misalnya menjadikan sesuatu benar-benar indah pada hakikatnya.
إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ
Sesungguhnya Kami telah hiasi langit dunia dengan hiasan berupa bintang-bintang. (QS. Ash-Shaffat: 6)
Kadang menjadikan sesuatu tampak indah meski pada hakikatnya tidak, seperti perias yang menghiasi pengantin. Atau menjadikan sesuatu terasa indah dan disukai oleh jiwa, meskipun sejatinya ia bukan sesuatu yang indah.
Bila yang dimaksud penciptaan kecenderungan dalam jiwa untuk menyukai sesuatu, maka itu hanya disandarkan kepada Allah SWT. Tetapi bila maksudnya hanya sekadar tipuan, bujuk rayu, atau memperindah sesuatu dengan kata-kata sebagaimana bisikan dan godaan, maka hal itu disandarkan kepada manusia atau setan.