Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang (kepada mereka) tanda-tanda kekuasaan (Kami), tetapi mereka tetap berpaling. Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Nabi Muhammad saw.), "Terangkanlah kepadaku jika Allah mengambil pendengaran kamu dan penglihatan-penglihatan kamu serta mengunci mati hati kamu, siapakah Tuhan selain Allah (yang mengembalikannya kepada kamu)?" Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali menjelaskan tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Kami), kemudian mereka (tetap) berpaling. Prof. HAMKA:Katakanlah, “Bagaimana pikiran kamu jika dicabut Allah pendengaran kamu dan penglihatan kamu dan Dia materai hati kamu Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mengembalikannya kepada kamu?” Perhatikanlah, betapa Kami mengulang-ulang ayat-ayat itu. Kemudian itu, mereka pun berpaling juga.
Pada ayat sebelumnya Allah menggambarkan bagaimana kaum zalim dibinasakan hingga tidak tersisa sama sekali, maka pada ayat ke-46 dari surat Al-An’am ini Allah menegaskan bahwa manusia seharusnya mereka belajar dari kebinasaan itu dan sadar bahwa nikmat indra dan hati bisa dicabut kapan saja.
Jadi, kedua ayat ini saling melengkapi: satu menggambarkan akibat yang menimpa umat zalim, dan yang lain mengingatkan setiap individu agar tidak sombong dengan nikmat yang mereka miliki, karena semua itu sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah.
Ayat 46 dari surat Al-An‘am ini intinya mengingatkan manusia akan kelemahan dirinya di hadapan Allah. Pendengaran, penglihatan, dan hati adalah nikmat besar yang menjadi alat untuk menerima kebenaran. Jika Allah mencabut ketiga hal itu, maka tidak ada satu pun tuhan selain Dia yang mampu mengembalikannya. Ini menegaskan bahwa kekuasaan Allah bersifat mutlak, sementara manusia sangat bergantung pada-Nya.
قُلْ أَرَأَيْتُمْ
Kataqul (قُلْ) artinya: katakanlah, merupakan fi’il amr atau perintah untuk berkata kepada Nabi Muhammad SAW. Yang memerintahkan adalah Allah SWT langsung dalam konteks menjawab dialog dengan orang-orang kafir dan ingkar kepadanya.
Kataa-ra’ai-tum (أَرَأَيْتُمْ) artinya : apakah kamu melihat, atau dengan kata lain juga bisa dimaknai : bagaimana pendapat kalian. Kalau dalam bahasa kita sehar-hari, mungkin bisa kita redaksikan kira-kira menjadi begini : “coba anda bayangkan sendiri”.
Tentu ini bukan sekedar pertanyaan, melainkan ajakan untuk merenung demi untuk menggugah kesadaran, bahkan mengajak untuk berpikir positif dan konstruktif.
إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ
Katain-akhadza (إِنْ أَخَذَ) terdiri dari huruf in (إِنْ) yang artinya: jika, yang merupakan harfu syarth alias kata penghubung bersyarat yang menunjukkan pengandaian. Terjemahnya adalah : jika atau seandainya. Kata akhadza (أَخَذَ) sendiri secara harfiyah berarti mengambil, namun dalam konteks ini maknanya lebih tepat menjadi : mencabut, menyita atau menghilangkan. Kataalloohu (اللَّهُ) artinya: Allah.
Kata sam‘a-kum (سَمْعَكُمْ) artinya: pendengaran kalian. Maksudnya seluruh indera pendengaran orang-orang yang diajak bicara dihilangkan atau dicabut. Huruf wa (وَ) artinya: dan, yang merupakan harfu ‘athf yaitu kata penghubung yang menggabungkan antara dua objek, antara pendengaran dan penglihatan.
Kata abshara-kum (أَبْصَارَكُمْ) artinya: penglihatan-penglihatan kalian. Kata ini sebenarnya bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu bashar (بَصَر) yang berarti berbagai bentuk penglihatan.
Yang menarik disini adanya pola ketika bicara terkait penglihatan, Al-Quran selalu menggunaan bentuk jamak. Sedangkan jika terkait dengan pendengaran, tidak digunakan bentuk jamak. Meski tidak terlalu penting, namun fakta ini cukup menggelitik juga. Ada rasa penasaran kenapa begitu.
Ada sebuah analisa bahwa melihat itu berbeda dengan mendengar. Penglihatan itu terpecah-pecah. Setiap mata individu menangkap objek berbeda: satu orang melihat ke arah timur, yang lain ke barat; bahkan satu orang sendiri bisa melihat ke banyak arah dan objek yang beragam. Karena sifatnya banyak dan terpisah, maka Al-Qur’an memakai bentuk jamak agar bisa mengkover banyak sisi yang blankspot.
وَخَتَمَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ
Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib[1] menuliskan bahwa ada beberapa pendapat ulama terkait makna dari penggalan ini, yaitu
§Pertama : Ibn ‘Abbas mengatakan maksudnya bahwa Allah SWT menutup hati mereka sehingga mereka tidak memahami petunjuk.
§Kedua : Allah menghilangkan akal kalian sehingga menjadi seperti orang-orang gila.
§Ketiga : yang dimaksud dengan penguncian itu adalah mematikan, yakni Allah mematikan hati kalian.
Kata man (مَنْ) artinya: siapa, merupakan ism istifham yang gunanya untuk bertanya, namun kadang juga untuk menantang. Konteksnya ini lebih merupakan bentuk tantangan retoris dari Allah. Secara harfiah maknanya adalah “siapa”, namun secara maksud dipahami untuk menegaskan bahwa tidak ada satu pun yang mampu menandingi Allah.
Kata ilaahun (إِلَٰهٌ) artinya: tuhan. Secara harfiah berasal dari kata aliha yang bermakna : merasa aman atau berlindung, sehingga kata ilah berarti sesuatu yang dianggap sebagai tempat berlindung dan disembah.
Kata ghairullah (غَيْرُ الله) artinya: selain Allah. Maksudnya bahwa hanya Allah SWT saja satu-satunya Tuhan yang berhak diperlakukan sebagai tuhan yang disembah.
Kata ya’tiikum bihi (يَأْتِيكُمْ بِهِ) artinya: mendatangkannya kepada kalian.
Namun kalau dipecah atau dipisah, sebenarnya maknanya sedikit berbeda. Kata ya’ti (يَأتِي) berarti : datang, bentuk kata kerja fi’il mudhari, bentuk fi’il madhinya dan mudhari’nya adalah (أتَى - يَأْتِي ). Dhamir kum (كُمْ) artinya : kamu, sebagai objek. Kemudian ada kata bihi (بِهِ) yang artinya: dengannya. Maka kalau digabungkan ketiganya itu menjadi : ”datang kepada kamu dengannya”. Tentu ini agak janggal dan kurang mudah dimengerti. Padahal maunya sederhana saja, yaitu : ”membawakan untukmu”.
Secara umum penggalan ayat ini berbentuk tantangan, yang kurang lebih maksudnya adalah : “Siapakah tuhan selain Allah yang bisa mendatangkan nikmat atau adzab kepadamu?” Memang kalimat ini berupa kalimat tanya. Namun kita bisa merasakan bahwa tujuannya bukan sekedar bertanya, melainkan justru sebuah pengingkaran. Maka itu gaya ini disebut gaya pengingkaran tapi caranya dengan pertanyaan.
Atau istilah yang lebih bakunya disebut dengan : istifham inkari. Dengan begitu bisa saja kita membaca penggalan ini menjadi : ”Tidak ada tuhan lain yang bisa mendatangkan nikmat dan siksa kecuali hanya Allah SWT saja”.
انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ
Kata undzur (انْظُرْ) artinya: lihatlah atau perhatikanlah. Merupakan perintah alias fi’il amr. Asalnya dari akar kata (نَظَرَ - يَنْظُرُ) yang berarti melihat atau memperhatikan dengan seksama. Perintah ini datang dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan juga kepada siapa pun yang membaca ayat ini agar memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah.
Kata kaifa (كَيْفَ) artinya: bagaimana. Sebenarnya merupakan ism istifham yang berfungsi sebagai zharf atau keterangan keadaan. Tujuannya untuk menunjukkan cara atau menceritakan suatu keadaan. Maksudnya betapa banyak dan beragam cara Allah menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Kata nusharrifu (نُصَرِّفُ) dimaknai oleh Kemenag RI menjadi : ”Kami berkali-kali menjelaskan”. Prof. Quraish Shihab sedikit beda menjadi : ”Kami menjelaskan berulang-ulang”. Buya HAMKA beda lagi menjadi : ”Kami mengulang-ulang”, tanpa ada unsur menjelaskan.
Secara harfiah kata nusharrifu (نُصَرِّفُ) berasal dari tiga huruf yang jadi akar kata, yaitu huruf (ص ر ف). Akar ini pada dasarnya bermakna memalingkan, mengalihkan arah, atau menyelewengkan. Contohnya dalam bahasa Arab sehari-hari : (صَرفَ وَجْهَهُ) artinya : Dia memalingkan wajahnya.
Kata nusharrifu (نُصَرِّفُ) adalah fi’il mudhari’ dalam wazan (فَعَّلَ – يُفَعِّلُ) yang biasanya memberi makna intensif atau berulang-ulang. Maka memalingkan wajah berulang kali atau memvariasikan dengan berulang-ulang. Lalu berkembang maknanya menjadi mempergilirkan, memvariasikan, atau menjelaskan dengan berbagai bentuk.
Dalam konteksnya Allah SWT tidak sedang memalingkan ayat-ayat dari satu arah ke arah lain secara fisik, tapi Dia sedang menyampaikan ayat-ayat dengan cara yang beragam, sehingga terjemahan “Kami menjelaskan dengan berbagai cara” dianggap lebih tepat untuk konteks tafsir.
Meskipun secara literal kata nusharrifu memang berarti “Kami mempergilirkan” atau “Kami memalingkan berulang-ulang”, tetapi dalam konteks penjelasan Al-Qur’an, maksudnya adalah Kami menjelaskan dengan cara yang berulang-ulang dan bervariasi. Digunakan dalam ayat ini untuk menggambarkan bagaimana Allah menyampaikan ayat-ayat-Nya dengan berbagai cara, gaya bahasa, dan bentuk penjelasan.
Kata al-aayaat (الْآيَاتِ) artinya: ayat-ayat atau tanda-tanda, yaitu bentuk jamak dari bentuk tunggalnya ayat. Dikatakan ayat bisa saja punya dua klasifikasi, yaitu ayat Quran atau ayat sebagai tanda di alam.
Pertama, ayat yang dimaksud adalah ayat dalam arti wahyu Al-Quran. Isi Al-Quran itu sendiri juga beragam dalam memberi pesan, kadang lewat ayat-ayat yang isinya merupakan peringatan. Kadang lewat ayat yang kandungannya merupakan cerita dan kisah-kisah umat terdahulu. Bisa juga berupa ayat yang berisi kabar gembira. Tidak sedikit yang isinya malah berbagai perumpamaan alias matsal. Bahkan ayat quran itu seringkali juga dalam bentuk ancaman langsung dengan siksa di dunia atau di akhirat.
Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya). (QS. Al-Isra : 89)
Kedua, ayat sebagai tanda di alam ini sifatnya renungan dengan melihat berbagai macam fenomena di alam. Kadang berupa kemegahan dan keunikan makhluk ciptaan-Nya, seperti langit, bintang, bulan, gunung, tanah, air, hujan, hewan melata bahkan juga manusia.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Ar-Rum : 22)
Namun renungan itu seringkali juga berupa bencana, siksa, adzab dan ujian kehidupan lainnya. Semua itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ
Kata tsumma (ثُمَّ) artinya: kemudian, merupakan harfu 'athf, yaitu kata penghubung yang menunjukkan urutan setelah sesuatu terjadi, seringkali dengan jarak waktu. Secara harfiyah bermakna “lalu” atau “kemudian”, dipakai dalam ayat ini untuk menunjukkan kelanjutan sikap orang-orang kafir setelah melihat atau mendengar tanda-tanda Allah.
Kata hum (هُمْ) artinya: mereka, merupakan dhamir atau kata ganti dari orang-orang kafir atau orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah.
Kata yashdifuun (يَصْدِفُونَ) artinya: berpaling, merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’. Akarnya dari (صَدَفَ) yang secara harfiah bermakna menyamping, menjauh, atau menyingkir ke arah samping.
Dalam konteks ayat, maknanya adalah berpaling dengan sengaja, menolak, atau menghindar dari kebenaran yang telah dijelaskan kepada mereka. Digunakan di sini untuk menggambarkan sikap keras kepala orang kafir yang bukan hanya tidak menerima, tetapi juga sengaja memalingkan diri dari ayat-ayat Allah.