Kemenag RI 2019:Sungguh, mereka telah mendustakan kebenaran (Al-Qur’an) ketika sampai kepada mereka. Maka, kelak akan sampai kepada mereka berita-berita (tentang kebenaran) sesuatu yang selalu mereka perolok-olokkan. Prof. Quraish Shihab:Sungguh, mereka telah mendustakan yang haq (kebenaran yang sempurna) ketika (yang haq itu) datang kepada mereka, maka kelak sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang (selalu) mereka perolok-olokan. Prof. HAMKA:Maka, sesungguhnya mereka telah mendustakan kebenaran tatkala dia telah datang kepada mereka. Karena itu, akan datanglah kepada mereka berita-berita tentang apa yang telah mereka perolok-olokan itu.
Ayat ke-5 ini juga masih senada dengan ayat sebelumnya, yaitu Allah SWT dalam rangka mengisi kosongnya hati Nabi Muhammad SAW yang merasa telah ditinggalkan oleh kaumnya, maka Allah SWT bercerita bahwa yang diperlakukan seperti ini tidak terbatas hanya dirinya saja tetapi juga para nabi dan rasul lainnya juga mengalami perlakuan yang identik.
Pada ayat ini Allah SWT menghibur dengan janji bahwa kelak akan sampai kepada mereka berita-berita tentang kebenaran sesuatu yang selalu mereka perolok-olokkan.
فَقَدْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ
Kata fa-qad (فَقَدْ) artinya : maka sungguh. Kata kazzabuu (كَذَّبُوا) artinya : mereka telah mendustakan. Kata bil-haqqi (بِالْحَقِّ) artinya : kebenaran. Kata lammaa (لَمَّا) artinya : ketika. Kata jaa'a-hum (جَاءَهُمْ) artinya : datang kepada mereka.
Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan apa yang dimaksud dengan al-haq (الحقّ) dalam ayat tersebut.
§Mukjizat : Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mukjizat. Ibnu Mas‘ud meriwayatkan bahwa bulan pernah terbelah di Makkah menjadi dua bagian, satu bagian bergerak menjauh, sementara bagian lainnya tetap di tempatnya.
§Al-Quran : pendapat lain menyebutkan bahwa al-ḥaqq adalah Al-Qur’an. Kemenag RI dalam terjemahannya nampak mengambil pendapat ini, yaitu dengan menambahkan (Al-Qur’an) setelah kebenaran.
§Nabi SAW : ada pula yang berpendapat bahwa maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW itu sendiri.
§Syariat : sebagian lagi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah syariat yang beliau SAW bawa, yaitu ajaran dan hukum-hukum yang diwahyukan kepadanya.
§Janji dan Ancaman : Pendapat lainnya menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-ḥaqq adalah janji dan ancaman Allah SWT. Janji untuk mendapatkan surga bagi yang taat dan ancaman neraka bagi yang durhaka.
فَسَوْفَ يَأْتِيهِمْ أَنْبَاءُ
Kata fa saufa (فَسَوْفَ) artinya : maka kelak. Kata ya’tii-him (يَأْتِيهِمْ) artinya : akan datang kepada mereka. Kata anbaa’u (أَنْبَاءُ) artinya : berita-berita.
Penggalan ayat ini mengandung ancaman keras dan peringatan yang serius terhadap sikap mereka yang suka memperolok kebenaran.
Berita yang disebut dengan bentuk jamak yaitu anbaa’u (أَنْبَاءُ) bukan sekadar informasi atau kabar, tapi merujuk pada azab nyata yang sebelumnya telah diberitakan oleh Allah. Contoh ungkapan serupa bisa kita temukan dalam firman Allah di
وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ
“Dan sungguh kamu akan mengetahui berita (kebenaran) itu setelah beberapa waktu.” (QS Al-Qashash :88)
Ini seperti ucapan seorang bijak yang sedang memberi ancaman, “Nanti kamu akan tahu sendiri akibatnya, saat hal yang kamu takutkan benar-benar menimpamu.” Dalam gaya bahasa seperti ini, ancaman berupa berita itu tidak hanya berhenti sebagai peringatan, tapi benar-benar akan terbukti lewat kejadian nyata yang tak terbantahkan.
Adapun bentuk azab yang dimaksud di sini, para ulama menyebut ada dua kemungkinan:
Bisa jadi itu adalah azab dunia, seperti yang terjadi pada mereka dalam Perang Badar, ketika banyak tokoh-tokoh kafir tewas dalam kekalahan memalukan. Atau bisa juga yang dimaksud adalah azab akhirat, yang jauh lebih pedih dan kekal.
Dengan kata lain, mereka yang dulu memperolok kebenaran akan dibungkam oleh kenyataan pahit, entah di dunia, di akhirat, atau keduanya. Azab itu sendiri akan menjadi jawaban dari semua ejekan mereka.
مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
Kata maa (مَا) artinya : tentang apa. Kata kaanuu (كَانُوا) artinya : mereka dulu. Kata bihi (بِهِ) artinya : terhadapnya. Kata yastahzi’uun (يَسْتَهْزِئُونَ) artinya : memperolok-olok.
Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab Mafatih Al-Ghaib[1] menuliskan bahwa Al-Qur'an menggambarkan sikap orang-orang kafir terhadap kebenaran. Allah SWT menjelaskan bahwa penolakan mereka bukan hanya satu bentuk, melainkan melalui tiga tahapan, yang masing-masing lebih buruk dari sebelumnya.
Tahap pertama adalah berpaling (معرضين). Ini adalah sikap ketika seseorang tidak mau mendengarkan, tidak tertarik untuk memperhatikan, atau tidak peduli terhadap penjelasan-penjelasan yang disampaikan. Mereka tidak mau merenungkan bukti-bukti yang nyata, tidak membuka hati untuk memahami kebenaran. Tapi di tahap ini, sebenarnya masih ada kemungkinan seseorang tersentuh, kalau hatinya dilunakkan oleh Allah. Ia hanya lalai, bukan sepenuhnya menolak.
Namun ketika seseorang naik ke tahap kedua, ia bukan hanya berpaling, tetapi mulai mendustakan (مُكَذِّبِين). Ia menyatakan bahwa semua bukti dan ajaran itu salah, tidak benar, tidak bisa dipercaya. Ini lebih parah, karena ia sudah menutup diri dengan keyakinan bahwa yang disampaikannya itu bohong. Ia telah melewati garis batas antara lalai dan menolak.
Lalu, ada tahap yang paling mengerikan, yaitu saat seseorang mengejek dan memperolok kebenaran (مُسْتَهْزِئِين). Di sini, penolakan bukan lagi hanya di dalam hati atau pikiran, tetapi sudah berubah menjadi ejekan dan penghinaan terang-terangan. Ia mencemooh ayat-ayat Allah, merendahkan ajaran agama, bahkan bisa jadi mempermainkannya di hadapan orang lain. Ini adalah puncak dari sikap penolakan yang paling keras dan paling kufur.
Dan yang membuatnya lebih tragis, Al-Qur’an menunjukkan bahwa sebagian orang benar-benar melewati ketiga tahap ini secara bertahap. Mereka berpaling, lalu mendustakan, hingga akhirnya memperolok-olok. Sebuah proses jatuh yang sangat dalam dari kelalaian, ke penolakan, lalu ke penghinaan.