Kemenag RI 2019:Peringatkanlah dengannya (Al-Qur’an) orang-orang yang takut akan dikumpulkan menghadap Tuhannya (pada hari Kiamat). Tidak ada bagi mereka pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah, agar mereka bertakwa. Prof. Quraish Shihab:Dan berilah peringatan dengannya (al-Qur’an) kepada orang-orang yang takut akan dikumpulkan kepada Tuhan Pemelihara mereka, sedangkan bagi mereka tidak ada pelindung dan tidak (pula) pemberi syafaat selain Allah, supaya mereka bertakwa. Prof. HAMKA:Dan ancamkanlah dengan dia (Al-Qur’an) kepada orang-orang yang takut bahwa mereka dikumpulkan kepada Tuhan mereka. Tidak ada bagi mereka selain dari-Nya pelindung dan tidak pula yang akan menolong melepaskan. Mudah-mudahan mereka menjadi orang-orang yang bertakwa.
Ayat ke-51 merupakan perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Namun ada beberapa pandangan tentang isinya. Sebagian mengatakan bahwa ini merupakan perintah untuk memilih siapa yang harus didakwahi, yaitu khusus hanya orang-orang di dalam dirinya sudah ada rasa takut akan dikumpulkan menghadap Tuhannya nanti pada hari Kiamat. Bahwa nanti tidak ada bagi mereka pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah, agar mereka bertakwa.
Namun pendapat lain mengatakan bahwa Nabi SAW diperintah untuk memberi peringatan kepada semua pihak. Adapun ungkapan : alladzina yakhafuna . . . adalah tujuannya, yaitu dakwahi mereka sehingga mereka sampai ke titik merasa takut dengan adanya hari kiamat, yaitu hari dimana nanti mereka akan dikumpulkan di hadapan Allah tanpa ada wali dan pemberi syafaat.
وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ
Ayat ini dimulai dengan huruf wa (وَ) yang berarti dan. Huruf ini termasuk harfu ‘athf, yakni huruf yang berfungsi menghubungkan kalimat sebelumnya dengan yang sesudahnya.
Setelah itu datang kata andzir (أَنْذِرْ) yang bermakna peringatkanlah. Kata ini adalah sebuah fi‘il amr atau kata kerja dalam bentuk perintah. Akar katanya berasal dari tiga huruf (ن ذ ر) yang berarti memberi peringatan atau ancaman. Dalam bentuk asalnya yang terdiri dari tiga huruf, kata ini sekadar bermakna “mengancam” atau “memberi tahu adanya bahaya.” Namun, setelah ditambah huruf hamzah di depan menjadi bentuk (أفعل-يفعل) yakni (أَنْذَرَ) maknanya berubah menjadi “memperingatkan orang lain,” sehingga sifatnya menjadi lebih transaktif, yakni menyampaikan ancaman kepada orang lain.
Kata berikutnya adalah bihi (بِهِ) yang artinya dengannya. Kata ini tersusun dari huruf jar (بِ) yang berarti “dengan” dan dhamir (هِ) yang berarti “dia/nya.” Dhamir ini merujuk kepada Al-Qur’an, sehingga makna keseluruhannya adalah “dengannya, yakni dengan Al-Qur’an.”
Kemudian datang kata alladzina (الَّذِينَ) yang berarti orang-orang yang. Kata ini disebut ism maushul, sebuah kata benda yang digunakan untuk menghubungkan kalimat dengan sifat atau penjelasan berikutnya. Yang dimaksud adalah golongan orang-orang yang akan disebut sifatnya setelah itu.
Sifat mereka ditunjukkan dengan kata yakhafuna (يَخَافُونَ) yang bermakna mereka takut. Kata ini adalah fi‘il mudhari‘, dimana akar katanya terdiri dari tiga huruf (خ و ف) yang artinya takut.
أَنْ يُحْشَرُوا إِلَىٰ رَبِّهِمْ
Rasa takut yang dimaksud dalam ayat ini dijelaskan pada bagian selanjutnya dengan ungkapan an yuhsyaru ila rabbihim (أَنْ يُحْشَرُوا إِلَىٰ رَبِّهِمْ), yang artinya bahwa mereka akan dikumpulkan kepada Tuhan mereka.
Dimulai dengan an (أَنْ) di awal, sebuah harfu nasb yang membuat kata kerja setelahnya menjadi manshub. Kata kerjanya adalah yuhsyaru (يُحْشَرُوا) yang berbentuk fi‘il mudhari‘ majhul atau kata kerja pasif yang berarti “mereka akan dikumpulkan.” Akar katanya adalah (ح ش ر) yang berarti “mengumpulkan.” Lafadz ila (إِلَىٰ) artinya : kepada.” Kata rabbihim (رَبِّهِمْ) artinya : Tuhan mereka.
لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ
Selanjutnya Allah menegaskan keadaan mereka pada hari itu dengan kalimat laisa lahum min dunihi (لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ), yang artinya tidak ada bagi mereka selain Dia. Mari kita uraikan satu kata demi satu kata.
Kata laisa (ليس) sebenarnya adalah kata kerja juga, namun tidak sempurna. Sebutannya adalah fi‘il naqish. Biasanya digunakan untuk meniadakan eksistensi sesuatu.
Yang dinafikan adalah kata lahum, (لهم) yang artinya : bagi mereka. Kata ini tersusun dari huruf lam (لَـ) yang berarti “bagi” dan dhamir hum (هُمْ) yang berarti “mereka.”
Kata min dunihi (مِنْ دُونِهِ) artinya : dari selain Dia. Kata waliyyun (وَلِيٌّ) artinya : pelindung atau penolong. Kata wali ini berasal dari akar (و ل ي) yang punya banyak makna, bisa berarti dekat, melindungi, menolong dan lainnya. Namun dalam konteks ini artinya adalah penolong atau pelindung yang dekat.
Kata wa-la (ولا) artinya : dan tidak. Kata syafī‘un (شَفِيعٌ)arti harfiyahnya berasal dari tiga huruf yang menjadi akarnya yaitu (ش ف ع) yang : genap, lawan dari witr (وتر) yang berarti ganjil.Maka kata syafi’i berarti : yang menggenapkan. Sesuatu yang awalnya ganjil lalu ditambahkan bilangannya sehingga menjadi genap. Dalam penggunaannya, kata ini kemudian berkembang menjadi : “mendampingi seseorang untuk memberi pertolongan sebagai perantara.”
Ayat ini menegaskan bahwa pada hari pengumpulan itu, tidak akan ada pelindung ataupun pemberi syafaat kecuali dengan izin Allah.
لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Akhir penggalan ayat ini ditutup dengan ungkapan la‘allahum yattaqun (لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ), yang artinya mudah-mudahan mereka bertakwa.
Kata la‘alla (لَعَلَّ) disebut dengan harfu tarajji, yaitu huruf pengharapan, sedangkan akhiran -hum (هم) adalah kata ganti atau dhamir yang berarti mereka.
Sementara kata yattaqun (يَتَّقُونَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi‘il mudhari‘ yang berarti “mereka bertakwa.” Akar katanya adalah (و ق ي) yang dalam bentuk dasar berarti “melindungi” atau “menjaga.”
Dalam bentuk taf‘il dengan tambahan tasydid ta di awal menjadi ittaqā, maknanya berkembang menjadi “menjaga diri dari murka Allah dengan ketaatan.” Bentuk mudhari‘ dengan awalan ya menjadi يَتَّقُونَ, yang berarti “mereka bertakwa.”
Secara keseluruhan, penggalan ayat ini berisi perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk memperingatkan manusia dengan Al-Qur’an, khususnya mereka yang masih memiliki rasa takut akan dikumpulkan kepada Tuhannya di hari kiamat.
Mereka diingatkan bahwa pada saat itu tidak ada penolong dan tidak ada pemberi syafaat selain Allah. Peringatan ini ditujukan agar mereka kembali sadar, mengambil pelajaran, dan menempuh jalan takwa sebelum tibanya hari perhitungan. Dengan demikian, ayat ini menekankan bahwa rasa takut kepada Allah dan keyakinan akan hari kebangkitan seharusnya menjadi motivasi kuat untuk hidup dalam ketaatan.