Kemenag RI 2019:Demikianlah Kami telah menguji sebagian mereka (yang kaya dan berkuasa) dengan sebagian yang lain (yang miskin dan menderita), sehingga mereka (yang kaya dan kufur itu) berkata, “Orang-orang semacam inikah (yang status sosialnya rendah) di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?” (Allah berfirman,) “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang mereka yang bersyukur (kepada-Nya)?” Prof. Quraish Shihab:Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, sehingga mereka (yang kaya dan berkuasa) berkata, “Orang-orang semacam inikah (yang status sosialnya sangat rendah) di antara kita yang dianugerahi (karunia) oleh Allah kepada mereka?” Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)? Prof. HAMKA:Dan demikianlah telah Kami uji sebagian dari mereka dengan yang sebagian sehingga mereka pun berkata, “Apakah orang-orang ini yang diberi karunia Allah atas mereka di antara kita?” Bukankah Allah itu lebih tahu akan orang-orang yang bersyukur?
Ayat ke-53 dari surat Al-An’am ini menjelaskan bagaimaan Allah SWT menguji kelompok manusia dengan kelompok yang lain melalui perbedaan derajat dan kedudukan.
Sebagian orang yang sombong dari Quraisy heran dan merendahkan para sahabat Nabi SAW yang miskin, lalu berkata: “Mengapa mereka yang mendapat nikmat iman, bukan kami?”
Allah membantah mereka dengan menegaskan bahwa Dialah yang paling tahu siapa yang layak mendapat hidayah, yaitu orang-orang yang bersyukur.
لِيَقُولُوا أَهَٰؤُلَاءِ
Kata li-yaqulu (لِيَقُولُوا) artinya : supaya mereka berkata. Mereka yang berkata dalam konteks ayat ini adalah orang-orang kafir.
Kata a-ha’ula’i (أَهَٰؤُلَاءِ) artinya : apakah mereka atau apakah orang-orang ini. Yang dimaksud adalah para shahabat nabi yang sudah masuk Islam terlebih dahulu, dimana kebanyakan dari mereka bukan datang dari kalangan orang mulia, bukan petinggi dan bukan dari kalangan orang kaya. Mereka kebanyakannya orang miskin, lemah dan bukan orang asli Mekkah.
Di antara para sahabat Nabi SAW yang paling awal memeluk Islam terdapat beberapa orang yang dipandang hina oleh kaum Quraisy. Mereka adalah Shuhaib ar-Rumi, Khabbab bin al-Art, Bilal bin Rabah, dan ʿAmmar bin Yasir. Kehidupan mereka sederhana, sebagian dari mereka adalah budak, sebagian lainnya orang miskin, bahkan ada yang berasal dari luar suku Quraisy.
Shuhaib ar-Rumi berasal dari Irak, namun pernah ditawan lalu dibawa ke wilayah Romawi sehingga ia dikenal dengan sebutan ar-Rumi. Ia datang ke Mekah sebagai budak, lalu dimerdekakan. Ketika Islam datang, ia termasuk kelompok pertama yang beriman. Shuhaib dikenal sebagai sahabat yang sangat dermawan. Demi berhijrah ke Madinah, ia rela meninggalkan semua hartanya di Mekah agar diperbolehkan pergi. Rasulullah SAW bahkan memujinya dengan sabda: “Shuhaib telah beruntung,” karena ia lebih memilih iman daripada harta.
Khabbab bin al-Art juga memiliki kisah yang penuh penderitaan. Ia seorang budak yang dimiliki oleh seorang wanita Quraisy yang kejam, dan sehari-hari bekerja sebagai pandai besi. Setelah masuk Islam, ia mengalami siksaan yang sangat berat. Besi panas ditempelkan ke punggungnya hingga kulitnya melepuh. Namun Khabbab tetap teguh. Ia pun menjadi guru bagi sebagian sahabat, bahkan pernah mengajarkan Al-Qur’an kepada Umar bin Khattab sebelum Umar memeluk Islam. Karena kesabarannya, ia sering disebut sebagai teladan orang-orang sabar.
Bilal bin Rabah adalah seorang budak berkulit hitam dari Habasyah, mengalami penderitaan yang tidak kalah berat. Majikannya, Umayyah bin Khalaf, menyiksanya dengan menjemurnya di padang pasir, meletakkan batu besar di atas dadanya, dan memaksanya meninggalkan Islam. Tetapi Bilal hanya menjawab dengan kalimat singkat namun penuh makna: “Ahad, Ahad” – Allah Yang Esa. Akhirnya, Abu Bakar ash-Shiddiq membelinya dengan harga mahal untuk membebaskannya. Setelah itu, Bilal diangkat sebagai muadzin pertama dalam Islam. Rasulullah SAW bahkan pernah mendengar suara langkah Bilal di surga, sebuah kemuliaan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Ammar bin Yasir pun tidak kalah mulia perjuangannya. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Yasir, dan ibunya, Sumayyah, termasuk golongan awal yang masuk Islam. Karena keimanan mereka, keduanya disiksa hingga meninggal. Ammar sendiri juga disiksa dengan sangat kejam, sampai ia dipaksa mengucapkan kata-kata kufur.
Abdullah bin Mas‘ud adalah seorang penggembala kambing yang miskin. Beliau termasuk sahabat yang sangat awal masuk Islam dan terkenal dengan kefasihan membaca Al-Qur’an. Justru Quraisy meremehkannya karena tubuhnya kecil dan penampilannya sederhana. Namun Nabi SAW bersabda bahwa kedua betis Ibnu Mas‘ud lebih berat di sisi Allah daripada Gunung Uhud.
مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا
Kata mannallahu (مَنَّ اللَّهُ) artinya : Allah memberi karunia. Kata manna (مَنَّ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang bermakna memberi anugerah besar. Kata ‘alaihim (عَلَيْهِمْ) artinya : atas mereka.Kata minbainina (مِنْ بَيْنِنَا) artinya : dari antara kami.
Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan anugerah yang besar yang diberikan kepada mereka berupa hidayah masuk Islam.
Ada beberapa alasan mengapa hidayah dianggap sebagai karunia yang jauh lebih agung daripada segala bentuk pemberian duniawi:
1. Hidayah Adalah Jalan Menuju Keselamatan Abadi.
Segala nikmat dunia, baik itu berupa harta, jabatan, kesehatan, atau kekuasaan, semuanya terbatas pada kehidupan fana. Sementara hidayah Islam adalah pintu menuju keridhaan Allah, ampunan, dan surga yang kekal. Artinya, dengan hidayah seseorang selamat dari kesesatan dan siksa neraka. Inilah nikmat yang nilainya tidak dapat dibandingkan dengan apapun di dunia.
2. Hidayah Mengangkat Derajat Manusia.
Orang yang dianggap hina di mata manusia bisa menjadi mulia di sisi Allah karena iman. Sebaliknya, orang yang tampak mulia dalam pandangan dunia bisa jatuh hina karena kekufurannya. Jadi, hidayah adalah anugerah yang benar-benar menentukan kemuliaan sejati.
3. Hidayah Tidak Bisa Dicapai Dengan Usaha Manusia Semata
Seseorang boleh berusaha, mencari kebenaran, atau bahkan cerdas luar biasa. Tetapi tanpa taufik dari Allah, hati tidak akan terbuka untuk menerima kebenaran. Itulah sebabnya Nabi SAW sendiri tidak mampu memberi hidayah kepada pamannya, Abu Thalib. Allah menegaskan:
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56).
4. Hidayah Adalah Nikmat Yang Mencakup Segala Kebaikan.
Dengan hidayah, seseorang akan bisa menggunakan nikmat dunia dengan benar: harta jadi sarana kebaikan, ilmu jadi petunjuk, kesehatan jadi alat ibadah. Sebaliknya, tanpa hidayah semua nikmat dunia bisa berubah menjadi malapetaka dan penyesalan.
5. Hidayah Adalah Bukti Kasih Sayang Allah.
Ketika Allah memilih seseorang untuk mengenal kebenaran, itu berarti Allah menghendaki kebaikan baginya. Nabi SAW bersabda:
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia memahamkannya dalam agama.” (HR. Bukhari-Muslim).
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ
Kata a-laisa (أَلَيْسَ) artinya : bukankah. Kata ini merupakan istifham inkari yaitu pertanyaan yang tujuannya justru untuk membantah. Kata Allahu (اللَّهُ) artinya : Allah. Kata bi-a’lam (بِأَعْلَمَ) artinya : lebih mengetahui. Kata ini merupakan isim tafdhil yang didahului huruf bi (بِ) sebagai penegasan.
Ungkapan a-laisa Allah (أَلَيْسَ اللَّهُ) adalah bentuk pertanyaan retoris. Tujuannya bukan untuk meminta jawaban, karena jawabannya sudah pasti: “Benar, Allah lebih tahu.” Pertanyaan retoris ini berfungsi untuk menegaskan dan menguatkan makna, sekaligus menyindir kaum Quraisy yang meremehkan sahabat-sahabat miskin tadi.
Dengan kata lain, Allah seakan berkata: "Kalian orang Quraisy mengukur kemuliaan dengan harta dan kedudukan, tetapi Allah-lah yang Maha Mengetahui siapa yang benar-benar bersyukur, maksudnya siapa yang layak mendapat hidayah dan kemuliaan."
Kata bisy-syakirin (بِالشَّاكِرِينَ) artinya : terhadap orang-orang yang bersyukur. Mereka tidak lain adalah para sahabat miskin dan tertindas, diantaranya seperti Shuhaib, Khabbab, Bilal, Ammar, Ibnu Mas‘ud, dan lainnya, yang meski hidup dalam kekurangan, tetap menerima hidayah dengan lapang dada, beriman, beribadah, dan sabar atas ujian.
Mereka disebut sebagai orang-orang yang bersyukur karena sikap hati yang menerima kebenaran, tunduk pada perintah Allah, dan menggunakan nikmat-Nya untuk taat. Mereka bersyukur dengan iman dan amal. Maka Allah menegaskan bahwa Dia lebih tahu siapa yang benar-benar tulus dalam rasa syukurnya.