Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang dapat menyelamatkanmu dari berbagai kegelapan (bencana) di darat dan di laut, ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut (dengan berkata), ‘Sungguh, jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.’” Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Nabi Muhammad saw.), “Siapakah yang (dapat) menyelamatkan kamu dari aneka kegelapan (bencana yang terjadi) di darat dan di laut, yang (saat terjadinya bencana itu) kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri serta dengan merahasiakan (suaramu sambil berkata), ‘Jika Dia benar-benar telah menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.’” Prof. HAMKA:Katakanlah, “Siapakah yang akan menyelamatkan kamu dari bencana-bencana darat dan laut tatkala kamu memohon kepada-Nya dengan kerendahan dan bersunyi. Jika Dia selamatkan kami dari ini, niscaya jadilah kami daripada orang-orang yang bersyukur.”
Yang diajak bicara adalah kaum musyrikin Arab, khususnya kaum Quraisy yang dalam kesehariannya mereka adalah para pedagang yang aktif berniaga menempuh perjalanan jauh di daratan dan di lautan. Maka Nabi SAW diminta untuk mengingatkan mereka bahwa selama ini mereka hidup semata-mata karena Allah SWT menyelamatkan mereka dari berbagai bencana di darat dan di laut.
Bahwa mereka sudah sering berdoa kepada Allah SWT dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut, sambil berjanji jika selamat, akan jadi orang yang bersyukur. Ternyata semua itu hanya janji spontan yang langsung lupa begitu sudah selamat.
قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Kata man (مَنْ) artinya : siapa. Kata yunajji-kum (يُنَجِّيكُمْ) artinya : yang menyelamatkan kamu sekalian. Kata ini berasal dari tiga huruf yang menjadi akarnya yaitu (ن ج و), artinya : selamat, lolos dari bahaya, bebas dari ancaman. Dari akar ini lahir kata-kata seperti an-najah (النَّجَاة) : keselamatan, an-najiy (النَّجِيّ) : orang yang selamat atau teman dekat, an-najwa (النَّجْوَى) : bisikan, karena biasanya dilakukan secara menyendiri, terpisah dari orang lain.
Makna yunajji-kum (يُنَجِّيكُمْ) di ayat ini adalah penyelamatan dari bahaya besar yang hampir pasti membawa kepada kematian. Kata ini mengandung kesan adanya kondisi yang sangat genting atau ancaman maut yang nyata. Lalu ada campur tangan kuat dari luar diri manusia yang memberi jalan keluar.
Jadi bisa kita pahami bahwa yunajji-kum (يُنَجِّيكُمْ) itu membebaskan kalian dari jeratan bahaya yang nyaris menewaskan, hingga kalian benar-benar aman.
Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata zhulumati (ظُلُمَاتِ) artinya : kegelapan-kegelapan. Kata al-barri (الْبَرِّ) artinya : daratan.
Ayat ini berbicara tentang zhulumat al-barr alias kegelapan di daratan dan zhulumat al-bahr atau kegelapan di lautan. Kata zhulumat sendiri berbentuk jamak, yang menunjukkan banyak lapisan atau ragam kegelapan.
Secara langsung, kegelapan di daratan bisa merujuk pada kondisi malam yang gelap gulita. Bagi orang Arab zaman dahulu, perjalanan di padang pasir pada malam hari tanpa penerangan jelas merupakan ancaman besar. Mereka bisa kehilangan arah, sulit menemukan sumber air, dan berisiko mati kehausan atau diserang binatang buas. Jadi, kegelapan di sini bisa berarti kondisi nyata: malam pekat yang menakutkan di tengah daratan luas.
Asal kita tahu saja bahwa yang namanya melakukan perjalanan di masa itu bukan hal yang menyenangkan sebagaimana di masa kita sekarang. Nabi SAW menyebutkan bahwa perjalanan itu bagian dari adzab, setidaknya bisa saja kehabisan perbekalan di jalan.
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW bersabda: Perjalanan itu adalah sebagian dari adzab.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Perjalanan menembus gurun pasir memang jelas bagian dari adzab, bahkan sewaktu-waktu bisa berakibat kematian. Gurun pasir yang luas terbentang tanpa ujung, hamparan tanah kering dan bukit-bukit pasir yang bergelombang membuat siapa pun mudah kehilangan arah.
Di siang hari, panas matahari membakar kulit, membuat dahaga cepat datang sementara persediaan air semakin menipis. Setiap tetes air yang tersisa di dalam kantung terasa sangat berharga, sebab tanpa itu, kematian bisa tiba hanya dalam hitungan jam.
Malam pun bukanlah waktu untuk beristirahat dengan tenang. Begitu matahari tenggelam, kegelapan menyelimuti seluruh padang pasir. Tidak ada lampu, tidak ada penerangan, hanya langit bertabur bintang yang seakan begitu jauh untuk menjadi penunjuk jalan. Udara yang tadi panas berubah menusuk dingin hingga tulang.
Di kejauhan, suara serigala atau binatang buas terdengar, menambah rasa cemas yang tidak kunjung reda. Bahaya selalu mengintai. Bisa jadi rombongan tersesat karena kehilangan penunjuk arah, atau unta yang membawa bekal tiba-tiba mati kelelahan.
Jika itu terjadi, musafir akan terjebak di tengah lautan pasir tanpa makanan dan minuman. Setiap langkah terasa berat, setiap detik adalah pertaruhan hidup dan mati. Di tengah keadaan seperti ini, manusia benar-benar menyadari betapa lemahnya dirinya. Tidak ada yang bisa diandalkan kecuali pertolongan Allah.
Disitulah kemudian Allah SWT mengingatkan kepada kaum Quraisy secara khusus, karena mereka adalah suku pedangang yang sangat identik dengan perjalanan niaga menembus gurun dengan resiko yang amat berbahaya hingga resiko kematian.
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka´bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (QS. Quraisy : 1-4)
Kalau pun selama ini mereka berhasil dengan selamat dan aman menembus ganasnya gurun pasir, semua itu tidak lain karena pertolongan dan perlindungan Allah SWT semata.
وَالْبَحْرِ
Huruf wa (وَ) adalah harfu ’athf yang artinya : dan. Kata al-bahri (الْبَحْرِ) artinya : lautan. Kata yang sebenarnya adalah wa zhulumat al-bahri (وَظُلُمَاتِ الْبَحْرِ), namun jika dicukupkan hanya dengan huruf wawu saja tanpa mengulang kata zhulumat lagi, maknanya sudah bisa dipahami dalam benak.
Kaum Quraisy selain berniaga via jalur darat yaitu ke negeri Syam dan Yaman, mereka juga mengenal perdagangan lewat laut, meskipun tidak sebesar bangsa Arab Selatan, seperti halnya orang Himyar atau Hadramaut. Beberapa tujuan mereka antara lain ke Yaman, Laut Arab dan India
Dari pelabuhan Aden, para pedagang Quraisy bisa menyeberang ke pesisir barat India, yaitu Gujarat dan Malabar. Dari sana mereka mendapatkan rempah-rempah, kain, dan barang mewah. Selain itu juga mereka menempuh jalur Yaman, Laut Merah dan Habasyah (Ethiopia) & Afrika Timur. Jalur ini cukup populer. Selain itu mereka juga berlayar melalui Teluk Persia, perdagangan bisa terhubung dengan wilayah Persia, Irak selatan (Basrah), bahkan ke utara mendekati wilayah Mesopotamia.
Perjalanan menembus laut lepas sudah jelas resikonya. Allah SWT memberi gambaran seperti apa suasana mencekam di tengah lautan, yang boleh jadi awalnya menyenangkan, lalu tiba-tiba segala kemugkinan bisa terjadi begitu saja.
Dialah (Allah) yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan (dan berlayar) di lautan sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, lalu meluncurlah (kapal) itu membawa mereka dengan tiupan angin yang baik dan mereka bergembira karenanya. Kemudian, datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru dan mereka pun mengira telah terkepung (bahaya). Maka, mereka berdoa dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya (seraya berkata), “Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”(QS. Yunus : 22)
Berlayar menembus lautan di abad ketujuh masehi terlalu besar resikonya. Belum ada kapal besar seperti di masa sekarang. Perahu di zaman itu terbuat dari kayu, disambung dengan pasak atau ikatan tali serat, bukan dengan baut dan besi baja seperti kapal modern.
Layar kain dan dayung adalah tenaga utama, tanpa mesin. Artinya, mereka sepenuhnya bergantung pada arah angin dan kekuatan awak perahu. Kapasitasnya pun terbatas, hanya bisa membawa beberapa orang, sedikit barang, dan bekal yang sederhana.
Bayangkan sebuah perahu kayu sederhana di abad ketujuh Masehi, berlayar di tengah samudera luas. Layar kainnya terkembang, diayun angin malam yang dingin. Para penumpang duduk berdesakan, sebagian menggenggam dayung, sebagian lagi memeluk erat barang bawaan mereka. Suasana awalnya tenang, hanya terdengar gemericik ombak kecil memukul lambung perahu.
Namun tiba-tiba, langit mendung menutup cahaya bulan dan bintang. Angin kencang berembus, permukaan laut bergolak, lalu ombak besar datang bergulung-gulung. Perahu itu seakan menjadi mainan kecil di tengah samudera. Tiap hempasan ombak membuatnya miring tajam, seakan-akan hendak terbalik. Air asin menyembur masuk, membasahi tubuh dan perbekalan. Penumpang berlarian panik, mencoba mengeluarkan air dengan tangan atau wadah seadanya, namun ombak datang lebih cepat dari tenaga mereka.
Layar perahu mulai robek, tali-tali berderit, dayung patah terhempas gelombang. Perahu kehilangan kendali, hanya terombang-ambing mengikuti arah angin. Suara teriakan bercampur dengan gelegar ombak, membuat hati siapa pun yang mendengar diliputi ngeri.
تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً
Kata tad‘unahu (تَدْعُونَهُ) artinya : kamu sekalian menyeru-Nya. Kata tadarruan (تَضَرُّعًا) artinya : dengan merendahkan diri. Huruf wa (وَ) artinya : dan. Kata khufyatan (خُفْيَةً) artinya : dengan diam-diam.
Ketakutan mencekam setiap jiwa. Wajah pucat, tubuh gemetar, sebagian menangis, sebagian lagi hanya terdiam pasrah. Mereka sadar, tak ada kekuatan manusia yang mampu melawan dahsyatnya laut malam itu. Kematian terasa begitu dekat, seakan hanya menunggu waktu perahu hancur berkeping-keping.
Dalam kepanikan itu, semua kesombongan lenyap. Lidah-lidah mereka basah oleh doa. Dengan suara bergetar, mereka memohon kepada Allah, Tuhan satu-satunya yang bisa menyelamatkan: “Ya Allah, jika Engkau selamatkan kami malam ini, sungguh kami akan menjadi orang-orang yang bersyukur.”
Di tengah gulungan ombak yang hitam pekat, barulah manusia benar-benar merasakan betapa kecil dan lemahnya dirinya di hadapan kekuasaan Allah yang Mahabesar.
Kata la in (لَئِنْ) artinya : sesungguhnya jika. Kata anjana (أَنْجَانَا) artinya : Dia menyelamatkan kami. Dia yang dimaksud tidak lain adalah Allah SWT. Entah bagaimana caranya, yang pasti pada akhirnya bisa tetap hidup dan diselamatkan oleh Allah SWT.
Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata hadzihi (هَٰذِهِ) artinya : ini. Yang dimaksud adalah bencana besar atau ancaman bayangan kematian yang ada di depan mata. Antara ancaman kematian di daratan atau di lautan.
Kata lanakunanna (لَنَكُونَنَّ) artinya : pasti benar-benar kami akan menjadi. Kata mina (مِنَ) artinya : termasuk dari. Kata asy-syakirin (الشَّاكِرِينَ) artinya : orang-orang yang bersyukur. Ini adalah semacam janji yang terucap begitu saja, biasanya karena seseorang merasa terancam jiwanya.
Memang begitulah biasanya, secara naluri ketika manusia berada di tengah situasi yang sangat genting, kapal mereka terombang-ambing oleh ombak besar, atau kafilah hampir kehabisan bekal di tengah gurun, rasa takut akan kematian tiba-tiba begitu nyata. Pada saat itu, naluri dasar manusia muncul untuk mencari perlindungan kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Mereka berdoa dengan penuh harap, berjanji untuk berubah, dan bersumpah akan menjadi orang yang lebih baik bila berhasil selamat.
Inilah fitrah manusia, saat semua jalan tertutup, hati akan mencari Allah. Bahkan orang yang biasanya lalai dan kufur, di saat genting pun akan berjanji ingin kembali kepada-Nya.
Bahkan orang yang tidak mengakui adanya Tuhan pun akan berdoa, entah minta kepada siapa. Dalam kondisi normal, seseorang mungkin merasa kuat, bebas, atau bahkan menyangkal keberadaan Tuhan. Namun ketika hidupnya benar-benar terancam dan berada di ujung kematian, naluri terdalam manusia akan muncul. Tiba-tiba dia mencari pertolongan pada sesuatu yang Mahakuat, di luar dirinya.
Inilah yang sering disebut fitrah. Secara naluri, manusia sadar bahwa dirinya terbatas dan ada kekuatan yang lebih besar darinya. Bahkan orang yang mengaku ateis, ketika panik, bisa saja spontan berteriak: “Tolong, ya Tuhan!” meski sebelumnya ia menolak gagasan tentang Tuhan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa doa dalam keadaan darurat bukanlah hasil dari proses berpikir panjang, melainkan luapan jiwa yang tertekan oleh rasa takut dan harapan.