Kemenag RI 2019:Setiap berita (yang dibawa oleh rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui. Prof. Quraish Shihab:Untuk setiap berita ada waktu (terjadinya), dan kamu akan mengetahuinya. Prof. HAMKA:Bagi tiap-tiap berita ada masa ketentuannya, dan kamu pun akan tahu sendiri kelak.
Maka mereka yang mengingkari risalah Nabi Muhammad SAW akan melihat kebenaran itu, entah di dunia melalui azab atau di akhirat dengan balasan yang pasti.
لِكُلِّ نَبَإٍ
Kata likulli (لِكُلِّ) artinya : bagi setiap. Kata naba-in (نَبَإٍ) artinya : berita. Al-Mawardi menuliskan dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[1] tiga pendapat yang berbeda terkait berita yang dimaksud.
Pertama: maksudnya setiap berita yang Allah kabarkan, baik berupa janji maupun ancaman, memiliki tempat ketetapan pada masa yang akan datang, masa lalu, atau masa kini, baik di dunia maupun di akhirat. Ini adalah makna yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Mujahid.
Kedua: ayat ini merupakan ancaman Allah kepada orang-orang kafir di akhirat, karena mereka tidak mengakui adanya kebangkitan. Ini dikatakan oleh Al-Hasan.
Ketiga: ayat ini merupakan ancaman bagi mereka dengan azab yang akan menimpa mereka di dunia. Ini dikatakan oleh Az-Zajjaj.
مُسْتَقَرٌّ
Kata mustaqarrun (مُسْتَقَرٌّ) artinya : ada tempat menetapnya. Maksudnya kepastian dan batas akhir yang akan dituju, sehingga jelaslah mana yang benar dan mana yang dusta, mana yang hak dan mana yang batil, baik di dunia maupun di akhirat.
Mujahid berkata bahwa setiap berita yang Allah kabarkan memiliki waktu yang telah ditentukan dan tempat terjadinya, tanpa ada pengingkaran dan tanpa penundaan.
Al-Kalbi berkata bahwa setiap perkataan dan perbuatan memiliki kenyataan yang akan tampak, baik di dunia maupun di akhirat. Apa yang terjadi di dunia, kamu akan mengetahuinya, dan apa yang terjadi di akhirat, kelak akan tampak bagimu.
وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
Huruf wa (وَ) artinya : dan. Kata saufa (سَوْفَ) artinya : kelak. Kata ta’lamuna (تَعْلَمُونَ) artinya : kamu sekalian akan mengetahui.
Maksudnya Allah ingin menekankan bahwa segala berita yang diturunkan-Nya, baik berupa janji maupun ancaman, kabar gembira maupun peringatan, bukan sekadar omongan kosong. Semuanya pasti akan terbukti nyata pada waktunya.
Di dunia, manusia akan menyaksikan kebenaran kabar Allah lewat peristiwa-peristiwa yang terjadi, misalnya turunnya azab kepada umat-umat yang mendustakan. Sedangkan di akhirat, manusia akan melihat dengan mata kepala sendiri balasan atas iman atau kekufuran mereka.