Kemenag RI 2019:Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.” Prof. Quraish Shihab:Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari itu terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sekutukan (dengan Allah).” Prof. HAMKA:Maka tatkala dia melihat matahari terbit, berkatalah dia, "Inikah Tuhanku? Ini lebih besar!" Maka tatkala dia telah terbenam, berkatalah dia, "Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan."
Namun begitu matahari tenggelam, Nabi Ibrahim berhasil membuat mereka terdiam dan tidak bisa menjawab lagi. Namun begitu ternyata meski kalah dalam adu argumen, rupanya kaumnya kesulitan untuk berhenti dari menyembah bintang, bulan atau matahari.
Maka disini Allah SWT menceritakan bagaimana sang Nabi mengancam bahwa dirinya akan berlepas diri dari semua bentuk kemusyrikan yang mereka lakukan.
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً
Kata falammaa (فَلَمَّا) artinya : maka tatkala. Kata ra’a (رَأَى) artinya : ia melihat. Kata asy-syamsa (الشَّمْسَ) artinya : matahari. Kata bazighatan (بَازِغَةً) artinya : terbit.
Dibandingkan dengan planet, bintang ataupun bulan, matahari lebih sering disembah oleh banyak peradaban di dunia, tidak terkecuali bangsa dimana Nabi Ibrahim dilahirkan dan dibesarkan.
Berdasarkan literatur sejarah dan tafsir, masyarakat di negeri tempat Nabi Ibrahim lahir dan dibesarkan, yaitu Mesopotamia khususnya wilayah Babilonia kuno, memang menyembah berbagai benda langit, termasuk matahari. Dalam tradisi Mesopotamia kuno, dewa matahari dikenal dengan nama Shamash, yang dianggap sebagai penguasa siang, sumber cahaya, keadilan, dan hukum, juga dipercaya memengaruhi kesuburan tanah dan kehidupan manusia.
Mereka memandang Shamash sebagai makhluk ilahi yang memberi hidup dan mengatur segala sesuatu di bumi dan langit, sehingga sering dijadikan objek doa, persembahan, dan ritual.
Selain matahari, masyarakat Mesopotamia juga menyembah bulan (Sin), planet, bintang, dan berbagai dewa alam lain. Jadi, lingkungan sosial tempat Nabi Ibrahim tumbuh adalah lingkungan politeistik yang memuja benda langit sebagai dewa.
قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ
Kata qaala (قَالَ) artinya : ia berkata. Kata haadzaa (هَٰذَا) artinya : ini. Kata robbii (رَبِّي) artinya : Tuhanku. Kata haadzaa (هَٰذَا) artinya : ini. Kata akbar (أَكْبَرُ) artinya : lebih besar.
Dilihat dari bumi, maka benda langit paling besar dan paling terang adalah matahari. Oleh karena itu dimana-mana ada peradaban manusia, jika mereka tidak tertentuh oleh dakwah samawi lewat para nabi, kita akan temukan banyak yang menyembah matahari. Berikut tabel berisi peradaban umat manusia dalam sejarah yang menyembah matahari.
Dewa tertinggi, penguasa matahari, pengatur siklus alam, simbol hidup
Yunani Kuno
Helios
Mengendalikan pergerakan matahari, siang dan malam, simbol cahaya dan kehidupan
Romawi Kuno
Sol
Sumber cahaya dan energi, mengatur siang dan malam, kekuatan kosmik
Hindu Awal
Surya
Cahaya, panas, energi, kesehatan, kalender, siklus waktu
Aztec
Tonatiuh
Pengatur hari, memberikan hidup dan kesuburan, membutuhkan persembahan manusia agar tetap bersinar
Inca
Inti
Dewa matahari, pelindung kerajaan, simbol kesuburan dan panen
Jepang Kuno
Amaterasu
Dewi matahari, leluhur kaisar, simbol kekuasaan dan kehidupan
Keltik
Belenus
Dewa cahaya, kesehatan, musim, panen
Mesir Kuno (versi lain)
Aten
Matahari berbentuk cakra, simbol monoteisme sementara pada masa Firaun Akhenaten
فَلَمَّا أَفَلَتْ
Kata falamma (فَلَمَّا) artinya : maka tatkala. Kata afalat (أَفَلَتْ) artinya : hilang dari pandangan mata, yaitu ketika tertutup malam, bahkan tertutup awan atau mendung. Maka matahari menghilang cahayanya, bumi dan manusia diliputi kegelapan malam. Seolah tuhan menjadi tidak ada. Kalau pun ada, sifatnya kadang-kadang ada tapi kadang-kadang tidak ada.
Memang seperti ada yang terasa janggal atau seperti ada yang hilang dari ayat ini, yaitu ketika disebutkan : ’ketika matahari itu hilang dari pandangan mata’, yaitu (فَلَمَّا أَفَلَتْ) maka kosong saja, tidak ada jawabannya. Padahal di ayat sebelumnya Nabi Ibrahim berkomentar : ’aku tidak suka pada yang menghilang dari pandangan’. Lalu di ayat ini komentar atau refleksi Nabi Ibrahim terhadap fenomena ini tidak disebutkan, hanya tersirat saja.
Nampaknya dalam hal ini Al-Qur’an menggunakan narasi yang ringkas dan implisit. Tidak setiap pengamatan Nabi dijelaskan dengan kalimat panjang, boleh jadi agar pembaca diharapkan langsung sudah memahami makna logis dari peristiwa yang disebut.
Kata qaala (قَالَ) artinya : ia berkata. Maksudnya Nabi Ibrahim berkata kepada kaumnya yang tetap masih saja menyembah selain Allah.
Kata yaa qaumi (يَا قَوْمِ) artinya : wahai kaumku. Kata inni (إِنِّي) artinya : sesungguhnya aku. Kata bari-un (بَرِيءٌ) artinya : berlepas diri. Kata mimma (مِمَّا) artinya : dari apa yang. Kata tusyrikuun (تُشْرِكُونَ) artinya : kalian persekutukan.
Nampaknya meski sudah menggunakan retorika dan alur logika berpikir yang paling masuk akal, yaitu lewat analogi planet, bulan dan matahari, tetapi ternyata kaumnya tetap saja masih terus menyembah benda-benda angkasa itu dan menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah.
Ada yang mengatakan bahwa dalam hal ini kita merasakan bahwa Nabi Ibrahim sudah tidak mampu lagi menghadapi sikap dan kesesatan mereka, sampai akhirnya mengatakan bahwa berlepas diri dari apa yang mereka persekutukan.
Namun sikap ini nampaknya hanya sekilas saja, sebab di lain waktu justru Al-Quran menceritakan kepada kita bagaimana Nabi Ibrahim justru menghancurkan patung-patung yang disembah oleh kaumnya. Itu berarti sikap berlepas diri bukan berarti menjadi sikap apatis dan masa bodo, tetapi tetap ada semangat yang tidak pernah padam untuk memerangi kemungkaran.
Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. (QS. Al-Anbiya’ : 57-58)
Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim". Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim". Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan". (QS. Al-Anbiya’ : 59-61)
Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara". Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)", kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara". (QS. Al-Anbiya’ : 62-65)
Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?" Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak". Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim", (QS. Al-Anbiya’ : 66-68)