Kemenag RI 2019:Kaumnya membantah. Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada yang kamu persekutukan dengan-Nya, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?” Prof. Quraish Shihab:Dan dia (Ibrahim) dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, “Apakah kamu memperdebatkan dengan aku tentang Allah, padahal Dia telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada apa yang kamu sekutukan dengan-Nya, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu (atas diriku). Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka tidakkah kamu mengingat?” Prof. HAMKA:Dan membantahlah kaumnya kepadanya. Dia pun berkata, "Apakah akan kamu bantah aku perihal Allah? Padahal Dia telah memberi petunjuk kepadaku dan tidaklah aku takut apa yang kamu persekutukan dengan Dia itu kecuali sesuatu yang dikehendaki Allah, Tuhanku. Meliputi ilmu Tuhanku akan tiap-tiap sesuatu. Apakah kamu tidak mau ingat?
Ayat ke-80 dari surat Al-An'am ini masih menceritakan pembangkangan kaum Nabi Ibrahim. Mereka menolak untuk beriman kepada Allah SWT dan bersikukuh untuk menyembah dewa-dewa yang mereka anggap sebagai tuhan.
Mereka mengancam Nabi Ibrahim dan menakutinya akan mendapatkan amarah dan kutukan para dewa, jika tidak menyembah mereka.
وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ
Huruf wawu (و) di awal ayat ini menandakan bahwa ayat ini masih sambungan dari ayat sebelumnya. Disebut wawu 'athf.
Kata haajja-hu (حَاجَّ - ه) adalah kata kerja dalam bentuk fi'il madhi, yang maknanya sudah akrab di telinga kita bangsa Indonesia, yaitu menghujat. Namun tiga sumber terjemah kita kompak memaknainya dengan : membantah. Sedangkan dhamir hu () yang ikut di belakangnya merupakan kata ganti orang ketiga, maksudnya adalah Nabi Ibrahim alaihissalam.
Kata qaumuhu (قومه) artinya : kaumnya, yaitu kaum dimana Nabi Ibrahim dilahirkan dan dibesarkan. Al-Quran memang tidak menyebutkan nama dari kaumnya, namun sejarah menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim itu hidup di tengah peradaban Mesopotamia.
Terletak di antara sungai Eufrat dan Tigris, wilayah yang kini dikenal sebagai Irak, peradaban ini pada masanya sangat maju, baik dari segi budaya, arsitektur, maupun ilmu pengetahuan. Namun, kemajuan tersebut tidak diiringi dengan kemurnian tauhid.
Justru di tengah masyarakat itulah penyembahan berhala, pemujaan bintang, matahari, dan bulan sangat marak. Bahkan, mereka menjadikan benda-benda langit sebagai sesembahan utama, karena dianggap memiliki pengaruh terhadap kehidupan manusia.
Di sisi lain, kaum Nabi Ibrahim juga tunduk pada kekuasaan seorang raja besar yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai an-namrud (النمرود). Dialah sosok penguasa zalim yang tidak hanya mengklaim kekuasaan dunia, tetapi juga mengaku sebagai tuhan. Dengan kekuatan politik dan militernya, ia menanamkan ideologi bahwa dirinya adalah pemegang kuasa hidup dan mati.
Maka ketika Nabi Ibrahim tampil dengan dakwah tauhid, beliau tidak hanya berhadapan dengan masyarakat yang terbiasa menyembah berhala dan benda langit, tetapi juga berhadapan langsung dengan kekuasaan politik seorang penguasa tiran. Inilah yang membuat bantahan (حَاجَّهُ) dari kaumnya dan dari Namrud menjadi sangat keras. Mereka tidak hanya menolak secara argumentatif, tetapi juga berupaya membungkam Nabi Ibrahim dengan ancaman, termasuk dengan cara membakar beliau hidup-hidup.
قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ
Kata qaala (قال) artinya : dia berkata, yaitu Nabi Ibrahim alaihissalam menjawab terkait dengan perilaku kaumnya yang membantah dan menghujat dakwahnya.
Kata a-tuhaajjunni (أَتُحَاجُّونِّي) sebuah kata kerja yang diawali dengan pertanyaan, yaitu hamzah istifham (أ) dibaca : a, yang maknanya : 'apakah'.
Kata kerjanya adalah tuhaajju (تُحَاجُّ), ini adalah fi'il mudhari' yang menunjukkan waktu yang sifatnya terus menerus, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Mereka membantah, menghujat, bahkan mendebat dengan segala cara.
Objeknya adalah : Aku, yaitu Nabi Ibrahim, diwakili dengan dhamir dalam bentuk huruf nun, sehingga fi'il ini menjadi : tuhaajjunni. Kata fillahi (في الله) secara bahasa berarti : dalam (masalah) Allah.
Jika diperhatikan dari ayat ini, boleh jadi yang dimaksud dengan menghujat tentang Allah adalah menolak bahwa Tuhan itu adalah Allah. Apalagi mengingat bahwa bangsa Mesopotamia kala itu bukan bangsa yang menganut paham monoteis, sehingga konsep Tuhan hanya satu itu merupakan barang aneh dan asing bagi mereka.
Mereka dikenal sebagai bangsa yang menyembah banyak tuhan, atau mungkin lebih tepatnya kita sebut : dewa. Di antara nama-nama dewa mereka adalah Marduk (dewa utama), Shamash (matahari), Sin (bulan), dan Ishtar (cinta & perang).
Kondisi ini berbeda dengan bangsa Arab di masa kenabian Muhammad SAW. Mereka itu mengenal Allah sebagai tuhan yang menciptakan alam semesta. Bahkan mereka meyakini lebih dari itu, bahwa Allah itulah yang memberi mereka rejeki, kehidupan, termasuk juga keamanan dalam perjalanan niaga mereka.
Bedanya, mereka melakukan penyembahan dengan cara yang keliru, yaitu lewat perantaraan orang-orang yang mereka sucikan, yaitu roh para leluhur mereka. Roh-roh itu mereka yakini bisa mendekatkan mereka kepada Allah. Mereka yakin sekali bahwa roh-roh itu bersemayam di tubuh patung-patung yang mereka bikin dengan tangan-tangan mereka.
Maka jadilah mereka menyembah patung dan meyakini bahwa patung itu berjasa sebagai perantara. Kemudian kedudukan patung itu sejajar dengan Allah SWT. Disitulah terjadi syirik yang jadi tema besar perjuangan Nabi SAW.
Adapun kaumnya Nabi Ibrahim secara teknis bukan bangsa yang melakukan syirik, tapi memang sama sekali tidak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan.
وَقَدْ هَدَانِ
Kata wa qad hadan (وَقَدْ هَدَانِ) artinya : "padahal Dia sudah memberi petunjuk kepadaku". Huruf wawu (وَ) biasanya diterjemahkan menjadi : dan. Tetapi dalam hal ini akan lebih tepat dan sesuai fungsinya jika diterjemahkan menjadi : padahal.
Sedangkan qad (قد) biasa diterjemahkan menjadi : sungguh, karena merupakan ta'kid atau penguatan atas sebuah kata kerja. Ini adalah salah satu huruf dalam bahasa Arab yang fungsinya banyak, tergantung konteks. Bila masuk pada fi‘il madhibiasanya memberi makna ta’kīd (penguatan) atau penegasan. Bila masuk pada fi‘il mudhari, biasanya memberi makna kemungkinan atau seringkali.
Kata hadan (هدان) aslinya adalah hadaa-ni (هداني) namun huruf ya di belakang tidak dituliskan. Pertanyaannya adalah : kenapa huruf ya () yang jadi dhamir atau kata ganti orang pertama dihapus? Dalam rangka apa? Apakah ada kaidah dalam ilmu gramatika bahasa Arab?
Jawabannya sama sekali tidak. Satu-satunya alasan kenapa huruf ya' itu tidak dituliskan karena begitulah yang namanya rasm 'Utsmani.
Beberapa Contoh
Ada beberapa contoh dalam mushaf Al-Qur’an, dimana dengan alasan itu merupakan rasm ‘Utsmani, maka huruf ya atau wawu di akhir kata tidak dituliskan, walaupun tetap dibaca.
Contohnya dalam surat Thaha ayat 93, kata 'ashani (عَصَانِي)dibaca dan ditulisnya cukup hanya 'ashan(عَصَانِ). Artinya: Dia telah mendurhakaiku.
Begitu juga dengan dengan surat Al-Fajr ayat 15, kata akramani (أَكْرَمَنِي) cukup dibaca dan ditulis dengan akraman (أَكْرَمَن). Artinya: Tuhanku telah memuliakanku.
Hal yang sama juga berlaku pada ayat berikutnya, kata ahanani (أَهَانَنِي) cukup dibaca dan ditulis ahanan (أَهَانَن) saja. Artinya: Tuhanku telah menghinakanku.
Apa Itu Rasm Utsmani?
Ilmu rasm adalah salah satu cabang ilmu Al-Qur’an yang membahas tentang kaidah penulisan mushaf sebagaimana diturunkan dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Istilah rasm sendiri bermakna “tulisan” atau coretan huruf, sementara rasm al-Quran berarti bentuk tulisan Al-Qur’an yang diwariskan secara mutawatir sejak generasi pertama. Jadi ilmu ini membicarakan bentuk teknis penulisan, seperti sebuah alif ditulis atau digugurkan, atau bagaimana bentuk kata tertentu ditetapkan.
Teknik penulisan mushaf bukanlah hasil ijtihad sahabat apalagi kreativitas belaka, melainkan sesuatu yang langsung diajarkan oleh Rasulullah SAW. Setiap kali wahyu turun, Nabi SAW memanggil para katib al-wahy (penulis wahyu) dan mendiktekan lafaz Al-Qur’an persis sebagaimana beliau terima dari malaikat Jibril. Termasuk cara menuliskannya, beliau ajarkan langsung.
Maka, perbedaan bentuk penulisan seperti الصلاة yang ditulis الصلوة atau الرحمن tanpa alif, itu semua adalah bagian dari wahyu, bukan sekadar pilihan manusia.
Di masa Khalifah Utsman bin Affan RA, umat Islam mulai tersebar ke berbagai wilayah, sehingga rawan terjadi perbedaan dalam cara membaca maupun menyalin mushaf. Maka beliau melakukan standardisasi mushaf berdasarkan rasm yang telah diajarkan Nabi SAW.
Beliau tidak membuat kaidah baru, melainkan hanya memastikan mushaf-mushaf yang beredar sama persis dengan mushaf induk yang ditulis di hadapan Nabi SAW semasa hidup beliau. Dari sinilah muncul istilah rasm Utsmani, karena mushaf standar yang kita warisi hari ini berpangkal dari salinan yang dibukukan pada masa Khalifah Utsman.
Ilmu rasm kemudian menjadi disiplin khusus yang dipelajari oleh para ulama. Mereka mencatat setiap detail perbedaan penulisan kata dalam mushaf, seperti الحياة yang ditulis الحيٰوة atau إبراهيم yang dalam beberapa ayat ditulis إبراهم.
Semua itu bukanlah kesalahan tulis, melainkan ketetapan ilahi yang mengandung hikmah, baik dari sisi makna, i‘jaz, maupun variasi qirā’āt. Karena itu, umat Islam seluruh dunia sejak dulu hingga kini sepakat untuk menjaga rasm sebagaimana adanya, tanpa boleh diubah walaupun satu huruf pun.
Teknik penulisan mushaf adalah bagian dari wahyu, turun dari Allah lewat Jibril kepada Nabi SAW, bukan produk buatan Utsman atau sahabat lain. Peran mereka hanyalah menjaga dan menyebarkan agar seluruh umat Islam tetap memiliki mushaf yang seragam, sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ
Ungkapan wa la akhafu maa tusyrikuna bihi (وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ) diterjemahkan menjadi : "Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah".
Kaum Nabi Ibrahim hidup di tengah peradaban yang maju, namun mereka terikat kuat pada tradisi penyembahan berhala. Setiap hari, mereka melakukan ritual, membakar dupa, dan mempersembahkan persembahan kepada dewa-dewa mereka: Marduk, Shamash, Sin, Ishtar, dan patung-patung raja mereka.
Ketika Nabi Ibrahim mulai menyerukan “Hanya Allah yang patut disembah”, kaum ini terkejut dan marah. Mereka tidak terbiasa mendengar penolakan terhadap tradisi leluhur. Ada orang-orang yang mengancam, mengeroyok, dan berkata: “Kalau kamu menolak dewa kami, kamu akan sial, atau bahkan mati!” Patung-patung mereka seolah menjadi saksi kekuatan yang tidak boleh ditentang.
Namun Nabi Ibrahim tetap teguh. Beliau berdiri dengan tenang di hadapan mereka, menatap langsung pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. Dengan suara mantap, beliau berkata:
وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ
"Dan aku tidak takut dengan apa yang kalian sekutukan."
Kaum Nabi Ibrahim mungkin mencoba menakut-nakuti dengan berbagai cara—membuat rumor, mengucilkan, bahkan mengancam nyawa—tetapi beliau tetap tenang. Beliau menegaskan prinsip tauhid: hanya Allah yang berhak disembah, dan semua ancaman duniawi tidak bisa menggoyahkan keyakinan itu.
إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا
Ungkapan illa an yasyaa'a rabbi syai-an (إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا) artinya : "kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu".
وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا
Kata wasi'a (وَسِعَ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi'il madhi, yang artinya : luas, namun juga bisa bermakna : meliputi. Adapun yang menjadi fa'il atau pelaku dari kata kerja ini adalah kata sesudahnya, yaitu rabbi (رَبِّي) yang artinya : Tuhanku.
Sedangkan kata kulla syai'in (كُلَّ شَيْءٍ) menjadi objek atau maf'ul bihi. Dan kata 'ilmaa (عِلْمًا) menjadi tamyiz atau penjelas. Fungsinya menjelaskan bahwa yang luas itu bukan kata 'rabbi' atau Tuhanku, melainkan yang luas itu adalah ilmunya Tuhanku.
Menurut hemat Penulis, boleh jadi Nabi Ibrahim menegaskan bahwa ilmu Allah SWT meliputi segala sesuatu, karena kaumnya mengklaim diri sebagai peradaban yang maju untuk ukuran saat itu, lalu merasa sudah pandai dalam segala macam jenis ilmu pengetahuan.
Namun pengetahuan mereka tentang Tuhan dan ketuhanan nampaknya masih terlalu primitif, bahkan tidak ubahnya seperti pengetahuan zaman purba. Sama sekali tidak ilmiyah dan masih berantakan dari segi struktur logika berpikir tentang Tuhan.
Peradaban tempat Nabi Ibrahim AS tumbuh adalah peradaban yang sangat maju, bahkan dibandingkan standar zaman kuno lainnya. Mereka dikenal punya iIlmu astronomi dan matematika dengan presisi yang tinggi. Merkea juga mengenal seni Arsitektur dan teknik sipil yang monumental dan fungsional. Di bidang Administrasi dan hukum, mereka sudah tertulis dan sistematis. Dan dalam hal tulisan dan catatan ilmiah, peradaban mereka memungkinkan transfer ilmu antar generasi.
Karena itu, banyak sejarawan modern mengagumi Mesopotamia sebagai “tempat lahirnya ilmu pengetahuan dan peradaban awal”. Namun ketika mereka masih menyembah dewa-dewa langit serta patung-patung buatan tangan manusia, maka semua ilmu pengetahuan yang mereka miliki itu mendadak menjadi sia-sia, karena semua paham keberhalaan itu jelas-jelas bertentangan dengan logika ilmu pengetahuan.
أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ
Kata a-fa-la (أَفَلَا) terdiri dari huruf : a (أ) yang merupakan hamzah istifhamiyah yang mempertanyakan, artinya : apakah. Huruf fa (ف) yang berarti : maka. Dan huruf laa (لا) yang berarti tidak. Terjemahannya menjadi : 'maka apakah tidak'. Terjemahan yang lebih luwesnya adalah : "maka apakah kamu tidak . . ."
Kata tatazdakkarun (تَتَذَكَّرُونَ) adalah kata kerja yang berarti : mengambil pelajaran.
Penutup ayat ini merupakan penegasan yang sangat telak bahwa mereka tidak mampu mengambil pelajaran.
Padahal bangsa ini sangat maju dalam dunia ilmu pengetahuan, diakui dalam sejarah sebagai tempat lahirnya ilmu pengetahuan. Tetapi kenapa mereka masih menyembah dewa langit dan patung, hal ini menjelaskan bahwa lmu pengetahuan mereka itu tidak bermanfaat untuk bisa mengantarkan mereka kepada konsep ketuhanan yang benar. Dalam hal konsep ketuhanan, peradaban mereka masih jauh berada di belakang.
Penutup ini menegur mereka bahwa seharusnya dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang mereka miliki, tidak mungkin masih saja menyembah dewa-dewa langit atau pun patung. Karena semua itu tidak masuk akal. Keyakinan semacam itu justru menghina harkat dan martabat ilmu pengetahuan yang mereka banggakan.